
"Dengan cara apa aku harus membuktikan, agar kau percaya aku mencintaimu!"
Sejenak Alisa menghentikan langkahnya, tanpa membalikkan badannya, "ceraikan aku!". kemudian Alisa kembali melanjutkan langkahnya.
"dengarkan aku" teriak Danu, "bagaimana pun kau berusaha, aku tetap tidak akan menceraikan mu".
Alisa merasa geram mendengarnya, "terserah, tapi ingat, jika kau merasa terluka, jangan salahkan aku, kau sendiri yang membuatnya" Alisa yang sudah diambang pintu, menoleh menunjuk suaminya.
Danu meradang, apa benar dia membuat dirinya sendiri terluka, tidak, itu bukanlah luka, ini hanya rasa dari usahanya meluluhkan hati walau sekeras batu, batu saja, jika terus ditetesi oleh air yang membasahinya, akan rapuh dengan sendirinya. begitulah kiranya, dirinya tidak akan menjadi pesakitan, terus melangkah, walau memiliki banyak lika-liku, sedikit saja dirinya goyah, semua usahanya akan sia-sia. usaha dan doa tidak akan berkhianat, malah akan berbuah manis dikemudian hari.
Melihat istrinya, sudah hilang dibalik pintu, menghela nafasnya yang memburu, mengejarnya apa juga akan membuat dirinya terluka, ah tidak, sejenak memang rasanya sakit, tapi itu tidak akan lama. yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya, memainkan perannya.
...*******...
Tok tok tok
"Eh Sa, kok Lo kesini, tadi suami Lo yang kesini, sekarang elo, ada apa sih?"
"Gak apa-apa Re, gue disini dulu ya" Alisa berharap temannya itu, bisa memberi nya solusi, agar hatinya tenang.
"Tapi jangan lama-lama ya, ini Uda sore loh, entar suami Lo nyariin lagi"
"Iya Re, bentar aja, Lo tau sendiri kan, gue tu dari dulu, gak suka nginep dirumah orang kalau gak ada yang penting, atau ada acara". ucap Alisa, membuka pintu, masuk dengan sendirinya.
"Iya sih Sa, apalagi sekarang ya, dirumah tidurnya sudah ada yang nemenin"
"Jangan ngaco deh Ra" Alisa duduk di sofa memijat pelipisnya.
"Loh kok ngaco sih Sa, emamg bener kan, kalo uda nikah tu enak, tidur uda gak sendirian lagi, uda ada yang nemenin, ada yang pelukin, di nina boboin mungkin" Rere mempraktikkan, dengan bantal sofa yang digendongnya.
"Ah makin ngawur Lo Re, kan uda gue bilang sama Lo waktu di cafe tadi" Alisa melempar bantal sofa ke kepala Rere.
__ADS_1
Dengan sigap, Rere menangkap bantal sofa yang dilemparkan oleh Alisa, "Eh gak kena, wek" Rere menjulurkan lidahnya, mengejek Alisa. "Eh Sa, liat deh, sekarang bantal gue ada dua, tinggal nyari yang bakal bobo disini, nemenin gue" Rere mengelus-elus bantal sofa yang dilemparkan Alisa tadi.
"Wah, uda sinting Lo Re"
"Elo tu yang sinting, uda punya suami, bukan nya digunain sebaik mungkin, eh loh nya malah gak asyik kayak gini, parah Lo Sa, awas entar kualat Lo, suami Lo nanti pergi ninggalin Lo, baru Lo tau rasa, suami baik gitu malah dicampain, mana ganteng lagi, ingat Sa, diluar sana pasti banyak yang ngincer suami Lo, secara kan suami Lo itu ya, uda baik, ganteng, perhatian, kaya lagi, cewek diluar sana pasti ngantri Sa, gue juga mau kali punya suami kayak gitu.
"Walaupun Lo gak cinta Re" Alisa yang sedari tadi, bersender disofa, dengan cepat, membenarkan posisi duduknya, kali ini dia yang akan mengintrogasi temannya.
"Ya tergantung Sa"
"Maksudnya" Alisa sedikit mengintai.
"Tergantung sama keadaan" Rere, dengan mode seriusnya, "kalo cowoknya baik, perhatian, mau menerima apa adanya, ya kenapa enggak Sa, toh, cinta kan bisa bersemi dengan seiring berjalannya waktu, gak kayak Lo Sa, mungkin seumur hidup Lo, Lo gak akan memiliki cinta, kalo Lo kayak gini terus, Lo bakal nyesel, kalo suami Lo sudah ninggalin Lo, dan Andra juga sudah berpaling kelain hati dan sudah ngelupain Lo" Rere mengembalikan bantal sofa yang dilemparkan oleh Alisa, dengan cara yang sama.
"Sialan Lo re, nyumpahin gue Lo"
"Ya enggak lah Sa, tapi kalo Lo terus kayak gini, ya mungkin aja, iya kan"
Alisa kembali bersender, "Entah lah Re, tadi aja gue minta cerai".
"Ya enggak Re, dia gak mau"
"Huh, syukur deh" Rere mengelus dadanya, lega.
"Ih, kok Lo gitu sih"
"Sa, dimana-mana, yang namanya teman itu, pasti ikutan sedih juga, kalau dengar rumah tangga temannya gak baik-baik saja, dan turut senang kalo temannya bahagia"
"Ah lebay Lo Re"
"Serius gue Sa, tapi kalo Lo masih bersikukuh untuk pisah, biar gue aja yang gantiin posisi Lo, gue yakin, gue gak akan nyesel!" Rere bergelagat memanas-manasi Alisa, kurang apa coba, uda ganteng, baik, perhatian, kaya pula" Rere menatap langit-langit, membayangkan sosok Danu, suami temannya itu.
__ADS_1
"Ah gak usah ngayal deh Lo, belum tentu dia mau sama Lo"
"Eh, siapa tau aja kan Sa, apalagi kalo gue kasih dia perhatian lebih, yang gak pernah dia dapatkan dari Lo" Rere melempar senyum sinis.
Alisa meraup wajahnya, ada benarnya juga kata Rere, "Ya uda, terserah Lo deh, mau ngayal, mau mimpi kayak gimana, terserah Lo, sekarang gue numpang dikamar Lo ya, mau tidur sebentar aja, ngantuk gue" Alisa menuju kamar Rere, tanpa menunggu persetujuan dari temannya itu.
"Sa, Sa, jangan anggap gue temen Lo, kalo gue gak bisa buat Lo mengakui perasaan Lo" Rere menggelengkan kepalanya, menatap kepergian Alisa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ganti cover n judul, tapi masih di review,
likekomennvoteyaterimakasihreaders.