
Ketika hatimu berharap pada seseorang, maka Allah timpakan ke kamu pedihnya sebuah pengharapan. Supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.
Cintailah kekasihmu secara sedang-sedang saja, siapa tau suatu hari nanti dia akan menjadi musuhmu. Dan bencilah orang yang kau benci secara biasa-biasa saja, siapa tau suatu hari nanti dia akan menjadi kecintaanmu.
Jangan terlalu keras pada diri sendiri, karena hasil akhir dari semua urusan di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah. Jika sesuatu ditakdirkan untuk menjauh darimu, maka dia tak akan pernah mendatangimu. Namun jika dia di takdirkan bersamamu, maka kau tak akan bisa lari darinya.
.
.
.
"Ku titipkan cinta ini hanya kepada-Mu, jagalah hatiku dan hatinya dari rasa kecewa, hingga waktu itu tiba. Persatukanlah kami dalam restu dan Ridho-Mu." Danu menengadah menatap langit-langit masjid. Sungguh hatinya merasa lebih baik sekarang setelah mendengar wejangan dari sang ustadz yang secara tidak sengaja dia jumpai di masjid itu.
Berpasrah kepada sang pencipta dan berserah kepada-Nya atas dirinya adalah yang terbaik.
"Sekali lagi saya ingatkan, jangan pernah berputus asa di jalan-Nya" Ucap ustadz tersebut. Senyuman nya tak pernah lepas dari wajahnya saat bertemu Danu.
"Jika wanita yang ente maksud belum bisa menerima ente, jangan pernah paksakan. Dekati secara perlahan, beri dia penjelasan, beri dia pemahaman atas perasaan ente pada nya. Jangan terburu-buru dan terkesan memaksa, itu akan membuatnya semakin menjauhi ente"
"Tapi Ustadz, dia itu adalah mantan Istriku" Danu menatap manik Ustadz tersebut yang tiba-tiba berubah karena ucapannya.
"Dasar semprul! Kenapa tidak bilang dari tadi" Ustadz tersebut melempar Danu dengan peci nya.
"Memangnya kenapa Ustadz?'' Tanya Danu heran. Cara bicara ustadz itu berubah tidak seperti di awal.
"Menaklukkan gadis sama janda itu beda caranya" Jawabnya sambil meraih kembali peci yang dilemparkan nya tadi. "Ah sudahlah, jangan panggil saya Ustadz. Saya bukan ustadz, tapi saya hanya penjaga masjid!"
Krik krik krik...
Danu menggaruk kepalanya. "Jika dia bukan Ustadz, kenapa juga dia tidak bilang dari tadi" Gumamnya. Ternyata dia salah mengira orang, yang dirinya kira Ustadz ternyata hanyalah seorang penjaga masjid. Tapi orang itu mantap-mantap saja di panggil Ustadz.
"Kenapa? Terkecoh ente. Terkecoh dengan penampilan ku atau kata-kata ku? Huh. ente bukan orang pertama yang terkecoh dengan ku. Hahahaha" Tawanya menggema di seluruh penjuru masjid.
"Kalau begitu, saya permisi" Danu pun pergi meninggalkan orang yang dikiranya ustadz itu dengan masih tertawa.
Danu keluar dari masjid dengan perasaan dongkol karena merasa sudah tertipu.
Sungguh suasana hatinya menjadi kacau lagi sekarang.
Dari luar masjid, Danu masih bisa mendengar suara tawa orang yang dikiranya ustadz itu.
"Ah dasar orang aneh" Gerutunya sambil melangkah menuju mobilnya.
.....................
Keesokkan harinya di kantor.
Danu berjalan memasuki lobby dengan di tangannya membawa rantang, kali ini yang dibawanya adalah rantang empat susun. Apalagi isinya kalau bukan nasi goreng, seperti janji nya kemarin untuk membawakan nasi goreng untuk mantan istrinya itu beserta kedua temannya juga serta untuk dirinya.
__ADS_1
Merisa menatap bos nya itu dengan heran, tidak pernah sekalipun selama dia menjadi sekertaris nya mendapati bos nya itu membawa bekal ke kantor.
"Oh ya Merisa, nanti siang tidak usah membawakan saya makan siang" Ucap Danu saat Merisa mendekati nya.
