
"Mau kemana Dia?" Tanya Bunda setelah tamunya pulang.
"Gak tahu Bun. Mungkin pulang ke rumah orangtua nya." Kata Sena pelan. Sena sedang menyuapi Rizki.
Bunda menghela nafas. "Tadi Bunda mau cegah, tapi Bunda lagi ada tamu." Kata Bunda yang menyesalkan sikap Fajri yang kekanakan.
"Biarin aja Bun. Nanti juga balik lagi. Mas Fajri gak punya uang sama sekali. Dia ongkos darimana kalau pulang ke rumah Ibunya." Kata Sena.
"Uang Kamu di kotak gimana?" Tanya Bunda khawatir.
"Alhamdulillaah masih ada Bun." Kata Sena.
"Ya sudah gak usah dipikirin lagi. Sudah.... stoooppp... Jangan lagi terima Dia untuk kembali. Sudah tahu kan sifatnya?" Bunda terlihat kesal.
"Kita sudah berkali-kali memberinya kesempatan tapi kayaknya Dia sengaja. Dia sudah tahu hati Kamu gampang dipermainkan. Makanya Dia ngelunjak." Kata Bunda.
Sena hanya mengangguk. Dia menahan airmatanya yang sudah mengambang agar tidak jatuh ke pipi.
________________________
Bazar pun berlangsung dengan lancar. Dan dagangan baju anak-anak yang Vina dan Sena jual di Apartemen laris manis. Hanya tinggal beberapa potong saja.
"Ya sudah gak usah dibawa pulang sisa nya. Soalnya minggu-minggu ini banyak teman-teman puteri Aku yang ulang tahun." Kata Vina.
"Ya gak apa. Jadi Aku pulang gak berat-berat bawa barang." Canda Sena.
"Ya sudah nanti Kamu pulang diantar supir Aku." Kata Vina.
"Gak usah Vin, Sena pulang naik angkot saja." Kata Sena yang segera menggendong Rizki.
"Tapi kan Kamu bawa Rizki, nanti repot naik turun angkot." Kata Vina.
"Gak repot kok. Rizki suka kok naik angkot. Ya nak?" Tanya Sena pada puteranya.
Rizki tertawa tapi tak seceria kemarin-kemarin waktu masih ada Fajri.
Vina memberikan beberapa lembar uang pada Vina. Vina juga memberikan susu untuk Rizki.
"Terima kasih Mami...." Kata Sena yang mengajari Rizki memanggil Vina dengan sebutan Mami. Karena walau bagaimanapun air susu Vina telah mengalir di tubuh Rizki.
Vina memang pernah menyusui nya sekali karena permintaan Kak Mita agar Rizki benar-benar jadi anak Sena dan Vina.
Malam ini adalah malam pertama tarawih, besok hari pertama sahur.
Jam 2 pagi Sena sudah berkutat di dapur. Sekedar mengangetkan masakan Bunda yang Bunda masak kemarin pagi. Nina juga pulang kerumah. Dia ingin sahur pertama bersama Bunda dan saudara-saudaranya.
"Jadi Mas Fajri gak pulang lagi?" Tanya Nina ditengah-tengah makan sahur Mereka.
__ADS_1
Sena hanya mengangguk pelan. Rizki terlihat murung. Dia seperti kehilangan sesuatu tapi Dia tak dapat mengatakannya.
Menjelang imsak ponsel Sena berdering. Sena melihat nama dilayar ponselnya. "Rumah Ibu? Ada apa yah? Apa Ibu akan marah-marah padaku?" Batin Sena. Sena segera mengangkat.
"Assalamu alaikum...." Sapa disana yang ternyata suara Fajri.
"Wa alaikumussalaam Mas..." Jawab Sena agak malas.
Bunda mendekati Sena dan memberi kode bertanya siapa yang telpon.
"Mas Fajri..." Kata Sena tanpa bersuara hanya mulutnya saja yang terlihat.
"Sena... Selamat menunaikan Ibadah puasa Ramadhan ya... Aku mau minta maaf. Aku mau kembali lagi sama Kamu." Kata Fajri diseberang sana.
Sena terperanjat. Hatinya ragu. Disisi lain Dia tak tega dengan Rizki yang terlihat murung tapi disisi lainnya, Dia sudah lelah dengan kelakuan Fajri. Entah apalagi rencana Fajri untuk terus menyakitinya.
"Sena...." Panggil Fajri lembut di seberang sana.
"Ya Mas. Mas mau kembali lagi kesini?" Tanya Sena.
"Ya... Kamu mau kan Kita kumpul lagi. Kasihan sama Rizki. Aku kepikiran Dia terus." Kata Fajri masih dengan nada lembut.
"Mas boleh kembali ke rumah Bunda. Tapi Aku minta sama Mas, Mas bawa uangnya Nina yang sudah Mas pinjam selama ini dan belum sama sekali Mas bayar. Aku gak enak Mas, Nina menagih terus." Kata Sena tegas.
