Aku Ingin Kembali

Aku Ingin Kembali
BAB 62


__ADS_3

Disebuah ruangan yang mewah tampak dua pria berbeda usia itu duduk berhadapan dengan paruh baya yang duduk di kursi kebesaran nya, hari ini mereka akan membahas tentang bagaimana cara selanjutnya.


Drttt drttt drttt...


📱 "Ya halo Fah ada apa?" tanya Danu setelah menjawab panggilannya.


📱 "Aku mau balik ke Malaysia, ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan. maaf karena tidak bisa membantu selanjutnya" ucap Afifah dari ujung telepon.


📱 "Ok baiklah, tidak masalah. hati-hati dan kabari aku setelah sampai'' ucap Danu dengan nada sendu.


📱 "Jangan menyerah, cinta memang tidak semudah yang Kita bayangkan. Terkadang butuh perjuangan untuk bisa menyempurnakan cinta. Aku yakin kau pasti bisa! Ok aku tutup telepon nya dulu ya, aku harus bersiap-siap. nanti aku kabari lagi dahhhh semangat!''


"Dahhhh" Danu memutus sambungan teleponnya lalu kembali fokus pada papa nya yang duduk di kursi kebesarannya.


"Ada apa?" tanya pak Adi yang melihat perubahan raut wajah putranya.


"Afifah akan kembali ke Malaysia pa" jawab Danu menatap Papa nya.


Danu tampak berfikir, mungkin setelah kembali nya Afifah ke Malaysia rencana yang sudah di susun harus diubah. mungkin dirinya sendiri kali ini yang akan bertindak tanpa meminta bantuan siapapun, mungkin seperti itu lebih baik dari pada membuat wanitanya semakin membenci nya. karena membuat wanita itu berpikir dirinya sudah berpaling.


"Pa.."


Pak Adi hanya menautkan kedua alisnya mendengar putranya memanggilnya, menunggu apa yang akan dikatakan oleh putranya itu.


"Sepertinya aku harus pulang!" ucap Danu menatap lekat manik papa nya.


"Kenapa?" tanya pak pak Adi menelisik putranya itu.


"Alisa itu keras kepala pa, seperti ini hanya akan membuatnya semakin membenci ku pa. apalagi setelah kita pulang aku tidak langsung menemui nya, aku takut dia berpikir yang tidak-tidak. apalagi kemarin kata papa Herman, dia marah saat melihat ku bersama Afifah" Danu berbicara dengan menundukkan kepalanya, tidak berani menatap papa nya takut jika papa nya itu tidak bisa menerima pendapat nya.


Pak Adi diam mencerna perkataan putranya.


Drttt drttt drttt....

__ADS_1


Ponsel pak Adi berdering dan menampilkan nama besan nya dilayar ponselnya.


📱"Ya halo Man ada apa?" ucap Pak Adi setelah mengangkat panggilan telepon nya.


Pak Adi manggut-manggut mendengar setiap kalimat yang diucapkan oleh besan sekaligus sahabat nya itu, mungkin ide putranya untuk pulang adalah hal yang memang harus dilakukan nya sekarang.


📱 "Ok baik lah" ucap pak Adi lalu mematikan sambungan telepon nya.


Entah kenapa masalah nya jadi semakin rumit, pak Adi semakin pusing memikirkan itu semua. Seandainya masih ada Istrinya disisinya, dia tidak akan sekalut ini.


Istrinya itu akan selalu ada disampingnya mengusap bahu nya jika disaat seperti sekarang disaat dirinya sedang banyak masalah.


Ah, tapi Istrinya itu sudah tenang di alam sana, dia tidak akan bisa berbagi beban lagi dengannya.


"Ada apa?" tanya Danu melihat papa nya seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sepertinya kau memang harus pulang nak" jawab pak Adi menatap putranya. tatapan mata nya berubah sendu.


"Yah mau bagaimana lagi, papa mertua mu baru saja menelpon papa dan mengatakan jika istrimu ingin melanjutkan kuliahnya di Jerman" jawab pak Adi menautkan kedua alisnya dan menyilang kedua tangannya di dada.


