
Uhuk uhuk uhuk...
Danu berlari ke dapur mengambilkan air minum untuk Alisa.
"Alisa. Pelan-pelan dong makan nya" Danu memberikan segelas air putih pada Alisa yang diambilnya dari dapur lalu mengambil nasi goreng yang berada di pangkuan Alisa.
"Bagaimana? Kau sudah baik-baik saja kan" Tanya Danu, setelah Alisa menghabiskan air minumnya.
"Iya" Jawab Alisa singkat.
"Sini biar aku suapin, Aaaa"Danu menyodorkan sesendok nasi goreng kehadapan Alisa.
Alisa hanya menatap sesendok nasi goreng itu dan tidak membuka mulutnya.
"Ayo buka mulutnya" Perintah Danu. Tapi Alisa masih saja tidak membuka mulutnya.
"Ok baiklah. Anggap saja ini sebagai tanda pertemanan kita" Ucap Danu. Dan Alisa pun akhirnya membuka mulutnya.
"Lagi.." Danu ingin menyuapi Alisa lagi. Tapi Alisa menggeleng.
"Biar aku saja. Kamu sebaiknya pulang, ini sudah hampir magrib. Kasian juga Rere sama Dina kelamaan di luar, pasti mereka tidak akan masuk sebelum kamu pulang."
"baiklah. Tapi lain kali kalau aku mau main kesini boleh kan?"
"Yah tergantung. Tergantung pemilik kost-an nya, mengizinkan atau tidak"
"Dia pasti mengizinkan kalau aku menyogok nya dengan nasi goreng buatan ku ini" Ucap Danu yakin.
"Yakin sekali"
"Tentu, kan nasi goreng buatan ku ini enak. Siapa yang tidak menyukai nya. Kamu saja dulu yang tidak menyukaiku tapi selalu menghabiskan nasi goreng buatan ku, itu artinya kamu menyukainya kan"
"Sok tau. Sudah, sana cepetan pulang. Kasihan kedua temanku di luar"
"Aku kan juga temanmu sekarang" Danu mengedipkan sebelah matanya."
"Ya teman baru sehari. Eh tidak, baru beberapa jam"
"Oh ya. Bukankah kita dulu adalah teman hidup?"
"Mau pulang dengan cara baik-baik, atau pulang dengan cara aku usir!"
"Ya ampun. Kaktus nya kumat lagi. eh, ketus nya hehe"
"Pulang gak!!!" Alisa menaikkan nada suaranya.
"Iya. ok ok aku pulang. Dah" Danu pun keluar dengan senyuman yang terukir di kedua sudut bibirnya.
.
__ADS_1
.
.
"Cie... Yang lagi CLBK" Dina menyindir Danu yang sudah di ambang pintu senyum-senyum sendiri.
"Sok tau"
"Itu buktinya, mas senyum-senyum sendiri"
"Saya hanya senang, karena mendapat teman baru"
"Alisa maksudnya?" Tanya Rere.
"Hem" Danu mengangguk.
"Jadi Alisa mau jadi teman hidup mas lagi?" Tanya Rere lagi.
"Bukan teman hidup. Tapi teman seperti kalian berdua"
"Jadi Alisa nolak mas lagi?" Wajah Rere berubah sendu.
Danu mengangkat bahunya. "Tidak ada kata penolakan. Yang pasti aku dan Alisa, sekarang adalah teman. Yah mungkin untuk saat ini memang sebaiknya seperti itu dulu, nanti kalau sudah terbiasa dekat dengan ku lama-lama Alisa juga pasti mau menerima ku kan"
"Yang sabar ya mas"
Ya sudah, kalian masuk sana. Alisa menyuruh ku pulang karena kasihan dengan kalian berdua kelamaan di luar"
Danu pun pulang dengan perasaan yang senang. Yah walaupun yang dia dapatkan hari ini tidak seperti apa yang diinginkannya, tapi setidaknya sedikit ada perubahan. Wanita nya itu tidak akan menghindarinya lagi sekarang.
Wanita nya itu menawarkan pertemanan sebelum dia mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
Berteman dengan seseorang yang dulunya adalah teman hidup kita, mungkin tidak buruk juga.
