Aku Ingin Kembali

Aku Ingin Kembali
BAB 107


__ADS_3

Sore yang begitu bahagia, tawa dan tangis haru berpadu jadi satu didalam ruangan tempat Alisa dirawat pasca persalinan.


Baby boy yang baru beberapa jam lalu dilahirkan ke dunia sudah menjadi rebutan, dua paruh baya yang sudah menyandang status Kakek itu terus berebut untuk menggendong cucu pertama mereka. Sementara si ayah baru itu, tidak mau melepaskan putranya dari gendongannya.


"Sini, papa gendong'' pinta pak Adi.


"Sama papa aja" pak Herman pun tak ingin kalah, dan menggeser tubuh besannya.


"Man, aku duluan dong! Asal kamu tau, itu adalah cucu pertama ku dan pewaris perusahaan Sanjaya group" pak Adi balik menggeser tubuh besannya.


"Apa kamu lupa? itu juga adalah cucu pertama ku, dan aku juga punya perusahaan. Cucu ku nanti bisa menggantikan aku menjadi pemimpin di perusahaan ku" dan pak Herman kembali menggeser tubuh besannya.


"Gak bisa gitu dong Man, anak laki-laki itu harus mengikuti Papa nya. Dan artinya, dia akan menjadi pewaris Sanjaya group dan bukan perusahaan mu. Perusahaan mu berikan saja pada Alisa, dia pasti bisa mengurus nya."


Dan aksi saling geser menggeser tubuh itupun beralih memperdebatkan masalah cucu pertama mereka yang akan meneruskan perusahaan siapa.


Danu yang risih dengan perdebatan dua paruh baya itu pun angkat bicara.


"Sudah dong pa, gak malu apa sama umur? berdebat seperti anak kecil" Danu menatap papa dan papa mertuanya bergantian.


"Belum saatnya membicarakan hal itu, yang perlu kita lakukan sekarang adalah merawat putraku ini bersama-sama." Danu mengecup kening mungil putranya.


Dan semua yang ada diruangan itu pun seketika hening, kedua teman Alisa beserta masing-masing calon suaminya nya pun berpamitan untuk pulang setelah memberi selamat pada Danu dan Alisa atas kelahiran anak pertama mereka.


Setelah kedua teman Alisa dan kedua karyawan Danu itu pulang, Danu membawa putranya yang berada dalam gendongannya menuju ranjang istrinya.


"Dengarkan! aku akan memberi nama putra ku ini Evan, Evan Sanjaya" ucap Danu tegas


"Bagiamana Sa, apa kau suka nama itu?"


Alisa tersenyum. "Terserah kamu saja, nama yang kamu berikan pasti bagus untuk anak kita" Alisa mengulurkan tangannya mengusap-usap lembut puncak kepala putranya yang masih berada dalam gendongan suaminya.


"Pasti!" Ucap Danu percaya diri.


"Dengar itu Man, nama lengkapnya saja Sanjaya. Itu artinya dia akan memimpin Sanjaya group" pak Adi menatap besannya dengan tatapan mengejek.


Pak Herman melenguh, menghembuskan nafasnya dalam. Percuma berdebat dengan besannya itu, pasti dia akan kalah karena sudah jelas nama lengkap cucunya mengambil dari nama besan nya, Sanjaya yang artinya akan memimpin perusahaan Sanjaya group.


Setelah perdebatan dua paruh baya itu berakhir, Mama Alisa menghampiri putrinya dan mengatakan untuk Alisa dan Danu tinggal bersamanya untuk sementara waktu agar bisa membantu merawat bayi mereka.

__ADS_1


"Kalau aku terserah dia aja ma" Alisa menunjuk suaminya. "


"Dia, dia siapa? maksudmu suamimu?" Mama Alisa memicingkan matanya menatap putrinya.


Alisa mengangguk.


"Kok kamu gitu sih manggil suami mu? masih aja sama seperti dulu, ckckck" Mama Alisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Panggil mas dong. Sayang kek, papa kek, papi kek, daddy kek atau apalah itu. Lah ini apa? masa manggil suami kayak gitu, gak ada sopan sopan nya!"


"Aku gak terbiasa ma" Alisa tersenyum kikuk.


"Makanya, dibiasakan dong" perintah Mama Alisa.


