Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Kepolosan Sena


__ADS_3

"Waahhh... Senang yah jalan-jalan sama Ateh... sampe pulang malam banget." Kata Sena yang melihat Rizki terlihat senang. Padahal matanya sudah terlihat sayu tanda mengantuk.


"Tidur tadi Kak. Eh pas sampe langsung melek." Kata Septi.


Sena tersenyum dan langsung mengangkat Rizki dari atas motor Nina.


Rizki langsung menempelkan kepalanya di bahu Sang Mama. "Cucu..." Rengek Rizki.


"Iya... tapi dilap dulu badannya ya.. lengket tuh... Biar enak bobonya." Kata Sena lembut sambil mencium pipi gembil Rizki.


Rizki hanya pasrah saja ketika Mama nya membuka bajunya. Dengan telaten Sena mengelap tubuh Rizki dengan handuk yang sudah direndam ke air hangat.


Kemudian Sena mengelap tubuh Rizki dengan handuk kering. Membalurinya dengan minyak telon dan bedak tabur. Sena mengganti baju Rizki dengan piyama.


"Cucu..." Rizki kembali merengek.


"Iyaaa... Nih Mama lagi buatin." Kata Sena yang bergegas membuatkan susu kedalam botol susu Rizki.


"Nih punya Rizki..." Nina dan Septi masuk ke kamar Sena. Rizki hanya tersenyum karena rasa kantuknya yang sudah tak tertahan.


"Waaahhh... Dibeliin apa sama Ateh?" Tanya Sena yang sedang mengocok susu untuk Rizki.


"Cucu..... Mama..." Rengek Rizki lagi.


"Hahahaha... Segitunya yang ngantuk. Tadi aja minta beliin baju ini semangat banget. Sekarang sebodo amat." Canda Nina sambil mencibut pipi Rizki.


Sena memberika susu pada Rizki. Dia langsung menyedotnya. Nina sudah memamerkan baju yang tadi Dia beli buat Rizki tapi Rizki acuh saja karena sudah mengantuk.


"Nih Kak... Buat Rizki." Nina memberikan kantong belanjaan baju-baju Rizki.


"Banyak banget Na, Sep?" Kata Sena.


"Gak apa Kak. Itu Dia sendiri yang pilih." Canda Septi.


"Haahh..." Sena terperanjat. Dia mengelus kepala Rizki yang sudah terpejam matanya tapi bibirnya masih bergerak menyusu.


"Alhamdulillaah Ya Allah... Atas Rejeki yang Engkau limpahkan pada Anak Hamba. Walau Ayahnya tak tanggung jawab, tapi Tante-tante nya masih perhatian pada Putera Hamba." Batin Sena.


"Kak... Nina dan Septi mau bersih-bersih dulu ya." Kata Nina.


"Ya... terima kasih ya Na, Sep." Kata Sena.


__________________________


Hari Raya Idul Fitri pun tiba. Rizki sangat senang karena akhirnya memakai baju yang dibelikan Ateh nya minggu lalu.


Vina juga membelikan 2 stel baju untuk Rizki. Bang Tino dan Keluarganya juga sudah kembali ke rumah Bunda.

__ADS_1


Nina nampak tak senang. Karena itu berarti Dia kembali ngekos. Nina bergegas mengepak barang-barangnya. Sore nanti Dia akan kembali ke kosannya Septi.


"Balik ngekos lagi?" Tanya Sena.


Nina mengangguk. "Iyalah... Malas banget disini...." Kata Nina yang mengrucutkan bibirnya.


Sena menghela nafas. Sebenarnya Dia gak rela Nina harus kembali ngekos. Itu berarti Rizki akan kembali kesepian.


Jam 9 pagi setelah shalat ied tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan rumah Bunda.


Rizki yang dari tadi diteras bersama Alvi langsung berlari. "Yayah.....!" Dia langsung naik kegendongan Fajri yang sudah sigap menangkapnya. Fajri menciumi wajah Rizki.


Sena dan Nina nampak tak suka. "Biang kerok datang satu lagi." Gumam Nina yang terdengar oleh Sena.


"Assalamu alaikum..." Salam Fajri.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Bunda dan keluarga yang ada didalam rumah.


"Sini masuk Ji..." Ajak Bang Tino.


Fajri mencium punggung telapak tangan Bunda, Bang Tino dan Kak Lana. Kemudian Fajri menyalami Nina. Kemudian pada Sena. Fajri memeluk tubuh Sena. "Maafkan Aku ya. Kamu ikut Aku ke rumah Ibu ya?" Bisik Fajri.


Sena hanya diam tak bereaksi. Sedangkan Rizki masih dalam gendongan Fajri.


"Makan Ji..." Tawar Bang Tino.


"Ya Bang Terima kasih. Sudah tadi di rumah." Kata Fajri bohong.


Sena menurut dan mengambilkan Fajri ketupat sayur plus rendang.


"Terima kasih ya Dek." Kata Fajri.


Sena mengangguk tanpa ekspresi.


