
Alisa menatap nanar pada pintu yang baru saja dilewati oleh Andra, sebenarnya ada rasa tak tega saat mengusir pria yang pernah mengisi hatinya. Namun mau bagaimana lagi, Dia benar-benar sudah merasa sangat kecewa dibuatnya. hatinya sudah terlanjur sakit, biarlah ini terjadi. mungkin itu sudah menjadi jalan takdirnya, toh, sebentar lagi Andra juga akan bertunangan. dan sudah pasti mereka tidak akan bisa untuk bersama lagi. 3 tahun berpacaran, mungkin hanya untuk jadi sepenggal kisah cinta Andra dan Alisa. Biarlah kisah mereka tersimpan rapi didalam memorinya. logikanya, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Danu tidak tau harus bagaimana sekarang, sangat nyata yang disaksikannya. Alisa, Istrinya. didepan matanya, Dia memutuskan hubungannya dengan kekasihnya. kekasih yang sangat dipuja-puja nya hingga mengabaikan dirinya yang jelas-jelas sudah menjadi Suaminya. Apakah Danu harus senang sekarang, apakah setelah ini Alisa akan menerima dirinya. entahlah, jangan terlalu berharap jika tak ingin jatuh lebih dalam lagi.
"Sa, Kau baik-baik saja kan?", tanya Danu pada Alisa, yang sedari tadi hanya diam menatap pintu.
"Hem, iya" jawabnya, mengalihkan pandangannya menatap Danu sekilas lalu tertunduk dalam.
Masih tidak menyangka, bahwa Dia benar-benar sudah memutuskan hubungannya dengan Andra, mengingat dulu dirinya lah yang selalu ingin bersama Andra. bahkan Dia pernah menentang papanya hanya karena Andra.
"Oh ya, bukannya tadi Kau ingin minum kan? biar Aku bantu ya". ucap Danu memecah keheningan.
"Aku bisa minum sendiri, Kau tolong ambilkan saja".
"Iya baiklah", Danu mengambil segelas air putih yang berada diatas meja lalu memberikannya kepada Alisa.
Setelah selesai minum, Alisa mengembalikan gelas yang sudah kosong kepada Danu. Setelahnya, Dia kembali membaringkan tubuhnya untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah itu. dan tentunya dengan bantuan suaminya, bukan hanya tubuhnya. tapi hatinya juga lelah, lelah dengan keadaannya. lelah dengan nasib percintaannya yang benar-benar sudah berakhir, dan dirinya sendirilah yang mengakhirinya.
"Sa, kalau Kamu butuh sesuatu tolong beri tau Aku ya? atau kau ingin sedang makan apa, biar Aku belikan".
"Gak ada, Aku cuma mau istirahat aja".
Baru saja Alisa memejamkan matanya, kini matanya terbuka lagi karena mendengar suara pintu terbuka.
"Alisa, sayang". ucap Mama Alisa yang baru saja masuk sambil terus melangkah.
"Mama...."Mata Alisa mulai berembun, melihat Mamanya yang datang, kesedihannya tidak bisa disembunyikan lagi.
"Bagaimana keadaan Kamu Nak?, maaf ya Mama sama Papa baru bisa datang sekarang. karena tadi lagi menunggu Papa yang sedang ada rapat penting di kantor". ucap Mama Alisa membelai rambut putrinya, sedih melihat putri satu-satunya yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Aku udah baikan kok Ma, tapi hanya saja.....".
Mama Alisa mengerti apa yang akan dikatakan putrinya, " sudah gak apa-apa Nak, Kamu pasti akan baik-baik saja. ada Papa, Mama, dan suami kamu juga yang akan selalu mensupport Kamu ya Nak, kamu harus yakin pasti bisa segera sembuh, Alisa kuat kan ya Nak".
"Ma, kata dokter. kalau Alisa menjalani pengobatan yang rutin, insyaallah Alisa akan bisa segera sembuh Ma". ucap Danu.
"Tuh, kamu dengar kan apa kata suamimu. kamu harus semangat ya Nak!".
"Iya Alisa, anak Papa pasti kuat". ucap Pak Herman tersenyum manis menutupi kesedihannya, sedih, pasti sedih. orang tua mana yang tidak sedih melihat putrinya sedang sakit.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
"Pa, kasihan Danu ya Pa, baru beberapa hari yang lalu Dia bilang ingin berangkat keluar negeri untuk berobat. tapi sekarang malah Istrinya yang sedang kena musibah".
