
Hari ini pak Herman dan Istrinya datang kerumah sakit untuk mengunjungi sahabat yang sudah menjadi mantan besannya itu.
Persahabatan mereka menjadi renggang bersamaan dengan berakhirnya pernikahan anak-anak mereka di ketukan palu hakim tiga tahun lalu.
"Aku senang bisa bertemu dengan mu lagi. Tapi aku juga sedih melihat keadaan mu sekarang." Pak Herman mengelus bahu sahabatnya itu yang terbaring lemah di atas bed pasien ruang VVIP.
Yah tentu Danu menyediakan fasilitas kesehatan yang terbaik untuk papa nya, agar sang papa merasa nyaman dan tentunya untuk mempercepat kesembuhan nya.
"Aku juga senang bertemu dengan mu lagi, aku kira kita tidak akan bertemu lagi mengingat kondisi ku sekarang yang sudah sakit-sakitan." Pak Adi tersenyum pada sahabatnya, wajah pucat nya sangat kentara menandakan dia benar-benar tidak baik-baik saja.
"Jangan bicara seperti itu, apa kau tidak yakin jika kau akan sembuh? Tentu kau harus sembuh karena kau belum menjadi seorang kak.... Ah maksud ku, kau harus segera sembuh agar bisa bersaing lagi dengan ku seperti waktu muda dulu"
Huh hampir saja pak Herman mengatakan yang seharusnya tidak untuk dia katakan di situasi seperti sekarang ini.
"Ya kau benar Man, aku harus segera sembuh agar bisa melihat putraku nanti menikah lagi" Pak Adi tersenyum, dia tau apa yang ingin dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Yah begitu lebih baik, kau harus segera sembuh" Pak Herman pun tersenyum.
"Sebenarnya aku tidak pernah mau untuk dibawa kerumah sakit, dan apa kau tau kenapa sekarang aku mau?''
"Yah aku tau Danu sudah memberitahu ku, karena Alisa kan yang membujuk mu"
"Bukan hanya itu, tapi aku juga memberi syarat pada putrimu"
"Syarat. Apa maksudmu?"
"Ya aku mau dibawa kerumah sakit dengan syarat putrimu itu harus datang mengunjungi ku di setiap akhir pekan"
"Oh Adi, kau benar-benar merepotkan putriku" Pak Herman terkekeh.
"Beruntung tidak aku minta datang setiap hari, karena aku tau dia sudah bekerja sekarang diperusahan putraku"
"Huh, yah sebenernya aku meminta Alisa untuk masuk ke perusahaan ku. Tapi dia tidak mau, takut tidak bisa konsisten katanya. Dan Alisa beserta teman-temannya magang di perusahaan lain yang ternyata itu adalah perusahaan milik Danu."
"Herman?"
"Yah Di?"
"Sebenarnya aku meminta syarat itu pada putrimu karena aku ingin memperbaiki sesuatu yang sudah lama berakhir, dan aku bersyukur karena putrimu itu tidak menolak syaratku. Aku merasa itu adalah kesempatan untukku, dan apa kau tidak keberatan? Danu bilang, dia dan Alisa sekarang berteman."
Pak Herman terkekeh lagi "Sungguh lucu kedengarannya, mantan suami-istri sekarang malah berteman."
"Jadi bagaimana? Apa kau keberatan"
Pak Herman melirik Istrinya.
"Mama gak tau harus bilang apa pa. Mama hanya takut kejadian nya masih sama seperti tiga tahun lalu."
Obrolan ketiga paruh baya itu pun berakhir saat perawat datang untuk memeriksa keadaan pak Adi.
__ADS_1
Setelah selesai memeriksa, perawat pun keluar dari ruangan VVIP itu dan disusul dengan pak Herman dan Istrinya juga berpamitan untuk pulang.
"Baiklah lah Di, masalah yang tadi nanti kita bicarakan lagi di lain waktu. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan mu dulu.