"Bapak bawa bekal? Tumben" Tanya Merisa.
"Yah seperti yang kau lihat" Ucap Danu lalu melangkah melewati Merisa yang masih kebingungan.
Danu pun masuk ke ruangan nya, dia meletakkan rantang yang dibawanya itu di atas meja kerjanya. Lalu dia duduk di kursi kebesarannya, membuka tumpukan dokumen yang membutuhkan tanda tangannya.
.....................
📞"Merisa, nanti jam makan siang tolong panggilkan Rere, Dina dan Alisa keruangan ku" Ucap Danu dari sambungan telepon.
📞"Baik pak" Jawab Merisa lalu menutup sambungan teleponnya.
"Huh, kenapa lagi sih? Kemarin-kemarin Rere yang dipanggil ke ruangannya, sekarang Dina dan Alisa juga. Astaga..."Merisa menutup mulutnya. "Jangan-jangan selera pak Danu itu daun muda seperti anak-anak magang itu"Gumam nya "ah masak harus tiga-tiganya sih" Merisa menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
.
.
.
"Hai cantik. Makan siang bareng yuk" Ajak Angga pada Alisa, Rere dan Dina.
"Ayuk!" Dina antusias sekali dengan ajakan Angga.
"Apa? Lupa Lo sama kata-kata Lo kemarin" Dina memperingati.
Rere melenguh, dia pun mengalah kepada temannya itu karena kemarin dia memang sudah berjanji.
"Angga ayo" Ajak Dimas kepada temannya itu.
"Bentar sih, kita tunggu dulu ketiga cewek cantik ini"
"Alisa, Rere, Dina. Kalian di panggil ke ruangan bos sekarang juga!" Ucap Merisa menghampiri ketiga nya.
Dimas dan Angga saling menatap, dan pada akhirnya Dimas berhasil menarik Angga menjauh dari kerumunan wanita itu.
"Ah payah Lo Dim" Angga menghempaskan cekalan tangannya dari genggaman tangan Dimas lalu dia melangkah ke luar kantor.
Dimas hanya bisa geleng-geleng kepala menatap kepergian temannya itu.
.
.
.
__ADS_1
"Ada apa ya mbak?" Tanya Rere pada Merisa.
"Saya juga gak tau, udah sana cepetan!" Perintahnya pada ketiga anak magang itu, lalu Merisa pun pergi menuju tempat nya kembali.
Rere berbalik menatap Alisa dibelakangnya.
"Kenapa?" Tanya Alisa, teman itu terus menatapnya tanpa bicara.
"Ayo" Ajak Rere.
"Kalian berdua aja. Kalau ada pekerjaan tolong bawakan saja kemari"
"Tapi Sa"
"Udah Re. Gue lagi malas berdebat"
"Ih lama banget sih" Dina mencelos.
"Ayo lah Sa, kalian udah baikan kan? Jadi apa lagi masalah nya"
"Iya, tapi gue malas aja ah kesana" Alisa kembali duduk di tempatnya semula.
"Tapi Sa..." Rere hendak protes tapi Alisa menatap nya tajam.
"Ya udah iya" Rere dan Dina pun pergi keruangan bos nya tanpa Alisa.
.
.
.
Tok tok tok
"Masuk" Ucap Danu dari dalam ruangannya.
"Loh. Alisa kemana?" Tanyanya, melihat hanya Rere dan Dina yang masuk.
"Gak ikut mas" Jawab Rere sembari berjalan masuk.
"Kenapa?" Tanya Danu lagi, mengangkat kedua alisnya.
"Lagi malas katanya. Eh tapi emangnya ada apa mas panggil kita?'' Tanya Rere.
"Ck." Danu berdecak memperhatikan rantang yang berada di atas meja kerjanya.
"Tuh" Tunjuknya Pada Rere dan Dina.
"Nasi goreng lagi?" Tanya Dina.
__ADS_1
"Yah, Saya pikir mau ajak kalian bertiga makan siang bersama di ruangan saya" Raut wajah Danu berubah kecewa, padahal kemarin dia sudah bilang pada Alisa akan membawakannya nasi goreng untuknya ke kantor, tapi mantan istrinya itu malah tidak datang ke ruangannya.