Aku Ingin Kembali

Aku Ingin Kembali
BAB 33


__ADS_3

Pak Adi yang mendengar suara bel berbunyi, segera menyuruh istrinya untuk membukakan pintu, dan istri Pak Adi itu sangat antusias bergegas, barangkali yang datang adalah anak dan menantunya.


Setelah membuka pintu, senyum lebar terpancar dari wajah Mama Danu, melihat sepasang suami istri yang berdiri diluar pintu., yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya.


"Eh kalian sudah sampai, ayo masuk, papa sudah menunggu dimeja makan" Mama Danu menggiring anak dan menantunya masuk, dan terlebih dahulu Alisa dan Danu mencium punggung tangan paruh baya yang menyambut mereka dengan hangat.


"Ma, sebenarnya ada apa Mama memanggil kami kesini, hanya untuk makan malam, atau ada hal lain?" tanya Danu disela-sela langkahnya.


"Oh itu, ya sebenarnya Mama juga kangen sama kalian, terutama sama menantu Mama yang cantik ini" Mama Danu mengusap pucuk kepala menantunya dengan lembut.


Begitu juga dengan pak Adi, tak henti-hentinya memuji menantunya itu, "Ma, kalau liat Alisa sekarang, Papa jadi ingat waktu kita masih muda dulu Ma, Mama sama cantiknya dengan menantu kita ini.


"Dan Papa, sama tampannya dengan anak kita Danu"


"Ah Mama bisa aja, tapi iya juga sih Ma, Alisa dan Danu seperti reinkarnasi kita waktu masih muda saja ya Ma" Pak Adi terkekeh mengatakannya.


Sementara Alisa sesekali tersenyum menyimak percakapan lawas kedua mertuanya itu, Dia merasa canggung diterima dan diperlakukan dengan sangat baik, tak sebanding atas perlakuannya terhadap suaminya, sangat berbanding terbalik.


Alisa menghela nafasnya sangat dalam, seketika merasa khawatir, bagaimana jika mertuanya itu mengetahui perlakuannya terhadap anak mereka, apa yang akan dikatakan mertuanya itu tentangnya.


"Ya sudah mari kita mulai makan" ucap Pak Adi.


Danu dengan sigap menyendok nasi kepiring istrinya, serta lauk pauk nya, Mama Danu tersenyum melihat putra semata wayangnya itu sangat perhatian terhadap istrinya, sesekali berbisik dengan suaminya".


Sunyi, hanya dentingan sendok dan piring, mereka makan dengan hikmatnya.


"Sa, Kamu sudah kontrol ke dokter belum?" Tanya Mama Danu memecahkan keheningan.


"Kontrol?, maksudnya Ma?" Alisa keheranan balik bertanya.


"Iya kontrol, ke dokter kandungan, Mama khawatir tau, sudah 7 bulan loh ini"


Danu yang melihat istrinya kebingungan langsung menjawab pertanyaan Mama nya, "Oh itu Ma, kami menunda dulu Ma untuk punya anak" seketika Alisa menoleh mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


"Loh kenapa?, jangan begitu lah, gak kasihan apa sama kami yang sudah tua ini, diusia kami yang sekarang ini, sudah seharusnya menimang cucu" Mama Danu menurunkan pandangannya, sedikit kecewa, mendengar ucapan putra semata wayangnya itu.


"Bukan seperti itu Ma, Danu takut saja belum siap Ma, Danu takut tidak bisa menjadi Ayah yang baik nantinya, lagipula Alisa kan masih sangat muda Ma"


Lagi-lagi ucapan Danu membuat Alisa tak henti memandangnya, kenapa suaminya itu tidak mengatakan saja yang sebenarnya, kenapa malah mempersalahkan dirinya sendiri.


"Itu gak bisa dijadikan alasan Danu, gak siap yang bagaimana maksudmu?, dan tidak bisa menjadi Ayah yang baik bagaimana maksudmu?, kalau dari segi materi, itu sudah sangat cukup Nak, apa kau lupa? masih ada Kami orang tuamu yang selalu siap membantumu, dalam hal apapun, jadi tidak ada alasan lagi, tidak baik menunda-nundanya Nak, lagian kan itu untuk masa depan kalian juga, benarkan Alisa kata Papa?" kali ini Pak Adi yang angkat bicara membuat semuanya termangu.


Alisa mengangguk pelan, "Maafkan Aku Pa, ini juga karena salahku"


Danu menggeleng kepada istrinya, mengisyaratkan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya, namun Alisa mengalihkan pandangannya, menatap serius pada kedua paruh baya yang telah melahirkan lelaki baik itu.


"Maksudnya apa Sa?" tanya Mama Danu, heran.


"Sebenarnya..." belum sempat menyelesaikan ucapannya, Danu menarik pergelangan tangannya.


"Maaf Pa, Ma, Danu permisi sebentar"


Pak Adi dan istrinya menatap heran kepada kedua pasangan itu.


"Tidak Sa, Aku mohon jangan lakukan itu"


"Wah ternyata Kau itu bodoh sekali ya".


"Apakah mencintaimu itu bodoh Sa, apakah itu salah Sa?"


"Iya Kau bodoh, mencintai orang yang tidak mencintaimu, dan Kau tau, cintamu itu tidak akan pernah terbalas, terus kenapa Kau masih ingin terus melanjutkan cinta hampa mu itu, apa?, jika itu tidak bodoh". Alisa menaikkan nada bicaranya.


"Terserah Kau ingin mengatakan apa, yang jelas, Aku tidak ingin kita berpisah, oke baiklah, jika Kau tidak bisa melakukan untukku, setidaknya tolong lakukan demi orang tua kita, terutama Mamaku Sa, Aku tidak ingin membuat keadaannya memburuk jika tau tentang rumah tangga kita".


Alisa mencebik, "Selalu itu yang Kau jadikan alasan".


"Sa Aku mohon sekali ini saja, bantu Aku, Aku berjanji, Aku akan menuruti semua keinginanmu, Aku akan menerima semua perlakuanmu, dan Aku tidak akan mengeluh, Tapi tolong Sa, untuk kali ini saja, bertahan sedikit lagi, Aku mohon"

__ADS_1


"Tapi Aku tidak bisa hidup seperti ini terus, Aku merasa seperti orang jahat, yang selalu menyiksamu, karena sampai kapanpun Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu"


"Tidak Sa, Kau jangan merasa begitu, anggap saja Aku ini teman baikmu, yang selalu memperlakukanmu dengan baik, dengan begitu Kau akan merasa lebih baik, sekarang ayo Kita masuk, jangan sampai Papa dan Mama curiga dengan kita, dan tolong jangan katakan apapun, biar Aku saja".


Danu pun menggenggam tangan istrinya, menggiringnya masuk, menghampiri kedua paruh baya yang masih berada di meja makan.


"Pa, Ma".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like ya


__ADS_2