
Dalam perjalanan hidup, selalu ada kisah yang mengiringi. Manis dan pahitnya pengalaman, akan memberikan banyak kenangan berharga. Meski semua tak berjalan mulus, namun setiap cerita yang hadir akan memberikan kesan yang membekas.
Istirahatlah ketika merasa lelah. Karena hidup tak hanya tentang hari kemarin, namun juga untuk hari ini dan esok.
Namun sesekali kita perlu menengok masa lalu untuk mempelajari kesalahan sebelumnya. Agar kedepannya menjadi bijak dalam mengambil sebuah keputusan.
(Jangan seperti Alisa ya gaessss...) 🤗🤗🤗🤗
Alisa sedikit melamun setelah menghabiskan makanannya, ketukan palu hakim itu seakan memekakkan telinga nya.
Yah waktu itu entah kenapa Alisa menutup matanya nya kala hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali.
Rere dan juga Dina yang baru selesai menghabiskan makanannya menatap nanar pada Alisa yang sedang melamun. Rere membuka mulutnya namun dengan cepat dia rapatkan kembali, ah rasanya percuma. Dia akan kalah debat dengan teman nya yang keras kepala itu.
Alisa meraup wajahnya kala ingatannya kembali pada tiga tahun lalu. Dia melenguh dan menghembuskan nafasnya, dan tanpa disadarinya kedua temannya sedang memperhatikannya.
Rere dan Dina menumpu dagu nya dan terus memperhatikan temannya yang sedang sibuk dengan pikirannya.
Alisa yang baru menyadari kedua temannya yang sedang memperhatikannya langsung salah tingkah dan bicaranya terbata-bata.
"Eh ka-kalian se-sedang apa?" Tanya nya terbata-bata.
"Udah selesai?" Tanya Rere balik dengan masih menumpu dagunya.
"Selesai apa?" Tanya Alisa bingung.
"Selesai berperang melawan hati mu sendiri" jawab Rere kini dia sudah menegakkan kepalanya.
"Apa sih gak jelas banget" Alisa jengah dengan ucapan temannya itu.
"Udah lah Sa, gak perlu Lo tutup-tutupin lagi. Dari awal sampai sekarang gue tau semua, semuanya!" ucap Rere menekankan.
"Tau apa sih Lo Re, gak usah ngada-ngada deh" Alisa tak terima karena merasa diinterogasi oleh teman nya itu.
"Ya udah lah Sa, gak usah di bahas lagi. Mending Lo pulang sana minta izin sama papa Lo buat ngekost bareng kita."
Tanpa aba-aba Alisa langsung berdiri dari tempat duduknya, dia menatap kedua temannya sebentar lalu melangkah keluar dari kafe meninggalkan kedua temannya yang menatap kepergiannya sambil menggelengkan kepalanya.
.............
"Gak ada sopan santun nya sama orang tua, main nyelonong aja" Sindir pak Herman kala Alisa melewati nya begitu saja yang sedang duduk di teras rumahnya sambil membaca koran.
Mendengar sindiran papa nya Alisa yang sudah di ambang pintu menoleh dan melangkah ke arah papa nya lalu menyium punggung tangan papa nya, kemudian melanjutkan kembali langkahnya hendak masuk.
"Alisa" Alisa yang kembali sudah di ambang pintu mendesah tatkala papa nya memanggil.
"Ada apa pa?" tanya nya menoleh pada papa nya.
"Sini duduk dulu dekat papa, papa mau bicara"
__ADS_1
Dengan enggan Alisa pun duduk disebelah papa nya.
"Gimana?" tanya pak Herman setelah putri nya itu duduk disebelah nya.
"Gimana apa nya pa."
"Loh katanya uda mulai magang."
"Besok" jawab Alisa singkat.
"Kenapa mesti diperusahan lain sih? kenapa gak di perusahaan papa aja."
"Kalo diperusahan papa nanti takutnya aku gak konsisten"
"Ya udah terserah kamu lah, toh nanti kan kamu juga yang akan menggantikan papa" ucap pak Herman.
"Oh ya pa, sekalian aku mau minta izin sama papa. Aku mau ikut ngekost bareng Rere sama Dina."
"Loh kenapa harus ngekost?"
"Ya biar gak telat pa, kita mau nyari kost-an nya deke??l
-deket perusahaan"
"Kapan?"
