
Terbenamnya matahari adalah musik pembukaan malam, matahari terbenam selalu lebih bijaksana daripada terbitnya matahari, Karena matahari terbenam telah menambahkan pengalaman sepanjang hari pada jiwanya.
Terbenamnya matahari mengajarkan kita bahwa hidup tak selalu cemerlang dan bersinar, dan tidak ada lilin yang bisa menggantikannya, dan jangan lupa bahwa terbenamnya matahari yang indah, butuh awan yang menghitam, maka hargailah apa yang diberikan matahari untuk kita.
Kau tau apa yang lebih indah dari terbenamnya matahari? ya, kau, yang mampu menerangi jiwa.
Disini, di balkon kamarnya, Danu berdiri memandang langit, memandang dimana sinar yang menerangi bumi, kini sebentar lagi akan tenggelam, seperti hatinya, yang selalu kelam, menghela nafasnya yang terkadang terasa sesak, dimanakah belahan jiwanya, sang penerang.
Danu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, yang berdering tanda ada pesan masuk, ternyata itu pesan dari istrinya.
📩 Istriku
"Maaf mas, ini saya Rere, sekarang Alisa ada dirumah saya, dia lagi tidur, maaf saya lancang, saya cuma ingin memberitahu mas, supaya mas tidak kelimpungan mencarinya lagi".
Hufss "Danu menghela nafasnya lagi, senang istrinya mengirim pesan, namun ternyata bukan, Danu membalas pesannya, lalu menatap sunset lagi.
📩Danu
"Iya gak apa-apa, terimakasih sudah memberi tau, tolong jangan diganggu ya, biarkan saja dia tidur, mungkin dia lelah".
Setelah mendapat balasan pesan dari Danu, Rere membaca nya "Aduh Sa, liat ni, suami Lo pengertian banget" Lalu segera menghapusnya, dan mengembalikan lagi kedalam tas Alisa.
Rere tak bisa diam begitu saja, melihat Alisa yang tidur begitu nyenyak, timbul ide konyolnya, untuk mengerjai Alisa, "Gak akan gue biarin Lo tidur nyenyak disini, sementara disana, ada yang lagi Gegana, gelisah galau merana gara-gara Lo, dasar tolol" Rere menggerutu disamping Alisa.
Rere mondar-mandir, sambil menjentik-jentikan jari telunjuknya di pelipisnya, mencari cara untuk mengerjai temannya yang sedang tertidur pulas itu, "Hah ketemu", Rere mengangkat jari telunjuknya ke atas sejajar dengan kepalanya. "Awas Lo ya, gue kerjain habis-habisan Lo, siapa suruh sih Lo tolol, dasar bodoh"
Kemudian Rere pergi ke gudang belakang rumahnya, masuk, lalu mencari-cari, benda apa kiranya yang tepat untuk digunakannya mengerjai Alisa, "Nah ini dia, hahaha abis Lo Sa" Rere mengambil wajan yang sudah gosong milik ibunya, yang berada di atas lemari tua, dengan berjinjit, karena lemarinya agak tinggi,"ihhhh" Rere bergidik mengangkat wajan gosong itu mengapitnya dengan ibu jari dan jari telunjuknya, serta mengambil tali, yang berada di atas meja yang tak jauh dari lemari tua itu.
Setelah semua alat yang diperlukannya sudah cukup, lalu Rere kembali ke kamarnya, Rere menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat Alisa yang sama sekali tidak berubah posisi tidurnya, "Gila, ni orang tidur apa pingsan, tunggu ya Lo, ni gue siapin kejutan buat Lo"
Rere mengikatkan tali dikedua sudut kamarnya, melintas tepat di atas Alisa, kemudian menggantung wajan gosong nya, pas di atas wajah Alisa, "Nah uda siap, eh tapi kayaknya ada yang kurang, tapi apa ya?" Rere sejenak berpikir, "Oh iya" Rere pergi ke dapur untuk mengambil panci dan centong, setelah sudah kembali ke kamar, Alisa bersiap untuk mengejutkan Alisa, tak lupa mengambil ponselnya, mengarahkan kamera ponselnya, untuk merekam Alisa, yang akan dikerjainnya.
"Satu dua tiga" Rere memukul panci menggunakan centong dengan kuat, "Bangun bangun bangun bangun, ada kebakaran, bangun woy bangun banguuuuuuuun bangun, ayo bangun bangun" sontak Alisa bangun gelabakan, tepat wajahnya menabrak pantat wajan yang sudah sangat gosong itu.
Melihat wajah Alisa menghitam akibat terkena pantat wajan yang gosong, Rere tertawa terbahak-bahak, sampai berguling-guling dilantai, serta memegangi perutnya yang sudah terasa keram.
"Wah sialan Lo Re, nyesel gue kesini" Alisa bangkit dari tempat tidurnya, berdiri disisi ranjang, sementara Rere, masih saja tertawa, tak menghiraukan Alisa yang sudah tersulut emosi. "Sudah, diam Re, gak lucu tau" Alisa menghentakkan sebelah kakinya di lantai.
kemudian Rere berdiri disampingnya Alisa, dan memelankan tawanya, "ok ok, sorry, gue minta maaf" Rere menyatukan kedua telapak tangannya dihadapan Alisa.
