
Fajri mengikuti langkah Pak Yono keluar dari gedung polres menuju parkiran.
Fajri masih celingak celinguk mencari sosok istrinya tapi tak juga melihatnya.
Sena di dalam mobil masih menunggu dengan jantung berdebar.
Tak lama Sena melihat Pak Yono dan partnernya berjalan menuju ke arahnya. Sena celingak celinguk mencari sosok Fajri yang belum juga terlihat.
Senyum Sena mengembang manakala sosok yang dicari ternyata tertutup tubuh Pak Yono yang memang tinggi besar.
Fajri melihat sosok didalam mobil langsung berhambur dan membuka pintu mobil Pak Yono. Fajri menangis sambil memeluk tubuh Sena.
Sena tak dapat menahan emosinya. Dia juga ikut menangis. Rasa rindu yang amat sangat menyelimuti perasaannya.
"Ya Allah....Alhamdulillaah... Aku kira Kamu gak jemput Aku..." Kata Fajri yang melerai pelukannya.
Pak Yono dan Partnernya tersenyum. "Sekarang Kalian mau kemana?" Tanya Pak Yono. "Saya mau kembali ke Polsek C."
"Gak usah Pak. Nanti di lampu merah prapatan depan, Kita turun disana saja." Kata Fajri.
"Baiklah.. Ayo naik. Tapi ingat Fajri, besok Kamu harus datang, lapor diri." Kata Pak Yono.
"Iya Pak... Saya gak lupa." Kata Fajri.
Rekan Pak Yono langsung menjalankan mobilnya. Dia berhenti di sebelum perempatan.
"Kalian yakin turun disini?" Tanya Pak Yono lagi.
"Ya Pak... Rumah mertua Saya tinggal naik mikrolet sekali kesana." Tunjuk Fajri.
"Baiklah kalau begitu. Kalian hati-hati." Pesan Pak Yono.
"Terima kasih Pak." Kata Fajri dan Sena.
Fajri turun duluan kemudian Dia memegang tubuh Sena yang akan turun dari mobil.
Mobil Pak Yono sudah meninggalkan mereka.
"Sekarang Kita kemana?" Tanya Fajri.
"Kita kerumah Ibu Kamu, Mas." Kata Sena.
"Gak... Aku mau ke rumah Bunda. Aku mau minta maaf sama Bunda dan Bang Tino." Kata Fajri.
"Tapi pesan Tante Mas semalam...." Belum Sena menyelesaikan perkataannya, Fajri sudah memotongnya.
"Gak... Aku mau ke rumah Bunda." Tegas Fajri.
"Mas... Tapi Ibu Kamu sudah memaksa Kita untuk bercerai." Kata Sena.
__ADS_1
"Bunda sakit hati karena omongan Ibu Kamu." Kata Sena.
"Baiklah kalau begitu. Kalau memang itu mau Kamu. Kamu pulang saja. Biarkan Aku disini. Aku gak akan pulang kemana pun." Kata Fajri.
"Mas mau kemana? Jangan gitu Mas, Aku masih bertanggung jawab atas kepulangan Mas. Nanti Aku kesalahan lagi." Sena memohon.
"Gak... Kamu gak salah apa-apa, Aku yang salah semuanya. Sudah Kamu naik mikrolet sana. Biarkan Aku hidup dijalanan." Kata Fajri. Entah itu beneran atau hanya gertakan saja. Tapi mampu membuat Sena sangat khawatir.
Bagaimana pun juga Sena masih mencintai Fajri walau banyak luka yang ditorehkan oleh Fajri.
Sena menghela nafas akan kekeras kepalaan Fajri. Sena bingung, kalau Dia bawa pulang Fajri, Bunda akan marah padanya. Dan Ibu nya Fajri telah memutuskan setelah Fajri bebas, Sena dan Fajri harus bercerai.
"Mas... Jangan bikin Aku susah dong....Aku antar yah ke rumah Ibu." Kata Sena membujuk Fajri.
