Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Keributan


__ADS_3

Motor Nina sudah disetujui oleh Dealer. Motor pun sudah tiba di rumah.


Dua minggu kemudian, STNK motor keluar. Fajri mulai mengantar jemput kerja adik bungsu Sena.


Fajri juga mengajari Nina belajar mengendarai motor.


Sena juga sudah membantu Fajri mengklaim jamsosteknya. Dari situ juga Sena tahu kalau Fajri resign tanpa ijin dari kantor. Tapi karena Fajri pandai berkelit, Perusahaan mau mengeluarkan Pakclaring untuk Fajri.


Fajri sudah mendapatkan SIM. Nina mengijinkan Fajri memakai motornya untuk kerja, tapi tetap mengantar dan menjemput Nina bekerja.


Sifat Fajri makin terlihat. Dia sering mangkir menjemput Nina. Alasan masih jauh lah atau apalah.


Nina sebenarnya sudah kesal dengan kelakuan Kakak iparnya, tapi Nina tak enak dengan Sena.


Nina juga sudah pandai mengendarai motor.


Abang Tino merasa iri karena Nina lebih memperhatikan Fajri daripada dirinya. Setiap Dia ingin pinjam motor, tak pernah dikasih oleh Nina. Itu karena Bang Tino yang gak bisa dipercaya.


Hari ini kecemburuan Bang Tino meledak. "Sena... Gw pinjem motor Nina. Gw mau bawa dagangan banyak banget nih." Pinta Bang Tino.


"Sena ijin dulu sama Nina." Kata Sena yang berlalu mengambil ponselnya.


"Gak perlu. Sebelum laki lo jemput Nina, Gw udah pulang kok." Kata Bang Tino.


"Sena gak berani, Bang. Nanti Nina marah. Itu kan motor Nina, bukan motor Sena." Kata Sena.


Hari ini Fajri memang tak memakai motor Nina untuk bekerja, Dia memakai motor dagangan Rino, karena rencananya akan sekalian mengantar motor itu ke pembeli.


"Lo belagu! Motor punya Nina, kok lo yang kuasai! Malu lo!" Bang Tino sewot.


"Siapa yang nguasain? Sena cuma jaga amanah Nina, kalau Bang Tino gak boleh pake motornya." Sena mulai tersulut emosi.


"Apa-apaan sih nih? Kok malah pada ribut?" Tanya Bunda.


"Nih Sena, pelit banget! Tino mau pake motor Nina, gak boleh." Kata Tino masih sewot.


"Memang Nina pernah pesan, Kamu gak boleh pake, abis Kamu kalo pake motor orang gak pernah diisi bensin lagi." Kata Bunda.


"Ya.. Tino lupa Bun." Kata Tino malu.


"Bukan itu aja, Motor adikmu kamu bikir lecet-lecet. Nina kan teliti banget sama barangnya." Kata Bunda lagi.


"Bukan sama Tino, Bun. Itu sama Fajri." Tino membela diri.


"Kok malah nyalahin orang sih?" Sena sewot.


"Lah mang kenyataannya begitu. Yang tiap hari pake motor Nina kan, suami lo!" Tino ngotot.


"Sudaaahhh...!!" Tiba-tiba Kak Lana berteriak. "Ayah berangkat sekarang, naik ojek. Gak usah pake barang orang. Begini nih kalau Lo dah miskin, Adek-adek lo gak ada yang menghargai Lo!" Kata Lana yang ikutan sewot.


"Yeehhh bolehnya sewot! Bang Tino juga miskin bukan karena Kita. Mang Kita yang morotin Bang Tino?! Kan Kakak yang nyimpen semua penghasilan Bang Tino. Kalau udah susah, jangan nyalahin orang dong?!" Sena sewot.

__ADS_1


Tiba-tiba... Plaaakk...!! Tino menampar pipi Sena kuat. Dan membuat Sena oleng.


Vina yang sedang tidur, mendengar keributan jadi terbangun. Dia juga kaget melihat Tino menampar Sena.


Bibir Sena berdarah.


"Tino!! Kok kasar sih sama adik Kamu?!" Bunda kesal melihat Tino.


Sena langsung dibawa masuk oleh Vina. Lana masih menggerutu. Bunda hanya mengelus dada.


"Bunda gak pernah nampar Anak Bunda! Tapi Kamu seenaknya menyakiti Anak Bunda!" Bunda terlihat sakit hati.


Tino tak mendengar Bunda. Dia langsung pergi mengangkat barang-barangnya menuju tukang Ojek.


Lana langsung masuk ke kamar. Bunda mengurut dadanya. Dia berlalu ke kamar Sena. Sena sedang diobati oleh Vina.


____________________


Menjelang Isya Nina sudah tiba di rumah bersam Fajri.


