
Alisa mulai gerah dengan pemandangan yang di lihat nya sekarang, dia meminta suaminya agar cepat menghabiskan makanan nya dan segera pulang. dia tidak ingin berlama-lama lagi melihat pria yang pernah mengisi hati nya sekaligus membuat nya kecewa.
Dinda yang melihat Alisa berdiri dari duduk nya ingin menghampiri dan menyapa nya, Dinda sama sekali tidak merasa canggung pada wanita yang menjadi mantan kekasih dari tunangan nya.
Alisa mulai tidak nyaman dari duduk nya saat melihat Dinda berjalan ke arahnya dan Andra juga yang terus saja menatap nya entah dengan tatapan apa sekarang, seandainya dia bisa berdiri mungkin dia sudah lari sekencang mungkin dari tempat itu. ahhh, Alisa benar-benar kesal dengan keadaan nya sekarang.
"Hai Alisa, senang bertemu dengan mu lagi di sini" ucap Dinda dengan senyum terbaik nya.
Alisa bingung harus bagaimana menanggapi sapaan dari wanita yang sekarang sudah menjadi tunangan dari pria yang dulu di cintai nya, sementara pria itu juga sedang menatap nya dan sekarang.
Saat Dinda datang menyapa, ponsel Danu berdering. dia menjauh untuk menerima panggilan di ponselnya.
Hal tersebut membuat Alisa merutuki dirinya dalam hati karena sudah meninggalkan nya dengan orang-orang yang tidak ingin dilihatnya, apalagi pria tunangan dari wanita yang menyapa nya sudah berdiri di sampingnya.
"Oh ya Alisa, kenapa tidak datang di acara pertunangan kami? padahal aku menunggu mu loh" tanya Dinda bersikap biasa-biasa saja seakan dia tidak tau kalau wanita itu adalah mantan kekasih tunangan nya.
"Maaf, aku mengalami kecelakaan sebulan yang lalu" jawab Alisa datar, dia tidak ingin berbasa-basi.
"Oh maaf Alisa, aku benar-benar tidak tau!" Dinda beralih menatap Andra yang berdiri di samping nya seolah bertanya apa pria di samping nya itu tau atau tidak, dan Andra menggangguk.
"Sorry Din, aku lupa memberitahu mu" ucap Andra.
Setelah sambungan ponselnya terputus, Danu kembali melangkah menuju dimana Istrinya berada. melangkah sambil memeriksa sesuatu didalam ponsel nya tanpa menyadari ada sepasang wanita dan pria yang tengah berbicara dengan Istrinya, dan baru menyadari itu saat sudah berdiri disamping Istrinya.
__ADS_1
Danu mengerutkan keningnya menaruh ponsel didalam saku celananya, menatap lekat pada pria yang sebulan lalu datang kerumah sakit dan memaksa bertemu dengan Istrinya. lalu beralih menatap istrinya yang terlihat dengan jelas di wajah nya merasa tidak nyaman dengan kehadiran pria yang sebulan lalu dia putuskan secara langsung tepat didepan mata kepala nya sendiri.
"Sa, sepertinya kita harus pulang sekarang! tadi papa ku yang menelpon, papa dan mama mau berangkat ke Malaysia 1 jam lagi. sekarang mereka sudah di bandara, papa dan mama meminta kita menemui nya sebelum mereka berangkat." ucap Danu memecah kecanggungan Istrinya.
Alisa merasa terselamatkan dari situasi yang membuat nya gerah, Danu melihat kelegaan di wajah istrinya saat dia mengajak nya untuk pulang. lalu mengangkat tubuh istrinya kembali duduk di kursi rodanya.
Sebelum pergi, Alisa menyempatkan berpamitan pada Dinda tapi tidak dengan Andra. Alisa merasa Dinda tidak tau apa-apa antara dirinya dengan Andra, jadi tidak perlu menghindari nya. so, sudah 2 kali bertemu wanita itu sangat ramah pada nya. apa yang terjadi di antara dirinya dengan Andra bukanlah alasan untuk mengacuhkan Dinda juga, dia tidak tau apa-apa tentang itu. itulah yang ada dipikiran Alisa sekarang.
"Alisa, kapan-kapan kita bisa bertemu lagi kan" ucap Dinda saat Danu mulai melangkah sambil mendorong kursi roda yang di duduki Alisa.
Alisa tersenyum lalu mengangguk, sepertinya. berteman dengan nya tidak buruk juga.
