
Jangan melihat perceraian sebagai sesuatu kegagalan. Tapi lihatlah sebagai akhir dari sebuah cerita. Dalam sebuah cerita, semuanya memiliki akhir dan permulaan.
Danu melenguh mengatur nafasnya yang terasa sesak, lelaki paruh baya yang kini menjadi orang tua tunggal baginya hingga saat ini masih saja menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kegagalan rumah tangganya.
Pagi-pagi sekali Danu sudah bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaannya. Dengan cekatan Danu memakai pakaian nya, dasi panjang berwarna senada dengan kemeja yang dikenakan nya kini sudah terpasang rapi.
Tentu Danu sudah terbiasa melakukannya sendiri, menyiapkan pakaian nya sendiri bahkan menyiapkan sarapan untuknya sendiri.
Sebelum keluar kamar tak lupa Danu mengenakan jas nya semakin berkharisma di pandang, siapa yang tak terpanah melihat ketampanannya. Termasuk Merisa, sekertaris nya yang sudah sejak lama menaruh hati padanya.
................
Di kost-an, ketiga wanita yang mulai hari ini akan memulai pengalaman pertama nya bekerja tengah bersiap-siap. Tidak terlalu terburu-buru karena jarak kost-an ke perusahaan hanya menyebrang jalan. Ketiganya mengenakan pakaian yang sama, rok selutut berwarna hitam dan atasan berwarna putih.
Setelah dirasa sudah cukup, ketiga wanita mahasiswa magang itu bergegas berangkat ke perusahaan.
Datang lebih awal bahkan sebelum pemilik perusahaan tiba sudah menjadi prinsip yang mereka terapkan.
Sesampainya di kantor, ketiga wanita itu langsung memposisikan diri mereka. Yang pertama mereka lakukan adalah bersosialisasi dengan semua rekan kerja, karena masalah yang sering dihadapi anak magang adalah partner bicara yang baru di lokasi kerja terasa kurang nyambung.
Mereka berusaha untuk berbaur dengan seluruh tim agar lingkar kinerjanya tidak terbatas pada teman-teman magang saja.
..............
Tidak berselang lama Danu pun tiba diperusahan nya, dirinya yang selaku pemilik dan pemimpin yang berwibawa di perusahaan tentu selalu mendapat sambutan hangat dari semua karyawannya saat tiba di kantor. Hal itu tentu tak luput dari Merisa yang setiap hari nya betah menunggu di lobi hingga bos nya itu tiba.
"Bagaimana anak-anak magang itu, apa mereka sudah datang?" tanya Danu pada sekertaris nya yang berjalan di belakangnya saat baru tiba.
"Mereka sudah datang pak, dan baru sebentar saja mereka sudah terlihat akrab dengan para karyawan lainnya" jawab Merisa sambil terus mengikuti langkah bos nya itu.
"Hem, awal kinerja yang bagus"
__ADS_1
Danu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap sekertaris nya dan kebiasaan Danu yang selalu tersenyum pada sekertaris nya itu malah disalahkan artikan oleh Merisa.
"Ya ampun pak, bagaimana aku tidak jatuh hati dengan bapak kalau anda sendiri selalu seperti ini pada saya. atau jangan-jangan sebenarnya pak Danu itu menyukai saya" gumam Merisa dalam hati.
"Oh ya Merisa, apa hari ini ada jadwal meeting?" tanya Danu saat sudah berbalik menatap sekertaris nya.
Merisa yang salah tingkah langsung gelagapan.
"Ah a-pa apa pak, bapak tadi bertanya apa?"
"Saya bilang, apa hari ini ada jadwal meeting atau tidak?'' ucap Danu mengulang pertanyaan nya.
"Oh i-tu pak, tidak ada pak" jawab Merisa sedikit terbata-bata.
"Kamu kenapa? kamu sakit atau belum sarapan?" tanya Danu yang melihat tingkah sekertaris nya yang tidak seperti biasanya.
