
Setelah beberapa saat berbincang-bincang. Pak Herman dan Istrinya berpamitan untuk pulang karena sudah larut, begitu juga dengan pak Adi yang diminta oleh putranya pulang terlebih dahulu karena angin malam tidak baik untuk kesehatannya.
Sementara Danu akan mengantar pulang ketiga wanita itu ke kost-an mereka.
"Kenapa harus pulang ke kost-an itu sih? Kenapa tidak pulang kerumah saja?" Protes Danu pada wanita yang duduk di kursi penumpang disampingnya.
"Ya karena kost-an itu lebih dekat ke kantor, kalau dari rumah akan memakan banyak waktu dijalan karena lumayan jauh belum lagi jalanan pagi macet, ya sudah pasti akan terlambat datang ke kantor"
"Kalau begitu tidak usah ke kantor lagi"
"Kenapa?" Tanya Alisa pada pria yang duduk di kursi pengemudi itu.
"Yah karena kamu adalah calon istriku"
"Kan baru calon istri, dan selagi belum menjadi istri mu aku akan tetap bekerja."
"Tapi kan sama saja kau itu sebentar lagi akan menjadi istriku, dan kau tidak perlu bekerja la...
"Stop! Jangan protes lagi, atau kalau tidak lamaran mu tidak jadi aku terima alias aku tolak!" Ancam Alisa.
"Ck. Kau itu bisa nya selalu mengancam" Danu berdecak kesal karena lagi-lagi wanita itu mengeluarkan jurus andalannya yaitu mengancamnya.
Kalau sudah begitu tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain mengalah pada wanitanya itu, dan jika tidak wanitanya itu akan lebih murka lagi seperti yang sudah-sudah.
Sementara Alisa tersenyum puas, karena masih saja sama seperti dulu selalu dia yang akan menang berdebat dengan lelakinya itu.
Danu pun mengakhiri perdebatan nya dan melajukan mobilnya ikut berbaur dengan pengendara lain dijalan.
Karena percuma saja mengajak wanitanya itu berdebat, sudah bisa di tebak pasti dirinyalah yang akan kalah berdebat dengan wanitanya itu, karena dari dulu selalu saja begitu.
Sementara kedua teman Alisa yang duduk di kursi penumpang di belakang, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perdebatan kedua anak manusia itu. Tidak berani ikut bicara karena mereka tau mereka berdua pun juga akan ikut terkena imbasnya.
Huh. Tapi itu sungguh luar biasa.
Meski demikian. Danu tetap merasa senang karena wanita yang sudah sejak tiga tahun itu menjadi mantan istrinya kini akan kembali padanya, kembali menjadi istrinya lagi dan tentunya dengan suasana yang berbeda dari tiga tahun lalu.
Pria itu akan memastikan tidak akan ada lagi penolakan terhadap dirinya dari wanitanya itu.
Dan tentu dia tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.
.
.
.
__ADS_1
Kurang dari satu jam, mereka sudah sampai di depan kost-kostan yang baru satu minggu ini ketiga wanita itu tempati.
Lagi-lagi Danu berdecak kesal karena wanita yang duduk disampingnya nya itu langsung keluar dari mobil tanpa pamit dan sebagainya, selayaknya sepasang kekasih.
Dan disusul dengan kedua temannya yang juga keluar dari mobil.
"Ck. Dasar wanita kaku, tidak ada romantis romantisnya sama sekali. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku, kalau perlu akan ku buat kau bucin akut dengan ku"
Danu berceloteh seiring dengan langkah wanita-wanita itu menjauhi mobilnya.
"Dasar wanita-wanita aneh, bahkan aku lebih buruk dari seorang supir taksi. Supir taksi saja selalu mendapat sapaan dari penumpangnya, sementara aku jangankan pamit, menoleh pada ku saja tidak. Ck dasar wanita aneh."
☘☘☘☘☘☘☘
Keesokkan harinya di kantor.
