Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Perhatian


__ADS_3

"Apa Dia serius dengan ancaman nya? Tapi Dia tahu semua tentang Aku? Ya Allah... Apa lagi ini?" Batin Sena, Dia juga merasa was-was. "Apa Aku bilang ke Bang Andi aja yah? Ah gak lah, nanti Dia ngomel-ngomel lagi. Cape deh lama-lama dicurigai terus sama Bang Andi."


"Kak... Kok ngelamun terus sih?" Lily jadi bingung.


"Ah sudah lah..." Rejeki gak boleh ditolak. Kebetulan Aku juga lagi bokek." Kata Sena pada diri nya sendiri. "Karena ada Bang Andi aja, Aku jadi gak ngongkos." Batin Sena.


Sena memasukan wesel nya ke dalam saku baju PDL nya. Sena mengaktifkan ponsel nya.


"Kak... Iihhh kok jadi ngomong sendiri?" Lili menghampiri Sena dan menempelkan telapak tangannya ke kening Sena.


"Lili!? Apa-apaan sih?" Sena terkejut.


"Anget Kak..." Gawat ini. Canda Lili.


"Apaan siihhh... Aneh Kamu, Li." Sena mengrucutkan bibir nya.


"Lagian Kak Sena, Aku tanya gak jawab, malah ngomong sendirian." Canda Lili.


Sena hanya menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


Ponsel Sena kembali berdering. "Iiihhh mau apalagi sih nih orang?" Batin Sena kesal.


"Hallo...." Sapa Sena dengan nada ketus.


"Sudah diambil uang nya?" Tanya nya.


"Belum... Saya lagi kerja. Jadi belum sempet ke Kantor Pos." Ketus Sena.


"Kok Kamu sewot sih?" Tanya Nya.


"Abis Kamu ganggu aja siihh....Orang lagi kerja juga." Jawab Sena masih sewot.


"Ya udah, pulang jam berapa? Nanti kalau sudah di rumah, kabari Saya." Kata nya.


"Loh katanya anak buah nya banyak.... Kok minta dikabarin? Kan anak buah nya langsung kontek Kamu?" Tanya Sena.


"Bisa gak jangan ngeles terus?! Pokok nya kabarin yah. Oh ya satu lagi, kalau duit nya udah diambil, tolong isiin pulsa nomor ini yah." Pinta nya.


"Iiisshhh... Udah dikasih malah diminta lagi." Ketus Sena.


"Udah gak usah banyak komentar. Nanti malam Saya telpon Kamu. Jangan sampe gak diangkat." Kata nya lagi.


Belum sempat Dia berpamitan, Sena sudah memutuskan sambungan telpon.


"Orang aneh...." Gumam Sena.


_________________________


"Kok melamun sih?" Tanya Andi yang langsung menarik tangan Sena agar memeluknya.


"Gak melamun. Kan Abang lagi bawa motor." Kata Sena.


"Kamu gak biasa nya begini. Biasa nya selalu ada aja yang Kamu omongin sama Abang." Kata Andi terdengar kecewa.


"Abang curiga lagi kalau Sena ada main dengan cowok lain?!" Cibir Sena.

__ADS_1


"Ya gak juga sih... Cuma Kamu beda aja." Kata Andi.


"Wonder woman dong Aku, bisa berubah..." Canda Sena.


Andi mengelus tangan Sena yang memeluk nya. "Kamu pegang uang gak Dek?" Tanya Andi.


"Gak Bang. Mang kenapa?" Tanya Sena.


"Kalau ada, Abang pinjem 100 ribu yah. Penghasilan Abang ngojek kan buat traktir Kamu makan sama setoran sewa motor". Kata Andi. "Hari ini ojek nya lagi sepi..."


Sena menghela nafas. "Coba tadi Abang bilang, Sena kan bisa pinjam sama teman Sena." Kata Sena.


"Abang gak enak bilangnya." Kata Andi.


"Kalau gak enak kasih kucing aja." Canda Sena.


"Mulai yah..." Kata Andi masih fokus bawa motor. "Kalau Abang boleh saran, mending Kita kredit motor, daripada Kita sewa sama orang, Abang harus setoran. Rame atau sepi Abang tetep bayar setorannya segitu."


Sena menghela nafas. "Tapi Kita belum nikah, Abang. Kalau mau kredit motor tuh harus pake KTP suami istri, buku nikah juga slip gaji." Jelas Sena.


"Makanya Kamu aja yang kredit, nanti Abang setoran tiap hari ke Kamu." Usul Andi. "Tapi jangan lupa dikasih cium." Goda Andi.


Sena memutar bola mata nya. Jengah.


"Yah nanti deh Bang, Sena pikir-pikir dulu. Soal nya Abang kan tahu gaji Sena berapa. Belum buat susu Rizky, bayar listrik dan keperluan lain." Kata Sena.