Itu hanya akal-akalan Sena saja agar Fajri tak kembali lagi. Sebenarnya Nina juga sudah mengikhlaskan uang yang dipinjam Fajri, akan tetapi jika Sena tak kembali lagi pada Fajri.
"Oohh... Jadi begitu....? Ok... Nanti Aku pikirkan lagi." Braakk.... Tut...tut....tut.... Fajri memutuskan sambungan telponnya dengan sedikit membanting gagang telponnya.
Sena mendengarnya. Dia hanya menghela nafas. Dia tahu Fajri pasti sangat kecewa. Sena tahu Fajri tak akan pernah mau mengembalikan uang Nina.
"Mau ngapain Dia?" tanya Nina tiba-tiba.
"Mau pulang lagi kesini." Kata Sena.
"Terus Kak Sena kasih ijin?" Kata Nina.
"Aku bilang boleh kembali kesini kalau bisa bawa uang Kamu yang sudah dia pinjam." Kata Sena.
"Looohh....Nanti kalau Dia beneran bawa uang Aku, gimana? Berarti Kakak balik lagi dong sama Dia." Nina mengrucutkan bibirnya.
Sena tersenyum. "Tenang saja. Aku tahu kok gimana Mas Fajri. Dia gak akan bawa uang itu." Kata Sena.
"Mama.... Mama....." Rizki berlari menuju Sena. Sena segera menangkapnya dan menggendongnya.
"Ya Allah... Badan Kamu panas sekali!" Sena terlihat panik.
Nina langsung menyentuh kening Rizki. "Ya Kak....Rizki panas." Nina juga panik.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Bunda.
"Rizki sakit Bun. Badannya panas sekali." Kata Sena.
Bunda menyentuh kening Rizki. "Iya panas. Coba Kamu kompres dulu. Nanti pagi bawa ke puskesmas." Pinta Bunda.
Sena memgangguk. "Rizki sama uwo dulu ya." Kata Sena yang menyerahkan gendongannya pada Bunda. Sena bergegas menyiapkan kompres untuk Rizki.
Rizki sudah berbaring di tempat tidur. Sena segera mengompresnya.
Tapi Rizki malah membuang kompres itu. Dia menggelengkan kepalanya. "Auu..." Kata Rizki.
Sena memberikan susu pada Rizki. Rizki meminumnya. Tapi tak lama kemudian Rizki muntah-muntah.
Sena tambah bingung. Sena menggendong tubuh Rizki dan membawa keluar dari kamar. Rizki mulai merengek.
"Gak mau tidur Dia?" Tanya Bunda..
"Gak Bun. Kompresnya dibuang. Barusan muntah abis dikasih susu." Jelas Sena.
Bunda menghela nafas. Bunda tahu, Rizki sakit karena kangen pada Ayahnya. Rizki memang sangat dekat dengan Ayahnya, Fajri memang sangat menyukai anak-anak. Rizki selalu tertawa senang jika sudah bersama Fajri.
Jam 6 pagi, Sena langsung membawa Rizki ke puskesmas. Dia berangkat pagi-pagi agar tak terkena antrian panjang.
Jam 8.30 Sena sudah berada di rumah Bunda kembali. Sedangkan Nina sudah kembali ke tempat kerjanya selepas subuh tadi.
"Gimana? Apa kata Dokter?" Tanya Bunda.
Sena menggeleng. "Dokter hanya memberikan obat saja Bun. Kalau masih muntah, susunya distop dulu." Jelas Sena.
"Ya sudah....Kamu suapi dulu Rizki..Abis itu kasih obatnya, biar Rizki bisa istirahat." Pinta Bunda.
Sena mengangguk. Sena tahu, akan susah memberikan obat pada Rizki.
Rizki hanya makan sedikit. Dia kembali muntah. Kepala nya masih panas.
"Minum obat dulu ya... Nanti Mama kasih teh manis." Kata Sena merayu Rizki.
Tapi Rizki sudah tahu. Dia menutup mulutnya tak mau minum obat. Akhirnya Sena memaksakan memasukan obat yang sudah jadi puyer agar Rizki mudah menelannya.
Bunda membantu Sena memegang Rizki. Kemudian Bunda memencet hidung Rizki agar tertelan obatnya.
Tapi Rizki berusaha mengeluarkan kembali obatnya.
Buru-buru Sena memberikannya teh manis. "Niiihhh.....Enak kan...?" Tanya Sena yang melihat Rizki meminum Teh manis hangatnya dengan lahab.
Kemudian Sena mengelap tubuh Rizki dengan handuk yang sudah dibasahi air hangat. Sena membaluri tubuh Rizki dengan minyak telon. Sena mengganti baju Rizki.
__ADS_1
Tak lama Rizki pun terlelap. "Alhamdulillaah..." Kata Sena sambil mengusap kepala Rizki dan mencium keningnya.