Aku Ingin Kembali

Aku Ingin Kembali
BAB 79


__ADS_3

Baru saja Danu dan Alisa memasuki rumah. Bik Ijah lari tergopoh-gopoh menghampiri tuan nya itu.


"Tuan... tuan.... Pak Adi tuan pak Adi..." Nafas bik Ijah tersengal-sengal karena berlarian.


Danu yang melihat bik Ijah berlari menghampirinya juga mempercepat langkahnya meninggalkan Alisa di belakangnya.


"Ada bik? Papa kenapa?" Danu panik dibuatnya.


"Pak Adi tuan...." Bik Ijah kesulitan berbicara lantaran nafasnya yang tersengal-sengal.


Tanpa menunggu lagi bik Ijah bicara. Danu langsung berlari menuju kamar dimana papa nya berada.


Sementara Alisa, dia mencoba menenangkan bik Ijah dan mengajak nya berbicara.


"Tarik nafas bik keluarin pelan pelan. yah sekali lagi bik"


Bik Ijah pun mengikuti instruksi dari Alisa, dan nafasnya nya pun mulai teratur lagi.


"Sebenarnya Om Adi kenapa bik?" Alisa pun bertanya karena melihat bik Ijah sudah lebih baikan.


"Itu non, pak Adi tadi katanya dada sakit sampai-sampai pak Adi menangis non" Bik Ijah menjelaskan apa yang ingin dikatakan nya kepada Danu tadi tapi dia malah kesulitan berbicara karena nafasnya yang tersengal-sengal akibat berlarian.


"Kenapa tidak dibawa kerumah sakit bik?" Alisa bertanya meski Danu sudah memberi tahu nya. Dia hanya ingin memastikan saja jika pria itu berbohong atau tidak.


"Pak Adi gak pernah mau dibawa kerumah sakit non, bahkan dokter kesini pun pak Adi gak mau"


"Loh kenapa bik?"


"Kata pak Adi. Dia gak perlu tau apa penyakitnya, karena mau tidak mau nanti dia juga akan menyusul almarhumah ibu, non"


Alisa turut prihatin mendengar dari bik Ijah tentang kondisi mantan papa mertuanya itu.


"Ya sudah bik, terima kasih karena sudah menjelaskan pada saya. Kalau begitu saya ke kamar om Adi dulu ya bik."


"Iya non, silahkan."


"Eh non tunggu sebentar" Bik Ijah memanggil Alisa saat sudah beberapa langkah meninggalkan nya.


Alisa pun berbalik menatap bik Ijah. "Ya ada apa bik?"


"Bibik mau tanya non?" Bik Ijah mesem mesem, sebenarnya dia tidak enak bertanya tapi dia juga penasaran.


"Mau tanya apa bik?"

__ADS_1


"Maaf non, kalau boleh tau non ini siapa nya tuan Danu ya? Pacar nya kah."


Alisa tersenyum mendengar pertanyaan bik Ijah yang mempertanyakan siapa dirinya.


"Bukan bik. Saya buka pacar nya pak Danu, dia itu adalah bos saya"


"Oh jadi non ini karyawan nya tuan Danu"


"Iya bik"


Bik Ijah tersenyum kikuk. "Hehe, maaf ya non. Saya kira non adalah pacar nya tuan Danu, soalnya cocok kelihatannya.


"Ya sudah non, silahkan kalau ingin ke kamar pak Adi."


Alisa pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar pria paruh baya yang katanya selalu menyalahkan dirinya sendiri hingga saat ini.


.


.


.


"Danu mohon pa, sekali ini saja turuti permintaan ku. Kita kerumah sakit ya pa" Danu terus saja memohon kepada papa nya agar mau dibawa kerumah sakit.


Danu sangat khawatir dengan kondisi papa nya yang kian hari semakin melemah, papa nya itu tampak kesakitan meringis memegangi dadanya.


Sesekali Danu melirik ke arah pintu. Kenapa mantan istrinya itu tidak menyusul nya ke kamar untuk melihat papa nya.


"Pa, kondisi papa sekarang semakin melemah. Aku takut terjadi sesuatu pada papa"


"Kamu jangan memikirkan papa, pikirkan tentang dirimu sendiri. Pikirkan untuk masa depan mu, sampai sekarang kamu masih belum memiliki pendamping."


