
"Iya. Ini rumah papa. Kamu masih ingat kan saat pertama kali kamu datang kerumah ini? Papa dan mama sangat memuji-muji kamu"
Alisa menoleh dan menatap pria disampingnya yang berbicara tetapi terus menatap bangunan yang ada di depan mereka.
"Sebenarnya untuk apa dia membawa ku kesini" Batin Alisa bertanya-tanya.
"Kamu tau? Kenapa aku membawamu kesini" Tanya Danu tanpa melihat Alisa, dan terus menatap rumah masa kecilnya.
Alisa tidak menjawab tapi dia menggelengkan kepalanya.
"Didalam sana, ada seseorang yang sampai saat ini terus menyalahkan dirinya atas perpisahan kita" Danu menunjuk Rumahnya.
"Aku tidak tau apa masalahmu, dan aku tidak mau tau. Dan sekarang aku mau pulang!" Alisa pun membalikkan badannya hendak pergi tapi...
Tapi Danu lagi-lagi menahan tangannya.
"Papa sedang sakit Sa"
"Terus apa hubungannya dengan ku" Alisa menarik kembali tangannya.
"Aku mohon temui papa sebentar saja" Danu menarik kedua tangan Alisa menggenggamnya dengan penuh permohonan.
"Untuk apa? Semuanya sudah berkahir. katakan saja sama pap..." Alisa menghentikan kalimat nya karena dia merasa sebutan itu tidak pantas lagi dia ucapkan. "Maksudku Om Adi, bilang padanya untuk berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Dia tidak bersalah, aku lah yang bersalah karena tidak bisa menjadi seperti apa yang mereka harapkan"
"Papa begitu karena dialah yang paling antusias dalam perjodohan kita waktu itu. Papa ku yang memohon kepada papa mu, untuk meminta mu menjadi menantunya."Mata Danu mulai berkaca-kaca.
"Iya tapi itu semua sudah berakhir sejak tiga tahun yang lalu. Jadi untuk apa Om Adi terus menyalahkan dirinya sendiri." Alisa menarik tangannya yang sedari tadi berada dalam genggaman mantan suaminya. "Aku mau pulang dan aku mohon jangan membahas lagi sesuatu yang sudah tidak perlu untuk dibahas, karena itu hanya membuang-buang waktu saja"
"Alisa....."
Alisa mendesis karena pria itu terus saja menahannya untuk tidak pergi sebelum menemui papa nya.
"Ok baiklah."Danu pun mengalah tapi dengan satu permohonan terakhir. "Setidaknya tolong bantu aku untuk membujuk papa agar dia mau dibawa kerumah sakit. Semenjak tiga tahun terakhir, papa sering sakit-sakitan tapi kita sama sekali tidak tau apa penyakit papa. Karena papa sama sekali tidak mau dibawa kerumah sakit bahkan sekalipun untuk Dokter yang datang kemari papa tidak mau"
"Kenapa meminta aku yang membujuk papa kamu, kamu anaknya seharusnya kamu yang membujuk nya"
"Aku sudah membujuknya Sa, tapi papa sama sekali tidak mau mendengarkan aku."
"Barangkali papa mau mendengarkan mu. Asal kau tau Sa, kata bik Ijah dia sering mendengar papa mengigau memanggil mama dan juga kau.. Barangkali papa juga merindukan mu Sa."
Sttt..... Alisa terkekeh.
"Sa, asal kau tau. Sebelum mama meninggal, pesan terakhir nya adalah kamu Sa"
__ADS_1
Alisa membelalakkan matanya menatap pria disampingnya yang terus saja memohon padanya.
"Mama berpesan agar aku terus menjaga kamu"
"Dan kurasa itu sudah tidak berlaku lagi sejak tiga tahun yang lalu" Alisa menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Ok baiklah, kurasa percuma saja terus berdebat denganmu disini. Sekarang cepat bawa aku menemui papa kamu dan setelah itu antar aku pulang!"
Danu tersenyum, akhirnya nya wanitanya itu mau juga menemui papa nya.