"Aku bilang gak ya gak... Aku gak akan pulang ke rumah Ibu. Buat apa Aku pulang ke rumah Ibu ku kalau Kamu tidak bersama ku lagi. Lebih baik Aku hidup dijalan saja." Tegas Fajri.
Perdebatan panjang tak selesai. Mau tidak mau akhirnya Sena mengalah. "Yah sudah Mas... Sekarang Kamu buang sial dulu... Jangan sampai Kamu membawa hal yang tidak baik kedalam rumah."
Demikianlah....Akhirnya Sena membawa Fajri ke Pelabuhan. Fajri menceburkan dirinya membersihkan tubuhnya dan membuang baju yang Dia pakai dari dalam Polres.
Sena memberikan baju ganti pada Sena yang Sena bawa dari rumah. Karena gak mungkin Fajri pulang menggunakan Kaos oblong dan celana buntung yang dipotong asal. Kepala Fajri pun sudah licin, botak tak tersisa sehelai rambutpun.
Hari sudah sangat terik. Ponsel Sena berdering. Dia melihat nama dilayar ponselnya. "Bundaa..." Sena menggigit bibir bawahnya. "Bunda pasti marah." Batin Sena. Sena menekan tombol on.
"Halo Sena... Kamu dimana? Kok lama banget? Kasihan Rizki nih nangis terus nanyain Kamu." Kata Bunda.
"Sena masih di jalan Bun." Kata Sena.
"Mas Fajri gak mau Bun. Dia memaksa untuk pulang ke rumah Bunda." Kata Sena.
"Bilang... Bunda gak suka!" Kata Bunda kesal.
"Sudah Bun, tapi Mas Fajri ngancem malah mau tidur dijalanan saja, kalau Sena gak mau lagi rumah tangga sama Dia." Jelas Sena.
"Bener-bener ya tuh orang?! Maksa banget... Bisa aja cari cara biar kembali... Kenapa gak Kamu tinggal saja?! Buat apa punya laki tapi seperti itu kelakuannya...??" Bunda tambah kesal.
"Sena bingung Bun. Kalau Sena tinggalin dijalan nanti Kita kesalahan lagi sama Keluarganya..." Kata Sena akhirnya.
"Huuuhhh... Modus itu Dia... Airmata Buaya... Sudah pulang...!" Bunda memutuskan telponnya.
"Siapa?" Tanya Fajri.
"Bunda...." Kata Sena.
"Apa kata Bunda?" Tanya Fajri lagi.
"Bunda marah. Bunda gak suka Mas kembali lagi ke rumah." Sena mengrucutkan bibirnya.
"Mas siihhh... Gak mau bener jadi orang....Bikin masalah terus." Sena terisak.
__ADS_1
Fajri menunduk. "Aku mau minta maaf sama Bunda. Aku janji gak akan mengulanginya lagi..." Kata Fajri.
"Ya sudah... Kita pulang ya. Nanti Aku yang ngomong sama Bunda." Ajak Fajri.
Sena mengangguk. Mereka pun mencari Bus arah menuju rumah Bunda.
Di dalam Bus, Sena terpentuk-pentuk kepalanya menahan kantuk. Tapi Fajri sepertinya tak perduli. Tak ada niatnya merangkul bahu Sena agar menyenderkan kepalanya pada bahunya.
Sepertinya memang Fajri tak peduli dengan Sena. Padahal Sena berharap, Fajri memperlihatkan rasa pedulinya pada dirinya, sedikit saja. Tapi semua hanya angan-angan Sena saja.
Airmata Sena jatuh ke pipi. Tapi buru-buru diusapnya. Fajri melihatnya tapi seperti yang masa bodoh. Entah apa lagi rencananya kali ini.
Hanya Allah SWT dan Fajri yang tahu akan rencana Fajri kedepannya.