"Ah tidak pak, saya baik-baik saja pak dan saya juga sudah sarapan. Terima kasih atas perhatiannya pak"
"Hah, memang nya saya sedang memperhatikan kamu ya? kan saya cuma sedang bertanya"
"Ah ya tidak pak"
"Baguslah kalau kamu baik-baik saja, kalau sakit mending pulang saja karena tidak mungkin kan saya memperkerjakan orang yang sakit."
"Tidak pak, saya tidak sakit" jawab Merisa cepat.
"Oh bagus lah kalau begitu" ucap Danu lalu membalikkan badannya melanjutkan langkahnya. "Saya akan keruangan saya, map yang kamu bawa kemarin belum sempat saya periksa dan akan saya periksa sekarang" ucap nya sambil terus melangkah dan Merisa yang setia mengikutinya dari belakang.
Danu berhenti saat sudah didepan ruangan nya dan membalikkan lagi badannya menghadap sekertaris nya. Danu terkejut saat membalikkan badannya Merisa menabraknya.
"Kamu itu kenapa sih, dari tadi kok melamun terus? Kalau beneran sakit ya gak apa-apa kamu pulang aja atau kerumah sakit mungkin. Tenang saja, saya tidak akan memotong gaji mu hanya karena tidak masuk kerja seminggu"
__ADS_1
"Hah, seminggu pak" Jangankan seminggu, sehari pun Merisa rasanya gelisah tidak melihat bos nya itu. senyuman bos nya itu sudah menjadi candu baginya.
"Yah tidak masalah kalau kamu memang sedang sakit"
"Ah tidak pak, beneran pak saya tidak sakit"
"Bagus lah, dan oh ya tolong kamu pantau terus anak-anak magang itu ya" ucap Danu lagi saat tangannya sudah meraih gagang pintu ruangan nya.
"Baik pak, kalau begitu saya permisi" Merisa melangkah menjauh dari bos nya, dadanya berdegup tidak karuan. Entah karena gugup atau malu karena tadi sudah salah menafsirkan pertanyaan bos nya itu.
...............
Sementara Danu masuk kedalam ruangan nya, dia duduk di kursi kebesarannya lalu membuka laptopnya. Seketika matanya tertuju pada tiga buah map yang dibawa oleh sekertaris nya kemarin yang berisi data diri mahasiswa magang di perusahaan nya yang belum sempat dia periksa.
Danu menutup kembali laptopnya, dia mengambil salah satu map itu dan membukanya. Dia memicingkan matanya kala melihat pas foto berukuran 4×6 itu, wajah yang tak asing lagi bagi nya.
"Hah, inikan Rere" Danu memindai wajah dalam foto itu, kalau-kalau saja hanya kebetulan mirip.
Setelah membaca isi lembaran itu, dia semakin yakin bahwa itu benar Rere teman dari mantan istrinya.
Lalu Danu mengambil map kedua, dan ternyata itu juga teman mantan istrinya. Dina.
"Huh, kedua teman Alisa ini ternyata selama ini masih selalu bersama" gumam nya sambil mengambil map yang ketiga. Seketika muncul kekaguman nya pada kedua teman mantan istrinya itu yang sampai saat ini masih selalu bersama..
Dan seketika Danu berdiri dari duduknya ketika membuka dan melihat isi map yang ketiga, yang ternyata itu adalah Alisa mantan istrinya sendiri.
Seutas senyum terukir di kedua bibirnya, ternyata dunia ini sempit.
"Tapi kan papa Herman memiliki perusahaan sendiri, kenapa Alisa tidak diperusahan papa nya saja kenapa mesti diperusahan lain?" gumamnya bertanya-tanya.
"Heh, apa aku bilang tadi? papa. Ah apa aku masih pantas memanggil nya papa, huh ayolah Danu ingat status mu sekarang. Kau bukan siapa-siapa nya lagi" ucap nya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu" ucapnya lalu memanggil sekertaris nya.
"Baik pak, saya akan segera keruangan bapak" ucap Merisa dari sambungan telepon konvensional. Dia berdecak, pasalnya dia selalu saja terpanah setiap saat bertemu dengan bos nya itu dan dia sadar itu adalah salah.