
Sejak hari itu Fajri tak pernah lagi menunjukan batang hidungnya. Hanya sesekali Dia menelpon Sena untuk merayu Sena agar mau kembali.
Lana juga makin menjadi. Entah perkataan apa yang telah Dia sampaikan pada Vina sehingga Vina sepertinya kesal sekali pada Sena, Kakaknya sendiri.
Apalagi sekarang Bang Tino menjadi supir pribadinya Vina dan Lana sering ikutan nimbrung mengantar Vina kemana saja.
Sena memang terkesan ikut campur urusan adik-adiknya, namun tak ada maksud Sena ikut campur, Dia hanya ingin melindungi Adik-adiknya.
Apalagi saat Bang Tino ribut dengan Nina masalah mobil. Nina memang kredit mobil. Dan mobil itu dibisniskan oleh Bang Tino. Disewakan pada yang menyewa. Tapi Bang Tino gak jujur, setorannya tak pernah benar ke Nina.
Sena membela Nina karena Tino memukuli Nina. Sena tak terima adik bungsunya dipukuli Tino. Cukup dirinya saja yang rusak karena sering terkena tamparan dari Tino.
Hanya Anto dan Nina yang gak bisa dipengaruhi oleh Lana. Karena Mereka juga tahu bagaimana Lana.
Sena makin sibuk membantu Bunda menjahit. Pekerjaan Sena juga makin banyak. Pagi-pagi sebelum membantu Bunda, Dia bebenah dulu. Sedangkan Lana tak mau membantunya sama sekali.
Bunda juga sudah malas belanja dapur, karena Bunda merasa diperbudak, sudah dibelanjaain tapi memasaknya saja Lana gak mau.
Kerap Sena dan Lana bertengkar dan akan berakhir Sena mendapat tamparan dari Bang Tino. Dan Lana makin menjadi menggencet Sena karena merasa Bang Tino membelanya.
Anak-anak Bang Tino juga sudah mulai galak pada Rizki. Rizki kerab sekali menangis kalau sudah bermain dengan Alvi.
Saat itu Rizki sedang main mainan yang dibelikan Vina, Alvi baru bangun tidur dan langsung mengganggu Rizki. Sontak saja Rizki menangis karena mainannya direbut Alvi.
Lana langsung mencubit Alvi, Sena melihat itu. Mulut Alvi berkata kasar: "Dasar Lo pelit! Anak pungut boleh mungut dari tempat sampah!"
"Astaghfirullaah... Alvi..! Mulutnya keterlaluan banget?!" Bentak Sena.
Sontak saja Lana memukul mulut Alvi. "Dasar Lo gak tau diri. Numpang juga Lo disini, mulut dijaga..!!" Lana membentak dan memukul Alvi. Dan masih banyak lagi perkataan Lana yang sangat tak enak didengar oleh telinga.
Sena langsung menggendong Rizki masuk ke tempat jahit Bunda. Sena mencoba mendiamkan Rizki yang menangis karena mendengar orang teriak-teriak. Walau Dia belum mengerti apa yang dikatakan oleh orang-orang.
Bunda mengurut dada mendengar ocehan Lana yang tidak juga berhenti. Memarahi anaknya tapi tak luput sambil menyindir.
"Kamu main disini saja. Jangan kemana-mana. Mama masih bebenah." Pinta Sena pada Rizki yang mulai berhenti menangis.
__ADS_1
Sena melihat pipi Rizki yang merah karena dicubit Alvi tadi.
"Ya ampun... Keterlaluan banget Alvi." Kata Bunda. Bunda mengusap pipi Rizki dengan kain hangat yang Bunda seterika.
"Nda au.. Anas..." Kata Rizki saat Bunda mau memgusapnya lagi.
Sena berada di dapur. Dia menghela nafas melihat piring kotor dan peralatan dapur yang menumpuk. Namun Sena tahu diri, Dia menumpang makan pada Bang Tino karena Bunda tak lagi mau belanja.
Sena mulai mencuci piring walau perutnya sudah sangat perih karena menahan lapar.
Tukang nasi uduk lewat dan memanggil Sena. "Sena....Uduk... gandasturi, pastel." Teriaknya.
Sena langsung mencuci tangannya dan bergegas keluar. Sena membeli sebungkus nasi uduk dan beberapa gandasturi untuk Bunda. Bunda juga membeli lopis sebagai pengganjal perutnya.
Sena menyuapi Rizki dengan nasi uduk yang isinya alakadarnya. Sena juga menambahkan dengan tempe goreng dan bakwan. Rizki makan dengan lahab. Sena mengalah, yang penting baginya, Puteranya kenyang dulu baru Dia pikirkan perutnya.
