
Dua hari kemudian Sena menjenguk Fajri lagi. Nina sedang kebanjiran orderan pulsa, Makanya Sena belanja lagi ke Roxi dan itu berarti Sena bisa menjenguk Fajri.
Fajri meminta Sena membawakan kopi dan gula pasir kalau datang lagi. Sena menuruti kemauan Fajri. Sena gak mau Fajri putus asa didalam sana.
Sena tahu, Ibu dan keluarga Fajri jarang membesuk Fajri selama ini. Hanya saat pertama Fajri dibawa ke polsek C.
"Aku titip ini buat Ibu." Kata Fajri.
"Apa ini Mas?" Tanya Sena.
"Aku titip pesan buat Ibu. Jangan sampai Kamu gak kasih ya." Kata Fajri.
"Tapi Ibu kan gak mau ketemu Aku, Mas. Ibu membenciku." Kata Sena.
Fajri menghela nafas. "Aku minta tolong Sena. Kamu titip sama Bapak atau Suci kalau Kamu ketemu Mereka. Keluar dari sini, Aku akan bilang sama Ibu, kalau Kamu gak salah apa-apa, Aku yang salah. Semua salah Aku." Kata Fajri.
Sena hanya mengangguk. Dia memperlihatkan bawaannya pada Fajri. Nanti diambil oleh portir.
____________________
"Ini dari Mas Fajri, Bu." Kata Sena.
"Kak Sena memang sering jenguk Mas Fajri?" Tanya Suci.
Sena mengangguk. "Mas Fajri entah pinjam ponsel siapa, Dia sering telpon Kakak dan minta dibawakan ini itu." Kata Sena.
"Oohhh...." Suci mengangguk.
'Sena pamit ya, Bu... Pak... Sena cuma antar pesan itu saja." Kata Sena.
Ibu terlihat masih kesal dengan Sena. Sena segera pergi dari sana.
Tadi di perjalanan menuju rumah Ibu, Sena memberanikan diri membuka pesan dari Fajri yang digulung sebesar batang rokok.
Sena membacanya:
#*Bu... Tolong keluarin Fajri dari sini... Fajri gak mau kalau sampai dikirim ke Tangerang. Lebih baik Fajri mati saja.*#
Begitulah pesan yang ditulis Fajri untuk Ibu nya.
Sena menggeleng-gelengkan kepala membaca pesan itu. Dia merasa punya suami, punya nyali kecil. Berani berbuat takut bertanggung jawab.
"Ya Allah....Kapan semua ini akan berakhir? Aku lelah...." Batin Sena.
____________________
__ADS_1
Telpon di rumah Bunda berdering.
Kak Lana mengangkatnya. Dia memang sedang main ke rumah Bunda.
"Senaaa...." Panggil Kak Lana. "Telpon nih dari Tante nya Fajri."
Sena sedang membungkus es mambo. "Ya..." Jawabnya segan.
"Hallo..." Sapa Sena ogah-ogahan.
"Sena....Kita disini sudah ngumpulkan uang. Tapi masih kurang. Kamu bisa carikan sisanya kan?" Tanya Tante Fajri.
Sena memang sengaja menyetel loadspeaker pada telpon biar Bunda dengar, karena Bunda yang meminta.
Bunda memberi kode dengan menggelengkan kepala.
"Sena uang dari mana, Tante? Makannya aja Sena numpang sama Bunda." Keluh Sena.
Bunda tersenyum dengan kata-kata Sena.
"Ini uangnya kurang lima juta. Masa Kamu gak bisa bantu minta tolong sama keluarga Kamu?" Kata Tante Fajri.
Bunda terperanjat dan kembali menggeleng.
"Lima juta Tante? Lima puluh ribu saja, Sena gak punya sekarang Tante." Kata Sena dengan nada merendah.
"Sena gak bantu sama sekali, Tante? Terus selama ini yang jenguk Mas Fajri siapa?" Sena mulai kesal.
"Memang nya Sena menjenguk Mas Fajri gak pake uang?!" Sena makin menjadi. "Sekarang Fajri korupsi kenapa Sena yang harus mencari uang gantinya? Fajri korupsi aja, Sena gak tahu. Selama ini Fajri selalu bilang sama Sena gak pernah punya duit!!." Sena makin kencang mengeluarkan emosinya.
Sena langsung menutup telponnya karena Bunda yang memberi kode.
"Enak aja... Korupsi Mereka yang menikmati hasilnya, kenapa gw yang dipaksa suruh nyari gantinya?!" Sena masih kesal apalagi dibilang gak bantu sama sekali.
"Anak gw lahir aja, memang Mereka pernah nengok? Ngasih makan aja gak pernah!?" Sena tak terkendali.
Bunda langsung mendekat pada Sena dan mengusap punggung Sena. "Istighfar Sena... Lihat Rizki, Dia ketakutan melihat Kamu marah-marah." Pinta Bunda.
Sena menarik nafas dan menghembusnya perlahan. "Astaghfirullaah.... Astaghfirullaah...."
