
Satu Bulan sudah pembangunan rumah atas untuk ditempati Bang Tino dan keluarganya.
Sena dan Bunda sangat letih karena selalu menjadi pembersih di sore hari manakala pekerjaan dihentikan.
"Bener-bener ya tuh orang, gak ada bantu nya sama sekali..." Gerutu Bunda.
Sena hanya tersenyum. Jika sore tiba, Sena akan mencari makan diluar karena Sena gak mau minta makan ke rumah Bang Tino.
Mereka pun akhirnya pindah ke rumah Bunda. Sena masih membuka warung. Walau masih kecil-kecilan. Dan selama itu juga, Fajri melalaikan kembali shalat lima waktunya.
Pagi-pagi sekali Sena dan Bunda sudah bangun. Bunda belanja dan Sena mulai bebenah. Menyapu, mengepel dan mencuci piring.
Kerjaan Sena tambah banyak, karena Bang Tino dan Keluarganya makan dan minum turun ke bawah dan meninggalkan piring kotor begitu saja.
Bunda juga kesal, sudah dibelanjakan, masak pun Lana malas-malasan.
Akhirnya Bunda gak mau lagi belanja. Mau gak mau Lana belanja dan mulai uring-uringan.
Beberapa bulan kemudian Bang Tino mendapat masalah. Bang Tino tak dapat menyelesaikannya, Akhirnya Bang Tino dan Lana juga Alvi pergi keluar Kota.
Bunda dan Sena sedikit tenang. Dagangan Sena tak berkurang karena Bang Tino dan Lana kalau mengambil belanjaan di warung, suka lupa membayarnya atau pura-pura lupa.
Bunda meminta Fajri untuk meneruskan dagangan Bang Tino. Karena sayang banyak barang dagangan yang belum terjual.
"Fajri gak ngerti Bun." Kata Fajri.
"Kan di pasar ada Anto, Kamu tanya-tanya sama Dia kalau gak ngerti." Kata Bunda.
Dengan terpaksa Fajri berangkat ke pasar untuk membuka kios Bang Tino.
Hari terus berlalu, minggu pun terlewati. Makin hari Fajri makin bermalas-malasan. Alasan tak ada yang laku, modal kurang, sampe Bunda memberi modal tapi malah gak kembali. Jangankan untung diraih, modalnya saja tidak pulang.
Bunda hanya geleng-geleng kepala. "Mau nya apa nih orang? Gak pernah bisa bener." Batin Bunda.
Sena sangat malu dengan perilaku Fajri. Sejak Fajri keluar dari penjara, jika Sena berhubungan badan dengan Fajri, sesudahnya milik Sena akan terasa gatal. Tapi Sena tak tahu apa penyebabnya.
Yang Sena tahu, mungkin karena Dia terlalu lelah dan stress memikirkan kelakuan Fajri.
Malam ini saat Sena sedang tidur, Fajri meraba-raba milik Sena dari balik pakaian dalamnya. Dan Sena merasa ada sesuatu kenikmatan. Sena mengerjabkan mata.
"Maaass..." Desah Sena.
Fajri terus merabanya. Punya Sena pun sudah basah. Tapi entah mengapa Fajri mencium tangannya yang basah dari milik Sena.
"Kok bau, siiihh..???" Tanya Fajri.
Sontak membuat Sena sangat malu. "Aku gak tahu Mas..." Sena malah menangis. Akhir-akhir ini Dia minder karena keputihannya tambah banyak, gatal dan bau. Sena tak tahu penyebabnya.
Jika lama Dia tak berhubungan badan dengan Fajri, miliknya tak akan gatal dan bau. Tapi jika sudah berhubungan, maka akan kembali gatal dan bau.
Fajri melihat Sena menangis, bukannya dihibur tapi malah ditinggalkan. Dan itu berhasil membuat Sena tambah minder. Sena semakin menjadi tangisannya.
