Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Fajri Selingkuh


__ADS_3

Pagi-pagi Sena sudah bersiap. Dia akan mengunjungi Fajri ke Polsek C.


"Kamu mau kemana, Sena?" Tanya Bunda yang melihat Sena sudah rapih.


"Aku mau ke Polsek Bun. Aku titip Rizki ya." Pinta Sena.


"Bunda kira semalam Kamu pergi belanja. Terus kemana, pulang gak bawa belanjaan?" Tanya Bunda yang pura-pura gak tahu. Dia ingin Sena yang cerita.


"Gak tahu lah Bun. Sena juga pusing. Mas Fajri bikin ulah terus." Kata Sena mencoba untuk tegar.


"Ya sudah hati-hati. Jangan lama-lama pulangnya, kasihan Rizki." Kata Bunda yang gak mau banyak tanya.


"Ya Bun, nanti dari Polsek Sena langsung belanja." Kata Sena. Sena segera berpamitan dan mencium punggung telapak tangan Bunda.


______________________


"Maafin Aku Dek.... Aku salah sama Kamu...." Fajri menciumi tangan Sena dari balik jeruji.


"Jangan tinggalkan Aku, Dek. Aku mohon... Setelah dari sini, Aku janji akan membahagiakan Kamu..." Kata Fajri dengan airmata buayanya.


Fajri sudah dipindahkan ke dalam Sel bersama para tahanan yang ada.


Sena juga terkejut melihat Fajri sudah dalam Sel. Sena menangis melihat kondisi Fajri. Sena tak tega.


"Aku yang sudah mengambil uang Kamu.... Maafin Aku, Dek..." Fajri menangis. Menyesal pada saat itu tapi sudah terlambat.


Sena terperanjat. Dia telah menyumpahi orang yang mengambil uangnya. Dan ternyata malingnya adalah suaminya sendiri. Sena menyesal karena asal berbicara karena terlalu kesal.


Semalam Fajri berpesan untuk dibawakan celana pendek. Karena celana panjangnya yang kemarin Dia pakai bekerja sudah di potong pendek oleh petugas.


"Memang kenapa dipotong sih Mas?" Tanya Sena yang kesal karena celana itu adalah celana baru yang Sena jahit untuk Fajri.


"Kalau celana panjang gak boleh Dek, banyak kejadian yang bunuh diri pake celana panjang." Jelas Fajri.


Sena hanya mengangguk. Dia menyerahkan bawaannya pada Fajri karena waktu berkunjung dibatasi. Sena juga tadi sempat membelikan donat untuk Fajri buat sarapan.


"Aku minta tolong sama Kamu, hubungi teman Aku, Rizal. Bilangin Aku minta tolong menagih di warung-warung yang belum sempat Aku tagih." Kata Fajri.


"Tapi Aku gak tahu nomor Rizal, Mas." Kata Sena.


"Ada di ponsel ku. Memang Rino belum ke rumah Bunda?" Kata Fajri.


Sena menggeleng. "Mungkin nanti siang kali Mas." Kata Sena.


Fajri mengangguk. "Ya sudah, Kamu hati-hati pulangnya ya." Pesan Fajri yang hanya bisa menyentuh wajah Sena dari balik jeruji.


Sena mengangguk. Dia pun berpamitan dan mencium punggung telapak tangan Fajri.


Kemarin-kemarin Sena sangat kesal dengan kelakuan Fajri yang tak memperdulikannya, kini Sena merasa kasihan atas apa yang menimpa suaminya.


_____________________


"Coba Kamu putar letak barang-barang Kamu dikamar, Sena." Pinta Bunda.

__ADS_1


"Buat apa Bun? Sena gak kuat menggeser tempat tidur, berat Bun." Kata Sena.


"Ya barangkali dengan mengubah letak posisi barang-barangmu, ada perubahan yang lebih baik. Nanti Bunda bantu." Kata Bunda.


Sena mengangguk. Dia mulai menggeser meja tivi keluar kamar agar bisa menggeser tempat tidur.


Rizki ikut-ikutan membantu Mama nya. Sena hanya tersenyum melihat Putera semata wayangnya.


Kemudian Sena menggeser lemari. Tapi sesuatu berada di bawah laci lemari. "Apaan nih yang ganjel?" kata Sena.


"Coba Kamu lepas dulu lacinya." Pinta Bunda.


Sena menuruti perintah Bunda. Dia melepas laci dari lemari dan merogoh ada apa dibawah sana.


Sena terperanjat dengan apa yang Sena temukan. "Ini kan kotak yang Sena cari-cari Bun." Kata Sena.


"Mang isi nya apa?" Tanya Bunda.


"Sena kurang ngerti Bun, Cuma Mas Fajri menyembunyikan ini." Kata Sena.


"Coba Kamu buka." Pinta Bunda.


Sena membukanya. Sena terkejut. "Astaghfirullaah... Jadi selama ini..."


"Apa Sena?" Bunda penasaran.


Sena pun menceritakan pada Bunda tentang cahaya biru yang Sena lihat di kontrakan.


Bunda terlihat kesal. "Nanti Bunda tanya Abang Kamu. Kamu simpan saja itu." Kata Bunda.


Satu jam kemudian, Sena sudah selesai merubah tata letak posisi tempat tidur dan barang-barang yang lain. Dia juga mengepelnya.


