Aku Ingin Kembali

Aku Ingin Kembali
BAB 74


__ADS_3

Sunyi... Ah bahkan jangkrik saja tidak terdengar bunyi nya. Entah kemana perginya jangkrik jangkrik itu.


Hanya suara televisi yang terdengar di ruangan itu. Dua insan yang sedang duduk berhadapan itu tidak ada yang membuka suaranya.


Alisa memalingkan wajahnya dari tatapan pria yang kini duduk dihadapannya, sementara Danu terus mengamati setiap inci wajah wanita dihadapannya. Wajah itu masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah.


Wajah yang selalu dirindukan nya itu kini sudah berada di hadapannya sekarang.


Setelah puas memandangi wajah mantan istrinya itu. Danu meletakkan rantang yang sedari tadi di pegang nya disebelah tempat duduknya lalu berdiri menuju televisi dan mematikan nya, setelah itu dia kembali duduk dihadapan mantan istrinya itu. Menatap lagi wajah yang sedari tadi hanya membuang muka padanya.


.


.


.


Diluar kost-an nya. Rere menjelaskan pada temannya itu yang mencercanya dengan banyak pertanyaan.


"Re. Tadi itu beneran mas Danu?''


"Iya Dina"


"Gue gak salah lihat kan Re?"


"Enggak Din. Lo gak salah lihat kok"


"Beneran Re?"


"Ih, beneran Din. Itu tadi beneran mas Danu"


"Ya ampun Re, kok bisa ada mas Danu disini. Mau ngapain?''


"Mau memperjuangkan cintanya lah"


"Serius Lo Re?"


"Dua rius malah Dina!" Rere pun menjelaskan "Asal Lo tau ya Din. Mas Danu itu adalah pemilik perusahaan tempat kita magang"


"What?" Dina memekik. "Dunia ini emang sempit ya. Aku kira setelah mereka bercerai, kita gak akan ketemu lagi sama mas Danu. Tapi ternyata kita ketemu lagi tapi dengan mas Danu sebagai bos dan kita sebagai....... Wah mau CLBK tuh ceritanya. Ck ck ck" Dina tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"CLBK? Apa tuh Din"


"Ya elah Re, CLBK aja masa gak tau sih. CLBK itu cinta lama bersemi kembali" Dina menjelaskan.


"Oh. Kirain, cinta lama belum kelar" Rere terkekeh.


"Eh ngomong-ngomong mereka lagi apa ya didalam?" Dina penasaran.


"Udah gak usah kepo. Kita doakan saja buat si keras kepala itu supaya melunak, gue sedih tau waktu mereka cerai. Mereka itu udah kayak Romeo dan Juliet buat gue"


"Ah lebay loh. makanya cepetan cari Romeo Lo sendiri, eh kayaknya cocok tuh Lo sama si dimas dan gue sama si ganteng Angga" Dina terkekeh geli.


"Dina. Tujuan kita itu kerja biar dapat nilai yang bagus, berhenti deh mikir yang enggak-enggak"


"Iya iya, tapi gak apa-apa kan kalau cuma temenan?"


"Hem"


.


.


.

__ADS_1


Masih tidak ada pergerakan dari Alisa. Wanita itu masih setia menutup rapat mulutnya, wajah nya masih dia alihkan dari tatapan pria di hadapannya.


Danu merasa ini sudah cukup. Walau dengan perasaan yang bergetar, dia memberanikan diri. Kini Dia sudah duduk bersimpuh di hadapan mantan istrinya itu, dia meraih tangannya membawanya ke dalam genggamannya.


Alisa hendak menarik tangannya, namun Danu semakin menggenggamnya erat tak akan membiarkannya lepas.


"Aku mohon jangan lepaskan. Biarkan seperti ini sebentar saja" Pintanya pada mantan istrinya itu.


Dan lagi. Alisa yang dulu selalu menolak dan berusaha menjauh kini dia pasrah, dia menatap tangannya yang berada dalam genggaman mantan suaminya itu. Entah kenapa? Kedua matanya mulai berembun. Sungguh dia juga merindukan sosok pria yang ada di hadapannya itu. Dia merindukan perhatian dari pria itu.


Bodoh! Yah memang dia bodoh. Merasakannya di saat kehilangan.


.


.


.


"Aduh. Lama banget Sih mereka didalam, gue mau masuk aja lah. Jengkolan lama-lama gue disini"


"Aduh Din" Rere segera menarik tangan Dina yang hendak masuk.


"Kenapa sih Re? Lepasin gak tangan gue, gue mau masuk''


"Please Din! Jangan masuk dulu. Biarin sampai mereka selesaikan masalah mereka" Rere memohon pada temannya itu agar tidak masuk.


