
"Mama.... Angun...." Rengek Rizki. Dia merasa sendirian di rumah Andi melihat Mama nya tidur dipangkuan Andi.
"Sini Rizki sama Bapak... Biarin Mama bobo yah..." Kata Andi.
"Nda au..." Rizki mengerucutkan bibirnya. "Mama....." Rengeknya.
Sena mengerjab mendengar teriakan Rizki. "Astaghfirullaah..." Sena langsung bangun dari pangkuan Andi. "Maaf Bang, Sena ketiduran."
"Mama...." Rengek Rizki.
"Ya... Maafin Mama yah..." Sena memeluk Rizki. "Duuuhhh belepotan gini ah..." Sena mengambil tissue basah dari tas nya.
"Ayo Bapak cuciin tangannya di kamar mandi." Ajak Andi.
"Nda au..!" Ketus Rizki.
"Minta tolong air di baskom aja Bang." Pinta Sena.
Andi mengangguk dan segera mengambilkan air.
Sena membuka kaos Rizki. Mengelap wajah nya yang sudah belepotan dengan es dan lengket. Mengusapkan kaos nya yang sedikit dibasahkan pada air di baskom dan mengelap tubuh Rizki. Mencuci tangannya.
"Sini baju nya Aku kucekin. Nanti Aku jemur." Pinta Andi.
Sena tersenyum. "Makasih Bang."
Sena memberi bedak tabur ke badan Rizki. "Kok gak mau sama Bapak? Kan Bapak baik mau nolongin Rizki." Kata Sena dengan lembut.
"Nda au...." Rizki memonyongkan bibir nya.
"Jelek iiihhh...." Sena menyomot bibir Rizki yang maju. "Dah wangi... Jangan belepotan lagi yah...."
Rizki langsung mengalungkan tangannya ke leher Sena dan duduk di pangkuan Sang Mama.
"Sena...! Ayo makan dulu. Udah mateng sayur asem nya. Ajak Ibu. Andi mana?" Tanya Ibu.
"Tadi ke belakang Bu." Kata Sena. Tak lama Andi keluar dengan kaos Rizki yang sudah diperas oleh nya. Dia menjemur kaos Rizki yang basah dengan hanger.
Ibu Andi tersenyum melihat itu semua. "Ayo Sena... Rizki...." Ajak Ibu.
Sena mengikuti Ibu sambil menggendong Rizki. Andi langsung merangkul bahu Sena tapi Rizki menepis tangan Andi. Andi mencubit pipi cubby Rizki. Rizki langsung mengelap pipi nya.
Mereka pun makan siang dengan suka cita. Ada sayur asem, tempe goreng dengan teri dicabein, emping dan lalapan serta tahu goreng.
Rizki makan disuapin Sena. Sena gak mau Rizki nanti belepotan lagi karena Dia hanya membawa satu baju ganti untuk Rizki.
Setelah ashar, Sena berpamitan pulang dan karena Rizki yang terus merengek minta pulang. Dia gak betah, masih asing disana. Apalagi Rizki kurang suka dengan Andi.
Andi mengantar Sena ke angkot depan gang rumah nya.
"Besok pulang kerja Abang jemput yah?" Kata Andi.
"Emang Abang tahu kantor Sena?" Tanya Sena.
"Tahu dong. Orang kelihatan dari jalan." Kata Andi sambil tersenyum.
"Sena pamit ya Bang." Angkot sudah berhenti di depan Mereka. Sena naik sambil menggendong Rizki. "Dadah sama Bapak." Pinta Sena.
"Nda au..." Rizki langsung melengos menyembunyikan wajah nya ke dada Sena.
__________________________
Ponsel Sena berdering. "Bang Andi... Jam menunjukkan jam 12 siang." Sena sedang berada di Lobby.
"Seny... Saya angkat telpon sebentar yah." Pamit Sena.
__ADS_1
Seny mengangguk. "Ya Bu...."
"Assalamu alaikum Bang... Ada apa?" Sapa Sena.
"Wa alaikumussalaam... Abang di depan kantor Kamu nih." Kata Andi.
"Ngapain Bang? Sena masih kerja." Kata Sena terlihat panik.
"Kamu keluar sebentar yah..." Pinta Andi.
"Memang nya ada apa Bang?" Tanya Sena.
"Abang bawa makan siang buat Kamu." Kata Andi.
"Kok repot-repot sih Bang." Kata Sena.
"Ya udah Kamu keluar sebentar yah." Pinta Andi.
"Ya Bang." Kata Sena seraya menutup ponsel nya.
"Seny... Saya keluar sebentar yah... Mau ambil makan siang." Pamit Sena.
"Jangan lama-lama ya Bu, Seny sebentar lagi istirahat. Atau Ibu aja duluan yang istirahat?" Tawar Seny.
"Oh iya deh... Makasih ya Seny." Kata Sena sambil tersenyum.