Mereka pun berbincang sebantar. Tak lama Fajri berpamitan dan meminta ijin pada Bunda untuk membawa Sena dan Rizki berlebaran ke rumah orangtua Fajri.


Bunda mengangguk. Sena hanya menurut. Sena sebenarnya sudah malas pergi ke rumah mertua nya. Sena tahu Ibu nya Fajri tak bisa menerima Puteranya. Ditambah lagi, Ibu nya Fajri pernah menyuruh Sena untuk bercerai dengan Fajri.


Di perjalanan.


"Maass... Memang Ibu gak marah sama Aku? Ibu kan gak suka sama Aku." Kata Sena ragu.


"Ini Aku jemput Kamu karena disuruh Ibu, Bapak dan Mas Alif." Kata Fajri.


"Gimana kabar Mas Alif, Mas?" Tanya Sena.


"Alhamdulillaah sudah lebih baik. Dia juga sedang mengurus perpisahannya dengan Dijah." Kata Fajri.

__ADS_1


Sena menghela nafas. "Kamu sih Mas pake ngadu yang Aku omongin tentang Kak Dijah. Aku kan gak enak." Kata Sena.


"Justru Mas Alif berterima kasih sama Kamu, karena tahu bagaimana istrinya yang sebenarnya." Kata Fajri.


"Tapi kan gara-gara Aku, Mereka jadi pisah. Biar bagaimana pun Dijah kan ipar yang dekat dengan Aku." Kata Sena menyesal.


"Bukan salah Kamu. Ibu juga sudah kesal sama Dijah. Waktu Mas Alif sakit, Dijah gak pernah ngurusin Mas Alif. Padahal waktu Mas Alif sehat, semua gaji Mas Alif diserahkan semua ke Dijah. Malah Mas Alif sering makan diluar rumah, karena Dijah gak pernah masak." Jelas Fajri.


Sena menghela nafas. "Ada suaminya bener cari nafkah, istrinya gak bener. Ada istrinya bener ngurus rumah tangga, suaminya geblek." Batin Sena.


Fajri menarik tangan Sena agar memeluknya. "Kamu jangan tinggalin Aku, Sena." Pinta Fajri.


"Siapa yang ninggalin Kamu, Mas. Kan Kamu sendiri yang ninggalin Aku." Sena mengrucutkan bibirnya.


"Kamu gak mau dengerin kata-kata Aku." Kata Fajri.


"Kata-kata Kamu cuma menguntungkan Kamu saja, Mas." Jawab Sena sekenanya.


Fajri pun telah memarkirkan motornya di parkiran Rumah Susun. Sena segera turun dengan Rizki yang berada dalam gendongannya.


Fajri mengambil Rizki dari Sena dan membawanya ke atas ke rumah Ibu nya. Sena membawa tas perlengkapan Rizki.


Sena melakukan sungkem pada Ibu dan Bapak nya Fajri. Dan menyalami saudara-saudara Fajri yang lain yang sudah berkumpul disana.


Sena tak melepas sedikitpun Rizki dari tangannya.


Satu jam kemudian setelah berbasa basi. "Alif mau ke rumah Abah dulu, Bu, Pak. Sekalian mau jemput Noval." Kata Mas Alif. Alif membahasakan Bapaknya Dijah dengan Abah. Sedangkan noval adalah Puteranya dari Dijah.


"Sena mau ikut gak?" Tanya Mas Alif.


"Ya tuh ikut sana... Kamu kan akrab nya Dia." Kata Fajri.


Sena mengrucutkan bibirnya. "Ya gak apa... Ikut aja." Kata Fajri. "Rizki biar sama Aku aja." Kata Fajri.


"Rizki Aku ajak saja, Mas." Kata Sena yang segera membawa sebotol susu dan popok untuk Rizki. Dia masukan kedalam tas selempangnya.


Sena pun dibonceng Alif ke rumah Mertua Alif.


30 menit kemudian.


Mereka telah tiba dirumah orangtua Dijah. Alif dan Sena berlebaran dengan Mereka. Alif pun mengobrol dengan orangtua Dijah.


Sedangkan Sena ngobrol dengan Dijah. Dijah membawa Sena ke rumah adiknya agar Mereka leluasa mengobrol.


"Maafin Aku ya Dijah. Aku gak maksud mengadu. Aku hanya bilang sama Mas Fajri, Aku gak nyangka kalau Fajri malah mengadu ke Ibu dan Mas Alif." Sena sangat menyesal.


"Gak apa Sena. Gw juga dah ngelupain. Biarian aja. Gw juga dah cape diporotin terus sama keluarganya Mas Alif." Kata Dijah memancing omongan dengan Sena.

__ADS_1


Alhasil Sena pun terpancing dan curhat sama Dijah. Sena juga gak kuat rumah tangga sama Fajri. Sena menceritakan semua keresahannya selama ini.


Dijah tersenyum karena berhasil memancing omongan dari Sena. Dan Sena tak curiga sedikitpun. Sena fikir Dijah memang temannya yang baik.


__ADS_2