"Tadi sih Rere sama Dina yang nyari, kalo udah dapat ya sore ini pindah nya. Biar besok gak telat datang ke perusahaannya"
"Iya pa, oh ya pa mama kemana? Kok papa disini sendirian"
"Ada didalam, lagi masak mungkin"
"Ya udah aku masuk dulu ya pa"
"Iya" jawab pak Herman singkat lalu mengambil kembali koran nya.
...............
"Merisa, apa masih ada meeting hari ini?" tanya Danu pada sekertaris nya yang berjalan dibelakang nya setelah keluar dari ruangan meeting.
"Sepertinya sudah tidak ada pak" jawab Merisa.
"Oh baiklah, kalau begitu saya akan pulang"
"Iya pak"
Sebelum pulang Danu kembali keruangan nya untuk memeriksa sebentar data diri anak magang yang belum sempat dia periksa.
Dan lagi, saat hendak membuka map itu ponselnya nya berdering...
__ADS_1
📱"Iya halo pa, ada apa pa?"
📱"Maaf tuan ini saya bik Ijah, pak Adi pingsan tuan"
📱"Apa??? Saya segera pulang bik"
Yah semenjak tiga tahun terakhir kondisi kesehatan Pak Adi menurun, dia sering mengeluh sakit di bagian dadanya bahkan sering tiba-tiba saja tidak sadarkan diri.
Untung saja ada bik Ijah yang dipekerjakan Danu setelah perceraian nya dengan Alisa.
Tugas bik Ijah seperti asisten rumah tangga biasanya, dan yang paling utama adalah siap siaga melaporkan pada nya jika terjadi sesuatu pada papa nya seperti sekarang ini.
Danu melaju mobil nya dengan kecepatan tinggi, tak perduli dengan bunyi-bunyian klakson pengendara lain yang marah akan ulahnya. Bahkan dia tak perduli pada keselamatan nya sendiri, yang terpenting adalah cepat sampai rumah.
Cukup mama nya saja yang tidak sempat dia lihat untuk yang terkahir kali nya, jangan sampai itu terjadi lagi dengan papa nya.
Sementara dirumah, Bik Ijah berusaha memberi pertolongan pertama pada majikannya. Dia menggosokkan minyak angin di tangan dan telapak kaki majikannya.
Bik Ijah bernafas lega setelah beberapa saat usahanya, majikannya itu akhirnya sadar juga.
"Alhamdulillah akhirnya tuan sudah sadar"
"Danu dimana bik?" tanya pak Adi, dia mengelus kepala nya yang terasa pusing.
"Tuan Danu sudah diperjalanan pulang tuan"
.................
Danu bernafas lega setelah sampai rumah ternyata papa nya sudah sadar, dia sempat berpikir yang tidak-tidak saat bik Ijah menelponnya menggunakan ponselnya Papa nya dan mengatakan kalau papa nya itu pingsan.
Danu duduk disisi ranjang samping papa nya.
"Pa, gimana perasaan papa sekarang? Kita kerumah sakit ya pa" bujuk nya, barangkali kali ini papa nya mau diajak kerumah sakit.
"Tidak nak, papa gak apa-apa"
"Kenap sih papa selalu menolak kerumah sakit? Gimana kita bisa tau penyakit papa apa kalau papa saja tidak mau dibawa kerumah sakit" Danu sedikit Kesal karena papa nya itu selalu saja menolak untuk dibawa kerumah sakit.
"Papa gak perlu tau apa penyakit papa. Cepat atau lambat, papa juga pasti akan segera menyusul mama mu"
Danu menutup matanya sebentar. "Pa, tolong jangan bicara seperti itu. kalau papa gak ada, Danu gak punya siapa-siapa lagi pa"
"Yah makanya kamu cepetan nikah lagi, mumpung papa masih ada" pak Adi terkekeh melihat raut wajah putranya yang kusut karena ucapannya.
"Pa..."
"Ya papa tau, pasti kamu mau bilang kan kalau belum ketemu yang cocok. Hem, sampai kapan kamu mau seperti ini terus nak"
"Sekarang kamu bebas menentukan pilihan mu sendiri, maafkan papa dulu yang telah menjodohkan kamu dan pada akhirnya..."
__ADS_1
"Sudah lah pa gak usah bahas itu lagi, itu bukan salah siapa-siapa. Mungkin sudah takdir nya seperti itu, meskipun kami dijodohkan nyata nya aku dan dia tidak berjodoh."