Sena pun setengah berlari ke gerbang. Dia membuka pintu kecil gerbang. "Untung gak ada Bang Badri. Kalau ada bisa rame deh..." Batin Sena.
Sena celingukan. "Mana Bang Andi?"
"Sayang... !" Panggil Andi.
Sena menengok ke arah suara. Sena tersenyum. Sena menghampiri Andi. "Kok repot-repot sih Bang." Kata Sena.
Andi merangkul bahu Sena. "Kita duduk di warung itu aja yah..." Ajak Andi.
"Tadi Abang dapat penumpang ke Mall itu." Andi menunjuk Mall yang berada di seberang kantor Sena. "Jadi Abang mampir. Kamu gak buru-buru kan?" Tanya Andi.
"Gak Bang. Tadi yang jaga sama Aku minta Aku istirahat duluan." Kata Sena.
Andi menyubit pipi Sena dengan lembut. "Kamu se*i kalau pakai seragam ini." Bisik Andi.
"Iisshhh Abang.... Orang disuruh jait pas badan." Kata Sena mengrucutkan bibirnya.
Andi hanya terkekeh dan menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Motor Abang mana?" Tanya Sena.
"Itu...!" Andi menunjuk motor nya yang terparkir di depan warung nasi.
"Abang beli nasi disitu?" Tanya Sena.
"Yah... Takut nya Kamu belum istirahat jadi Abang bungkus. Sekarang makan disana aja yah?" Kata Andi.
Sena mengangguk.
Mereka duduk bersebelahan. "Bu... Pinjem piring." Kata Andi.
"Oohhh makanan nya buat Sena?" Tanya Ibu warung.
"Iya Bu....Kirain belum istirahat jadi dibungkus." Kata Andi.
"Kalau tau buat Sena mah, jangan pake ikan. Sena gak doyan ikan." Canda Ibu warung.
Andi menatap Sena dengan pertanyaan.
__ADS_1
Sena mengangguk. "Sena gak suka ikan, Bang. Amis." Kata Sena.
Andi mengambil piring makan Sena. Memisahkan ikan dari duri nya. Kemudian memotongnya dan menyuapkan pada Sena. "Ikan itu enak Sena, gizi nya bagus." Kata Andi yang gak mau Sena menolak ikan.
Sena mau gak mau menerima suapan Andi. Ibu warung tersenyum melihat tingkah laku Andi dan Sena.
"Enak kan?" Tanya Andi.
"Kalau ikan kembung banjar, Aku suka. Aku cuma malas misahin tulang sama durinya. Hehehehe...." Kata Sena.
Andi mencubit pinggang Sena. "Sama Abang gak boleh nolak ikan."
"Tapi Sena gak suka ikan selain ikan kembung." Kata Sena.
"Lele gak suka?" Tanya Andi.
"Iiihhh... Lele kayak ular." Kata Sena.
"Ya ampun. Ikan Mas?" Tanya Andi.
"Banyak duri nya. Sena pernah keselek duri ikan Mas." Kata Sena.
"Heeeehhh... Susah banget makannya. Pantes aja gak mau gemuk." Kata Andi.
"Iiihhh Kayak yang udah pernah liat Sena kurus aja." Canda Sena.
"Ini sekarang kurus." Kata Andi.
"Tadi kata Abang se*i..." Bisik Sena sambil terkekeh.
Andi merangkul pinggang Sena. "Tapi kalau digemukin lagi tambah se*i." Bisik Andi.
"Gak ah... Sena gak mau gendut-gendut. Nanti gak bisa lari." Canda Sena.
"Iihhh suka banget ngeles deh." Kata Andi yang masih menyuapkan nasi ke mulut Sena.
"Sena mau minum apa?" Tanya Ibu warung.
"Jeruk peras hangat Bu." Pinta Sena.
"Gimana mau gemuk, makan kok minum nya jeruk peres?" Andi mengrucutkan bibir nya.
"Iiissshhh... Bagus tau Bang. Jadi gak gendut." Sena terkekeh. Sena kembali menerima suapan dari Andi.
"Kok Abang gak makan?" Tanya Sena.
"Sudah tadi sebelum telpon Kamu." Kata Andi.
"Terus ngerokok?" Tanya Sena.
Andi menggeleng. "Abang gak ngerokok." Kata Andi.
"Bagus dong...." Kata Sena.
"Mang Sena seneng kalau Abang gak ngerokok?" Tanya Andi.
Sena mengangguk. "Sena pusing kalau bau asep rokok. Udah nya bersin-bersin."
"Abang kira Kamu ngerokok. Abis bibir nya item gitu." Canda Andi.
"Ini item karena bibir Sena sering kering. Terus dari lambung Sena yang bermasalah." Sena mengrucutkan bibirnya.
"Nanti kalau sering Abang cium juga bakalan merah lagi." Bisik Andi.
PLAAAKKK...!!!
__ADS_1
Sena memukul paha Andi dengan kencang.
"Aaaccchhhhh...!!!" Jerit Andi.