Mungkin dengan berteman, lama kelamaan akan menjadi teman hidup lagi.
.
.
.
"Ya Allah. Damaikan lah hatiku" Alisa mengelus dadanya yang bergemuruh. "Ah ini hanya perasaanku karena merasa bersalah"
Setelah Danu keluar. Alisa kembali menyalakan televisi yang tadi dimatikan oleh mantan suaminya itu.
Saat televisi menyala, langsung tersetel acara kajian tentang cara mencari ketenangan dalam Islam:
Selalu mengingat Allah adalah adalah cara yang paling mendasar bagi umat Muslim agar hati kita merasa tenteram. Sebagimana Allah berfirman dalam QS Ar-Ra'd ayat 28, yang artinya:
__ADS_1
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Setelah mendengar itu. Alisa meraup wajahnya dan mengelus lagi dadanya yang semakin bergemuruh.
"Astaghfirullah. Ya Allah ampunilah aku, selama ini aku berperang melawan hati ku sendiri tanpa mengingat engkau yang maha memberi pertolongan kepada setiap umatnya."
Tak lama. Di televisi menampilkan kumandang adzan Maghrib. Alisa pun beranjak dari duduknya menuju kamar mandi.
Setelah selesai mengambil wudhu. Alisa kemudian mengambil mukenah dan sajadah nya, Melaksanakan shalat sebagaimana kewajiban setiap muslim. Setelah nya dia berdoa dengan khusyuk meminta kepada sang pencipta, memohon diberi kelapangan pada hatinya.
.
.
.
Ditempat lain. Dari suara radio mobil Danu.
Firman Allah pada surah Ali Imran ayat 126:
"Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagimu dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Danu pun menepikan mobilnya disebuah masjid karena sudah terdengar suara adzan.
Danu pun melakukan hal yang sama sebagai umat muslim. Bedanya, disini Danu melakukan shalat berjamaah dengan warga sekitar.
Setelah shalat berjamaah selesai. Satu persatu para jamaah pun meninggalkan masjid, terkecuali dengan Danu yang masih setia dengan duduknya merapalkan doa.
'Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu, berkah wibawa keagungan-Mu dan keluhuran-Mu, agar engkau jadikan kecintaan didalam hatinya. Dan resapkanlah kecintaan dan kasih sayang terhadapku di dalam hatinya. Dan cenderung kan dia padaku lewat anugerah-Mu. Wahai dzat yang maha mulia'
"Subhanallah. Saya kagum melihat anak muda yang seperti ini. Di luar sana, banyak anak muda yang menempuh jalan yang salah dan melakukan berbagai cara agar mencapai keinginannya. Tidak perduli caranya itu benar atau salah" Ucap pak ustadz yang sedari tadi memperhatikan Danu.
"Saya senang. Karena ente lebih memilih mencurahkan semua nya kepada Allah dan meminta kepadanya, ketimbang berbuat yang tidak-tidak diluar sana." Sambung nya.
"Justru selama ini saya seolah menutup mata ustadz. Jika ada Allah yang maha memberikan pertolongan kepada setiap umatnya, bahkan saya hampir putus asa ustadz."
"Tapi yang ente lakukan sekarang ini sudah benar. Teruslah memprioritaskan Allah dalam setiap masalah yang ente hadapi. Selalu ingat Allah jika ente berada dalam kesulitan. Mintalah kepada-Nya dan jangan pernah putus asa dalam setiap masalah yang kita hadapi, karena sesungguhnya Allah tidak akan menguji manusia diluar batas kemampuannya."
Danu tertunduk sebentar lalu mengangkat pandangannya kepada ustadz tersebut. "Terima kasih ustadz atas nasihatnya"
"Sama-sama" Ustadz itu tersenyum pada Danu dan Danu pun membalas dengan senyuman juga.
Sungguh, kini hatinya sudah terasa lebih lega.
.
.
.
__ADS_1
Rere dan Dina tertegun saat hendak masuk ke kamar dan melihat pemandangan yang menyejukkan hati itu.
Bulir bening itu menetes disudut mata keduanya tatkala melihat apa yang sedang dilakukan oleh temannya itu.