Setelah sarapan dan menyuapi Rizki, Sena kembali meneruskan cuci piring dan ternyata disana sudah ada Lana yang sudah mulai menyiangi sayuran.
Wajahnya ditekuk sedemikian rupa. Sena tak memperdulikannya. Dia fokus mencuci piring. Sesekali Dia mendengar Lana yang membanting sesuatu entah apa itu. Sena mempercepat cuci piringnya.
Hari sudah siang. Perut Sena makin melilit. Tadi Dia sarapan hanya sekedarnya. Dia ingin makan tapi gak enak karena Lana selalu memasang wajah tak enak kalau Sena mengambil masakannya.
Bang Tino dan Vina datang kerumah Bunda. Sekolah anak Vina memang tidak jauh dari rumah Bunda. Dan Vina selalu mampir jika jam sekolah Puterinya telah usai.
Bang Tino mau makan tapi nasi habis. Bang Tino marah-marah. "Gimana sih nasi sampe habis. Eh Sena....Kerjaan lo ngapain aja sih? Sampe nasi abis lo diemin gak masak!" Bentak Tino.
Sena terperanjat. Sena belum juga makan. Dia hanya makan nasi uduk tadi pagi itu pun berdua Rizki.
Sena buru-buru masak nasi. Dia gak mau ribut sama Tino. Karena Tino selalu main tangan kalau sudah kesal.
Bunda hanya diam saja. Entah apa yang ada dipikiran Bunda. Tak lama Sena sudah kembali ke tempat jahit Bunda setelah meyalakan ricecooker.
Esok hari nya begitu lagi. Bang Tino selalu memarahi Sena karena tak ada nasi atau piring kotor yang menumpuk. Mau makan tak ada piring bersih.
Sena menggrutu. "Yang makan siapa yang cuci piring gw juga. Kaya Babu gw lama-lama disini." Tapi Sena tetap mengerjakannya.
__ADS_1
"Apa Lo bilang!?" Tiba-tiba Bang Tino membentaknya. "Tugas rumah Lo kerjain aja, gak usah ngegrutu!" Kata Bang Tino.
Sena hanya mengrucutkan bibirnya.
Hari ini Sena gak enak badan. Dia meriang. Sena sering menahan lapar karena gak punya uang untuk makan. Dia malu karena selalu minta pada Bundanya.
Sena menbuatkan Rizki susu dan melihat Lana yang sedang mencuci piring. Lana membanting-banting perabotan yang Dia cuci ketika melihat Sena.
Sena buru-buru ke tempat jahit Bunda dan memberikan susu pada Rizki.
"Bun... Kak Lana kenapa sih? Setiap cuci piring kalau Sena lewat pasti Dia banting-banting." Kata Sena pelan.
"Aahh... Perasaan Kamu aja! Dah jangan cari ribut terus, Bunda pusing, setiap hari ribuuuuttt terus!!" Bentak Bunda.
Sena tersentak. Sena hanya Diam dan membawa Rizki masuk ke kamar. Badan Sena masih lemas. Dia belum makan dari tadi. Sena menidurkan Rizki. Tak lama Rizki tertidur.
Sena membuka kotak uang dagangannya. Dia mengambil uang untuk membeli sayur keluar. Bunda melihat itu. Tapi Bunda hanya diam saja.
"Bun... Titip Rizki ya. Sena mau beli lauk." Kata Sena.
"Sebentar." Kata Bunda. Bunda masuk ke kamar dan keluar membawa uang. "Nih beli pake ini saja. Taruh uang Kamu dikotak dagangan." Pinta Bunda. "Kamu sudah masak nasi? Nanti Abangmu pulang gak ada nasi, kena marah lagi Kamu." Tanya Bunda.
"Belum Bun. Masih ada." Kata Sena pelan.
"Ya sudah beli lauknya buat sore sekalian." Pinta Bunda. Sena mengangguk.
Tiga puluh menit kemudian Sena sudah kembali. Sena memindahkan sayur dan lauk pauk ke piring dan mangkuk. Sena mengambil piring mau makan. Tapi pas Sena membuka ricecooker tenyata nasinya gak ada.
"Tadi masih banyak." Batin Sena.
Akhirnya Sena memasak nasi dulu. Tubuhnya gemetaran menahan lapar yang teramat.
"Loh tadi katanya nasi banyak? Kenapa malah sekarang masak lagi?" Tanya Bunda heran, Bunda juga hendak makan.
Sena hanya diam. Bunda menghela nafas.
__ADS_1