
Danu memapah tubuh istrinya untuk duduk dikursi roda yang akan membawanya keluar dari rumah sakit menuju dimana tempat mobil mertuanya diparkiran. Setelah sampai di mobil, Danu Kemabli memapah tubuh istrinya untuk masuk kedalam mobil.
"Kamu duluan ya, ikut sama Papa dan Mama. Aku harus menebus obat kamu dulu baru Aku pulang untuk mengambil pakaian ku, dan setelahnya baru Aku menyusul kesana ya." ucap Danu saat sesudah memasukkan Istrinya kedalam mobil Papa mertuanya, Dan hanya dijawab anggukan oleh Istrinya.
Setelah mobil yang membawa istrinya serta Papa dan Mama mertuanya hilang dari pandangannya, baru lah Danu masuk kembali kedalam rumah sakit untuk menebus obat untuk Istrinya.
"Saya mau menebus obat ini", Danu menyodorkan resep obat yang diberikan Dokter kepada apoteker.
"Tunggu sebentar ya Pak."
Sambil menunggu apoteker menyiapkan obat untuk Istrinya, Danu duduk dikursi tunggu. pikirannya tertuju pada Istrinya yang meminta pulang tapi pulang kerumah orang tuanya. setelah ini sampai beberapa hari kedepan Dia akan kembali lagi tinggal dirumah mertuanya, rumah yang Dia tempati saat baru menikah dengan Alisa.
"Pak, ini obatnya sudah siap".
"Oh iya, terima kasih"
"sama-sama Pak".
"Setelah selesai menebus obat untuk Istrinya, Danu melangkah keluar rumah sakit menuju tempat dimana mobilnya terparkir. sepanjang langkahnya menuju mobilnya, Danu terus saja memikirkan Istrinya. Kali ini Dia memikirkan bagaimana nanti saat dirumah mertuanya?, apakah tinggal dalam satu kamar tapi tetap tidur terpisah sama seperti waktu pertama kali dimalam pertama mereka Dia tidur dilantai dengan beralaskan selimut. sementara dirumah yang mereka tempati, rumah pemberian orang tua Istrinya sebagai hadiah pernikahannya, mereka tidur terpisah dalam dua kamar yang berbeda.
Hatinya kalut memikirkan itu semua, oh kapankah Istrinya itu sadar akan posisinya sebagai istri yang sesungguhnya. bersabar, mungkin itulah jawabannya.
Danu melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit setelah urusannya selesai, membelah jalanan ibu kota yang selalu ramai dengan pengendara. gedung-gedung pencakar langit seakan bersorak meneriaki hatinya yang sedang kalang kabut.
Karena tidak fokus, Danu hampir saja menabrak wanita paruh baya yang hendak menyeberang. ' astaghfirullah ' itulah kalimat yang dilontarkannya.
Danu mengelus dadanya, tiba-tiba saja nafasnya jadi tak beraturan. mungkin karena terkejut, hampir, hampir saja Dia menabrak jika tidak segera mengerem laju mobilnya.
Danu segera turun dari mobilnya menghampiri wanita paruh baya yang hampir saja ditabraknya itu juga tak kalah terkejutnya saat mobil Danu hampir menabraknya.
"Bu, ibu tidak apa-apa?" Tanyanya pada wanita paruh baya yang sedang berjongkok didepan mobilnya menelungkup kan kepalanya, tapi sepertinya ibu itu tidak mendengar panggilan Danu.
Tiba-tiba wanita paruh baya itu berjingkit kaget saat Danu menepuk-nepuk bahunya.
"Bu, maafkan saya hampir saja menabrak ibu tadi".
"Saya tidak tertabrak kan?, saya masih hidup kan?, saya belum mati kan?" ucap ibu itu beruntun saat sudah berdiri.
Danu tersenyum miris melihat tingkah wanita paruh baya yang hampir ditabraknya yang menurutnya sedikit konyol, sejenak Danu sedikit terhibur dengan tingkah ibu itu.
"Iya, ibu baik-baik saja. maafkan saya Bu, saya tadi tidak hati-hati tadi menyetirnya" ucapnya meminta maaf.
__ADS_1
"Eh kamu anak muda, hati-hati dong kalau bawa mobilnya. kalau tadi kamu menabrak saya terus saya mati gimana?, emangnya kamu mau tanggung jawab hah" ucap wanita paruh baya itu mengomeli Danu sambil berkacak pinggang sesekali menunjuk pada wajahnya.