"Gue uda kayak gini, Lo bilang minta maaf, kelewatan Lo Re" Alisa berlalu, melihat wajahnya di cermin, dia berteriak keras. "Ya ampun Re, muka gue jadi gosong kayak gini, hitam", Alisa mencolek pipinya yang hitam, kemudian menghadap Rere, dengan tatapan membunuh.
"Ampun maaaaakkk kaburrrrrr" Rere berlari kencang, keluar kamar, dengan diikuti Alisa yang mengejarnya.
Danu yang masih berdiri di balkon kamarnya, mengeluarkan ponselnya lagi yang berdering dari saku celananya, terpampang di layar ponselnya dengan nama 'Mama'.
📱Danu
"Halo assalamualaikum ma"
📱Mama
"Waalaikumsalam nak"
📱Danu
"Iya ada apa ma?"
📱Mama
"Nanti malam jam tujuh, kamu dan istrimu kerumah mama ya, kita makan malam bersama, mama juga kangen sama kalian"
📱 Danu
"Iya ma, kalau begitu aku dan Alisa, bersiap-siap dulu ya ma"
__ADS_1
📱Mama
"Iya nak, mama tunggu loh ya"
📱 Danu
"Iya ma, assalamualaikum ma"
📱 Mama
"Waalaikumsalam nak"
Tut tut tut ...
Setelah sambungan telepon dengan mamanya terputus, Danu lalu menelpon istrinya.
Rere dan Alisa yang masih berkejar-kejaran, seketika berhenti, saat mendengar suara ponsel Alisa berdering dari dalam kamar.
"Nah Sa, tu ponsel Lo berdering, angkat dulu gih, stop dulu ngejar gue, capek gue" Rere membungkuk memegangi kedua lututnya, dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Enak aja Lo, mau kabur Lo ya, gak bisa gitu donk, Lo harus gue kasih pelajaran dulu, berani-beraninya ya ngerjain gue kayak gini, sini Lo"
"Iya, gue bakal tanggung jawab, tapi angkat dulu telpon Lo, siapa tau itu dari suami Lo"
"Biarin aja"
"Gak, Lo aja"
"Ihhh, dasar" Rere mengepalkan kedua telapak tangannya, geram, lalu mengambil ponsel Alisa, "Nah kan Sa, dari suami Lo, angkat dulu gih, siapa tau penting"
Alisa memalingkan wajahnya, "Enggak"
"Alisaaaaaaaaa...." Rere menekankan suaranya dengan nada panjang, namun suaranya pelan, serta memplototi Alisa.
"Iya iya, bawel banget sih" Alisa merampas ponselnya dari tangan Rere, dan mengangkat telepon dari suaminya.
📱 Alisa (Istriku)
"Halo, ada apa?" Alisa dengan nada ketusnya, serta wajahnya yang cemberut pada Rere, namun Rere hanya cengengesan menanggapinya.
📱Danu
"Tadi mamaku menelpon, kata mama, jam tujuh malam ini, kita disuruh ke rumah Mama, Mama mengundang kita untuk makan malam, katanya Mama juga kangen sama kamu"
📱Alisa (Istriku)
__ADS_1
"Iya" jawabnya singkat.
📱Danu
"Kamu masih dirumah Rere kan, biar aku langsung jemput disitu aja ya"
📱 Alisa
"Eh tapi ak....."
Tut tut tut
Belum sempat Alisa menyelesaikan ucapannya, Danu langsung mematikan sambungan ponselnya, lalu masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.
"Eh sialan, gua belum selesai ngomong, teleponnya uda dimatiin" Alisa menggerutu, pasalnya, bagaimana dia akan pergi, sementara harus mengganti pakaiannya, serta wajahnya yang masih berantakan, hitam.
"Eh kenapa Lo, ngoceh-ngoceh gak jelas"
"Gimana gak kesel Re, tadi dia bilang Mama mertua gue ngundang kita makan malam, gimana coba gue pergi kalo gue masih berantakan kayak gini, mana gak ada baju ganti lagi kalau dia langsung jemput gue disini, eh tunggu, kok dia tau gue disini" Alisa melirik Rere, "Lo yang kasi tau dia ya?"
"Upsss sorry, abis, daripada suami Lo kerepotan nyariin Lo lagi, sebagai teman yang baik, ya mending gue kasi tau suami Lo"
"Ya terus gimana dong dengan gue, gimana gue ganti bajunya"
"Ya ampun Sa, itu aja kok pusing sih, pake baju gue aja dulu, baju gue juga banyak kok yang bagus-bagus".
Tok tok tok....
"Eh bentar ya Sa, gue buka pintu dulu, ada tamu kayaknya".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Cover n judul baru nya masih di review
__ADS_1
...***LIKE KOMEN DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA TERIMAKASIH LOPYU OL***....