Aku Ingin Kembali

Aku Ingin Kembali
BAB 101


__ADS_3

Setelah membeli semua yang dibutuhkan istrinya, Danu pun segera pulang.


Sesampainya di rumah, Danu meletakkan ke sembarang tempat barang belanjaannya karena mendengar suara istrinya yang sedang muntah-muntah dan segera berlari menuju kamarnya.


"Alisa..."


Dikamar, Danu langsung menghampiri istrinya yang muntah-muntah dikamar mandi. Danu panik melihat istrinya muntah-muntah, pikirannya jadi tidak karuan.


Seberapa parah sakit istrinya sampai-sampai muntah-muntah seperti itu?


Danu bingung, tidak tau harus berbuat apa? setelah beberapa saat berpikir apa yang harus dilakukannya untuk membantu Istrinya Danu pun mengambil minyak angin untuk melegakan istrinya yang sedang muntah-muntah, barangkali benar kalau istrinya sedang masuk angin. Yah itulah yang ada dipikiran Danu, seperti apa kata istrinya. Mungkin hanya masuk angin.


Alisa pun merasa enakan karena diberi minyak angin oleh suaminya, tapi wajahnya sangat pucat karena sudah beberapa kali muntah-muntah ditambah lagi dari pagi perutnya belum terisi apapun.


Setelah muntah-muntah nya reda, Alisa meminta suaminya untuk membantu keluar dari kamar mandi karena tubuhnya sudah sangat lemas.


Danu pun memapah Istrinya keluar dari kamar mandi lalu membaringkan tubuh istrinya di atas ranjangnya.


"Makan dulu ya baru minum obatnya, kamu pucat banget sayang." Danu membelai wajah istrinya yang pucat.


Alisa mengangguk.


"Tunggu sebentar, aku ambilkan dulu." Danu keluar dari kamarnya untuk mengambil makanan dan obat yang sudah dibelinya untuk Istrinya serta beberapa barang kebutuhannya dan juga Alisa.


Tak lama, Danu pun kembali ke kamarnya dengan membawa dua kantong plastik yang berisikan makanan dan juga obat


"Kamu rebahan aja, biar aku suapin"


Danu menyuapi Istrinya dengan telaten, sampai akhirnya seporsi makanan yang dibelinya sudah tandas berpindah ke dalam perut Alisa.


Tapi... tidak berapa lama, makanan yang baru saja masuk ke dalam perut Alisa kini keluar kembali karena Alisa lagi-lagi muntah-muntah.


Danu bertambah panik, melihat keadaan Istrinya yang terus muntah-muntah.


"Kita kerumah sakit aja ya, aku takut kamu kenapa-kenapa? kamu muntah-muntah terus"


Alisa menggeleng. " Gak perlu kerumah sakit, aku gak apa-apa kok paling cuma masuk angin atau kelelahan mungkin"


"Tapi, dari tadi kamu udah berapa kali muntah-muntah terus. Lihat muka kamu udah pucat begini, ayo kita kerumah sakit aja ya" Danu hendak menggendong Istrinya, namun Alisa segera menampik tangan suaminya.


"Gak usah kerumah sakit, aku istirahat aja nanti juga bakalan mendingan kok." Alisa tersenyum. "Aku mau tidur, nanti bangun kan aku kalau Rere dan Dina sudah datang"


"Rere sama Dina mau kesini?"


"Iya, aku yang panggil mereka"


"Kenapa? oh, jangan bilang kamu panggil mereka buat ngurusin kamu? kok gitu sih, kan ada aku juga yang bisa ngurusin kamu, gak panggil mereka"


"Bukan gitu, aku cuma kangen aja sama mereka" Alisa tersenyum, walaupun wajahnya pucat tetap terlihat cantik.

__ADS_1


"Oh kirain, ya udah kamu tidurlah biar aku pijitin ya"


Alisa mengangguk, dia mengangkat kepalanya keatas paha suaminya. "Kok jadi kamu yang ngurusin aku ya, bukannya aku yang ngurusin kamu" Alisa memejamkan matanya saat suaminya memijat kepalanya.


"Gak apa-apa, bukannya suami istri itu harus saling membantu kan? aku seneng kok ngurusin kamu."Danu tersenyum. "Berasa aku sedang mengurus bayi, tapi bayi besar."


"Bayi...?" Mendengar kata bayi, Alisa jadi mengingat dirinya yang sedang muntah-muntah. Seandainya apa perkiraannya benar?


Alisa meraih tangan suaminya yang memijat kepalanya. "Kamu mau punya bayi?"