_________________________
"Maafkan Fajri Bun...." Fajri sudah bersimpuh di lutut Bunda yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
Bunda masih sangat kecewa dengan Fajri. Beberapa kali Fajri membuat kesalahan, dimaafkan kemudian buat ulah lagi.
Bunda menarik kakinya. Tapi Fajri terus mengejarnya. "Fajri gak akan berhenti kalau Bunda tak mau memaafkan Fajri." Kata Fajri.
"Kamu harusnya beruntung mendapat Sena sebagai istrimu....Dia mau hidup susah sama Kamu. Membantu mencari uang buat menutupi kekurangan rumah tangga. Tapi Kamu malah keenakan menyalahgunakan kepercayaan Kami disini." Kata Bunda.
"Mungkin kalau Mertua Kamu bukan Bunda, sudah dari kapan tahu, Kamu ditendang dari rumah. Sudah gitu, Ibu Kamu masih juga menyalahkan Sena...! Memangnya Kamu cerita apa sama keluarga Kamu? Kok kayanya Ibu Kamu mengira kalau Sena morotin Kamu?!" Tanya Bunda kesal.
Fajri sedikit terperanjat tapi buru-buru Dia menampik omongan Bunda. "Gak Bun....Fajri gak pernah ngomong apa-apa sama Ibu. Ibu memang orangnya begitu, suka menyalahi orang lain." Kata Fajri pelan.
"Nah....Kamu sudah tahu begitu, kenapa Kamu bikin masalah terus? Kasihan dong sama Istri Kamu....Gembal gembol gendong Rizki kesana kemari cari uang, belanja warung sendiri, membawa belanjaan sambil gendong Rizki. Kan kalau Suami yang benar gak akan membiarkan istrinya menderita..?!!" Hardik Bunda.
"Ji... Kita itu kalau mau rumah tangga yang langgeng, Adem ayem....Jangan suka bohongi istri. Kalau ada apa-apa ceritalah sama Kita, jangan sudah parah baru dilimpahkan sama Kita semua kesalahan. Belum tentu juga disini yang salah." Kata Bang Tino.
"Gw denger juga katanya Kamu selingkuh ya. Jadi uangnya Kamu buat untuk selingkuh?" Tanya Bang Tino.
"Gak Bang... Fajri gak selingkuh. Sumpah Demi Allah... Fajri gak pernah ngapa-ngapain sama Dia. Cuma ketemuan aja. Uangnya masih banyak di warung-warung, belum ditagih." Fajri beralasan.
Bang Tino tertawa... "Fajri... Fajri... Kamu pikir Kita ini disini anak kecil? Yang bisa Kamu bohongi terus? Dan gw ingatkan sama Kamu, jangan sekali-kali bersumpah dengan nama Allah untuk menutupi kebohongan Kamu." Bang Tino terlihat kesal.
Fajri akhirnya diam menunduk. Dia yang tahu, DOSA apa yang Dia lakukan selama ini.
"Yah.. Yah..." Rizki tiba-tiba berhambur pada Fajri. Dia baru bangun tidur dan turun dari tempat tidur dan beranjak keruang tamu karena mendengar banyak suara.
Fajri memeluk tubuh Rizki dan menangis. Dia menciumi wajah Rizki.
Sena menangis. Bunda mengusap airmatanya.
"Lihat itu Kamu, Fajri....Apa Kamu gak kasihan melihatnya..??!!" Ibu mulai terisak.
"Apa cuma kedok saja Kamu mengadopsi nya? Jangan Ji... Ini nyawa manusia... Jangan Kamu permainkan perasaannya..." Kata Bunda yang menahan tangisnya.
__ADS_1
"Gak Bun... Fajri sangat menyayangi Rizki. Maafin Ayah, Nak..." Fajri menciumi wajah Rizki.
Bang Tino menghela nafas.... "Sudah... Sudah... Lebih baik sekarang Kamu mandi... Makan...." Kata Bang Tiar. Bang Tiar berlalu karena ponselnya berdering.