Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Keluarga Matre


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


"Katanya Ibu nya orang hebat? Kenal banyak polisi berpangkat. Tapi mana, sampai sekarang Mas Fajri gak kunjung bebas?!" Sena tersenyum miris.


Sudah 20 hari Fajri mendekam jadi tahanan Polisi.


Kemarin Bang Tino memberikan uang satu juta pada Sena. "Ini uang cuma bisa bantu segitu saja. Itu juga karena Abang pernah ditolong sama Fajri. Abang sebenarnya sakit hati sama Suami Kamu karena menelantarkan Kamu. Gak memberimu nafkah lahir. Tapi karena Abang masih punya rasa balas budi, jadi Abang bantu segitu."


Sena mengangguk. Dari kemarin Tantenya Fajri terus meneror Sena. Menanyakan uang kekurangan.


"Kalau Satu juta masa gak bisa juga, Sena?" Tanya Tante Fajri.


Sena menghela nafas. "Minta bantuan kaya pengemis tapi ini pemaksaan namanya." Batin Sena.


"Kalau Sena punya kalung, gelang atau cincin emas, dari kemarin tanpa diminta sudah Sena jual semua buat mengeluarkan Mas Fajri, Tante. Tapi selama ini jangankan perhiasan emas, pakaian dalam saja, Mas Fajri gak pernah membelikan Sena." Tegas Sena.


Bunda yang masih setia mendengar hanya menghela nafas. Bunda mengangguk.


Sena mengerutkan keningnya. Bunda mengangguk lagi.


"Nanti deh Tante, coba Sena pinjam sama adik Sena. Barangkali Mereka mau meminjamkan pada Sena. Sena gak tahu nanti ganti pake apa." Akhir nya Sena mengalah karena anggukan Bunda.


Setelah berpamitan Sena langsung menutup telponnya. "Kaya apaan... Maksa-maksa minta uang!" Kesal Sena.


"Sena gak salahkan, Bun?" Tanya Sena.


Bunda tersenyum. "Iya... Nanti Bunda bicarakan sama Bang Tino. Kamu yang sabar ya." Kata Bunda.


Dan untuk memberikan uang satu juta itu, Sena dipermainkan oleh Ibunya Fajri.


Dari rumah Sena, janjinya ketemu Ibu nya Fajri di Polsek C. Tapi setelah Sena menunggu sekian lama di Polsek ternyata Tantenya Fajri mengirimkan pesan untuk ke rumah Ibu Fajri.


Terus Ibunya Fajri menyuruh Sena kembali ke Polsek C. Entah apa yang ada dalam pikiran Mereka. Mereka tak memikirkan kondisi Sena yang sudah lelah... Sangat lelah... Matanya Sena terlihat celong dengan garis mata hitam mengelilingi matanya.


Sena hanya menghela nafas menahan sabar. Dia hanya ingin urusan Fajri segera selesai. Kalau nanti kata Ibu nya Mereka disuruh bercerai, setidaknya Sena sudah memberikan yang layak untuk Fajri. Biarlah Fajri dan keluarganya yang menilai bagaimana pengorbanan Sena selama ini.


___________________


Ponsel Sena berdering. Tepatnya berdering ke nomor ponsel Fajri.


Sena membaca nama yang tertera di layar ponsel Fajri. Sena menghela nafas. "Hallo Sena..." Sapa Tante Fajri.


"Iya Tante. Ada kabar apa?" Tanya Sena pelan tak bersemangat.


"Besok sebelum subuh, Kamu sudah harus di Polsek C ya. Jangan sampai telat." Kata Tante Fajri.


"Ada apa Tante? Kok pagi banget?" Tanya Sena.


"Besok Fajri bebas, tapi Kamu harus sebelum subuh sampai sana." Kata Tante Fajri.


"Ya Tante....Mudah-mudahan Sena gak telat." Kata Sena sedikit senang mendengar berita kebebasan Fajri.


"Oh ya... Kamu punya uang kan 100 ribu? Buat kasih pulsa ke Polisi, Pak Yono." Kata Tante Fajri.


Sena terperanjat. "Astaghfirullaah... Masih juga?" Batin Sena.


"Sena...." Panggil Tante Fajri.

__ADS_1


"Sena gak punya uang Tante. Buat ongkos besok saja Sena bingung darimana." Sena beralasan.


"Masa Kamu uang segitu gak punya? Kan Kamu ngewarung?" Kata Tante Fajri.


"Warung Sena dah pada kosong Tante, Gak belanja-belanja, uang nya habis buat mondar-mandir nengokin Mas Fajri. Juga buat makan Mas Fajri." Tegas Sena.


"Lima puluh gak ada juga?" Tante Fajri menurunkan penawaran.


"Kalau gitu, Tante saja yang jemput Mas Fajri. Sena benar-benar gak punya uang." Kata Sena pasrah.


"Kamu tuh ya, susah banget dimintai tolong. Ya sudah nanti Tante titip ke Rino. Nanti Kamu kasihkan ke Pak Yono. Jangan telat..." Sambungan terputus.


Sena menghela nafas.... "Dasar keluarga matre!" Sena kesal. "Maaasss....!! Kamu nyusahin semua orang!!" Sena membekap mulutnya dengan bantal dan berteriak.


"Ada apa lagi Sena?" Tanya Bunda yang sempat mendengar Sena berbicara dengan seseorang.