*******
Danu tau, apa alasan kepergian orang tua nya meski papa nya sudah mengatakan saat ditelepon tadi hanya sekedar untuk pergi berlibur saja.
"Mana pernah aku mengecewakan papa" ucap Danu terlihat begitu percaya diri.
"Yah papa tau itu, maka dari itu papa selalu bangga pada mu. papa bangga memiliki putra seperti mu, selalu bisa memenuhi keinginan papa dan mama" ucap pak Adi terkekeh melihat tingkah putranya yang begitu percaya diri dengan ucapan nya sendiri.
Danu maju beberapa langkah ke depan papa nya, menatap dalam manik mata papa nya lalu mengangkat kedua tangannya memeluk erat tubuh papa nya seraya berkata sesuatu yang membuat papa sedikit terkejut mendengarnya.
Pak Adi mengurai dekapan putranya di tubuhnya, memegang kedua sisi bahu putranya.
__ADS_1
"Sejak kapan kau tau nak?" tanya pak Adi, ada rasa bersalah telah membohongi putranya.
"Waktu itu aku ingin menemui papa dan mama, dan dibalik pintu kamar papa dan mama aku mendengar semuanya!"
"Pa..." mama Danu memanggil suaminya dengan suara lirih, namun pak Adi hanya mengusap pundak Istrinya mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Maafkan papa, seharusnya papa memberitahu mu tentang kondisi mama mu. tapi percaya lah papa tidak bermaksud begitu, hanya saja waktu nya yang belum tepat untuk papa memberitahu mu. dan juga papa tidak ingin kau malah tidak fokus menjelang pernikahan mu kalau kau tau tentang kondisi mama mu saat itu.
"Pa, sebenarnya mama sakit apa?" tanya Danu, kali ini mata nya sudah berembun.
"Mama mu terkena kanker hati sudah stadium 4" jawab pak Adi sedikit terbata-bata.
Danu mengalihkan pandangannya pada mama nya yang sedari tadi hanya diam menyimak percakapan 2 lelaki terhebat sepanjang hidupnya, wajahnya terlihat pucat namun tidak menghilangkan aura cantiknya walau diusia yang sudah tak lagi muda. tubuhnya nya terlihat kurus.
Mata yang tadi nya hanya berembun kini sudah meneteskan cairan nya, mungkin Lelaki itu terlalu sibuk memikirkan semua hal yang didalam nya hanya ada tentang Istrinya saja. sampai-sampai tidak memperhatikan perubahan fisik pada wanita yang sudah melahirkan nya.
Mata Alisa berkaca-kaca menyaksikan drama keluarga yang begitu memilukan hati, ternyata pria itu bisa juga menangis. pria yang begitu tegar nya dalam menghadapi sikap nya yang dingin, sikap nya yang selalu acuh, penolakan yang selalu dia berikan. namun pria itu tidak pernah sekalipun mengeluhkan tentang itu, melihat pria itu menangis ada rasa bersalah yang begitu menggebu didalam hati nya karena berkali-kali menyakiti nya.
"Ma, maafkan Danu tidak bisa menemani mama di masa-masa sulit mama sekarang" Danu mendekap tubuh mama nya begitu erat seakan tak ingin melepaskan nya.
"Tidak apa-apa nak, jangan terlalu memikirkan hal itu. mama akan baik-baik saja, melihat mu bahagia dengan istrimu saja mama sudah merasa sangat senang. jaga lah istrimu baik-baik, jangan pernah tinggalkan kan dia apapun keadaannya, berjanji lah pada mama" ucap mama Danu mengusap air mata putranya.
Mama Danu meraih tangan menantunya menyatukan diatas tangan putranya, "Berjanji lah kalian berdua tidak akan pernah saling meninggalkan dalam keadaan apapun, apapun masalah yang akan kalian hadapi selesaikan lah dengan cara baik-baik. meninggalkan bukan lah yang benar. berjanji lah kalian berdua pada mama!" ucap mama Danu dengan sedikit bergetar, seolah ini adalah permintaan terakhirnya.
__ADS_1
"Ma, Danu berjanji ma. tapi mama juga janji harus pulang dengan keadaan baik-baik saja"
Mama Danu tersenyum, lalu memeluk tubuh putra dan juga menantu nya dengan penuh kasih sayang. hingga terdengar suara pengumuman untuk para penumpang agar segera menaiki pesawat, baru lah drama keluarga itu berakhir.