
Malam sudah tiba, kedua pria paruh baya itu sedikit lega karena persiapan nikah dadakan kedua anak-anak mereka telah selesai mereka kerjakan. Tinggal menunggu penghulu datang, baru lah akadnya akan dimulai.
Sementara Alisa dikamarnya, dia sudah selesai di rias. Tapi dirinya yang belum tau kenapa tiba-tiba dia harus dinikahkan malam ini terus mengintrogasi sang mama agar memberi tahu alasannya.
"Aduh Alisa, jangan tanya mama terus dong. Mama juga gak tau apa-apa, papa kamu juga gak ngasih tau apapun sama mama. Emang sih, waktu kalian pergi tadi pak Adi sempat mengusulkan kalau akan menikahkan kalian seminggu lagi dan resepsinya setelah tiga bulan nanti kalau kuliah kamu sudah selesai. Ya mana mama tau kenapa jadi tiba-tiba mendadak begini"
Ceklek...
Tiba-tiba pintu kamar Alisa dibuka dari luar, dan Alisa langsung memberondong orang yang baru masuk itu.
"Nah ini dia.."
Danu yang baru masuk tersenyum lebar saat calon istrinya itu langsung menghampirinya. dan...
Pletak...
"Au ... sakit, kenapa kamu menjitak kepala ku sih? bukannya senang calon suaminya datang, eh ini malah dijitak. Belum jadi istri saja udah mulai durhaka"
"Diam! bukan omong kosong kamu itu yang mau aku dengar, kamu harus menjelaskan ini semua! kamu kan yang sudah memaksa papa ku dan papa Adi untuk menikahkan kita malam ini?"
"Sembarang kalau ngomong, jangan fitnah ya. Fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan! lagian kamu itu aneh, bukannya senang kita akan menikah malam ini, eh ini malah marah-marah gak jelas."
"Jangan bohong ya, jujur gak!"
"Aku gak bohong, sumpah beneran aku juga gak tau apa-apa''
Sementara Alisa dan Danu yang terus memperdebatkan pernikahan dadakan mereka, mama Alisa keluar dari kamar itu untuk memanggil suaminya agar melerai perdebatan anak dan calon mantunya.
.
.
.
Tak lama kemudian, mama Alisa kembali ke kamar putrinya bersama suaminya dan juga calon besannya. Dan saat mereka datang, kedua calon pengantin itu masih saja terus berdebat.
"Kamu bohong kan, iya kan?"
"Alisa sumpah, aku beneran gak tau apa-apa"
"Eh eh sudah sudah! apa yang kalian perdebatan? kalau tidak mau nikah cepat-cepat kenapa berbuat yang belum seharusnya kalian lakukan. Sudah ayo cepetan keluar, penghulu sudah datang" ucap pak Herman melerai perdebatan kedua calon pengantin itu.
Alisa dan Danu pun langsung menghentikan perdebatannya.
"Tapi pa, papa harus menjelaskan dulu ini semua"
"Apa yang harus papa jelaskan, sementara kalian berdua yang lebih tau kenapa kalian harus menikah malam ini" pak Herman menatap kedua calon pengantin itu bergantian, dan yang ditatap terus memasang wajah kebingungan nya karena tidak mengerti apapun.
"Ayo keluar, penghulu juga sudah datang" Pak Herman pun menggiring putrinya keluar dari kamar menuju ruangan dimana akad nikahnya akan dilaksanakan, begitu juga dengan pak Adi membawa putranya keluar dari kamar.
Dan Danu, meski dia tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya membuat dia harus menikah malam ini bersikap santai saja seolah tak perduli.Yang terpenting dia menikah malam ini dan harus mendapatkan apa yang tidak pernah dia dapatkan dulu di pernikahan pertamanya. Itulah yang ada dipikiran Danu sekarang.
__ADS_1
Dan Alisa yang melihat calon suaminya itu tersenyum-senyum bertekad akan membalasnya nanti.
"Senang saja dulu sekarang, lihat saja nanti senyuman mu itu akan ku ganti dengan awan hitam!" Gerutunya dalam hati.
.
.
.
