
Semenjak menikahnya Alisa dan Danu, ada hati yang terpuruk karena sudah memendam perasaannya selama bertahun-tahun. Semenjak kabar pernikahan bos nya dengan wanita yang dia tau hanyalah anak magang itu yang juga baru dia tau ternyata adalah mantan istri dari bosnya sendiri, Merisa mencoba mengubur rasanya dalam-dalam terhadap bos nya itu. Dia sadar selama ini sudah menyimpan rasa pada pria yang tidak seharusnya, pria yang tetap mencintainya mantan istrinya meski sudah bercerai.
Dibalkon kamarnya, Merisa menatap bintang-bintang yang berkerlipan menghiasi langit malam. Berusaha mengikhlaskan pria yang sudah bertahun-tahun dia sukai meskipun tidak pernah dia ungkapkan ternyata sedikit menoreh hatinya, mungkin benar kata orang-orang cinta tak harus memiliki.
▪
▪
Di lain tempat. Dimas dan Angga kini sudah berada dalam mobilnya Dimas, sebentar lagi mereka akan menjemput dua wanita yang mungkin kedepannya akan menjadi dekat dengan mereka berdua.
"Udah sih Bro jangan dipikirin terus, mau diapain juga dia udah jadi istri bos." Angga menepuk bahu temannya itu.
"Ck. Ternyata gini banget rasanya ditinggal pas lagi sayang sayangnya." Dimas tersenyum kecut. Baru saja dia memulai membuka hati untuk wanita, dan wanita itu kini sudah menjadi milik orang lain yang tak lain adalah bos nya sendiri.
"Ya elah omongan Lo, kayak udah pernah nyantain perasaan Lo aja." Angga menggeleng-gelengkan kepalanya. "Udah ayo jalan ah Rere sama Dina pasti udah nungguin kita, gak dapet Alisa nya temannya pun jadilah" Angga tersenyum lebar membayangkan salah satu teman dari istri bos nya itu.
Saat Dimas sudah melajukan mobilnya menuju tempat dimana dua wanita anak magang di perusahaan tempatnya bekerja, Angga mengirimkan pesan pada Dina bahwa mereka sedang dalam perjalanan.
▪
▪
Di kost-an nya. Dina berdebat dan berusaha membujuk temannya itu agar mau ikut pergi malam ini dengan dua karyawan pria di perusahaan tempatnya magang, yang tak lain adalah Dimas dan Angga.
"Belum tentu mereka itu orang baik. Ingat aja Lo waktu baru pertama kali bertemu mereka, mereka itu selalu gangguin kita. Kalo bukan karena mas Danu, mungkin sampai sekarang pun mereka pasti masih gangguin kita." Rere terus saja menolak untuk pergi dengan dua pria karyawan dari suami temannya.
"Mereka kan udah minta maaf sama kita, mereka udah janji gak bakalan gangguin kita lagi dan sekarang mereka mau berteman dengan kita" Dina terus berusaha meyakinkan temannya itu.
"Terserah lah Din, pokoknya gue gak mau pergi. Titik!"
"Re, setidaknya Lo juga harus belajar buka hati untuk lawan jenis" Ucapan Dina akhirnya melembut setelah beberapa saat terus berdebat dengan temannya itu.
"Apa maksud Lo?"
"Lihat Alisa sekeras-keras kepalanya dia, dan sekarang akhirnya dia luluh juga. Dia mau buka hatinya untuk mas Danu."
"Gue gak ngerti maksud Lo Din?"
"Ya ampun Re, Lo pura-pura gak ngerti apa emang Lo gak mau ngerti sih? Alisa aja yang dulu selalu menolak mas Danu dan lihat sekarang, Alisa mau membuka hatinya. Dan kita, masa kita gini-gini aja"
Tling... Satu pesan chat masuk di ponsel Dina.
__ADS_1
"Tuh kan mereka udah otw kesini" Dina menatap temannya dengan penuh permohonan.
"Enggak! Lo aja yang pergi, kan Lo sendiri yang terima ajakan mereka"
Bukan maksud Rere untuk mematahkan semangat temannya yang katanya ingin pergi kencan, tapi dia hanya ingin melindungi temannya yang polos itu. Dia takut kepolosan Dina akan dimanfaatkan oleh pria-pria yang tidak bertanggung jawab.
