Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Ingat Tentang Kamu


__ADS_3

"Dek..." Panggil Fajri lembut. Fajri sedang memeluk tubuh Sena yang terlelap abis dipijat olehnya.


"Hhmmm..." Jawab Sena yang masih merasa ngantuk.


"Tempo hari Kamu ngambil uang di dompet gak? Itu bukan uang Aku, tapi uang kantor." Jelas Fajri.


Sena terdiam, Dia menghela nafas.


"Gak apa kalau Kamu memang mengambilnya. Sudah Aku bayar kemarin. Aku cuma mau tahu aja kalau uang itu gak hilang." Kata Fajri.


Sena mengangguk. "Iya... Aku mengambilnya 200 ribu. Habis Kamu pelit banget, Kamu gak pernah kasih duit tapi Kamu terus memberi ku masalah.


Fajri menghela nafas. "Maafkan Aku ya. Kamu boleh pake uang itu. memang Kamu ambil buat apa?" Tanya Fajri.


Sena menggeleng. "Masih ada uangnya. Aku gak keluar rumah sejak Kamu memukuliku." Kata Sena.


Fajri tambah merasa bersalah. Sena beranjak bangun.


"Kamu mau kemana?" Tanya Fajri yang mengelus tangan Sena.


"Aku mau ambil uangnya yang 200 ribu." Kata Sena.


"Gak usah. Kamu simpan saja." Fajri tersenyum.


"Sebenarnya sih Susu Rizki sudah mau habis." Kata Sena.


Fajri melihat jam diponselnya. "Masih buka nih mall nya. Mau beli sekarang?" Tanya Fajri.


"Mas gak cape?" Tanya Sena.


"Gak dong. Aku cape ngapain? Minta jatah sama Kamu aja gak dikasih." Canda Fajri.


"Tadi kan Aku masih sakit, Mas. Lemas." Kata Sena pelan.


"Apa sekarang sudah gak sakit?" Tanya Fajri yang menyentuh kening Sena dengan punggung telapak tangannya.


"Alhamdulillaah... Sudah adem." Kata Fajri tersenyum.


"Tinggal lemasnya saja Mas. Aku kepengen makan apa gitu yang kayanya enak." Sena sedikit membayangkan kepengen makan apa.


"Ya sudah yuk. Kamu siap-siap. Biar Rizki Aku yang urus." Kata Fajri.


"Tapi Mas... Uangnya kan buat beli susu Rizki." Kata Sena.


Fajri tersenyum. "Kamu tenang saja." Fajri beranjak mengambil dompetnya yang memang dia geletakan diatas lemari pakaian Rizki.


"Nih... Aku ada 150 ribu. Cukup?" Tanya Fajri.


"Memangnya Aku mau makan apa Mas? Uang segitu gak cukup?" Kata Sena lagi.


"Barangkali Kamu mau makan di Mall, makanan siap saji." Kata Fajri yang menyebut nama resto kesukaan Sena.

__ADS_1


Sena tersenyum. "Ternyata Kamu masih inget aja Mas, tempat favorit Aku makan."


"Aku ingat semua tentang Kamu. Buah kesukaan Kamu, yang gak Kamu suka..." Kata Fajri.


"Tapi Kamu masih melakukannya Mas." Sena mengrucutkan bibirnya.


"Apa?" Fajri mengerutkan keningnya bingung.


"Ngebohongin Aku terus. Aku kan pernah bilang, Aku paling gak suka dibohongi apa lagi disekingkuhi." Tegas Sena yang segera beranjak ke kamar mandi meninggalkan Fajri yang terpaku dengan ucapan Sena.


Tak lama Sena sudah berganti pakaian. Rizki juga sudah bangun dan Fajri mengganti baju Rizki.


Rizki sangat senang melihat Ayah nya yang sudah memegang kunci motor.


"Kita mau pergi, Sayang." Kata Sena yang sudah menggendong Rizki.


Fajri sudah menstarter motornya. Kemudian Mereka pun meninggalkan rumah setelah Sena menguncinya.


10 menit kemudian, Fajri sudah memarkirkan motornya. Sena turun menggendong Rizki.


Fajri mengambil Alih Rizki dari gendongan Sena karena Sena masih lemas.


"Kamu mau makan dimana?" Tanya Fajri.


"Tadi kan Mas sudah tahu Aku suka makan dimana." Sena mengrucutkan bibirnya.


"Gitu aja ngambek." Goda Fajri.


Sena menggandeng tangan Fajri yang sebelah lagi. Fajri mengecup telapak tangan Sena.


Rizki mencoba menyuap sendiri tapi jadi berantakan.


"Sini sama Mama aja. Kalau di rumah boleh suap sendiri..." Kata Sena lembut.


Rizki menyomot satu nugget ayam. Dia memasukan ke mulutnya.


"Gak boleh gitu sayang." Sena mengambil makanan yang penuh di mulut Rizki. Sena melumatkan nugget untuk Rizki. Rizki memang sudah memiliki beberapa gigi susu.