"Bang...." Sapa Sena.


"Hhhmmm....? Apa Sayang?" Tanya Andi.


"Mang gak boleh? Kan Abang memang sayang sama Kamu." Kata Andi.


"Itu... nomor KUNYUK kemarin... ." Sena ragu.


"Ada apa?" Tanya Andi penasaran.


"Nama nya Aldi, yah? Terus masa Dia tahu dimana alamat kantor Sena berikut nama PT nya." Kata Sena.


"Kalau Dia minta alamat rumah, jangan dikasih ya." Kata Andi. "Apa Kamu selalu meladeni Dia kalau Dia telpon?" Selidik Andi.


"Gak...." Kata Sena. "Makanya kalau malam ponsel Sena silent, takut ganggu Rizky bobo kalau pake getar atau suara."


"Matiin aja ponsel nya kalau mau tidur." Pinta Andi.


"Ya Abang..." Kata Sena sambil menyandarkan kepala nya ke bahu Andi.


Seperti biasa Andi menghentikan motor nya di samping gedung. "Capek yah?" Tanya Andi.


Sena mengangguk.


"Apa masih sakit?" Tanya Andi lagi perhatian.


"Dikit." Kata Sena yang masih menaruh kepala nya di bahu Andi.


"Kamu sayang gak sama Abang?" Tanya Andi sambil mengelus kepala Sena.

__ADS_1


Sena mendongak. "Pertanyaan apa itu?" Tanya Sena.


"Ya pertanyaan wajarlah..." Kata Andi.


"Mang harus dijawab?" Tanya Sena malas.


"Abang mau denger sendiri dari mulut Kamu." Kata Andi.


"Kalau Aku gak sayang, ngapain Aku mau diajak kesini? Dianter jemput, dipeluk, dicium... Mang Abang kira Aku lagi jual diri?!" Omongan Sena sangat pedas.


"Ya ampun Sena, kok ngomong nya sampe kesitu?" Andi terkejut.


"Abis Abang cari gara-gara terus." Sena bersedekap. "Bikin BT aja..." Sambil mengrucutkan bibir nya.


Andi menarik pinggang Sena, menggesernya agar mendekat. Sena malah membalikkan badannya membelakangi Andi. Justru Andi malah memeluk Sena dari belakang. Menarik kepala Sena agar bersandar ke dada nya.


Andi mengecup puncak kepala Sena sambil memijat bahu Sena.


Sena hanya diam saja dengan perlakuan Andi. Sena sangat kesal dengan Andi yang terlalu posesif, namun Sena suka kalau sudah dimanja Andi.


"Bang..." Panggil Sena.


"Hhmmm... Apa sayang?" Tanya Andi masih memeluk Sena.


"Sena mau pergi yang jaauuuuuhhhhh banget!" Kata Sena.


Andi melerai pelukannya karena kaget dengan ucapan Sena. "Kamu mau kemana?" Tanya Andi.


"Sena BT tinggal di Jakarta. Sena mau pergi yang jauh biar kenangan pahit disini terlupakan." Kata Sena.


"Ke Sumatera mau gak?" Tanya Andi.


"Ngapain Bang?" Tanya Sena bingung.


"Tadi kata nya mau pergi yang jauh... Temen Abang nawarin kerja tapi si Sumatera." Kata Andi.


"Terus... Abang ambil?" Tanya Sena antusias.


"Belum...." Kata Andi segan. "Abang tanya Kamu dulu. Kamu mau gak pindah ke sana?"


"Terus Rizky?" Tanya sena.


"Kita bawa dong. Masa anak Kamu ditinggal." Kata Bang Andi.


"Sena mau aja sih Bang. Tapi Sena gak tega ninggalin Bunda." Kata Sena.


"Iya juga yah." Andi memang tahu keadaan rumah Sena. Sena pernah curhat pada Andi.


"Bang... Si kunyuk itu kata nya ngawasin Sena kemana-mana. Dia tahu kalau Sena jalan sama Abang." Kata Sena.


"Sebenar nya Kamu kenal Dia dimana?" Tanya Andi.


Dia telpon ke ponsel Sena. Sena mengingat. "Kayak nya dari Rasya deh. Soal nya dulu Sena pernah tanya Rasya, Rasya cuma nanya Dia ngomong apa." Jelas Sena.


"Hhhmmm... Berarti Dia tahu tentang Kamu dari Rasya. Dia tahu Kita berhubungan juga dari Rasya. Kamu gak usah percaya kalau Dia bilang anak buah nya mata-matain Kamu. Bohong itu. Makanya jangan sekali-kali Kamu kasih alamat rumah Kamu. Ngerti?" Tanya Andi.

__ADS_1


Sena mengangguk dan Andi langsung membungkam bibir Sena dengan bibir nya


__ADS_2