"Iya Ma"


Alisa beralih menatap suaminya yang tersenyum-senyum karena dirinya yang kena omelan dari Mama nya. "Aku panggil kamu apa?" tanyanya.


"Em... apa ya?" Danu berpikir sejenak. "Em.... kayaknya, 'Mas' bagus deh. Panggil aku dengan sebutan Mas"


"Mas?"


"Em.. boleh juga, Mas Danu" ucap Alisa tersenyum.


"Nah gitu dong" Mama Alisa mengelus tangan putrinya.


"Oh ya Danu" panggil pak Herman. "Mungkin sebaiknya kamu dan Alisa untuk sementara waktu tinggal bersama kami dulu, agar mama bisa membantu merawat bayi kalian. Lagipula, ini untuk jaga-jaga." pak Herman tersenyum.


Pak Adi yang mengerti maksud dari besan nya itu pun ikut tersenyum melihat kebingungan putranya.


"Jaga-jaga? maksudnya, jaga-jaga apa pa?" Danu tidak mengerti maksud dari papa mertuanya.


"Em... ya jaga-jaga aja, siapa tau nanti kamu tidak tahan puasa 40 hari terus nyosor nyosor" Pak Herman terkekeh mengatakannya.


Danu menggaruk pelipisnya. "Puasa apa pa, 40 hari?" tanyanya kebingungan.


"Apa kamu tidak tau nak, setelah wanita melahirkan akan ada yang namanya masa nifas." ucap pak Adi.


"Aduh... jangan bilang suamiku itu juga tidak tau yang namanya masa nifas" ucap Alisa dalam hati, yang melihat kebingungan diwajah suaminya.

__ADS_1


"Masa nifas? apa itu pa?" tanya Danu kebingungan.


"Nah, tuh kan" Alisa menepuk jidatnya.


"Kamu tidak tau, apa itu masa nifas?" pak Adi memajukan 1 cm lehernya.


Danu menggeleng.


"Jangan kan masa nifas pa, arti garis dua berwarna merah pada testpack pun dia tidak tau" ucap Alisa, dan seketika membuat ketiga paruh baya yang berada dalam ruangan itu saling pandang tak percaya dengan apa yang dikatakan Alisa barusan.


"Apa?" Ucap mereka serentak.


"Ppfthhh, hahahaha" Tawa pak Herman meledak mendengar pengakuan putrinya.


"Masa CEO tidak tau soal begituan hahahaha." pak Herman terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang sudah terasa keram.


Ketiga paruh baya itupun tak hentinya menertawakan Danu, dan Danu sendiri yang merasa risih menjadi bahan gunjingan mereka memilih untuk tidak memperdulikannya dan malah mengajak bicara bayi kecil yang baru beberapa jam lalu itu dilahirkan.


Alisa terkekeh melihat tingkah suaminya yang mengajak bicara bayi mereka dengan suara yang menirukan gaya bicara anak kecil tak terasa bulir bening itu mengucur dari sudut matanya, ingatannya kembali pada tiga tahun lalu saat perceraian itu belum terjadi. Seandainya waktu itu, dia tidak mengabaikan suaminya. Mungkin saat ini, bayi mungil yang berada dalam gendongan suaminya itu sudah menjelma menjadi pangeran kecil.


Memang penyesalan itu selalu datang di akhir, namun dari itu semua Alisa belajar. Dan sekarang dia sudah membayar semuanya, bayi mungil itu adalah bukti ketulusannya pada lelaki yang pernah dia abaikan.


Seiring dengan berjalannya waktu, perlahan semua kenangan pahit yang pernah dia ciptakan akan tergantikan dengan kenangan indah sekarang hingga seterusnya, dimana hanya ada dia, suaminya dan juga putra mereka. Toh, suaminya itu juga tidak pernah mempermasalahkan nya bahkan tidak ingin membahasnya masa lalu lagi. Baginya, masa depan adalah yang terpenting sekarang.


Terus melangkah kedepan dan jangan pernah melihat kebelakang lagi.


Dan inilah awal kebahagiaan yang sesungguhnya keluarga kecil Alisa dan Danu bersama putra mereka, Evan Sanjaya.


...~TAMAT~...


Tunggu bonus chapter nya ya.


Jangan lupa like nya juga 🙏🙏🙏


Terima kasih untuk yang sudah menjejak sampai sini 😁😍😘


Lanjutan nya ya


__ADS_1


__ADS_2