
Satu minggu kemudian...
"Baiklah kalau begitu, pernikahan Danu dan Alisa akan digelar tiga bulan lagi" Putus pak Herman pada akhirnya setelah beberapa saat berunding dengan sahabat sekaligus calon besannya itu untuk yang kedua kalinya.
"Hah, tiga bulan lagi? Kelamaan pa, kenapa tidak besok saja sih" Protes Danu yang mulai bersuara setelah beberapa saat hanya menjadi pendengar.
Sontak semua orang yang berada di ruangan itu serentak menoleh pada Danu, dan Danu langsung menggaruk kepalanya karena semua orang menatapnya.
"Kenapa? kenapa kalian semua ngeliatin aku begitu, emangnya ada yang salah ya dengan ucapan ku" Danu menatap satu-persatu orang yang ada di ruangan itu. Mulai dari papa nya, kedua calon mertuanya, dan terakhir kepada wanita yang terlihat memasang ekspresi tak sukanya yang tak lain adalah mantan istrinya yang tidak lama lagi akan menjadi istrinya kembali.
"Ya kalau saya sih terserah Alisa nya saja, kalau dia juga mau besok" Pak Herman melirik putrinya.
"Enak saja, gak ada ya. Pokoknya udah mutlak tiga bulan lagi dan pernikahan aku nanti harus meriah!" Ucap Alisa menegaskan.
Dan pak Adi terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat putranya ingin protes lagi namun terdiam karena mendapat tatapan tajam dari calon istrinya.
"Danu danu... kamu itu, gak sabaran banget sih. Impian setiap gadis itu adalah menjadi ratu sehari dalam pernikahannya, jadi wajar kalau Alisa mau pernikahannya nanti diadakan dengan meriah layaknya raja dan ratu. Kalau kamu mau nikah nya besok ya gak bisa lah, karena kita sama sekali belum ada persiapan apa pun."
"Tapi kan pa, ini bukan yang pertama kalinya" Protes Danu pada papa nya.
"Pernikahannya memang bukan yang pertama kali. Tapi ritual setelah pernikahan nanti pasti untuk yang pertama kali nya, iya kan?" Ucap pak Adi dengan tatapan mengejeknya.
"Jadi untuk pernikahan kedua kalian harus dibuat semeriah mungkin, supaya ritual em...."Ucapan pak Adi terjeda menatap kedua calon pasangan pengantin itu yang wajahnya sudah di tekuk karena mengerti maksud dari ucapannya. "Em.. supaya ritual malam pertama nya lebih istimewa, ya Alisa." Sambung pak Adi lagi dengan terkekeh.
"Eh...em.." Alisa yang di sebut nama nya oleh calon papa mertuanya itu menjadi salah tingkah, apa lagi saat calon papa mertuanya itu mengucapkan dua kata yang memang dulu selalu dia hindari di pernikahan pertamanya.
Benar kata calon papa mertuanya itu, pernikahannya ini memang bukan yang pertama kalinya tapi malam pertama setelah pernikahan nya nanti adalah untuk yang pertama kalinya.
Mendengar kata malam pertama. Alisa menerawang jauh dimana saat pernikahan nya dulu dengan Danu, dia selalu menghindari yang namanya malam pertama itu. Dan seketika dia merasa bersalah karena sudah melakukan itu dulu pada pria yang tidak pernah melewatkan sehari pun untuk memperhatikannya.
Alisa menatap pria yang kini tengah tersenyum pada nya, dan berjanji dalam hatinya setelah pernikahannya yang kedua nanti dengan pria yang sama dia akan memberikan apa yang dulu tidak pernah dia berikan.
"Sudah jangan di pikirkan, papa hanya bercanda tadi" Pak Adi segera mengklarifikasi ucapannya karena melihat wajah calon menantunya itu yang menjadi tidak nyaman karena Ucapannya.
__ADS_1
Ya walaupun ucapannya benar, tapi seharusnya dia tidak mengatakan hal itu yang membuat calon menantunya itu jadi tak nyaman.
"Oh ya mumpung ini hari libur, bagaimana kalau kita berdua pergi jalan-jalan." Danu menatap wanitanya itu yang entah ada apa dengan ekspresinya.
"Hah, jalan-jalan, berdua?" Alisa balik menatap pria yang duduk di seberangnya.
