
"Kalian darimana tadi?" tanya Mama Danu.
"Dari luar Ma"
"Ada apa Nak?, kenapa kalian terlihat tegang?".
Danu menghela nafasnya yang mulai terasa berat, "Ma, Pa, Danu ingin mengatakan sesuatu kepada Mama dan Papa".
"Apa Nak?, katakanlah". Ucap Mama Danu.
Danu berlutut didepan Mamanya, menggenggam kedua tangan yang sudah mulai keriput itu, "Maafkan Danu Ma".
"Kenapa minta maaf Nak, kamu tidak salah apa-apa", Mama Danu mengusap lembut pucuk kepala putranya.
"Maaf kalau selama ini Danu mengecewakan Mama dan Papa, Danu tau, Mama dan Papa sudah sangat menginginkan cucu, tapi maaf Ma, sekali lagi maafkan Danu, jika Danu belum bisa mewujudkan keinginan Mama dan Papa, Ma, Pa, sebenarnya kendalanya itu ada pada Danu Ma, Kata dokter, kesuburan Danu bermasalah Ma, jadi akan sedikit sulit untuk punya keturunan", Danu menundukkan kepalanya, tak tega menatap wajah yang menaruh harapan besar padanya, tapi malah mengecewakannya.
Sementara Alisa yang mendengar penuturan Suaminya, menunduk lemas, dan hanya meminta maaf dalam hatinya, lagi-lagi membuat Suaminya menjadi korbannya, mengutuk dirinya sendiri, kenapa terlalu egois, kenapa tidak bisa membuka hati, sebenarnya Dia tidak tega jika terus-terusan menyakiti lelaki yang sudah menjadi Suaminya itu, namun Dia juga bingung karena tidak mencintainya, kini bukan hanya Suaminya yand terus Dia sakiti, tapi juga orang tua Suaminya.
Mama Danu mengalihkan pandangannya, matanya mulai berembun, lalu menatap putranya yang masih berlutut didepannya dan menggenggam erat tangannya.
"Sudah Nak, kalau itu permasalahannya, Mama tidak akan menuntut lagi, yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya untuk Kamu bisa sembuh, Mama pasti akan mendoakan yang terbaik untuk kalian, maafkan Mama juga ya Nak, Mama tidak tau".
"Maafkan Danu ya Ma"
"Iya Nak, sudah gak apa-apa, tidak perlu minta maaf, sekarang ayo berdiri".
Pak Adi yang sedari tadi hanya menyimak, mulai angkat bicara, "Papa akan mencarikan dokter terbaik untukmu Nak".
"Pa, dokter yang menangani Danu, akan menjadwalkan Danu untuk berobat keluar negeri Pa, Minggu depan Aku dan Alisa akan berangkat".
"Baiklah Nak, Papa juga akan selalu mendoakan yang terbaik, jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada kami".
"Terimakasih Pa".
Ting.
Dina yang sudah menutupi separuh kaki nya dengan selimut, kembali menyibakkan selimutnya, mendengar notifikasi dari ponselnya.
__ADS_1
"Hah apa ini" Dina menganga melihat isi video yang dikirimkan oleh Rere, tak bisa lagi menahan tawanya.
Kemudian Dina menelpon Rere.
π±Dina
"Halo Re"
π± Rere
"Iya Din, sudah lihat kan video yang gue kirim tadi?", tanya Rere diseberang telpon, sambil menatap kukunya yang baru saja diwarnai nya.
π± Dina
π± Rere
"Ya abisnya gue kesel sama Dia, lagi ada masalah, malah kesini, numpang tidur lagi, ya gue kerjain aja".
π± Dina
"Eh tapi lain kali ajak gue dong Re".
π± Rere
"Oke, siap, dah dulu ya Din, gue lagi warnain kuku nih".
__ADS_1
π± Dina
"Iya Re, gue juga mau lanjut tidur, bye Re".
π± Rere
"Bye Din"
Tut Tut Tut ....
Setelah menghabiskan sisa makanannya yang terhenti, Danu dan Alisa berpamitan untuk pulang.
"Pa, Ma, kami pamit pulang dulu ya".
"Ini sudah larut Nak, kenapa tidak menginap saja" ucap Mama Danu.
Sekilas Danu melirik istrinya, nampak diwajahnya merasa keberatan.
"Maaf Ma, lain kali saja ya Ma, besok pagi-pagi sekali, Danu harus kekantor ada rapat Ma". lagi-lagi Danu berbohong.
"Oh gitu, baik lah Nak, tapi janji ya, lain kali harus menginap disini, ya Sa" ucap Mama Danu beralih memandang menantunya.
"Iya Ma" jawab Alisa sedikit canggung.
__ADS_1
Setelah laju mobil anak menantunya hilang dari pandangannya, barulah Pak Adi dan istrinya kembali masuk kerumah.