"Tante nya Fajri Bunda. Besok Sena suruh jemput Mas Fajri ke Polsek C tapi sebelum subuh. Sena takut Bunda." Kata Sena.


"Ngapain pagi-pagi sekali? Gak ada... Kamu berangkat sesudah subuh! Enak saja main perintah orang. Kenapa gak Mereka saja yang jemput?!" Ketus Bunda.


"Terus masih juga nodong Sena, Bunda..." Kata Sena lagi.


"Nodong apalagi?" Tanya Bunda.


"Minta uang 100 ribu buat kasih Pak Polisi." Jelas Sena.


"Terus Kamu sanggupin?" Tanya Bunda.


"Ya gak lah Bunda. Sena benar-benar gak punya uang. Buat ongkos besok saja, Sena gak tahu darimana." Sena beranjak ke warung dan membuka kotak uangnya. Dia menghitung uangnya dan tarif angkot kesana.


Bunda menghela nafas. "Malang sekali nasibmu, Nak." Batin Bunda.


Sena menunduk. "Iya Bunda..." Mata Sena berkaca-kaca. Besok Fajri bebas dan itu berarti, besok hari terakhirnya bertemu Fajri.


____________________


Sebuah motor berhenti di depan teras rumah Bunda.


Sena bergegas ke depan. "Rino..." Panggil Sena.


Rino tersenyum. "Masuk Rin.." Ajak Sena.


"Sena....Gw minta kopi ya... Kepala gw sakit dari tadi gak berenti-berenti disuruh kesana kemari sama Ibu nya Suci." Keluh Rino.


Sena mengangguk. Rino bergegas masuk ke ruang tamu.


Tak lama Sena keluar dengan secangkir kopi. "Minum Rin..."


"Terima kasih Sena..." Kata Rino yang menyesap kopinya perlahan karena masih sangat panas.


"Ya Allah... Alhamdulillaah... Seger banget." Kata Rino.


"Kamu sudah makan?" Tanya Sena. Sena melihat Rino yang sangat lelah dan lemas.


Rino menggeleng.


"Suruh makan saja Sena, Rino nya...." Kata Bunda yang sedang menonton tivi tapi mendengar pembicaraan Sena dan Rino.

__ADS_1


"Kamu makan dulu ya. Perjalanan pulang kan jauh. Nanti pingsan lagi di jalan." Canda Sena.


"Ya Sena... Terima kasih." Kata Rino.


Sena mengajak Rino ke ruang makan dan mengambilkan piring untuk Rino. "Ini nasinya, Nih lauknya dan sayurnya." Kata Sena.


"Waaahhh.... Enak banget nih kaya nya." Kata Rino.


"Ya sudah... Makan deh yang kenyang. Sena tinggal ya..." Kata Sena.


Rino mengangguk dan bergegas menyendok nasi dan lauk pauknya.


Sena kembali ke ruang tengah dan bermain dengan Rizki.


15 menit kemudian


"Alhamdulillaah... Enak banget Bun masakannya...." Puji Rino.


"Alhamdulillaah kalau Kamu suka.... Itu yang masak Sena, Bunda lagi gak sempat masak." Kata Bunda.


"Oh ya? Kamu memang beneran pinter masak ya Sena? Beda sama Bini Gw, pegang bawang aja takut..." Rino mengrucutkan bibirnya.


"Yah....Itu kan sudah jadi pilihan Kamu." Sindir Sena.


"Masa perempuan takut sama bawang?" Bunda gak percaya.


"Beneran Bun, tanya saja sama Sena." Kata Rino.


"Terus masaknya gimana?" Tanya Bunda.


"Dapur warung banyak Bun." Canda Rino. Rino kembali duduk di ruang tamu.


"Kopi nya mau lagi?" Tanya Sena.


"Gak usah lah Sena, nanti aja di rumah. Sudah malam juga. Sebenarnya cape banget, cuma mau diapain lagi." Kata Rino.


"Memang saudara-saudaranya gak ada yang mau jalan?" Tanya Bunda.


"Yah gitu deh Bun, alasan kerja. Kalau Rino kan nganggur, pengacara Kita mah. Pengangguran banyak acara." Canda Rino.


Sena tertawa, baru kali ini Sena bisa tertawa lagi semenjak Fajri masuk menjadi tahanan. "Acara nya dapat duit ya Rin?" Canda Sena.


Rino ikut tertawa, dia senang melihat Sena yang tertawa lepas.


"Itu tadi Tantenya telpon katanya Sena besok suruh jemput sebelum subuh. Ngapain coba? Mang Pak Polisinya sudah bangun?" Bunda terlihat kesal.


"Tahu Bun, Saya juga gak ngerti deh jalan pikiran Mereka." Akhirnya Rino curhat sama Bunda tentang Rumah tangga nya selama ini.


Sena hanya diam saja tak menanggapi. Sena takut salah ngomong lagi, nanti jadi malah rame.


"Kamu yang sabar ya Rino.... Mudah-mudahan rejeki Kamu lancar-lancar saja." Doa Bunda.


"Aamiin...." Kata Rino. Rino pun memberikan uang titipan dari Tante nya Fajri pada Sena.


"Gak dilebihin Rin, buat ongkos Sena kesana?" Canda Sena.


Rino menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Malah tadi Tante minta tambahin 50 ribu sama Rino." Kata Rino.

__ADS_1


"Dasar ya tuh orang." Kata Bunda mencibir.


Sena hanya tertawa saja.


__ADS_2