
Keputusan Pak Letkol tak dapat diganggu gugat. Hari ini Taufik dipindah tugaskan menjadi Danru di kantor outsourcing.
Berita ini membuat Sena sedikit lega. Namun ancaman lain datang tak terduga.
Hari ini Ani meminta Sena berganti shift dengannya, karena Ani ada perlu. Tina dan Lily gak mau bertukar shift dengan Ani, karena Mereka tahu bagaimana orang-orang di grup Ani juga Danru nya yang ganjen dan pilih kasih.
Sena merasa Ani temannya yang baik, makanya Sena mau berganti shift dengan Ani. Toh juga itu karena Ani ada keperluan mendesak.
"Janda gatel.... Kayak kecakepan aja." Mulut Rina tak terkontrol saat usai apel pergantian shift pagi ini.
Hari ini seharusnya Sena libur dan baru masuk shift pagi besok. Jadi Sena akan tugas pagi selama 3 hari. Tapi saat Ani bayar Shift, Sena akan libur 3 hari.
Sena tak menggubris perkataan Rina, karena Sena gak merasa. Dan lagi ada Martha yang Sena pikir sudah berumah tangga. Atau mungkin juga Rina sedang kesal dengan orang lain.
Namun....
Rina menarik paksa bahu Sena, tapi Sena sigap memegang tangan Martha yang berjalan di sampingnya.
Martha terkejut dan memegang tangan Sena yang akan terjatuh.
"Aaacchhh...." Teriak tertahan Sena. Sena buru-buru berdiri tegak. "Terima Kasih Bu Martha." Kata Sena.
"Rina...! Apa-apaan sih? Hampir saja Aku jatuh." Kata Sena kesal.
"Aalaahhh... Jatoh juga syukur... Sok kecakepan Lo! Janda aja belagu!" Ketus Rina.
"Apa maksud Kamu?!" Sena tak mengerti.
"Sudah Sena... Kamu ke Lobby sekarang... Rina gak usah didenger." Martha sedikit menarik tangan Sena dan sedikit mendorong tubuh Sena menjauh dari Rina.
"Ngapain sih Kak Martha misahin gw?!" Rina ketus.
"Eehh... Ini kantor... Kerja, bukan berantem..." Kata Martha tegas. Martha adalah Secwan yang sudah agak lama disana.
Rina menghentakan kaki nya kesal. "Lihat saja nanti kalau ke lantai 3." Ancamnya.
"Asyiiikk... Ada Bu Sena..." Seny bertepuk tangan tak bersuara melihat Sena yang masuk ke Lobby.
"Iisshh... Seny... Kayak artis aja Saya." Canda Sena.
"Iihhh.. Ibu tuh udah kayak selebriti tau... Jadi hotnews!" Canda Seny dengan wajah serius.
"Maksud Kamu?!" Sena mengerutkan keningnya.
"Sini Bu... Tulis laporan dulu. Nanti kalau agak santai baru Aku kasih tahu..." Pinta Seny.
_________________________
"Hah?!! Kok gitu?! Tapi Saya kan gak menggoda Pak Taufik!" Sena terlihat bingung.
"Desas-desus nya begitu. Rina menyebar isu kalau Pak Taufik dipindahin karena Ibu menggoda Pak Taufik. Jadi Pak Taufik minta pindah." Jelas Seny.
"Astaghfirullaah... Kenapa Saya malah yang jadi kambing hitam?" Gumam Sena.
"Mang sebenarnya gimana, Bu?!" Tanya Seny penasaran.
Sena menceritakan semua kejadian tanpa mengurangi atau menambah. Seny terlihat manggut-manggut.
__ADS_1
"Aku sih gak kaget dengan cerita Ibu." Kata Seny.
"Maksud Kamu?" Sena tambah bingung.
"Pak Taufik kan masih punya Istri dan pacaran sama Rina. Sebenarnya bukan sama Bu Sena aja, Pak Taufik ganjen, Sama Bu Tina juga pernah dulu." Jelas Seny.
"Oohhh..." Sena mengangguk.
Sena sedikit berlari manakala mobil Mr. Lesly berhenti di depan lobby.
Sena membukakan pintu Lobby dan memberi hormat.
Mr. Lesly hanya mengangguk dan bergegas masuk lift khusus.
Tak lama telpon dimeja Seny berdering. Seny bergegas mengangkatnya. "Baik Bu... Seny akan segera ke atas." Kata Seny lembut.
Kemudian Seny menghubungi posko.
"Bu, Seny keatas dulu yah. Dipanggil Bu Winda. Nanti Bu Martha nemanin Ibu disini." Kata Seny.
Sena mengangguk.
Benar saja tak lama Martha sudah masuk membuka pintu lobby.
"Bu Martha..." Panggil Sena.
"Jangan panggil Ibu dong. Saya masih gadis." Kata Martha sedikit malu.
"Oohh maaf... Sena kira...." Sena tak meneruskan kata-katanya.
Martha hanya tersenyum. "Saya mang keliatan udah tua ya... Hehehehe...."
"Gak usah diperpanjang masalah dengan Rina yah. Malu kalau sampe ribut." Pinta Martha.
"Tapi kayaknya Rina salah paham, Kak. Bukan Aku yang menggoda Pak Taufik. Tapi sebaliknya." Sena mencoba membela diri.