"Terus untuk apa aku datang kemari kalau hanya untuk menunggui mu disini, mendingan aku pulang saja tidak ada pekerjaan juga untukku. Dari tadi kau melarang ku keluar dari ruangan ini, ck membosankan sekali"
Alisa terus saja menggerutu karena sudah tiga jam dia berada di dalam ruangan calon suaminya itu menunggui pria yang sedang memeriksa satu persatu tumpukan dokumen yang berada di atas meja kerjanya. Dan pria itu melarangnya keluar dari ruangan itu, bahkan sekertaris nya sendiri dibuatnya keheranan karena dilarang memberikan pekerjaan pada Alisa.
"Kan tadi malam sudah aku katakan agar kau tidak usah datang ke kantor lagi" Ucap Danu tanpa melihat wajah wanita yang sedang kesal itu menatap tajam pada nya.
"Kan aku juga sudah katakan tadi malam kalau aku ingin bekerja sebelum menjadi istrimu" Jawab Alisa tak mau kalah.
Setelah duduk disamping wanitanya itu, Danu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana dan hendak menghubungi sekertaris nya.
"Merisa, tolong antarkan makan siang ku dan juga Alisa ke ruangan ku"
Danu langsung memutus sambungan telepon nya setelah memberi perintah pada sekertaris nya tanpa mau mendengar jawaban dari lawan bicara nya di ujung telepon sana.
Sementara Merisa merasa kesal karena tidak biasanya bos nya itu langsung memutus sambungan telepon setelah memberi perintah, setidaknya bos nya itu akan tetap mendengarkan apa yang akan di katakan nya.
.
.
.
"Re coba tebak? Sekarang Alisa sama mas Danu lagi ngapain di dalam ruangannya.''
"Ya mana aku tau Din"
"Em, pasti sekarang mereka lagi joinan"
"Apa tuh?"
__ADS_1
"Itu, bisnis buat pabrik" Dina menatap langit-langit dengan menumpu dagunya sambil senyum-senyum membayangkan Alisa dan Danu membuat pabrik.
"Sebenarnya Lo mau ngomong apa sih Din?"
"Is kau ini Re, itu aja gak ngerti"
"Ya gimana gue mau ngerti, kali Lo aja ngomongnya gak jelas begitu"
"Hem, maksud gue Alisa sama mas Danu sekarang lagi bisnis buat pabrik anak yang banyak"
Plak....
"Au sakit Re" Dina mengaduh sakit mengelus kepalanya yang dilempar spidol oleh Rere.
"Gak usah ikutan gila dan mikir yang aneh-aneh, doakan saja yang terbaik untuk mereka"
"Hei ada apa ini?" Tanya Angga yang melihat Dina meringis mengelus kepalanya.
"Ini nih si Rere, masa dia nimpuk kepala gue pake spidol"
"Emangnya kenapa Rere nimpuk kepala Lo?"
"Itu karena gue tadi ngomong...... Aaaaaaaaa..
Dan kali ini Dina berteriak karena kakinya di injak oleh Rere.
.
.
.
Tok tok tok.
"Masuk"
"Permisi pak, ini makan siang bapak dan juga... Alisa." Merisa menatap Alisa sebentar lalu dengan cepat m nienatap kembali bos nya.
"Oh ya letakkan saja disitu" Danu menunjuk meja yang sepasang dengan sofa yang di duduki nya.
Danu langsung menyendok makanan itu dan tanpa aba-aba langsung menyuapi Alisa tepat di hadapan sekertaris nya itu.
Dan Alisa yang seakan sudah terbiasa, menerima suapan itu tanpa ada drama lagi. Alisa juga terlihat sangat menikmati suapan itu.
Sementara Merisa, dia semakin kesal karena semenjak kedatangan anak-anak magang itu bos nya sudah tidak pernah perhatian lagi padanya. Bahkan bos nya itu sekarang menjadi irit bicara dengannya.
__ADS_1