"Mau dong. Yah tapi aku serahkan semuanya sama yang diatas" Danu pasrah saja, karena selama tiga bulan ini dan setiap hari dia terus menanam benihnya tapi belum juga menandakan kalau akan tumbuh.


"Kok ngomongnya gitu sih?"


"Ya kan semuanya tergantung sama ketetapan yang maha kuasa, kalau kita ingin punya bagi tapi Allah belum menghendakinya, kita bisa apa?"


Alisa tersenyum dan mencium tangan suaminya, semoga saja apa yang dipikirkannya itu benar-benar terjadi. Tinggal menunggu temannya datang, membawakan sesuatu untuk memastikannya.


Menit berikutnya, Alisa pun tertidur karena pijatan suaminya yang menenangkan.





Di apotek, Dina menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Dina jadi berpikir yang tidak-tidak tentang Rere.


Bukan Dina namanya kalau dia diam saja dengan apa yang didengar dan dilihatnya.


"Astaga Re, Lo hamil? dengan siapa? kapan Lo ngelakuin begituan? kok gue gak tau ya?"


Dan Rere langsung membungkam mulut temannya yang mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya malu didepan banyaknya orang-orang yang sedang mengantri di apotek itu.


"Diam Din!"


"Ya tapi buat apa Lo beli gituan? itu kan buat tes kehamilan, jangan bilang Lo beneran hamil Re? ya ampun Re, gue benar-benar gak nyangka Lo kan belum punya suami"


Rere sudah hampir menangis karena ucapan-ucapan Dina, belum lagi tatapan sinis dari para pengantri di apotek itu.


Dengan terpaksa Rere menampar Dina agar tidak bicara lagi yang akan semakin membuatnya malu.


PLAAKKK....


"Re, kok Lo nampar gue sih?" Dina mengelus pipinya yang mendapat tamparan tiba-tiba dari Rere.


"Habisnya dari tadi Lo gak bisa diam, ini bukan buat gue dan gue gak hamil!"

__ADS_1


"Terus, kalau bukan buat Lo buat siapa dong?"


"Ini buat Alisa, dia tadi chat gue suruh beliin ini. Dari pagi katanya dia muntah-muntah terus dan juga sudah dua bulan telat datang bulan"


Dina lega mendengarnya, juga para pengantri yang sudah mencibir Rere dalam hati seketika menjadi tenang karena penjelasan Rere.


"Ya ampun Re, maafin gue udah nuduh Lo yang enggak-enggak" Dina merasa bersalah, karena tanpa disengaja dia sudah membuat malu temannya di hadapan banyak orang.


"Iya, gue juga minta maaf udah nampar Lo tadi"


Setelah apotek memberikan tespack, Rere dan Dina pun segera pergi dari apotek itu. Tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang sedang mengantri membuatnya tidak nyaman.





Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan Alisa belum juga bangun dari tidurnya. Sementara Danu, dia tetap setia menjadikan paha nya sebagai bantal Istrinya. Danu menjaga Istrinya selama Istrinya tidur, bahkan seekor nyamuk pun tak dibiarkan nya untuk mengusik ketenangan Istrinya.


Hingga terdengar suara bel rumah berbunyi.


Dengan terpaksa namun dengan sangat pelan-pelan Danu memindahkan kepala Istrinya dari paha nya ke bantal, setelah itu Danu pun menuju pintu rumahnya untuk melihat siapa yang datang di sore-sore begini. Danu lupa kalau Rere dan Dina akan datang.


Ceklek....


Danu membuka pintu dan sudah ada Rere dan Dina berdiri di balik pintu.


"Ya ampun, aku lupa kalau kalian akan datang padahal Alisa sudah bilang tadi. Aku pikir siapa yang datang, hampir saja aku memarahi orang yang sudah menganggu sore-sore begini." Danu terkekeh.


"Ya udah ayo masuk, Alisa sudah menunggu kalian"


Rere dan Dina pun masuk.


"Tunggu sebentar ya, aku bangunkan Alisa dulu"


"Oh Alisa lagi tidur, gak usah dibangunkan mas. Kita cuma mau nganterin ini kok" Rere memberikan sebuah tespack pada Danu.


"Apa ini?"


"Itu namanya tespack mas" Celetuk Dina tiba-tiba.


"Tespack?" Danu menatap sebuah benda yang baru pertama kalinya dia lihat.


"Itu alat buat pengetes kehamilan" Jawab Dina lagi.


"Alat pengetes kehamilan? Alisa suruh kalian beli ini?"


Rere dan Dina pun serentak mengangguk.

__ADS_1


Dan tanpa menghiraukan lagi kedua teman Istrinya, Danu segera berlari menuju kamarnya.


__ADS_2