_______________________
"Bunda.... Tino bertemu Kak Idar disini." Kata Tino yang sedang berbicara dengan Bunda lewat ponselnya.
Sena yang sedang membantu mengesum baju langsung menyahut. "Kak Idar... Gimana kabarnya?" Tanya Sena begitu senang.
"Baik-baik saja." Terdengar nada kurang suka.
"Sena sudah punya anak, laki-laki..." Kata Sena senang tanpa ditanya.
"Anak apa? Anak Monyet?!" Ketus Kak Idar.
__ADS_1
Deg.... Jantung Sena. "Kok Kak Idar ngomongnya begitu?" Batin Sena. Tapi Sena hanya diam dan memberikan ponselnya pada Bunda.
Bunda juga mendengar perkataan Kak Idar. Bunda mengedipkan mata pada Sena agar tenang.
Sena melamun memikirkan omongan Kak Idar. "Yang membuatmu selalu keguguran, karena seseorang telah meracunimu dengan cara gaib. Dan itu masih famili Kamu...." Sena teringat dengan Mbah Uti yang pernah mengobati Sena.
Tapi Mbah Uti tak mau memberitahu siapa orangnya. Malah Sena mengetahui dari teman dekatnya yang mengenalkan Sena pada Mbah Uti.
FLASH BACK ON
Malam ini malam jumat, entah malam jumat apa. Bunda sedang mengaji selepas maghrib.
Sena sedang berhalangan. Dia ingin sekali menyeduh kopi gingseng.
Saat itu Sena masih berpacaran dengan Fajri.
Sesudah menyeduh kopi, Sena duduk di ruang tamu sambil menonton acara Tivi. Di rumah hanya ada Kak Lana, dan anak-anaknya.
Tak lama Sena berdehem. Tapi dehemannya terasa ada yang keluar dari tenggorokannya seperti dahak. Awalnya Sena berfikir akan menelannya saja, tapi perasaannya menyuruhnya untuk membuangnya.
Sena pergi ke dapur dan meludahkan dahak itu ke wastafel cuci piring. Alangkah terkejutnya Sena, ternyata dahak itu berupa darah hitam sebesar ibu jari.
"Astaghfirullaah... apaan itu? Kok darah seperti daging? Menggumpal." Gumam Sena.
Sena terbatuk-batuk, tapi yang keluar malah darah segar. Sena terus terbatuk tak henti. Sena panik, Dia memanggil Bunda. Mungkin kalau dikumpulkan dari tadi, darah itu sudah penuh satu baskom.
Tubuh Sena menjadi lemas, karena panik melihat batuk darah yang tak kunjung berhentu.
"Bundaaaa...." Sena setengah berteriak.
"Apa...." Sahut Bunda yang masih terus mengaji.
"Bundaaaa....!" Panggil Sena lagi.
"Bunda.... Masa Sena batuk darah dan gak berhenti dari tadi!" Sena terus terbatuk.
Bunda melihat ke wastafel. "Astaghfirullaah....! Kamu kenapa Sena? Makan apa?" Bunda terlihat panik.
Sena sudah berpegangan, Menumpu tubuhnya yang sudah lemas karena darah yang tak juga berhenti keluar.
"Jangan dibatukin. Ditahan." Kata Bunda.
"Gak bisa ditahan Bun. Uhuk..." Kembali Sena batuk darah.
"Ayo cepat Kita berobat. Ke Dokter 24 Jam." Kata Bunda yang melihat jam menunjukan pukul 7 malam.
Sedangkan Lana sedang tiduran di kamar bersama anak-anaknya.
"Lana..." Panggil Bunda.
Pintu kamar terbuka. "Ya Bun." Jawab Lana.
"Bunda mau antar Adik Kamu. Sena batuk darah. Coba Kamu telpon Tino ya. Bunda mau bawa Sena ke Dokter 24 Jam." Jelas Bunda.
"Ya Bun." Jawab Lana malas-malasan.