"Apa pa" Danu menganga mendengar ucapan papa nya. Alisa ingin kuliah di Jerman?" tanya nya memastikan apa yang didengarnya barusan kalau Istrinya itu akan melanjutkan kuliahnya di Jerman.


"Iya" jawab pak Adi singkat sambil menatap langit-langit ruangan nya.


Danu mengusap wajah nya kasar, entah apa yang ada dipikiran wanita nya itu sehingga dia memutuskan untuk pergi sejauh itu. Danu tidak bisa membiarkan itu, dia tidak bisa kehilangan wanita nya lagi setelah kehilangan wanita berharga dalam hidupnya. Menghindar, itu bukanlah hal yang tepat untuk menyelesaikan sebuah masalah. menghindar hanya akan semakin memperkeruh masalah.


Pulang menemui wanita itu dan menjelaskan semuanya, meminta maaf dan membuatnya mengerti dengan perasaannya yang sungguh-sungguh. itulah lah yang dipikirkan danu sekarang.


Semoga wanita nya itu kali ini akan mengerti, merendahkan harga dirinya sekalipun akan dilakukan nya agar wanita yang dicintainya itu juga mau mengungkapkan perasaan yang sama. perasaan bahwa wanita itu juga mencintai nya.


Apapun hasilnya nanti, yang terpenting dirinya harus berusaha terlebih dahulu. Bukankah ada pepatah yang mengatakan kalau usaha tidak akan mengkhianati hasil. Semoga hasilnya berbuah manis, semanis harapan nya menggapai cinta Istrinya.


Pak Adi menatap nanar pada putranya, dia tau apa yang sedang dipikirkan oleh putranya itu sekarang. dia juga ikut merasakan kesedihan putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Pulang lah nak" ucap pak Adi membuat putranya yang sedari tadi mengalihkan tatapannya kini menatap lekat wajah papa nya.


"Temui istri mu" Ucap pak Adi lagi.


"Jelaskan semuanya, buatlah dia mengerti." kini dia meraih tangan putranya menggenggam nya erat sebagai isyarat bahwa selalu ada dirinya yang akan selalu mendukung setiap langkah putranya itu.


.................


Sementara Rere dan Dina merasa sudah kehabisan akal untuk membujuk temannya itu untuk membatalkan niatnya untuk kuliah di Jerman. Temannya itu sangat bersikukuh dengan keputusannya membuat Rere dan Dina semakin geram.


"Kalau Lo mau kuliah gak masalah Sa, asalkan jangan jauh-jauh juga kali sampe ke Jerman sana. disini kan Lo juga bisa kuliah, kenapa mesti keluar negeri segala'' ucap Dina pada akhirnya setelah beberapa saat diam.


"Iya Sa, kuliah disini aja ya kita bareng-bareng lagi" bujuk Rere.


Alisa menatap kedua temannya bergantian, ada benarnya juga kata temanya itu.


Ah Alisa semakin bingung dengan perasaannya sendiri, mungkin benar kata papa nya keinginan nya untuk kuliah di luar negeri itu hanya sebagai alasan untuk nya menghindar.


Mungkin bukan menghindar tapi lebih tepatnya memang untuk pergi jauh.


Pergi jauh dari segala kegundahan di hati nya, melepas semua beban pikiran yang mengganggunya.


"Lo tega mau ninggalin kita berdua" ucap Rere lagi.


"Benar apa kata teman-teman mu nak" ucap mama Alisa yang sedari tadi menjadi pendengar.


"Ya udah tante, kita pamit pulang dulu." ucap Rere lalu beranjak dari tempat duduknya. "Kayaknya percuma nasehatin anak Tante yang keras kepala ini" sambung nya lalu menyium punggung tangan mama Alisa bergantian dengan Dina.


Setelah beberapa langkah, Rere berhenti lalu berbalik menghadap Alisa. tatapan matanya menatap tajam Alisa.


"Kalau masih mau pergi, ya udah pergi aja sana. suami Lo buat gue aja!" Ucapannya sinis tanpa menghiraukan keberadaan mama Alisa.


Sementara mama Alisa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah teman putri nya itu. yah mungkin putri nya itu memang harus ditakut-takuti dulu baru mau mengerti.

__ADS_1


__ADS_2