
Pagi-pagi sekali Danu sudah tiba di perusahaannya. Dia langsung menuju ruangannya untuk menunggu Rere.
"Nanti kalau Rere sudah datang, suruh langsung keruangan saya." Ucap Danu pada Merisa, sekertaris nya.
"Baik pak" Merisa mengangguk patuh.
Setelah memberi pesan pada sekertaris nya. Danu pun langsung masuk kedalam ruangannya.
Danu duduk dikursi kebesarannya, lalu dia merogoh saku jasnya mengeluarkan ponselnya dari dalam sana.
Danu kembali melihat foto yang kemarin dikirim oleh Rere. Foto Alisa yang sedang memakan nasi goreng buatan nya.
"Semoga saja kali ini tidak sulit menaklukkan mu. Semoga kau mau mengalah dan membuang ego mu jauh-jauh"
"Andai kau tau. Selama ini aku selalu merindukan mu".
Danu terus mengusap layar ponselnya yang terdapat gambar mantan istrinya disana.
Senyum manis terukir di kedua sudut bibirnya. Hatinya merasa damai menatap wajah wanitanya walau hanya dalam sebuah gambar.
Setelah sampai diperusahan. Alisa dan Dina langsung memposisikan duduknya untuk memulai pekerjaannya. Sementara Rere, dia hanya meletakkan tasnya di meja kerjanya. Kemudian membalikkan badannya hendak keruangan bos nya.
"Mau kemana Lo Re" Tanya Dina.
"Mau ke WC bentar" Jawab Rere bohong.
"Oh" Lalu Dina kembali fokus pada kegiatannya.
"Permisi Mbak. Apa pak Danu sudah datang?" Tanya Rere pada Merisa.
Merisa menatap Rere sebentar. "Wanita ini, sudah dua hari ini datang keruangan pak Danu" Batinnya. "Oh iya. Pak Danu sudah datang, silahkan bos sudah menunggu." Jawab Merisa, kemudian mempersilahkan Rere masuk.
"Terima kasih mbak" ucap Rere lalu melangkah menuju ruangan pria yang sudah menunggunya untuk membicarakan lebih lanjut percakapan mereka kemarin melalui pesan WhatsApp.
Tok tok tok
"Masuk" ucap Danu dari dalam ruangannya.
Rere membuka pintu. "Mas"
"Oh Rere. Ayo silahkan duduk" Danu berdiri menyambung Rere dan mempersilakan duduk.
Danu dan Rere masih sama-sama diam. Danu bingung ingin memulai pembicaraannya dari mana, sementara Rere dia menunggu apa yang akan dibicarakan oleh pria mantan suami temannya itu yang tidak tak lain adalah bos nya sekarang.
"Em, oh ya. Apa Alisa menyukai nasi goreng yang kuberikan kemarin?" Akhirnya kalimat itu yang lolos setelah beberapa saat diam.
Rere tersenyum. "Yah seperti kata Mas. Alisa selalu menghabiskan nasi goreng buatan mas Danu."
Danu senang mendengarnya langsung dari Rere, padahal kemari Rere sudah memberi tahu nya melalui pesan WhatsApp.
"Bagaimana mas dengan tawaran saya kemarin?" Rere akhirnya memberanikan diri lebih dulu membahas nya.
"Sepertinya saya akan menerima tawaran mu" Danu tersenyum.
__ADS_1
"Saya senang mendengarnya" Rere juga tersenyum.
"Lalu apa rencana mas sekarang?"
"Saya belum tau harus apa sekarang. Aku takut Alisa belum bisa menerima kehadiran ku lagi."
"Jangan pesimis. Mas harus yakin, kalau mas sendiri tidak yakin bagaimana aku bisa membantu mas.
"Apa Dina sudah tau?"
"Belum mas. Aku tidak memberi tau Dina, dia sering kelepasan bicara soalnya."
"Oh baiklah. Jadi kau hanya sendiri, apa kau bisa?"
"kalau mas yakin. Aku pasti lebih yakin"
"Terima kasih"
Rere mengangguk.
"Oh ya mas, bagaimana dengan om Adi? Waktu aku datang kerumah mas, om Adi sedang kurang sehat" Tanya Rere.
"Iya. Sejak tiga tahun terakhir, kesehatan papa memang menurun. Papa juga selalu turut menyalahkan dirinya atas kegagalan rumah tangga ku"
"Kenapa mas?
"Karena papa yang paling antusias menjodohkan aku dengan Alisa waktu itu"
"Apa om Adi tau Alisa ada disini?"