Nina sudah mandi dan makan. Juga sudah beristirahat.


Fajri pun demikian.


"Mas... Mana STNK motor Nina?" Tanya Sena pelan.


"Ada nih. Kenapa?" Tanya Fajri.


"Ada apa? Bibir Kamu kenapa?" Tanya Fajri.


Sena menggeleng. "Mana Mas?" Tanya Sena.


Fajri mengambil STNK dalam dompet yang ada di saku celana nya.


Sena menerimanya. Kemudian Sena ke kamar Nina.


"Na..." Panggil Sena yang masuk ke kamar Nina.


"Ada apa Kak?" Tanya Nina yang sedang tiduran.


"Nih Kakak balikin STNK motor Kamu. Kamu sudah bisa kan bawa motor?" Tanya Sena.


"Kenapa Kak? Kok mendadak. Aku kan belum punya SIM." Kata Nina.


Sena menceritakan keributan tadi pagi dengan Tino.


Nina melihat bibir Sena yang luka. "Kakak gak usah dengerin Bang Tino. Kakak kan tau, Bang Tino selalu iri." Kata Nina.


Perkataan Nina terdengar oleh Lana yang ternyata sedang berada di dapur.


"Ssstt...." Kata Sena. "Ada Kak Lana." Kata Sena pelan.

__ADS_1


"Biarin aja. Emang bener kok." Nina malah sengaja meninggikan volume suaranya.


Adik-adik Tino memang kesal sama Tino, Tino suka seenaknya kalau pinjem barang orang. Barang-barang milik Sena pun sering dipakai, sesudahnya tergeletak begitu saja atau ada saja yang rusak.


"Gak usah Kak. Udah pake aja. Nanti Mas Fajri berangkat kerja gimana?" Tanya Nina.


Sena menghela nafas. "Iya sih. Kakak cape harus ribut terus tiap hari. Biar deh nanti kalau Kakak udah punya uang untuk uang muka motor, Kakak kredit motor juga." Kata Sena.


"Ya udah Kak, gak apa. Aku mau istirahat Kak, besok jalan jam 4 subuh." Kata Nina.


Sena mengangguk. Sena keluar dari kamar dan masuk ke kamarnya. Ternyata Fajri sudah tertidur. Sena pun membaringkan tubuhnya disisi Fajri.


Fajri memeluk tubuh Sena. "Kamu ribut sama Bang Tino?" Tanya Fajri pelan.


Sena mengangguk.


"Maafkan Aku yah. Aku belum bisa membahagiakan Kamu." Kata Fajri.


Sena mengangguk. Fajri mengelus rambut panjang Sena. Mereka pun terlelap.


Tengah malam terdengar keributan. "Makanya Lo jangan suka pake barang orang! Adik-adik lo juga pada belagu, baru kerja bisa kredit motor aja sombongnya minta ampun!" Terdengar suara Lana yang teriak-teriak.


Sena mengerjabkan mata dan mendengar semua perkataan Lana. Karena jendela kamar Sena pas dekat pintu kamar Tino.


Lana sengaja berteriak dekat jendela kamar Sena.


Anto yang juga baru pulang dagang hanya geleng-geleng kepala. Anto tak menghiraukan perkataan Lana. Anto saja sudah mengalah tidur di ruang tamu karena kamarnya dipake oleh Tino.


Dulu Tino bekerja di Sebuah hotel bintang Lima berlian. Dia bekerja dari nol, jabatan DW hingga menjadi Asisten Manager.


Entah kenapa, masalah apa, hanya Lana dan Tino yang tahu. Selama hidup enak, Lana tak pernah suka kalau Tino memberikan uang pada Bunda.


Lana akan sesak nafas jika Tino memberikan uang pada Bunda. Dan itu terlihat oleh Sena dan Bunda.


Bunda langsung mengerti kalau mantunya pelit. Bunda tak pernah minta-minta uang lagi sama Tino.


Terkadang mungkin kontak batin, jika Bunda berkeluh kesah pada Sena, kalau Mereka sudah tak punya beras untuk makan. Juga persediaan uang pensiun yang tak cukup menghidupi ke empat adik Tino.


Tino tiba-tiba akan menelpon Bunda. "Ada apa Bun?" Tiba-tiba Dia sudah bertanya begitu.


Bunda hanya tertawa pelan karena Puteranya langsung kontak batin dengannya.


"Di rumah sudah gak punya beras. Adikmu mau berangkat sekolah gak ada ongkos." Demikian kata Bunda.


"Ya sudah, suruh Sena ke hotel." Kata Tino.


Dan Sena dengan menggunakan bus akan berangkat ke hotel.


Dan kini Tino dan Lana tinggal di rumah Bunda karena sudah tak sanggup untuk mengontrak rumah.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


__ADS_2