
Ponsel Sena berdering. "Mas Fajri..." Gumam Sena.
"Sena... Kamu apa-apaan sih?!" Tiba-tiba Fajri langsung menyemprotnya.
"Ada apa sih Mas? Baru diangkat dah nyerocos aja?" Sena mengerucutkan bibirnya.
"Kamu ngomong apa sama Dijah?" Tanya Fajri. "Baru saja mau baik lagi, Kamu malah ngomong yang gak-gak." Kata Fajri lagi.
"Maksudnya apa sih Mas?" Sena belum mengerti.
"Dijah ngadu ke Tante katanya Kamu ngejelek-jelekin Suci. Sana Kamu telpon Tante. Tante nyuruh Kamu telpon Dia." Fajri langsung menutup telponnya.
Sena menghela nafas. "Dijaaahhh... Huuuhhh..."
Sena pun mengambil uang receh lima ratusan. Dia bergegas ke telpon umum. Dia menekan tujuh digit angka.
"Halo Tante... Ini Sena. Ada apa Tante?" Tanya Sena.
"Sena... maksud Kamu apa ngomong dibudakin Suci waktu tinggal di rumah Ibu Fajri. Wajarkan Suci makan di rumah Ibu nya sendiri." Tante nya Fajri menyerocos. Sena langsung meletakkan gagang telpon diatas box telpon. Dia tak mau mendengar ocehan Tante Fajri yang seenaknya saja menyalahinya dan membela keponakannya yang pemalas itu.
Sena menunggu hingga batas koinnya abis.
"Sena... tambah koinnya. Tante belum selesai bicara." Terdengar ocehan itu.
"Ya Tante, Sena mau tukerin uang dulu." Kata Sena alasan. Tut... tut.. tut... Sambungan telpon terputus.
Sena memasukan kembali koin. Dia menekan tujuh digit angka. Tersambung.
"Halo, Assalamu alaikum..." Sapa disana.
"Wa alaikumussalaam... Dijah..." Jawab Sena.
"Oh Sena... Ada apa?" Tanya Dijah.
"Dijah... Kok Lo tega sih nyampein curhatan Gw ke Tante nya Fajri?" Kata Sena dengan nada kecewa.
Dijah tertawa... "Hahahaha... Lah Lo sendiri tega ngelaporin omongan Gw ke Ibu nya Mas Alif." Kata Dijah.
"Tapi kan Gw udah minta maaf sama Lo tempo hari." Kata Sena kecewa.
"Ya udah lah... Ngapain juga Lo pikirin. Lagian ngapain juga Lo masih mau sama Fajri, Udah jelas-jelas Fajri gak tanggung jawab." Kata Dijah.
Sena menghela nafas. "Iya juga sih." Kata Sena pelan.
"Lagian Lo betah banget punya Mertua pengeretan kaya gitu. Cari saja yang lain, Sena... Gw kasihan sama Lo..." Kata Dijah lagi. "Mang Lo tahu dari siapa, Gw ngadu?" Tanya Dijah.
__ADS_1
"Mas Fajri telpon Gw. Abis deh Gw diomelin. Terus Gw disuruh telpon Tante. Eh Gw diocehin juga." Kata Sena.
"Hahahaha... Udah lah Sena... Mending Lo lepasin aja. Lo kerja nih kaya Gw. Jadi satpam." Kata Dijah.
"Lo enak ada yang bawa." Kata Sena.
"Tenang aja. Nanti kalau ada lowongan, Gw kabarin Lo." Kata Dijah.
"Jadi Lo sudah gak dendam lagi sama Gw?" Tanya Sena.
"Gak lah.. Cukup satu sama. Hehehe..." Dijah terkekeh.
"Dasar Lo. Ya udah deh. Lo masih simpen nomor ponsel Gw kan?" Tanya Sena.
"Masih. Nanti Gw kabarin." Kata Dijah.
Mereka pun mengakhiri pembicaraan Mereka. "Heeehhh Dijah... Ada-ada saja. Ya setidaknya aspirasi ku sudah tersampaikan." Sena tersenyum sendiri.
________________________
Sena masih dengan aktifitasnya dagang di rumah dan membantu Bunda menjahit.
Sena sudah gak mau ikut campur lagi urusan di dalam rumah. Karena selama ini ujung-ujungnya Sena yang akan kena tampar Bang Tino dan amarah Bunda.
Fajri sudah sangat jarang menghubungi Sena sejak kejadian Dijah mengadu. Sepertinya Dia kecewa pada Sena.