"Atau gini aja deh" Akhirnya Rere mengalah karena temannya itu tidak mau mendengarkan nya dan tetap ingin masuk.


"Apa?" Tanya Dina ketus. Dia kesal karena dilarang Rere untuk masuk.


"Kalau Lo mau nurut sama gue dan gak masuk kedalam sampai mas Danu keluar. Gue janji, gak akan ngelarang Lo buat deket sama si Angga Angga itu. Terserah Lo deh, mau temenan mau pacaran mau apalah itu terserah Lo"


"Serius Lo?" Ekspresi wajah Dina yang sedari tadi kesal seketika berubah senang.


"Iya. Tapi ingat! Jangan melewati batasan" Ucap Rere memperingati.


Rere menghela nafasnya setelah berhasil membujuk temannya itu.


'Ini sih namanya menolong satu teman menjerumuskan teman yang lainnya' Tapi hanya itu yang bisa dilakukan Rere sekarang untuk bisa membujuk temannya itu. Biarlah temannya itu senang dulu sekarang, nanti dia akan mengurusnya setelah permasalahan satu temannya selesai.


.


.


.


Danu segera melepas genggaman tangannya melihat mata mantan istrinya itu berembun. Dia pikir telah menyakiti wanitanya itu. Dia pikir terlalu erat menggenggam tangannya dan membuatnya kesakitan.


"Maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu" Danu menundukkan kepalanya, dia tidak tega melihat air mata itu mulai menetes di pipi wanitanya.


Setelah genggaman tangannya terlepas. Alisa mengangkat tangannya dan mengusap air matanya yang entah kenapa lolos begitu saja tanpa permisi.


Alisa menggeleng. "Aku yang minta maaf karena sudah menangis di hadapanmu. Ck memalukan"


"Alisa...Aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu"


"Sepertinya aku tau apa yang ingin kau bicarakan"


"Jadi?"


"Apa kau mau berteman dengan ku" Alisa mengulurkan tangannya.


"Berteman?'' Danu menatap uluran tangan mantan istrinya itu.

__ADS_1


"Yah. Kau mau kan berteman dengan ku"


"Apa tidak bisa lebih dari berteman?"


"Mungkin hanya berteman dengan mu saja, aku tidak pantas. Kau orang baik, seharusnya kau juga mendapatkan orang-orang yang baik disekitarnya mu"


Danu merasa kecewa karena Alisa hanya menawarkan pertemanan dengan nya.


"Kenapa? Tidak mau berteman dengan ku" Alisa menarik uluran tangannya namun dengan cepat Danu menariknya kembali.


"Tidak. Baiklah, sekarang kita berteman" Yah setidaknya dia bisa dekat dengan wanita nya sekarang walaupun hanya berteman. Setidaknya tidak akan ada penolakan lagi untuk dirinya mendekati wanitanya itu.


Danu dan Alisa pun saling berjabat tangan.


"Maaf jika dulu aku terlalu banyak menyakitimu"


"Tidak Alisa. Kau tidak perlu meminta maaf, tidak ada yang salah. Hanya saja mungkin waktu nya saja yang tidak tepat saat itu"


"Seharusnya aku memberi mu waktu dan tidak terlalu memaksa. Wajar saja dulu, kau memiliki cinta untuk orang lain. Seharusnya dulu aku bisa bersabar menunggu cinta itu beralih pada ku"


"Sudahlah. Jangan membahas itu lagi"


Alisa melirik rantang yang di bawa Danu yang dia letakkan di samping tempatnya duduknya tadi.


"Apa itu nasi goreng?"


Danu pun menoleh pada rantang yang dia letakkan disebelah tempat duduknya tadi.


"Yah itu nasi goreng. Aku membawakan nya karena kata Rere kau tidak ikut makan siang tadi di kantor"


"Yah aku memang belum memakan apa pun sejak tadi siang"


"Baiklah sekarang kau makanlah" Danu pun memberikan rantang yang berisi nasi goreng pada Alisa.


"Mulai besok. Aku akan membawakan nasi goreng untuk mu di kantor"


"Di kantor?" Alisa menatap Danu.


"Yah perusahaan tempat kalian magang itu adalah milikku"


Alisa menganga. Terukir senyum seakan dia tak percaya.


Dan itulah adalah senyuman pertama kali untuk Danu.


"Jadi. Selain teman ku, kau juga adalah bos ku" Ucap nya sambil menyuapi mulutnya dengan nasi goreng buatan mantan suaminya itu.


Danu terkekeh. "Dan juga mantan suami mu"


Uhuk uhuk uhuk...


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Aku uring-uringan nulis di bab ini. bingung gitu, mau buat ceritanya nya gimana...🤔🤗


Yang mampir kasih semangat dong.😍


__ADS_2