Bunda memberikan minum pada Sena dan Sena langsung meminumnya.
"Mereka sungguh keterlaluan. Bunda baru tahu kalau ternyata Mereka benar-benar menggencet Kamu." Kata Bunda.
"Lagi memangnya Sena ikutan makan uang korupsi Fajri?" Tanya Lana.
__ADS_1
"Amit-amit Kak... Gak mau Sena makan dari hasil uang haram. Bersyukur Sena bisa cari uang sendiri." Kata Sena sewot.
"Ada apa lagi?" Tiba-tiba Bang Tino sudah berada di ruang tengah rumah Bunda. Dia baru kembali dari pasar.
"Tante nya Fajri minta Sena mencarikan uang lima juta untuk membebaskan Fajri." Kata Kak Lana.
Bang Tino mengerutkan keningnya. "Sekarang Abang tanya sama Kamu, Sena. Selama ini Dia korupsi atau dapat duit, Kamu pernah dikasih gak?" Tanya Bang Tino.
Sena terdiam. Dia bingung harus jawab apa? Kalau Dia jujur, Keluarganya pasti akan sangat marah pada Fajri. Kalau Sena tidak jujur, Sena gak rela Keluarganya memberikan uang untuk membantu Fajri.
Akhirnya Sena menggeleng. Sena gak mau mengorbankan Keluarganya untuk banting tulang mencarikan uang lima juta untuk mengeluarkan Fajri dari Sel Polres. Yang ditolong malah keenakan gak punya pikiran.
"Mas Fajri gak pernah memberi uang sama Sena. Selama ini Sena cari uang sendiri." Kata Sena akhirnya.
Bang Tino menghela nafas. Bunda nampak kesal. "Tuh kan Sena.... Kamu masih saja mau disakiti Fajri. Selama ini Kamu membohongi Bunda..." Bunda terisak.
"Bun...." Tegur Bang Tino.
"Sena... Bawa Rizki ke kamar ya..." Pinta Bang Tino. Sena mengangguk dan bergegas menggendong Rizki ke warung karena ada yang belanja.
"Bunda jangan begitu, kasihan Sena. Sena itu sedang dilema, Tino salut sama Sena. Kalau Tino atau adik-adik Tino yang mengalami seperti Sena alami sekarang, mungkin Tino sudah gila, Bun. Tapi Sena tetap tegar. Disini diomelin, disana digencet. Bunda ngerti lah sedikit." Pinta Bang Tino.
"Justru karena Bunda mau melindungi Sena, makanya Bunda mau Sena jujur sama Bunda. Tempo hari Ibu nya Fajri kesini bentak-bentak Sena didepan Bunda. Bunda gak bisa ngebayangin gimana menderitanya Sena kalau gak ada Bunda disana?" Bunda makin terisak.
"Sena cuma ingin menjalani rumah tangganya tanpa ikut campur yang lain, Bun. Dia berfikir ini adalah jalan hidupnya, Fajri pilihan Dia. Jadi Sena harus siap menanggung semuanya." Kata Bang Tino.
"Ya tapi bukan berarti Sena harus menerima semua perlakuan tidak menyenangkan dari keluarganya Fajri?! Sena juga berhak bahagia." Kata Bunda.
"Mungkin Sena bahagia bersama Fajri, Bun." Kata Bang Tino lagi.
"Bahagia Kamu bilang? Apa mata mu buta? Adikmu sampe kurus kering begitu, kena TBC, Kamu bilang bahagia? Sena tidak bahagia, Dia hanya menjalani apa yang sudah menjadi jalannya tanpa tahu arah yang benar." Kata Bunda.
"Bunda... Bang Tino... Sudah..... Sudaaahhh...." Tiba-tiba Sena sudah berdiri di depan pintu ruang keluarga.
"Jangan ribut lagi ya... Sena gak apa kok... Ini sudah resiko Sena memilih Fajri sebagai teman hidup Sena. Sena minta tolong, jangan ribut lagi...." Pinta Sena selembut mungkin.
Bunda dan Bang Tino hanya menghela nafas.
"Biar Allah yang akan memutuskan yang terbaik untuk Sena... Sena yakin, Allah gak akan memberikan cobaan pada Sena diluar kemampuan Sena... Sena berharap kedepannya ada kebaikan buat Sena dan Rizki." Kata Sena lagi.
Bang Tino menghampiri Sena, Dia mengelus kepala Sena. "Abang yakin Kamu bisa melewati ini semua."
Bunda mengusap airmatanya. "Kamu gak sendirian Sena. Keluarga Kamu akan mendukung keputusan Kamu yang menurut Kamu baik untukmu dan Rizki."
"Terima kasih Bunda... Terima kasih Bang Tino." Sena berlalu masuk kedalam kamar sambil masih menggendong Rizki.
__ADS_1
Sena kembali menangis di dalam kamar. Gara-gara Fajri, semuanya gara-gara Fajri dan kematrean keluarga Fajri.