
Ada yang bilang, kalau kita berteman dengan seorang penjual parfum maka kita juga akan ikut kecipratan wanginya.
Begitulah dengan Rere dan Dina, ternyata kembali nya Alisa pada Danu membuat keduanya juga menemukan jodohnya.
Siapa lagi kalau bukan dua karyawan Danu, yaitu Dimas dan Angga.
Hari ini, Alisa dan Danu sudah rapi dengan seragam couple nya dan sebentar lagi akan berangkat ke acara lamaran Dina. Dan calonnya adalah Angga pria yang terkenal notabene nya sebagai playboy kelas kakap. Namun semenjak mengenal Dina, Angga bukanlah lagi pria playboy. Angga berjanji tidak akan ada lagi wanita lain setelah Dina, bukan karena takut dengan ancaman Rere yang mengancamnya agar tak menyakiti temannya tapi karena memang Angga ingin berubah dan belajar mencintai satu wanita. Sifat Dina yang terkesan kekanak-kanakan dan polos, membuat Angga tidak tega bila akan menyakitinya. Dan sifat Dina yang humoris dan blak-blakan juga membuat Angga jatuh hati akan sosok Dina.
"Sayang, gimana udah siap kan? kita berangkat sekarang ya" ajak Danu pada istrinya.
"Kamu terlihat seksi dengan perut buncit mu ini" Danu memeluk tubuh istrinya dari belakang serta mengelus perut istrinya. Alisa yang sedang berada di depan cermin terkekeh geli melihat pantulan dirinya dan suaminya yang memeluknya dari belakang.
"Kamu sedang memujiku atau menghina ku sih?"
"Kok ngomongnya gitu sih, kamu emang terlihat seksi sayang." Danu mencium ceruk leher istrinya, menyesap dalam-dalam aroma tubuh istrinya. "Kok wangi banget sih, mau menggoda siapa disana?" Danu semakin mengeratkan pelukannya ditubuh istrinya.
"Kok ngomongnya gitu sih, masa iya istri CEO gak wangi" Alisa terkekeh.
"Iya juga sih, tapi kalau ada yang naksir kamu gimana?"
"Itu bukan urusanku, aku hanya berusaha tampil cantik sebagai istri CEO"
Danu menautkan kedua alisnya. "Kita berangkat yuk, entar telat lagi dan acara lamarannya sudah dimulai"
"Ya udah yuk, entar kamu khilaf lagi dan tidak jadi pergi dari tadi kamu pegang pegang terus"
"Aku tahan kok, sampai kita pulang nanti"
"Oh ya, setelah ini satu minggu lagi acara lamaran Rere loh"
"Oh ya, sama siapa?"
"Sama Dimas, temannya Angga"
"Wah, ternyata ada berkahnya juga buat teman-teman kamu kita balikan lagi. Rere dan Dina bisa jadian sama karyawan-karyawan ku"
"Ku rasa bukan karena kita balikan, tapi karena kami gak sengaja magang di perusahaan mu"
"Yah sama aja lah, kamu yang pertama dan kedua teman-teman mu."
"Ayuk ah berangkat"
•
•
•
"Aku gak sabar loh nunggu minggu depan" Dimas menyenggol lengan Rere saat memasuki ruangan tempat akan dilaksanakannya acara lamaran Dina.
"Apa sih? gak boleh tau senggol senggol!" Protes Rere. "Belum muhrim" ucap Rere memperingati.
__ADS_1
Dimas tersenyum. "Iya aku tau, tadi khilaf"
"Belum apa-apa, sudah khilaf gimana besok-besok? aku jadi takut loh dekat-dekat kamu" Rere menatap Dimas dengan tatapan waspada.
"Tenang aja kali, gak usah khawatir aku gak sejahat itu kok"
"Kok aku gak percaya ya"
"Gak percaya? mau bukti? malam ini, kamu nginap di rumah aku atau aku yang nginap di rumah kamu. Gimana?"
"Iya deh aku percaya, dan itu tadi gak perlu"
"Ck. Bilang aja takut?''
"Takut apa?"
"Takut aku jahatin" Dimas tersenyum sumringah.
"Ngomong apa sih? udah diam, aku mau telepon Alisa dulu kok dia belum sampai-sampai juga sih."
"Eiiittsss... "Dimas merebut ponsel Rere. "Gak usah telepon mereka! kalau mereka masih dirumah atau masih dikamar atau mereka lagi gimana gitu, gimana coba? kan ganggu."
"Ngomong apaan sih? ngomong ngelantur terus, aku pulang nih"
"Mau pulang? ayuk ah, aku ikutan" Dimas terkekeh, puas melihat wajah kesal Rere.
....
Danu menyambut istrinya turun dari mobil layaknya seorang ratu.