"Ayo Sena." Ajak Bunda.
Sena mengangguk. Dia menggunakan kain sarung karena sudah tak mungkin untuk berganti celana panjang.
"Ditahan batuknya." Pinta Bunda.
"Bunda... Sena lemes. Gak tahu kuat apa gak jalan." Rengek Sena.
__ADS_1
"Kamu pasti kuat. Ada Bunda disini. Kalau merasa cape, Kita berhenti ya." Pinta Bunda seraya memegang lengan Sena.
"Jangan meludah sembarangan." Pinta Bunda.
"Ya Bun." Sena sesekali terbatuk dan membuangnya ke selokan sepanjang jalan.
Di Klinik 24 jam.
"Saya akan membuatkan pengantar untuk Rontgen ya." Kata Dokter Klinik. "Saya juga akan memberikan obat sementara agar batuknya darahnya berhenti."
"Terima kasih Dok." Kata Sena dan Bunda.
Tak lama Mereka sudah tiba di rumah. Bunda langsung memberikan obat pada Sena agar langsung meminumnya. "Tadi Kamu sudah makan kan?" Tanya Bunda.
"Sudah Bun." Kata Sena yang segera meminum obatnya.
"Memang tadi ceritanya gimana kok bisa batuk darah gitu?" Tanya Bunda.
"Sena gak tahu Bun. Tadi kan Sena abis goda Bunda di kamar, terus Sena minum kopi. Gak lama tiba-tiba kaya ada dahak keluar. Ya Sena buang, gak tahu nya dahaknya gumpalan darah hitam Bun." Jelas Sena.
"Ya Allah....Ada apa ini?" Batin Bunda.
Jam 10 malam, Bang Tino tiba dirumah. "Gimana Sena Bun?" Tanya Tino.
"Besok suruh rontgen." Bunda pun menceritakan kejadiannya.
Tino menghela nafas.
Tiba-tiba.....
"Salamikum..." Mas Eko suami Kak Idar datang secara tiba-tiba. Tumben. Memberi salam sembarangan.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Bunda dan Tino.
"Nah nih untung ada Mas Eko datang." Kata Tino.
"Ada apa?" Tanya Mas Eko pura-pura.
"Ini Mas, Sena muntah-muntah darah." Kata Bang Tino.
Eko langsung memeriksa tubuh Sena. "Coba petik daun sirih 7 lembar, daun ini itu..." Kata Mas Eko.
Dan Bang Tino mencarinya malam itu juga. Kebetulan ada beberapa di bumbu dapur milik Bunda. Dan ada juga yang Eko bawa.
Semua bahan dicampur dan direbus. Kemudian Sena meminumnya setelah hangat. Sena tak menaruh curiga sedikit pun.
FLASH BACK OFF
Sena menghela nafas mengingat itu. Bunda juga mengangguk.
"Sebelumnya Kak Idar marah Bun sama Sena." Kata Sena.
"Marah kenapa?" Tanya Bunda.
"Waktu itu Mas Fajri datang terus Kak Idar langsung memperkenalkan diri katanya masih Famili Sena. Terus Sena becandain, siapa juga yang ngaku famili sama Kak Idar? Tapi Sena ketawa Bun." Jelas Sena.
"Malamnya Kak Idar ngadu ke Bang Tino tentang perkataan Sena yang tak mengakuinya." Kata Sena lagi.
"Terus besok sorenya Kak Idar tumben-tumbennya nawarin Sena mau beli apa. Biasanya kan Kak Idar pelit banget. Dia mau ke pasar. Sena minta pisang Bun." Jelas Sena.
"Terus Kamu makan?" Tanya Bunda.
"Ya Bun... Ya Sena gak kepikiran kesanalah. Sena gak curiga sama sekali." Kata Sena.
__ADS_1
Bunda menghela nafas. Dia tahu Idar memang selalu iri pada keluarganya dari dulu. Dan kini Sena yang jadi sasarannya.