Kalau belanja keperluan dagangnya, Sena akan membawa Rizki. Berat-berat Sena membawa barang dagangan sambil menggendong Rizki jika Dia merengek minta digendong.
Padahal Bunda sudah sering melarang Sena mengajak Rizki berbelanja, tapi Rizki gak mau ditinggal. Sena gak masalah, Sena fikir kapan lagi Dia mengajak jalan-jalan Rizki walau hanya ke pasar.
Vina makin menjauh dari Sena. Vina juga sudah gak pernah membelikan susu untuk Rizki. Sena gak masalah. Dia masih bisa cari uang untuk beli Susu Rizki.
Hanya Nina yang masih peduli. Tapi kebutuhan Nina juga banyak. Dia harus membayar cicilan mobilnya, karena Bang Tino gak beres membayar setoran pada Nina.
Sedangkan Anto, Dia masih merintis usahanya. Dia juga sedang membangun rumah tangga dengan istrinya.
Sena gak mau menyerah. Dia masih punya tangan dan kaki untuk berusaha, tanpa harus mengandalkan belas kasihan dari saudara-saudaranya.
Ponsel Sena berdering. "Mas Fajri... Ada apa lagi?" Tapi Sena masih menerimanya.
"Dek... Kamu dimana?" Tanya Fajri lembut. Fajri ada mau nya membaiki Sena.
"Aku dijalan baru mau pulang abis belanja." Kata Sena.
"Kok malam-malam belanja? Aku jemput ya. Kamu sama Rizki kan?" Tanya Fajri.
__ADS_1
"Gak usah Mas. Aku sudah mau pulang." Kata Sena yang malas bertemu dengan Fajri.
"Aku kangen sama anakku." Kata Fajri setengah memaksa.
"Tapi Aku sudah dekat rumah Mas. Ada apa sih?" Tanya Sena.
"Aku mau minta foto kopi ijasah SMA Aku, Kamu masih simpan kan?" Tanya Fajri.
"Masih... Tapi Kamu kan masih punya hutang sama Aku, Mas. Ponsel Aku yang dari Nina, Kamu bawa gak dipulangin lagi. Uang Nina sampai sekarang gak juga Kamu bayar." Kata Sena protes.
"Ya... Nanti kalau Aku kerja, Aku ganti." Fajri mengakali Sena.
"Ya udah Mas. Nanti kalau Aku dah sampe rumah, Aku siapin." Kata Sena.
"Aku gak kerumah. Kita ketemu di depan komplek saja." Kata Fajri.
"Ya..." Kata Sena.
"Bawa Rizki ya." Kata Fajri.
Sena langsung mematikan ponselnya. Dia menyetopkan angkot di depan gerbang komplek.
Sena sudah sampai di rumah. Dia merapihkan dagangannya dan menatanya. Kemudian Dia mengambil foto kopi ijasah milik Fajri.
"Bun... Sena mau keluar sebentar. Titip Rizki." Sena berbisik pada Bunda.
Sena gak mau membawa Rizki menemui Fajri. Itu akan membuat Rizki makin sakit karena kangen.
Sena sedikit berlari agar tak terlihat Rizki. Sena menemui Fajri.
"Mana Rizki? Kok gak dibawa?" Tanya Fajri.
"Rizki dah tidur Mas." Sena beralasan.
"Tidur atau memang Kamu gak mau membawanya?" Selidik Fajri.
"Tidur Mas. Kecapean." Kata Sena. "Mana Mas uang buat beli susu Rizki. Atau Kamu belikan saja susu nya sekarang." Pinta Sena.
"Aku belum punya uang. Ini Aku baru mau ngelamar kerja." Kata Fajri.
Sena menghela nafas. Sena hanya menguji Fajri. Dan Sena berhasil. Fajri memang sangat pelit padanya dan Rizki. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Kalau Kamu ada apa-apa, telpon Aku. Kalau Kamu masih mau hidup sama Aku, tawaran Aku masih berlaku. Kamu keluar dari rumah Bunda dan jual semua barang-barang Kamu." Kata Fajri.
Sena hanya mencibir. "Enak aja. Aku yang beli semua barang itu, Kamu tinggal nyuruh Aku jual-jualin."
__ADS_1
Sebenarnya masalah Sena sudah menumpuk. Tapi bertumpu pada Fajri pun tak menyelesaikan masalah malah menambah beban hidupnya. Cukup sudah hampir enam tahun Sena dikecewakan oleh Fajri.
Fajri belum dewasa, Dia masih mementingkan kesenangannya sendiri.