"Gak usah berlebihan deh, aku bisa turun sendiri loh"
"Aku cuma mau bantu loh, semenjak perut kamu udah besar aku perhatiin kamu susah banget geraknya"
"Gak usah, awas! aku bisa sendiri" Alisa pun hendak turun sendiri dari mobil.
"Ngeyel banget sih"
Baru saja Alisa akan turun dari mobil, namun tiba-tiba kakinya tersandung dan Alisa hampir saja jatuh dan untungnya Danu dengan cepat menangkap tubuh istrinya yang akan jatuh.
"Tuh kan, aku bilang juga apa"
Alisa syok dan langsung memegangi perutnya, dia benar-benar terkejut. Bagaimana kalau dia jatuh tadi? bagaimana kalau suaminya tidak cepat menangkap tubuhnya tadi? entah apa yang akan terjadi?
"Alisa ...." ya udah yuk, aku bantu berdiri jangan menolak lagi! lihat tadi kamu hampir jatuh gara-gara tidak mau aku bantu turun dari mobil."
Alisa dan Danu pun masuk kedalam rumah Dina dengan bergandengan tangan, Danu memegang tangan Istrinya dengan erat takut kalau istrinya itu akan jatuh lagi.
Acara lamaran Dina pun berjalan dengan lancar, dan Angga begitu senangnya karena keluarga Dina menerima pinangannya tanpa ada hambatan apa pun dan semuanya berjalan lancar sesuai keinginannya.
Dina dan Angga tiada hentinya mengucap syukur dalam hatinya, dan saat pandangan mereka bertemu entah kenapa Dina yang biasanya seperti orang yang tidak punya malu dan sekarang malah memalingkan wajahnya dari pria yang sudah menjadi calon suaminya.
__ADS_1
"Selamat ya Din, bentar lagi Lo bakalan nyusulin gue" ucap Alisa memeluk temannya itu. Dan Danu pun melakukan hal yang sama memberikan selamat pada karyawannya, Angga.
"Satu minggu lagi giliran Lo Re" Dina mengedipkan sebelah matanya kepada Rere.
"Iya bro, semoga acara lamaran Lo nanti juga berjalan dengan lancar" Angga menepuk bahu temannya.
"Amiinn" jawab Rere dan Dimas serentak.
"Cieee... kompak nih yeee bisa barengan gitu" Dina meledak temannya itu.
"Iya, mereka udah gak sabar kali ya" ucap Angga, dan semua yang berada di dalam ruangan itu pun tertawa terbahak-bahak.
Hari ini adalah acara lamaran Dina, tapi malah Rere yang memerah wajahnya karena terus diledekin oleh semua orang yang berada di dalam ruangan itu.
"Udah ah, aku mau pulang" Rere pun beranjak dari duduknya hendak pergi dari ruangan itu.
"Eh, tunggu Re aku juga mau pulang" Dimas pun beranjak dari duduknya hendak menyusul Rere yang sudah pergi dari ruangan itu.
"Dijagain tuh Dim, tapi awas loh jangan sampai khilaf hahaha" Angga terus meledek temannya itu.
"Lo itu yang awas, Lo kan playboy"
"Eh Udah enggak ya, pokoknya Dina yang terakhir"
"Iya, aku seneng loh jadi yang terakhir dan itu artinya gak akan ada lagi setelah aku. Yang aku takutkan itu adalah menjadi yang pertama, karena setelah nomor satu kan masih ada angka dua tiga dan seterusnya ihh.. negeri ya" Dina tiba-tiba mengeluarkan jurus nyeletup nya.
"Apaan gak ada ya, gue mah yang pertama dan terakhir" Dimas pun segera pergi dari ruangan itu dan menyusul Rere.
"Kamu benar Din, aku juga senang jadi yang terakhir" Danu melirik Istrinya.
"Nyindir ya? Ok, aku akui memang bukan kamu yang pertama. Tapi gimana dengan aku ya? bukannya aku yang pertama ya buat kamu"
"Siapa bilang kamu yang pertama" Ucap Danu santai.
"Oh jadi kamu juga punya mantan?" Tanya Alisa menatap suaminya dengan tatapan menyelidik.
"Kok mantan sih, maksud aku tuh kamu adalah Wanita berharga kedua setelah Mama ku"
"Oh, kirain?"
"Enggak lah sayang, kalau aku mau sudah dari semenjak kita berpisah aku punya wanita lain. Tapi buktinya enggak kan, karena aku tuh selalu ingat kamu"
"Gombal!"
"Ya udah, pulang yuk ingat loh ada misi kita yang belum terselesaikan" Dan mengedipkan sebelah matanya.
"Misi apa Sa?" tanya Dina dengan mode polosnya.
"Gak usah dijawab Bu Alisa, aku takut Dina tercemari" ucap Angga yang mengerti arah pembicaraan bos dan istrinya itu.
Danu terkekeh. "Ya udah kami pulang dulu ya"
__ADS_1
"Hati-hati dijalan pak Danu."