"Iya berdua. Kenapa, ada masalah?"
"Eh, enggak sih"
"Iya Alisa pergi sajalah, papa rasa kalian itu butuh waktu berdua supaya bisa lebih saling memahami lagi satu sama lainnya." Saran pak Herman.
"Em ya udah, aku ganti baju dulu bentar."
"Gak usah ganti baju, pakai yang itu aja bagus kok" Ucap Danu cepat.
Alisa melihat dirinya dari bawah sampai atas yang saat ini mengenakan kebaya serta rambut yang disanggul.
"Aku" Alisa menunjuk dirinya sendiri. "Pergi jalan-jalan sama kamu" Dan kemudian menunjuk calon suaminya. "Dengan pakaian seperti ini" Lalu menunjuk kebaya yang dipakainya serta meraba konde nya. "Ya ampun, yang ada nanti aku dikira ondel-ondel lagi sama orang-orang."
"Itu deritamu punyamu calon istri yang cantik, pokoknya kalau mau jalan-jalan ya tunggu sebentar aku ganti baju dulu. Enak aja nanti aku dikira ondel-ondel, bisa turun harga diriku" Celoteh Alisa lalu beranjak menuju kamarnya, meninggalkan keempat orang yang masih diruangan itu yang sedang tertawa karena celotehan nya.
"Danu" Pak Adi menepuk bahu putranya. "Sepertinya kamu benar-benar harus siap mental menghadapi istri kamu nanti"
"Tenang saja pa, aku sudah tau bagaimana cara menaklukkan gadis keras kepala itu"
"Caranya?" Tanya pak Herman penasaran.
"Nasi goreng" Jawab Danu yang membuat ketiga paruh baya itu tercengang.
"Nasi goreng" Ucapnya serempak.
"Iya nasi goreng, ternyata Alisa sangat menyukai nasi goreng buatan ku dan dia selalu menghabiskan setiap kali aku membuatkannya nasi goreng" ucap Danu dengan bangga.
__ADS_1
"Bagus lah kalau kamu sudah punya senjata untuk menaklukkan putri papa yang keras kepala itu, kalau tidak kita akan benar-benar lapukan tapi belum juga mendapatkan cucu" Ucap pak Herman terkekeh, rasanya dia aneh saja senjata yang digunakan calon menantunya itu untuk menaklukkan putrinya adalah nasi goreng. Karena setahu nya, putrinya itu tidak begitu doyan makan.
"Dan ternyata Alisa rupanya sudah ada makanan kesukaan lainya selain ketoprak" Ucap mama Alisa menimpali.
"Wah, kalau ketoprak mah lewat ma sama nasi goreng buatan ku"
"Benarkah kah? Kalau begitu kapan-kapan mama harus mencicipi nasi goreng buatan mu kalau begitu" Ucap mama Alisa tersenyum.
Tak lama kemudian. Alisa pun kembali dengan pakaian andalannya, yaitu celana jeans dan kaos oblong.
"Ya ampun Alisa, kamu tuh apa-apaan sih masa mau jalan-jalan sama calon suaminya pakai pakaian seperti itu" Protes mama Alisa.
Alisa terlihat santai dengan celotehan mama nya, dia tidak menjawab ataupun balik protes seperti biasanya.
"Udah biarin aja ma sekali-kali" Ucap pak Herman. "Nanti juga kalau dia udah nikah, pakaian paling daster semua. Iya kan Danu"
"Nah ide yang bagus itu pa"
"Mana ada ya aku mau pake daster, sembarang aja. Mau jalan apa enggak sih, kalau enggak aku balik lagi nih ke kamar, tidur"
"Eh jadi dong, ya udah ayok"
"Eh tunggu sebentar" Pak Herman menatap putrinya lalu beralih menatap calon menantunya. "Sepertinya gak cocok kalau kalian pergi dengan pakaian berbeda, bagaimana kalau kamu" Pak Herman menunjuk calon menantunya yang saat ini mengenakan setelan kemeja lengkap dengan jas nya. "Juga ganti pakaian seperti Alisa, ada tuh punya papa, kamu pakai aja"
Dan ya, sekarang Alisa dan Danu sudah berada di dalam mobil dengan pakaian yang sama yaitu celana jeans dan kaos.
.
.
.
.
__ADS_1
Intip² yuk kepoin visual nya dulu 🤗🤗🤗🙏