"Kali ini aja Re, please!!!!" Dina terus memohon pada temannya itu, matanya berkaca-kaca seperti akan menangis.
"Jangan gitu ah Din" Rere tidak tega melihat temannya yang memohon seperti itu. "Ck. Ya udah iya gue ikut, puas!!!"
"Yeay makasih Re, Lo emang temen gue yang paling ngertiin gue." Dina melompat-lompat kegirangan.
Tak lama, akhirnya mobil yang dikendarai Dimas dan Angga sudah sampai di area kost-kostan.
Angga pun turun dari mobil untuk menghampiri kedua wanita itu yang masih berdiri di teras kostnya.
"Nah Re itu mereka sudah datang, ingat Lo kata-kata gue tadi" Entah ancaman apa yang dibuat Dina sampai-sampai Rere yang tidak kalah keras kepalanya dengan Alisa akhirnya menurut juga.
"Hai selamat malam, maaf kalau membuat kalian lama menunggu" Angga menyapa dua wanita itu.
"Enggak kok, santai aja" Dina tersenyum pada Angga.
"Udah siap kan? Bisa kita pergi sekarang?"
Dan mobil Dimas itu pun melaju ke sebuah tempat yang sudah ditentukan oleh Angga.
▪
▪
▪
Lain lagi dengan Alisa dan Danu.
Alisa terus saja mengomel karena tidak menyukai makanan yang dipesan suaminya dari luar, namun tetap dia makan karena memang sudah lapar.
"Ya udah kalau gak suka gak usah dimakan, biar aku buatkan nasi goreng dulu." Danu beranjak hendak ke dapur namun Alisa mencegahnya.
"Gak usah! yang ini aja"
"Loh katanya gak suka"
__ADS_1
"Udah gak apa-apa, kali ini aku makan. Tapi besok-besok jangan pesan makanan dari luar lagi" Alisa terus mengomel sambil menyuapi mulutnya dengan makanan yang katanya dia tidak suka.
"Iya maaf deh" Danu tersenyum. Dia senang dengan respon Istrinya yang tidak suka dia memesan makanan dari luar.
Sebagian istri akan senang jika suaminya memesan makanan dari luar, karena istri tidak akan kerepotan lagi didapur untuk menyiapkan makanan untuk suaminya.
Namun lain dengan Alisa yang tidak suka suaminya memesan makanan dari luar, dan Danu senang karena menurutnya Alisa bukanlah tipe wanita yang mudah berpangku tangan.
Yang katanya tidak suka, namun Alisa tetap menghabiskan makanannya. Mubazir katanya kalau tidak dimakan dan pemborosan, dan lagi-lagi Danu terpanah dengan ucapan Istrinya itu. Ternyata di balik keras kepalanya, ada hati yang lembut.
Alisa beranjak dari duduknya hendak membawa piring bekasnya dan suaminya ke dapur.
Danu tau kalau Istrinya itu akan mencuci piring, dan dia berinisiatif untuk membantunya.
"Aku bantu ya"
"Gak usah, kamu duduk aja disitu" Alias menuju kursi yang berada di dekat wastafel dan menyuruh suaminya untuk duduk disitu.
"Aku bantu ya biar cepat selesai" ucap Danu lagi.
"Aku bilang gak usah biar aku aja, kamu itu kenapa sih? "Alisa berkacak pinggang dan menatap tajam Suaminya.
Danu menciut mendapat tatapan tajam dari Istrinya lalu duduk di kursi yang ditunjuk Istrinya.
Setelah selesai mencuci piring, Danu segera langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Udah selesai kan cuci piring nya? Sekarang kita kemar yuk, kita harus menyelesaikan tugas penting" Ajaknya pada Istrinya.
"Iya tapi ingat loh, pelan-pelan" Bisik Alisa ditelinga suaminya.
Danu terkekeh dan segera menuntun Istrinya menuju kamarnya.
"Auwwww" Alisa memekik saat tiba-tiba suaminya mengangkat tubuhnya menggendongnya menuju kamarnya..
.
.
.
.
__ADS_1
.
Beberapa bab lagi bakal end. kasih like nya yah makasih 🙏🙏🙏