Aku Ingin Kembali

Aku Ingin Kembali
BAB 41


__ADS_3

Setelah kepulangan Pak Adi dan Istrinya yang tak lama disusul oleh kepulangan Pak Herma dan Mama Alisa, kini tinggal Danu seorang diri yang menemani Alisa.


Danu duduk disamping Bed tempat Istrinya berbaring, belum juga ada tanda-tanda Istrinya itu akan sadarkan diri. Danu menggenggam erat tangan Alisa, menciumnya dengan penuh kasih sayang. Memohon agar Istrinya segera bangun.


Sedih, sudah pasti. saat kita melihat orang yang Kita kasihi terbaring tak berdaya, Danu tak bisa menahan air matanya, rasanya sangat sakit melihat kondisi Istrinya sekarang. Entah sejak kapan cinta untuk Istrinya hadir.


"Sa, kenapa kamu belum bangun juga, kamu marah ya sama Aku, bangun ya Sa, Aku janji Aku bakal turuti semua apa yang Kamu mau, Aku juga janji gak akan buat Kesal Kamu lagi. Aku mohon Sa, bangun, Aku gak kuat lihat Kamu seperti ini", Danu terisak, air matanya semakin deras membasahi pipinya, tangannya semakin erat menggenggam tangan Istrinya, entah sudah berapa banyak bibirnya mengecup tangan pucat itu.


Air mata Alisa menetes dengan mata masih terpejam, sebenarnya Alisa bisa mendengar, namun karena kondisinya yang cukup parah membuatnya sulit untuk menggerakkan tubuhnya. Dia bisa mendengar keluh kesah suaminya yang menyuruhnya bangun, ada kesan tak tega, seakan suaminya ikut merasakan kesakitan yang dirasakannya.


Danu yang melihat air mata Alisa menetes, segera melepas genggaman tangannya. Beralih menangkup wajah istrinya, mengusap air mata Istrinya dengan ibu jarinya.


"Sa, kamu sudah bangun". ucap Danu sekilas mengecup kening istrinya.


Perlahan Alisa membuka matanya, yang dilihatnya pertama kali saat membuka mata adalah wajah tampan suaminya, suami yang selalu memberi perhatian dan kasih sayang namun dibalasnya dengan luka.


"Kenapa Kamu selalu begini, kenapa kamu tidak pergi saja, Kamu orang baik, tidak pantas memperlakukan Aku seperti ini, Aku hanya orang jahat yang hanya selalu membalas kebaikanmu dengan luka" Alisa bermonolog dalam hati, saat membuka mata sayup-sayup tertuju pada wajah suaminya.


Danu segera menekan tombol intercom, saat mata Alisa benar-benar sudah terbuka.


"Terimakasih Sa, akhirnya kamu bangun juga, Aku sempat khawatir, kamu gak bangun-bangun".


Beberapa saat kemudian, Dokter datang bersama suster yang akan memeriksa kondisi Alisa.

__ADS_1


"Maaf pak biarkan kami memeriksa kondisi istri Anda", ucap Dokter, karena Danu seperti enggan bergeser.


"Oh iya Dok, silahkan" kemudian Danu melepas genggaman tangannya.


...


"Sus, tolong dicatat ya" ucap Dokter pada suster yang bertugas mencatat riwayat medis pasien.


"Bagaimana Dok dengan istri saya?" tanya Danu pada Dokter, setelah selesai mengecek kondisi Istrinya.


"Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik, syukur pasien bisa segera mendapatkan donor darah, tinggal pemulihan saja, minum obat teratur serta istirahat yang cukup"


"Pasti Dok, saya akan memastikan istri saya minum obat nya teratur serta banyak beristirahat".


"Baik Dok, Terima kasih banyak Dokter sudah merawat istri saya".


"Sama-sama Pak, itu sudah menjadi kewajiban saya, mari Pak".


"Silahkan Dok".


Danu mengantar Dokter sampai kedepan pintu, lalu dengan langkah cepat Danu kembali menghampiri Istrinya yang sedang menatap segelas air putih yang berada di atas meja samping bed nya.


"Kamu haus, mau minum?". tanya Danu pada Alisa yang terus saja menatap segelas air putih yang ada diatas meja.

__ADS_1


Alisa sedikit mengangguk, dengan cepat Danu membantu Istrinya untuk minum.


Sebenarnya Alisa enggan disentuh oleh suaminya, namun mau bagaimana lagi. kali ini dirinya pasrah, siapa lagi sekarang yang akan membantunya jika bukan suaminya..


.


.


.


.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


like komen n VOTE ya readers terimakasih.


__ADS_2