Tak lama kemudian. Mereka pergi ke lantai bawah untuk ke supermarket membeli susu untuk Rizki.


"Ada lagi yang mau dibeli gak?" Tanya Fajri yang sudah memasukan 2 kotak susu ke dalam keranjang belanja.


"Sudah Mas. Yang lain beli di agen saja, lebih murah." Kata Sena.


Sudah hampir malam. Mall akan segera tutup. Fajri dan Sena sudah selesai membayar belanjaan Mereka. Mereka bergegas ke parkiran yang ada di basement.


_____________________


"Aku dipecat Dek." Fajri terlihat lusuh sekali.


Fajri memang bekerja di pelabuhan tapi di kantornya. Dia tidak mengurusi bongkar muat tongkang lagi.

__ADS_1


"Kok bisa sih Mas? Kamu ngapain lagi?" Tanya Sena kecewa.


"Kan Aku sudah bilang, Pak Jun mau memasukan keponakannya jadi Aku disingkirkan." Kata Fajri yang memang pernah mengutarakan pada Sena kalau Pak Jun tak menyukainya.


Pak Jun selalu mencari-cari kesalahan Fajri. Padahal Fajri sudah membantu Pak Jun menjualkan Parfum, bisnis sampingannya. Sena juga membantu menjualkannya.


Sena menghela nafas. "Terus mau gimana sekarang?" Tanya Sena.


"Rizal teman Aku, nawarin Aku kerja jadi sales." Kata Fajri.


"Gak deh... Aku gak mau nanti nombok lagi." Sena sudah gak mau lagi menanggung utang-utang Fajri.


"Gak Dek... Kali ini Aku janji gak akan bikin ulah. Lagi pula ini barang mudah laku kok." Fajri coba meyakinkan Sena.


"Gajinya lumayan lagi. Di atas UMR." Kata Fajri.


Sena menghela nafas. Kalau Fajri gak kerja nanti apa kata Keluarganya. Tapi kalau Fajri jadi sales lagi nanti Dia bikin ulah lagi.


Bang Tino juga sudah malas mengajak Fajri ke pasar, katanya Fajri dipasar kebanyakan tidur. Dan wara wiri gak jelas.


"Terserah Kamu deh Mas. Tapi ingat kalau kali ini Kamu bikin ulah, Aku gak mau ngurusin lagi." Tegas Sena.


Fajri tersenyum. "Ya Sayaang... Mas janji." Fajri mengecup pipi Sena.


Sena kembali meneruskan jahitannya. Siang ini Dia ada janji dengan Vina untuk ke sebuah Dept Store terbesar di Jakarta untuk mensupply baju-baju anak-anak.


_____________________


"Dari pada Kamu ribut terus cari uang untuk bayar kontrakan, lebih baik pindah ke rumah Bunda lagi." Pinta Bunda pada Sena yang sedang mengobras.


"Abang Kamu mau pindah. Dia akan menempati rumahnya Bu eni yang di belakang komplek." Jelas Bunda.


"Beneran Bun?" Tanya Sena.


"Iya... Bu Eni rumah nya mau di jual gak laku-laku. Katanya Rumah nya angker. Itu lagi dibersihin sama Abangmu." Kata Bunda.


"Kok angker sih Bun? Kan rumahnya depan Masjid?" Sena heran.


"Bunda juga gak tahu. Ada yang bilang, abis kasih uang muka terus gak lama sakit. Ada lagi yang pulang ngelihat itu rumah, besoknya dimimpiin." Cerita Bunda.


"Masa sih Bun?" Sena penasaran.


"Kamu kan tahu sendiri, itu rumah dulu bekas apa?" Tanya Bunda.


"Ya sih Bun, Sena tahu." Kata Sena yang ingat pemilik rumah itu seorang janda yang suka memasukan laki-laki bukan muhrimnya. Tetangga mulai resah akhirnya dilaporkan dan gak lama dia diusir dari sana.


Rumah itu dibeli Bu Eni dengan harga murah. Ternyata ada yang melaporkan lagi ke kantor, Bu Eni kan sudah menempati rumah di komplek milik Suaminya, kenapa Dia dikasih ijin untuk membeli rumah itu lagi.


Tadinya akan ditempati oleh anak sambung Bu Eni. Tapi ternyata laporan ke Kantor sudah ada putusan, kalau gak segera dioper akan diambil paksa.


Makanya Bu Eni bergegas menjualnya tapi malah gak laku-laku.

__ADS_1


Bang Tino yang kenal dekat dengan Bu Eni, disuruh menempati sampai rumah itu laku. Dan Bang Tino membersihkannya. Dia memanggil temannya yang mengerti masalah gaib.


Percaya gak percaya, disaksikan sendiri oleh Bang Tino dan Bu Eni kalau rumah itu banyak penghuninya.


__ADS_2