"Itulah Ma, kita gak pernah tau. apa yang akan terjadi hari ini, besok ataupun lusa. tapi semoga semuanya akan baik-baik saja ya Ma".
Pak Adi dan Istrinya turut merasakan kesedihan anak dan menantunya, Danu yang divonis sulit memiliki keturunan. dan sekarang Alisa yang sedang tertimpa musibah, kecelakaan. dan untuk sementara sudah dipastikan untuk kedepannya akan mengalami kelumpuhan pada kakinya. Sungguh malang nasibnya, baru beberapa bulan menikah. sudah disuguhi berbagai cobaan, sepasang suami istri paruh baya itu menghela nafasnya berat memikirkan nasib anak dan menantunya.
"Terus Pa, setelah ini bagaimana dengan Danu dan Alisa?".
"Maksud Mama?".
"Kalau itu Mama gak usah khawatir, Papa sudah memikirkan itu semua. biar Papa yang menghandle semua pekerjaan Danu dikantor, kan ada sekertaris Danu juga nanti yang bisa membantu Papa, jadi biar Danu fokus dengan kesembuhan Istrinya".
"Kalau begitu Mama lega mendengarnya Pa".
"Mama juga jangan terlalu banyak berpikir, Mama juga harus ingat dengan kesehatan Mama. Mama tentang saja, semuanya pasti akan baik-baik saja".
"Terimakasih Pa"
Pak Adi tersenyum, lalu membawa istrinya kedalam pelukannya.
..........
"Ma, Aku mau pulang Ma".
"Iya, tapi tunggu dokter yang memutuskan ya Nak, kapan kamu bisa pulang".
"Tapi Aku mau pulang hari juga Ma".
__ADS_1
"Ma, tunggu sebentar. Biar Danu tanya Dokter dulu" ucap Danu lalu segera pergi keruang Dokter.
"Alisa, Kamu beruntung sekali Nak, memiliki suami seperti Danu. Dia sangat perhatian dan juga sangat menyayangi kamu".
"Tapi Dia yang tidak beruntung memiliki istri seperti Aku" Batin Alisa.
"Dok, istri saya meminta untuk pulang, apa kondisinya sudah memungkinkan untuk bisa pulang?" tanya Danu saat sudah berada diruangan Dokter.
"Baik, tapi saya harus memeriksa kondisinya dulu sekarang. kalau begitu mari kita ruangan istri Anda". ajak Dokter pada Danu.
Setelah Danu dan dokter tiba diruang perawatan Alisa, dokter langsung memeriksa kondisi Alisa. apakah sudah bisa pulang, atau harus tetap berada dirumah sakit menjalani perawatan sampai benar-benar pulih.
"Gimana Dok, apa anak saya sudah boleh pulang?" tanya Mama Alisa pada Dokter yang baru saja selesai memeriksa kondisi Alisa.
"Setelah Saya periksa tadi, kondisi Alisa sudah jauh lebih baik. yah jadi kalau memang mau pulang tidak apa-apa, kalau untuk masalah kakinya nanti akan Saya buatkan jadwal pengobatannya. dan ini resep obat yang harus ditebus sebelum pulang". Dokter memberikan resep obatnya pada Danu".
"Oh iya, terima kasih Dokter".
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu".
"Iya, silahkan Dokter, mari dok", ucap Danu mengantar Dokter sampai kedepan pintu.
"Ma, Aku pulang kerumah Mama aja ya Ma" pinta Alisa pada Mamanya.
"Ya tapi kamu harus minta izin dulu sama suamimu".
"Gak apa-apa kok Ma, kalau Alisa mau pulang kerumah Mama" ucap Danu yang baru tiba sehabis mengantar Dokter.
"Nanti Alisa pulang bareng sama Mama dan Papa ya", nanti Aku akan menyusul setelah mengambil baju-baju Alisa" sambungnya.
"Gak usah, dirumah Mama masih ada baju-baju Aku kok. kamu ambil baju kamu saja"
"Alisa..., kenapa ngomongnya gitu sama suamimu Nak, gak sopan ah".
"Maaf Ma, Aku belum terbiasa aja".
"Ya makanya harus dibiasakan dong, lain kali Mama gak mau ya denger lagi kamu ngomong gitu sama suamimu. Aku, kamu. itu gak sopan Nak, menyebut suami seperti itu".
Alisa hanya diam menerima teguran dari Mamanya, setelah ini apa lagi?. sementara Danu hanya tersenyum kecil menanggapinya.
__ADS_1