"Stop! Jangan pegang pegang, aku bisa jalan sendiri" Alisa merasa kesal karena lagi-lagi Danu hendak menggenggam tangannya.
.................
Didepan kost-an. Pak Herman dan Istrinya mondar-mandir, perasaannya semakin tak tenang karena sudah hampir magrib putrinya itu belum juga pulang.
Kemana sebenarnya mantan menantunya itu membawa putrinya? Atau jangan-jangan benar kata Istrinya, jika mantan menantunya itu memiliki dendam atas perlakuan putrinya dan ingin membalas. Ah pak Herman tidak bisa berpikir jernih lagi sekarang.
"Pa coba hubungi pak Adi atau Danu, tanyakan dimana Alisa?"
Pak Herman pun merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya dari dalam sana dan mencoba menghubungi kedua laki-laki itu seperti kata Istrinya.
"Ck" Ah Pak Herman lupa kalau dia sudah mengganti nomor ponsel nya dan sudah tidak menyimpan lagi nomer ponsel kedua nya.
"Kenapa pa?" Tanya Mama Alisa, karena suaminya itu bukannya menelpon tapi malah memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.
"Ya ampun papa. Jadi selama ini papa juga ikut-ikutan seperti Alisa memutuskan hubungan dengan mereka"
"Ya enggak lah ma. Mama lupa ya kalau handphone papa dulu hilang"
"Ya ampun pa, mama benar lupa pa. Maafin mama ya pa, tadi mama sudah menuduh papa"
"Iya, Udah gak apa-apa ma. Duh ini Alisa ini kemana sih?"
"Papa sudah coba telpon Alisa?"
"Sudah ma, tapi gak di angkat"
"Papa coba telpon Alisa lagi dong pa, udah sore ini pa"
"Iya ma" Pak Herman pun kembali mencoba menghubungi Alisa.
Dan tersambung, tapi masih tidak di angkat juga oleh sang pemilik ponsel di seberang sana.
__ADS_1
Ponsel Alisa terus saja berdering didalam tas nya yang berada di dalam mobil milik pria yang membawanya.
Sementara di luar mobil, pemilik ponsel terus saja berdebat dengan si pemilik mobil.
.
.
.
"Om, Tante. Sebaiknya tunggu di dalam saja, ini sudah hampir magrib."
Tapi pak Herman dan Istrinya seakan tidak mendengar ucapan Rere dan terus saja mondar-mandir.
"Hufsss...Om, Tante. Jangan khawatir, kata mas Danu dia akan mengantar Alisa pulang nanti"
Dan seketika pak Herman menoleh ke arah Rere.
"Sebenarnya untuk apa si Danu itu membawa Alisa, bikin khawatir saja"
Rere pun masuk kembali kedalam kost-an nya dan juga mencoba menghubungi Danu, tapi sama saja juga tidak diangkat. Ponsel Danu juga sama tertinggal di dalam mobilnya.
.....................
"Gue udah memperingati Lo, tapi Lo gak mau dengerin gue. Dan beginilah kejadian nya."
Mobil yang dikendarai Angga dan Dimas sudah berhenti didepan rumah Angga.
"Ingat! Besok besok-besok jangan diulangi lagi, berhenti menganggu ketiga anak magang itu"
"Tapi gue penasaran Dim, kenapa pak Danu bisa sampai semarah itu hanya karena anak magang itu"
"Jawabannya adalah karena pak Danu menghargai wanita. Tidak seperti kamu yang terus ingin selalu bermain-main dengan wanita.
"Dan sekarang kamu turun, kita sudah sampai di rumah kamu"
Angga membuka kaca mobil. "Ya ampun, gue sampai gak sadar kalau ini rumah gue"
"makanya, jangan dipikirin Lo itu cuma ada cewek terus jadi pikun kan"
"Sialan Lo Dim, ya udah besok jangan lupa jemput gue"
"Sampai kapan gue harus antar jemput Lo terus?"
__ADS_1
"Sampai kunci motor gue dibalikin sama bokap gue"
"Ya ampun Ngga, rugi dong gue."