"Iya Bu, lain kali saya akan lebih berhati-hati lagi, sekali lagi saya mohon maaf Bu".
Wanita paruh baya itu pergi begitu saja meninggalkan Danu tanpa menanggapi permintaan maaf dari Danu. Danu menggeleng-gelengkan kepalanya menatap kepergian wanita paruh baya itu.
.
.
.
.
.
"Nak sekarang kamu istirahat dikamar kamu ya" ucap Mama Alisa sambil mendorong kursi roda yang diduduki Alisa menuju kamarnya.
"Iya Ma".
"Mama bantu naik ke ranjang ya." ucap Mama Alisa saat sudah berada didalam kamar Alisa.
"Gak usah Ma, nanti aja. Aku masih mau duduk disini."
"Ih Mama, apaan sih Ma enggak kok. Ya Aku masih ingin duduk disini aja Ma."
"Hehehe, Mama bercanda kok. lagian kalau beneran kan gak apa-apa ya, sama suami sendiri mah bebas."
"Mama......"
"Iya iya, kamu ini baru gitu aja langsung cemberut." Mama Alisa menggeleng heran.
"Ya Uda Mama keluar dulu ya, sebentar lagi juga suamimu pasti datang."
Setelah Mama keluar dari kamarnya, Alisa menatap nanar pada sekeliling kamarnya. kamar yang sudah Dia tinggalkan beberapa bulan ini, dan sekarang suasananya masih sama seperti dulu.
Tiba-tiba ingatannya kembali pada saat hari pernikahannya, dimalam pertama yang seharusnya menjadi moment yang sangat indah malah dengan sengaja Dia jadikan sebagai awal membangun tembok diantara mereka. benar-benar istri yang tidak menghargai suaminya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Danu melangkah perlahan memasuki rumahnya, rumah yang Dia tempati bersama istrinya. rumah yang Dia harapkan membangun keluarga kecil yang bahagia, namun siapa yang tau jika dirumah ini. Dia dan Istrinya tidur dalam dua kamar yang berbeda, sungguh tak bisa dia bayangkan apa tanggapan mereka jika tau akan hal itu. mereka yang menganggap keduanya hidup bahagia, namun jauh dari kata bahagia.
sebelum mengharapkan kebahagiaan, maka bahagiakan lah terlebih dahulu orang yang disayangi. yakinlah jika suatu saat nanti bahagia itu akan menghampiri.
"Semangat Danu, jangan pernah menyerah kamu pasti bisa, semangat semangat." Danu mengacungkan sebelah tangannya menyemangati Dirinya sendiri.
Setelah memasukkan beberapa lembar pakaiannya kedalam tas yang dirasa sudah cukup untuknya saat berada dirumah mertuanya, Danu melangkah keluar dari rumah itu. memasuki mobilnya dan segera meninggalkan pelataran rumahnya.
.......
Dengan langkah cepat, Danu melangkah memasuki rumah mertuanya. harap harap cemas Istrinya itu sedang membutuhkan sesuatu tapi Dia tidak berada disamping Istrinya, sungguh dia merasa menjadi suami yang tidak berguna jika itu sampai terjadi. segitunya Dia mengkhawatirkan Istrinya, istri yang selalu mengabaikannya, istri yang tidak pernah perduli akan statusnya sebagai suami.
Tepat diruang tamu, Danu baru saja masuk berpapasan dengan Mama mertuanya. sepertinya Mama mertuanya itu baru saja dari kamar Istrinya.
"Ma, Alisa dimana sekarang?".
"Baru saja Mama habis mengantarkannya ke kamar".
"Kalau gitu Aku langsung kekamar ya Ma"
"Danu..."
"Ya Ma", Danu mengentikan langkahnya saat Mama mertuanya memanggilnya.
"Danu, terus semangati istrimu ya. Alisa sepertinya terpukul dengan keadaannya sekarang".
"Iya Ma, Aku pasti akan selalu berada disamping Alisa apapun yang terjadi".
"Terimakasih karena kamu sudah menyayangi dan mencintai anak Mama satu-satunya".
"Tidak perlu berterimakasih Ma, itu sudah kewajiban ku sebagai suami".
.
.
__ADS_1
.
.