"Tapi kau tidak keberatan kan dengan syarat yang aku berikan kepada putrimu?"
"Tidak Di, siapa tau saja dengan sering bertemu dengan mu Alisa mau menjadikan mu mertuanya lagi" Pak Herman terkekeh"
"Aku pamit Di, semoga cepat sembuh. Kapan-kapan aku akan menjenguk mu lagi"
"Pak Adi, kami pamit pulang dulu" Ucap mama Alisa.
.
.
.
.
.
"Ngapain Lo kesini? Belum kapok kemarin diperingati sama pak Danu" Ucap Rere ketus.
"Gue kesini cuma mau minta maaf sama kalian, maaf kalau karena gue kalian merasa tidak nyaman"
"Yah gue minta maaf, gue janji gak akan mengusik kalian lagi"
"Bagus deh kalau sudah sadar"
"Kalian mau kan maafin gue" Angga menatap satu persatu ketiga wanita yang ada dihadapannya.
"Yah udah kita maafin, sana pergi" usir Rere.
"Terima kasih. Oh ya satu lagi, karena kalian sudah memaafkan gue, gue ada satu permintaan"
"Ya ampun ngelunjak juga Lo ya jadi orang"
"Gue cuma mau berteman dengan kalian, kalian mau kan berteman dengan gue" Angga menatap lagi satu persatu ketiga wanita itu.
"Gimana gaes?" Rere menatap kedua temannya.
Alisa mengangguk dan Dina yang paling antusias.
Terima kasih" Angga senang dan dia mengulurkan tangannya atas diterima nya permintaan pertemanan nya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Semua karyawan menatap heran pada bos mereka yang baru saja keluar dari pantry dengan membawa 4 buah piring dan sendok ditangan kirinya dan rantang 4 susun di tangan kanannya.
Dengan santai nya Danu berjalan tanpa menghiraukan tatapan dari semua karyawan nya yang dia tau apa yang mereka bicarakan.
"Bodoh amat" Gumam nya sambil terus berjalan menuju dimana ketiga anak magang itu berada.
.
.
.
"Eh eh sini, apa kamu melihat pak Danu?" Tanya Merisa pada office boy yang lewat di depannya.
"Oh pak Danu, tadi baru saja saya lihat keluar dari pantry bawah piring dan sendok dan... apa lagi ya itu tadi? Ah ya rantang, pak Danu bawa rantang juga" Ucap office boy itu menjelaskan pada Merisa apa yang dilihatnya.
"Kamu sadar gak dengan apa yang kamu katakan barusan? Pak Danu itu pemimpin diperusahan ini dan pemilik perusahaan ini. Jadi mana mungkin pak Danu bawa-bawa sendok dan piring yang seharusnya itu adalah tugas kamu" Ucap Merisa menunjuk office boy itu.
"Ya ampun mba, saya beneran serius yang saya lihat tadi itu beneran pak Danu, dia bawa piring dan sendok juga rantang ke arah sana dan mata saya belum rabun kok, kalau tidak percaya nih periksa saja mata saya masih sehat" Ucap office boy itu memajukan wajahnya.
"Ih apa-apaan sih kamu ini, ya sudah sana pergi"
"Gak jadi periksa mata saya mba?"
"Periksa saja sana sama tukang bengkel"
"Emang bisa ya mba periksa mata di bengkel"
"Duh kamu ini kenapa sih bego banget, sudah sana pergi!"
"Sudah tidak percaya dengan saya sekarang mengatai saya bego lagi, apa sih mau mba"
"Pergi gak" Merisa mengangkat map yang dipegangnya hendak memukul kepala office boy itu.
Kaburrrrrr...
"Dasar office boy gila"
Setelah office boy itu pergi. Merisa menatap kearah dimana office boy itu tadi menunjuk. Dan itu adalah....
"Sebenarnya apa hubungan pak Danu dengan anak-anak magang itu?"
__ADS_1