"Bagaimana papa bisa berbicara seperti itu, sementara keadaan papa sekarang sedang tidak baik-baik saja pa"


"Aku mohon pa jangan pernah berbicara seperti itu lagi. Yang aku pikirkan sekarang adalah keadaan papa, bagaimana caranya papa bisa sembuh"


"Tidak nak, papa ikhlas atas apa yang papa alami sekarang. Papa minta maaf pada mu dan juga Alisa, karena dulu sudah mempermainkan perasaan kalian berdua. Papa pikir, kalian bisa saling mencintai saat sudah menikah, tapi papa salah. Seharusnya papa menanyakan tentang perasaan kalian berdua terlebih dahulu sebelum menikahkan kalian. Sebenarnya papa ingin bertemu Alisa ingin meminta maaf langsung padanya, tapi papa malu untuk bertemu dengan nya."


"Alisa...." Danu teringat meninggalkan Alisa bersama bik Ijah tadi. Kemana wanita itu? Semoga saja dia tidak pulang.


"Sebentar pa.."


Alisa yang sedari tadi berdiri di luar kamar mendengar kan semua percakapan antara ayah dan anak itu merasa tidak enak hati. Dirinya nya lah yang sebenarnya bersalah, dirinya lah yang selama ini egois. Tapi malah pria paruh baya itu yang menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Dan Alisa terkejut saat saat pintu kamar terbuka dari dalam, sama halnya dengan Danu yang juga terkejut melihat Alisa sudah berdiri dihadapannya.


Danu pun keluar dan menutup pintu kamar tersebut. Dia ingin memastikan lagi kesediaan mantan istrinya itu untuk menemui papa nya didalam kamar.


"Eh Alisa... Kebetulan kau disini baru aku ingin menyusul mu aku pikir kau masih di luar dengan baik Ijah, kita perlu bicara" Danu menarik tangan mantan istrinya itu untuk menjauh dari kamar papa nya.


"Tidak perlu, aku sudah mendengar semuanya dan aku akan menemui Om Adi. Dia itu kenapa keras kepala sekali tidak mau dibawa kerumah sakit"


Danu terkekeh mendengar Alisa mengatai papa nya keras kepala.


"Kenapa tertawa? Emangnya ucapan ku ada yang lucu apa hah!"


"Tidak. Kau tadi mengatai papa keras kepala, padahal kau sendiri juga keras kepala. Berarti kau dan papa sama saja, sama sama keras kepala" Danu terkekeh lagi.


"Berhenti tertawa! Sana minggir" Alisa pun sedikit mendorong Danu bergeser dari depan pintu kamar papa nya dan Alisa pun masuk kedalam.


Danu pun ikut masuk dengan menahan tawanya, sejenak dia melupakan kesedihannya tadi saat melihat kondisi papa nya yang kian melemah.


"Om Adi"


Pak Adi membuka matanya nya saat mendengar suara yang tak asing itu memanggil namanya.


"Alisa...." pak Adi mengerjap kan matanya, kalau-kalau saja dia salah lihat.


"Om"


"Alisa.. Apa itu benar kau nak?"


"Iya om, ini aku Alisa. Om baik-baik saja kan''


"Tolong jangan panggil saya om, saya juga papa mu sama seperti Herman"


Alisa tak bergeming, dia bingung apa masih pantas memanggil pria paruh baya dihadapannya itu dengan sebutan papa, sementara dia bukanlah siapa-siapanya lagi.


"Kemari nak" Pak Adi menepuk ranjang kosong di sampingnya, memanggil Alisa duduk disitu.


"Bagaimana kau bisa ada disini nak? Padahal baru saja papa membicarakan mu dengan Danu tadi"


"Pa, Sebenarnya aku pulang memang bersama Alisa pa" Danu yang menjawab karena melihat mantan istrinya itu seperti canggung.


"Kalian bersama kesini?" Pak Adi masih belum mengerti, karena selama ini baik Danu maupun dirinya belum pernah bertemu Alisa dan keluarga nya semenjak perceraian itu. Dan sekarang putranya itu mengatakan bahwa dia dan mantan Istrinya datang bersama.


"Iya pa. Sebenarnya Alisa adalah anak magang di perusahaan ku baru beberapa hari ini pa. Dan aku juga terkejut saat mengetahui itu, tapi aku juga senang karena....." Danu tidak melanjutkan ucapannya karena ditatap tajam oleh mantan istrinya itu.

__ADS_1


Apapun itu, Pak Adi senang karena bisa bertemu lagi dengan mantan menantu sekaligus putri dari sahabatnya.


__ADS_2