"Ya... Saya percaya. Tapi lebih baik diam. Karena Rina itu backing nya banyak. Dia anak kesayangan Danru Nurdin." Jelas Martha.
Sena hanya diam. Sena sangat ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini.
"Eh Sena... Memang Kamu sudah pisah sah sama suami mu?" Tiba-tiba Martha membuyarkan lamunan Sena.
"Hah?!" Sena tergagap. Tapi kemudian Sena menggeleng.
"Hhmmm.... Saya mau kenalin Kamu sama teman Saya." Kata Martha.
Martha menekan nomor telpon. Dan tersambung. Martha mulai berbicara dan Sena tak mau mendengarnya. Sena fokus takut-takut Mr. Lesly turun. Sedangkan telpon sedang online.
"Orang nya cakep... Hitam manis..." Ucap Martha dengan seseorang diseberang sana.
"Sena...." Panggil Martha.
"Apa?" Tanya Sena.
"Nih teman Saya mau ngobrol sama Kamu." Martha menyodorkan gagang telpon. Tapi Sena menggeleng.
"Ada Mr. Lesly dan Seny sedang diatas. Nanti kalau Mr. Lesly turun, Kita gak tahu karena telpon sibuk." Kata Sena pelan.
__ADS_1
"Nomor ponsel Kamu, berapa?" Tanya Martha.
"Buat?" Tanya Sena.
"Ini teman Aku mau kenalan." Kata Martha.
Sena menggeleng. "Aku gak bawa ponsel." Sena beralasan.
Martha menghela nafas kesal dan menyudahi sambungan telponnya dengan orang diseberang sana.
"Kamu dikenalin sama cowok baik-baik gak mau. Ganteng lagi." Martha terdengar kesal.
"Ya maaf... Aku belum siap." Kata Sena beralasan. Trauma Sena karena kegagalan Rumah tangga masih membuatnya enggan untuk menjalin hubungan dengan laki-laki.
_________________________
Hari menunjukkan jam 5 sore. Para petinggi PT CC satu persatu sudah meninggalkan kantor. Hanya bagian CIT, ATM, Pengawalan juga Security dan beberapa Polisi yang masih bertugas.
Danru Nurdin sedang bercanda dengan Rina manakala Sena sedang berjalan menuju Posko setelah BT seharian berada di Lobby.
Sena langsung masuk ke posko setelah sedikit memberi hormat pada Danru Nurdin.
"Oh jadi Kamu yang namanya Sena?!" Kata Danru Nurdin blak-blakan. Dia memang seorang Danru tapi tak ada wibawa nya dimata anak buah nya. Karena Dia yang masa bodo dengan anak buahnya. Dan tidak bisa menempatkan diri sebagai Seorang Komandan.
"Siap Dan...." Kata Sena.
"Gak cakep tapi sok kecakepan. Celetuk Rina." Sedangkan Martha sudah naik ke lantai 3.
Sena berdiri hendak meninggalkan posko.
"Kamu mau kemana, Sena?" Tanya Danru Nurdin.
"Kak Martha di lantai 3 sendirian Dan." Kata Sena.
"Sudah ada Anton disana. Kamu disini saja." Pinta Danru Nurdin.
"Takut Lo sama Gw?!" Ketus Rina. "Anak baru gak tahu terima kasih. Sudah diajarin saat di ATM eh malah nusuk dari belakang!" Ketus Rina.
"Maaf Rin... Kalau ngomong jangan asal jeplak yah. Dari tadi ngomong ngelindur, ngata-ngatain Saya!" Sena hilang kesabaran.
"Wiiihhhh... Berani Dia, Dan." Rina tersenyum sinis sambil merangkul bahu Danru Nurdin yang sedang duduk di luar posko.
"Saya gak takut karena Saya merasa gak salah!" Bela Sena.
"Sok suci Lo!? Lo sendiri kalau bukan Istri gak bener, gak mungkin kan laki lo ninggalin Lo!" Damprat Rina.
"Eh Rina! Jangan ikut campur urusan Rumah tangga Gw ya?! Tahu apa Lo tentang rumah tangga Gw?! Mang Lo siapa?! Adik Gw? Kakak ipar Gw?!" Sena mulai tersulut.
"Hahahahaha..... Dasar Lo ya! Lo lupa, Dijah itu mantan Secwan sini. Dan Dia pindah Lo yang ganti. Otomatis Dijah cerita lah sama Gw siapa Lo!" Rina kembali berteriak.
"Tahu apa Dijah tentang Rumah tangga Gw?! Dia aja gak bisa mempertahankan Rumah tangganya! Lo kalau gak tahu urusan hidup orang, jangan ikut campur ya! Satu lagi, jangan Lo pikir Gw gak tahu siapa Lo!" Sena tak mau kalah.
Tiba-tiba telpon berdering. Dan Sena langsung mengangkat. "Baik Kak..." Kata Sena terengah menahan amarahnya.
Sena langsung beranjak dan bergegas meninggalkan Posko.
"Eh Lo mau kemana?! Gw belom selesai!" Teriak Rina.
__ADS_1
Sena berbalik. "Gw ingetin sama Lo ya! Jangan asal tuduh kalau Lo gak punya bukti! Mulut Lo, harimau Lo!" Ancam Sena.
Sedangkan Danru Nurdin hanya diam mendengar perdebatan anak buah nya.