Setelah sampai di ruangan tempat akan dilaksanakannya akad nikah, dan benar saja di ruangan itu sudah ada penghulu dan dan juga saksi.
Alisa yang melihat kedua temannya juga berada di ruangan itu menatap tajam kedua teman seolah juga menyalahkan mereka atas pernikahan dadakannya ini.
"Awas saja kalau aku tau ada campur tangan kalian juga dengan ini semua" batin Alisa dengan menatap tajam kedua temannya itu.
Sementara Rere dan Dina yang juga tidak tau apa-apa merasa aneh melihat tatapan tajam teman nya itu.
"Lihat Re, kenapa Alisa menatap kita begitu?" tanya Dina berbisik di telinga Rere.
"Gak tau Din, lagi kesambet kali dia" jawab Rere yang juga berbisik.
.
.
.
"Bagaimana saksi? sah'' Ucap pak penghulu kepada dua orang saksi yakni adalah dua satpam yang bekerja di perusahaan Danu.
"Saahhh...." ucap pak Udin dan pak Ucup serentak.
ALHAMDULILLAH...
Semua yang ada diruangan itu pun melafazkan hamdalah, dan Alisa yang juga mengucapkannya meski dia sedang kesal.
.
.
.
Tak lama, penghulu pun pulang bersamaan dengan pak Ucup dan pak Udin satpam perusahaan Danu yang menjadi saksi di pernikahan bos nya itu.
"Cie.... yang lagi manten baru" Ledek Rere.
"Diam Lo, awas ya Lo nanti" ancam Alisa.
"Dih manten nya kok galak amat sih"
"Jangan galak-galak dong Sa, entar mas Danu nya takut lagi mau malam pertamaan kalau Lo nya galak begitu, kayak singa betina aja" Timpal Dina.
__ADS_1
Dan Dina langsung menciut karena lagi-lagi ditatap tajam oleh temannya yang baru saja berstatus sebagai istri.
"Sekarang sudah isya, ayo sekarang kita semua sholat berjamaah dulu" Ajak pak Adi kepada semua orang yang berada diruangan itu."
Semua pun bergegas kecuali Alisa yang masih duduk ditempat nya.
"Ayo Alisa kita sholat berjamaah, emang kamu tidak mau sholat bareng sama suami ini" ajak Danu pada wanita yang baru beberapa saat yang lalu menjadi istrinya.
"Enggak, aku gak sholat! aku lagi PMS"
Dan ucapan Alisa itu sontak membuat pak Herman dan pak Adi kaget, terutama Danu yang menggaruk kepalanya frustasi karena lagi-lagi gagal mendapatkan jatahnya.
"Hah, apa? PMS? sejak kapan?" Tanya pak Herman dengan wajah kagetnya.
"Sudah empat hari pa" Jawab Alisa dengan wajah keki nya.
"Apa? empat hari." pak Herman pun menatap sahabatnya yang sudah kembali menjadi besannya itu. "Di, sepertinya ada yang salah disini"
.
.
.
Ke esokan harinya...
Danu dan Alisa datang ke kantor bersama.
"Selamat pagi pak, selamat pagi Bu." Sapa pak Ucup dan pak Udin berbarengan.
"Selamat pagi juga pak" jawab Danu balik menyapa kedua satpam nya, sementara Alisa hanya diam saja karena masih menahan sakit di bokong nya.
"Sepertinya tadi malam pak Danu terlalu bersemangat, sehingga Bu Alisa sampai susah berjalan begitu" Ledek pak Udin.
Dan Alisa tercengang mendengar ucapan pak Udin itu, sementara Danu Kembali ke mode kalut nya mengingat kejadian tadi malam yang lagi-lagi gagal mendapatkan jatah malam pertamanya.
"Seandainya pak Udin dan pak Ucup tau kalau sampai sekarang aku masih perjaka, pasti mereka menertawakan aku sebagai sesama Lelaki" Batin Danu menatap nanar kedua satpam nya itu.
.
.
.
.
.
.
Mumpung ada waktu jadi up lagi...
__ADS_1
Yo like like like komen nya🙏😊🤗