
Saat melihat istrinya berjalan menuju meja makan, Danu segera berdiri, menarik kursi, mempersilahkan istrinya duduk, setelah dirinya juga duduk, Danu menyodorkan sepiring berisi ketoprak kehadapan istrinya.
"terimakasih"
"Makan lah, kata mama, kau suka ketoprak, jadi aku membeli ketoprak, aku juga ingin mencicipi bagaimana rasanya, karena aku belum pernah makan ketoprak" Danu menyendok ketoprak nya, memasukkan ke mulutnya, "em, ternyata rasanya enak juga ya" Danu kembali menyendok ketoprak nya memasukkan ke mulutnya, hingga tersisa setengahnya.
Alisa hanya termangu menatap suaminya yang sangat menikmati ketoprak yang katanya baru pertama kali dicobanya, "masa gak pernah makan ketoprak" batinnya.
"eh kenapa hanya menatapku saja, kenapa tidak makan, ah sini aku siapin saja ya" menyodorkan sendok yang berisi ketoprak ke istrinya.
"gak usah, biar aku makan sendiri".
Danu yang hendak menyuapi istrinya, kembali menarik uluran tangannya, lalu menyuapi dirinya sendiri, "ya sudah, makan lah".
Alisa pun makan, tapi menyisakan setengahnya, mengambil minum, lalu mendorong sedikit piring nya.
Danu yang melihat istrinya, tidak menghabiskan makanannya, heran, pasalnya, kata mama mertuanya, Alisa sangat suka makan ketoprak, bahkan sering nambah.
"loh kok, kenapa tidak dihabiskan, ketoprak nya gak enak ya"
"enak kok, cuma aku sudah kenyang"
"oh, ya sudah biar aku yang bereskan, kau istirahatlah"
Namun Alisa juga tidak segera beranjak.
"eh kenapa bengong, pergilah istirahat, apa kau butuh sesuatu?"
"Tidak, em, sebenarnya, aku ingin bicara"
Danu yang sudah berdiri, serta menumpuk piring-piring nya, yang hendak dibawanya ke dapur, kembali duduk, ingin mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh istrinya.
"apa yang ingin kau bicarakan, bicara lah, apa kau perlu sesuatu, katakan lah" Danu menatap Serius istrinya.
__ADS_1
"tidak, bukan itu"
"lalu kau ingin bicara apa?"
Alisa hening sejenak, "em, apa kau tidak bosan hidup seperti ini" kali ini Alisa menatap tajam suaminya"
"hah bosan, maksudnya bagaimana?"
"maksudku, apa kau tidak bosan, hidup berumahtangga seperti, ini, kau juga berhak bahagia, Dengan wanita benar-benar tulus mencintaimu, yang memberikan segalanya untuk mu, melayani mu dengan baik, tidak seperti aku, yang hati dan pikirannya, masih untuk orang lain, kau orang baik, maka kau berhak mendapat pasangan yang baik juga, dan..... lepaskan aku"
deggg....
Mendengar kata 'lepaskan', Danu langsung berdiri dari duduknya, meraup wajahnya dengan sebelah tangan nya.
"sa apa kau sadar, apa yang kau katakan barusan" Danu memegang bahu istrinya, dan sedikit mengguncang nya.
"sa, aku hanya bahagia dengan mu sa, jadi jangan pernah berfikir untuk berpisah"
"ah sudah lah, jangan berakting, disini tidak ada orang tua kita, jadi silahkan kau mengatakan apapun perasaan mu, aku tau kau jengah, kau bosan dengan sandiwara ini, maka dari itu, mari kita akhiri saja"
Dengan langkah cepat, Danu berdiri dihadapan istrinya, menggenggam tangan istrinya, "sa, coba lihat aku, tatap mataku sa, apa kau melihat kebohongan di sana" Danu melepas genggaman tangannya, menangkup wajah istrinya.
"aku mohon sa, tarik kembali kata-katamu, sampai kapanpun, aku tidak akan meninggalkanmu, kita tidak akan berpisah sa, aku mohon sa, mari kita membuka hati kita, untuk bisa saling mencintai", kini Danu beralih memeluk istrinya, "apa kau tidak bisa merasakan ketulusanku sa, aku jatuh cinta padamu sa, aku mencintaimu",
Danu semakin mempererat pelukannya, Alisa pun merasa sesak, "sudah lepas, bukan ini yang ingin aku dengar", Alisa kembali membelakangi suaminya, "seharusnya dari awal Aku menolak ini semua, aku bodoh, kenapa aku sama sekali tidak bisa menentang keinginan papa untuk menjodohkan kita" Alisa mengusap air matanya, yang entah kenapa menetes begitu saja.
"kau juga bodoh" Alisa membalikkan badannya, menunjuk tepat diwajah suaminya, "kenapa kau juga tidak menolak perjodohan ini, sehingga kau juga tidak harus bersandiwara seperti ini".
"sa, aku tidak sedang bersandiwara, apa kau tidak mempercayai ku, aku mencintaimu sa, aku tulus mencintai mu".
"kalimat cinta itu mudah sekali dilantunkan, siapapun bisa mengatakan nya, bahkan anak kecil sekalipun" Alisa terkekeh membayangkan anak kecil saja sudah bisa cinta monyet, apalagi yang dewasa, menurutnya, itu bisa saja hanyalah kata rayuan, hanya gombalan saja, setelah terbuai dengan rayuan cinta, akan ada masanya, habis manis sepah di buang, itu bisa dilakukan oleh siapapun, mungkin juga dengan suaminya.
"aku tau itu sa, tapi aku benar-benar tulus sa, kenapa kau sama sekali tidak percaya padaku sa, mungkin ini sudah menjadi jalan takdir kita, menikah dengan cara dijodohkan, aku pun sama, awalnya ingin menolak, karena tidak mungkin menikah dengan orang yang tidak kita cintai, tapi setelah aku mencobanya, aku bisa sa, aku mencintaimu, aku benar-benar jatuh cinta pada mu sa, kenapa kau juga tidak mencoba nya.
__ADS_1
"sudahlah, sepertinya tidak ada gunanya juga berbicara dengan mu" Alisa membalikkan badannya, pergi meninggalkan suaminya yang masih mematung.
"dengan cara apa aku harus membuktikan, agar kau percaya aku mencintaimu!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
makin ke sini kok kayak gak nyambung ya sama judul n cover nya, mending ganti aja kali ya.
.
.
.
.
.
__ADS_1