Danu menggeleng. "Tapi nanti saya pasti akan memberi tau papa"
"Maaf mas, saya sudah terlalu lama disini. Alisa dan Dina pasti sudah menunggu, masalah ini nanti kita bicarakan lagi" Rere pun beranjak keluar dari ruangan bos nya itu.
Merisa yang sedari tadi terus menatap pintu ruangan bos nya, merasa resah karena wanita yang berstatus anak magang itu belum juga keluar dari ruangan itu.
Setelah beberapa saat. Merisa terlihat lega saat Rere sudah keluar dari ruangan bos nya itu.
"Huh, akhirnya dia keluar juga. Sedang apa sih dia diruang pak Danu"
Darimana sih Lo Re?" Tanya Dina menatap tajam Rere dengan kedua tangannya disilangkan.
"Kan Gue tadi sudah bilang mau ke WC" Jawab Rere bohong lalu menarik kursinya dan duduk.
"Ah gue tadi nyusul ke WC tapi Lo gak ada" Dina menatap Rere dengan tatapan menyelidik.
Rere tampak berpikir sejenak. "Oh iya itu. Tadi abis dari WC, gue langsung ke pantry buat kopi'' Lagi-lagi Rere terpaksa berbohong.
"Ada-ada aja Lo Re. Udah jam kerja juga, nanti kena teguran Lo baru tau rasa"
Rere tidak lagi menanggapi celotehan temannya itu. Dia menatap Alisa yang sedari tadi sama sekali tidak terganggu dengan obrolan nya dengan Dina. Rere pun akhirnya juga hanyut dalam kegiatannya seperti Alisa yang sedari tadi fokus. Sementara Dina, masih saja berceloteh.
"Awas ya Lo Dim, kalau menghalangi gue lagi buat minta nomor ponsel cewek-cewek magang itu" Ancam Angga.
__ADS_1
"Mau Lo apa sih Ngga? Gak capek apa main-main terus." Dimas tak terima dengan ancaman temannya itu.
"Ya kali aja kali ini gue bisa serius Dim"
"Bosan gue denger alasan Lo terus"
"Eh tapi Dim, beneran Lo gak tertarik dengan salah satu dari mereka bertiga? Gue liat kemarin Lo lirik-lirik Alisa terus" Angga menaik turunkan sebelah alisnya.
Dimas mengentikan aktivitasnya dan berbalik menatap temannya.
"Ngaco loh. Mana ada gue suka sama cewek kaku kayak dia. Dia bu kan ti pe gue paham!" Dimas menatap Angga dengan penuh penekanan.
"Hem, terserah Lo deh. Tapi jangan menghalangi gue buat minta nomor ponsel mereka"
"Jangan mereka, satu aja napa sih"
"Terserah gue dong. Gue kan cuma mau mencocokkan yang mana yang pas buat gue"
"Emangnya nya baju, cocok"
"Ah terserah Lo. Emang susah ngomong sama orang yang gak pernah jatuh cinta, atau jangan-jangan Lo......" Angga menatap Dimas dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Sembarang Lo, gue tabok nih" Dimas mengepalkan tangannya.
Kaboooorrrrrr....
Jam makan siang.
"Makan dulu yuk, Uda lapar nih" Ajak Dina sambil mengelus perutnya.
"Iya bentar gue beresin dulu" Ucap Rere.
"Kalian duluan aja ya. Gue belum lapar" Ucap Alisa masih fokus dengan pekerjaannya.
"Ya udah, kita duluan ya" Ucap Rere beranjak dari duduknya kemudian disusul oleh Dina.
"Kenapa Alisa tidak ikut bersama teman-temannya?" Diruangan nya Danu memperhatikan Alisa dari pengawasan kamera CCTV yang tersambung di smartphone nya.
Danu beranjak dari duduknya. "Ah tidak-tidak. Belum sekarang" Danu pun kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Tapi ini sudah jam makan siang" Gumamnya sambil terus mengawasi Alisa.
Tok tok tok
"Ya masuk" Ucap Danu dari dalam ruangannya.
"Permisi pak. Ini saya bawakan makan siang bapak" Merisa masuk membawa nampan berisi makan siang untuk bos nya.
"Letakkan saja disitu" Danu menunjuk meja kosong didekat sofa.
"Saya permisi pak" Merisa undur diri setelah menaruh makan siang bos nya di meja yang ditunjukkan oleh bos nya.
"Hem" Danu masih terus mengawasi Alisa.
__ADS_1
Dia mengabaikan makan siang nya karena terus memperhatikan mantan istrinya itu yang tidak ikut bersama teman-temannya untuk makan siang.