Sena sedang berselonjor bersama Rizki ketika sebuah motor berhenti di teras rumah Bunda.


"Assalamu alaikum." Salam orang itu yang ternyata Rino.


"Wa alaikumussalaam... Masuk Rin..." Kata Sena dan Bunda.


Rino pun masuk dan duduk di ruang tamu. Sena membuatkan kopi.


"Minum Rin." Sena mempersilahkan.


"Terima kasih Sena." Rino pun menyeruput kopinya perlahan.


"Gw mau anterin kunci dan STNK motor, juga dompet dan Ponsel milik Fajri." Kata Rino yang menaruh semua barang-barang itu ke meja.


"Ya Mas Fajri juga sudah berpesan sama Saya." Kata Sena.


"Memang kejadiannya gimana sih Rin?" Tanya Sena.


"Gw juga kurang tahu, kemarin tiba-tiba Ibu kalap minta dianterin ke Polsek C setelah mendapat telpon dari Fajri." Jelas Rino.


"Jam berapa?" Tanya Sena.

__ADS_1


"Masih pagi. Kira-kira jam 9 an." Kata Rino.


"Saya tahu nya abis maghrib. Itu juga Mas Fajri gak mau terus terang. Langsung aja Saya tembak di Polsek mana." Kata Sena.


"Iya... Fajri mang gak bisa jujur. Tempo hari aja dagang motor Gw, laku nya sekian bilangnya sekian. Sudah nya Gw gak mau lagi minta tolong sama Fajri. Belum lagi komisi dari Gw." Jelas Rino.


Sena menghela nafas. "Saya aja jarang dikasih nafkah sama Dia." Kata Sena pelan takut terdengar Bunda.


"Masa sih?" Tanya Rino.


Sena mengangguk sedih. "Saya cari duit sendiri Rin. Susu saja adik-adik Saya yang belikan. Saya gak pernah ngerepotin keluarga Fajri kok buat kasih makan Rizki. Keluarga Saya masih sanggup. Toh rejeki gak akan tertukar." Kata Sena.


Bunda keluar dan Berkata: "Itu juga tadi apa tuh yang ditemukan Sena. Coba Kamu kasih lihat ke Rino." Pinta Bunda.


Sena mengangguk. Dia bergegas ke kamar. Tak lama Sena keluar membawa benda itu.


"Ini mau Aku bawa besok ke Kantor Polisi." Kata Sena.


Rino terperanjat. "Waduuhh...! Jangan Sena... Jangan dibawa ke Polsek nanti kasusnya jadi nambah berat buat Fajri. Lebih baik Kamu musnahkan." Pinta Rino.


"Haaahh... Masa sih?" Sena tak percaya.


"Untung Kamu kasih tahu ke Gw, kalau gak... gak tahu deh Gw nasib Fajri." Kata Rino.


Bunda juga sedikit curhat pada Rino tentang kelakuan Fajri selama ini. Rino hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum seakan sudah gak kaget lagi mendengar kelakuan Fajri seperti itu.


Sena sangat kecewa denga sikap Rino. Ternyata Sena salah memilih Suami. Tapi apa mau dikata, Semua sudah terjadi. Sena berharap setelah ini Fajri mau benar-benar berubah.


____________________


"Siapa Ayu..?!" Sena nampak kesal. Ingin sekali Dia menampar Fajri. Tapi sepertinya Fajri sudah tahu Sena akan mengamuk.


"Aku gak ngapa-ngapain sama Dia. Ketemu aja Aku pake helm. Aku cuma mengantar jemput Dia." Fajri membela diri.


Plaaak... Sena menampar pipi Fajri walau tak keras karena terhalang jeruji besi.


"Mana ada laki-laki mengantar jemput perempuan kalau bukan minta imbalan itu!!!" Sena berteriak.


"Jadi Kamu lebih mementingkan perempuan lain daripada Aku!? Sekarang Kamu telpon Dia, suruh Dia ngurusin Kamu disini!!" Hardik Sena.


Teman satu Sel Fajri melihat kearah Mereka. Fajri hanya menunduk.


"Semalam Aku sudah kirim pesan sama Dia. Dasar Jablay..!! Galakan Dia sama Aku. Itu yang Kamu banggakan Mas?! Bisa kenal perempuan warung remang-remang?!" Sena terlihat kesal.


"Dia menghinaku....Katanya istri tapi gak bisa beli pulsa untuk telpon Dia. Mending jadi jablay saja biar kebeli pulsa!! Mang enak Mas digituin?!" Bentak Sena.


"Untung saja Bunda cepat menasehatiku untuk tidak meladeni perempuan jablay itu. Dipastikan Dia akan menyakiti Aku terus!!" Sena masih emosi.


"Aku berani sumpah Dek....Aku gak ngapa-ngapain.." Fajri bersimpuh dikaki Sena yang terhalang jeruji besi. Sena mundur sedikit. Sena segera meninggalkan Fajri begitu saja. Hati nya sakit karena dihianati oleh Fajri.


Selama ini Dia mengalah tak diberi nafkah lahir dan batin. Ternyata Fajri telah menghianatinya.


Sena berlari... Terus berlari... Beberapa kendaraan mengklaksonnya karena hampir saja menabrak Sena.

__ADS_1


Sena menangis sepanjang jalan. Dia terus berjalan sejauh 16 km ke arah rumah.


__ADS_2