
Setelah puas mengutarakan semua kalimat-kalimatnya, Rere pun terdiam tak perduli dengan Alisa yang kini juga terdiam dengan tatapan kosong.
"Sa, Re. eh kok pada diam sih, aduh kenapa sih kalian". Dina menggaruk belakang kepalanya, bingung apa yang harus dilakukan. sementara kedua temannya, diam dengan pikirannya masing-masing.
Alisa bukannya marah dengan apa yang diucapkan temannya, hanya saja Dia tidak tau bagaimana harus menanggapinya. karena semua yang dikatakan oleh temannya itu semua adalah kebenaran. jadi Dia lebih memilih untuk diam, daripada temannya itu menyerangnya dengan kebenaran yang lebih nyata lagi, sementara Dia tidak bisa menerima meski tau akan kebenaran itu. Alisa menghalau semua itu.
Sementara Rere, Dia berharap setelah semua yang dikatakannya tadi bisa sedikit mengenai perasaan temannya, namun hasilnya nihil. Alisa sama sekali tak bergeming, seolah menutup mata dan telinganya. ckck Rere semakin Kesal saja, seandainya temannya itu tidak sedang dalam keadaan sakit. ingin sekali Dia memukul kepalanya, agar otak temannya itu bekerja dengan baik dan bisa mencerna dan menerima apa yang telah dikatakannya tadi. percuma, kebisuan temannya itu menunjukkan jika Dia tetap dengan pendiriannya. Rere menghela nafasnya, berat.
Sunyi...
ketiganya larut dalam kebisuan.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Danu kembali dengan menjinjing tas berukuran sedang, yang berisi baju gantinya serta beberapa untuk keperluan Istrinya selama berada dirumah sakit. Danu mengernyitkan dahinya saat masuk kedalam ruang tempat Istrinya dirawat, mendapati istrinya dan keduanya temannya saling mendiamkan. Danu mengindai satu persatu ketiga wajah yang dijumpai dalam ruangan itu, seperti sedang terjadi sesuatu. tapi apa?, Danu tak mengerti. karena biasanya saat ketiga wanita itu berkumpul, pasti akan menciptakan kehebohan. tapi tidak dengan yang dilihatnya sekarang, sunyi, itulah yang terjadi sekarang.
"Hei, ada 3 wanita cantik dalam ruangan ini tapi kenapa sangat sunyi sekali ya", celetuk Danu mencoba mencairkan suasana.
"Apa terjadi sesuatu disini, kenapa sikap kalian tidak seperti biasanya saat berkumpul. heboh!", Danu menelisik mencari kebenaran.
"Ah tidak ada kok Mas, biasa aja kok. oh ya karena Mas sudah kembali kami pamit pulang ya", Rere segera beranjak dari duduknya, menarik pergelangan lengan Dina untuk segera keluar.
"Permisi Mas"
__ADS_1
Danu hanya mengangguk, Dia benar-benar dibuat heran dengan tingkah teman istrinya itu. ada apa?, entahlah!.
Kemudian Danu berbalik menatap Istrinya yang sedang fokus dengan kebisuannya, entah apa yang dipikirkannya.
"Sa, temanmu kenapa?"
Alisa menggeleng pelan, tanap melihat suaminya yang sedang bertanya. dan menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Apa Kau butuh sesuatu?" tanya Danu.
Lagi-lagi Alisa hanya menggelengkan kepalanya, Semenjak berada dirumah sakit Alisa tidak pernah berbicara pada suaminya, hanya menggeleng untuk jawaban tidak dan mengangguk untuk iya jika Suaminya bertanya sesuatu.
Danu yang masih berdiri disamping Bed Istrinya, terperanjat saat mendengar suara pintu diketuk. lalu segera menuju pintu untuk membukanya, entah siapa gerangan yang datang.
Saat Danu membuka pintu, Dia tercengang, seakan tak percaya apa yang dilihatnya. Seorang lelaki yang berdiri begitu gagahnya, dengan tatapan memohon untuk diizinkan masuk menemui seseorang yang sedang terbaring lemah didalam sana.
__ADS_1
"Kau...."