Aku Ingin Kembali

Aku Ingin Kembali
BAB 85


__ADS_3

Tiba-tiba Danu sudah berlutut di hadapan Alisa dengan membuka kotak kecil yang baru saja dia keluarkan dari dalam saku jasnya.


"Alisa. Maukah kau menjadi pendamping hidupku lagi?"


Ah Bullshit....


Seharusnya dia hanya mengatakan, maukah kau menjadi pendamping hidupku dan tidak menambah kalimat lagi di depannya.


Alisa menganga tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh mantan suaminya itu sekarang. Alisa mengalihkan pandangannya ke semua orang yang berada disana yang sedang menatap nya dengan tersenyum-senyum.


"Alisa maukah kau menjadi pendamping hidupku?" Danu mengulang pertanyaannya


Entah keberanian dari mana dia melamar mantan istrinya itu dihadapan banyak orang, bagaimana jika wanita dihadapannya itu menolak lamarannya? Tentu akan mempermalukan dirinya sendiri bukan?


Terima.. terima... terima ....


Sorak semua pengunjung hotel yang menyaksikan lamara di atas panggung itu.


"Ayo Alisa terima..." Teriak Rere dan Dina serentak.


"Mas ganteng kalau dia gak mau terima, aku mau kok" Teriak salah seorang wanita yang seumuran dengan almarhumah mamanya.


"Alisa kau dengar itu, apa kau tega melihat aku dengan tante-tante itu" Danu yang masih berlutut menatap Alisa dengan tatapan penuh permohonan.


Tapi Alisa sama sekali tak bergeming, dia bingung harus mengatakan apa sekarang pada pria yang sedang berlutut di hadapannya itu.


Sejujurnya hingga saat ini, rasa bersalahnya itu masih saja tersimpan didalam memorinya.


Sejenak Alisa tampak berfikir, dan dengan satu kali tarikan nafas...


"Aku akan menebus kesalahanku dulu" Ucapnya dengan lantang.


"Menebus kesalahanmu dulu? Apa maksudmu Alisa? Apa Kau...."


Alisa mengangguk.


Melihat Alisa mengangguk, dengan cepat Danu berdiri memastikan arti anggukan itu.


"Alisa kau..."


Alisa tersenyum. "Aku akan mencobanya"


Mata Danu membulat. "Alisa...."


"Aku ingin kembali menjadi pendamping hidupmu lagi"


Danu memegang kedua bahu Alisa "Kau serius Alisa?" tanyanya seakan tak percaya.

__ADS_1


"Iya ma s Da nu" Jawab Alisa sedikit menjeda dua kata yang dari dulu ingin Danu dengar darinya.


"Apa Alisa? katakan sekali lagi"


"Mas Danu..."


"Katakan sekali lagi Alisa..."


"Hufzzz" Alisa menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan sebelum dia berucap lagi. "Aku ingin kembali menjadi pendamping hidupmu lagi mas Danu Sanjaya!"


Dan tiba-tiba setelah mengucapkan kalimatnya dengan lantang. Alisa langsung memeluk tubuh Danu lebih dalam dan semakin dalam, dia menyesap aroma tubuh pria yang baru saja dia terima lamarannya. Aroma tubuh yang mungkin sebentar lagi akan selalu dia rasakan setiap hari.


Danu pun tentunya tak melewatkan kesempatan itu, dia membalas pelukan wanita yang sudah dia cintai sejak mengucapkan ijab qobul empat tahun lalu.


Wanita yang berstatus sebagai mantan istrinya itu kini telah resmi menjadi calon istrinya.


"Aku mencintaimu Alisa, bahkan aku sudah mencintaimu sejak empat tahun lalu dimana aku mengucapkan ijab qobul dengan menyebut namamu. Bukankah kau sudah tahu aku sering mengatakannya dulu, aku mencintaimu hingga saat ini. Selama tiga tahun ini, aku tidak pernah melupakanmu."


Alisa memejamkan matanya dan semakin mengeratkan pelukannya "Maafkan aku" Lirihnya. "Maaf karena aku begitu egois dan dengan bodohnya aku menutup rapat perasaanku sendiri. Aku sangat merasa kehilangan waktu itu, dan disaat itu juga aku baru menyadari ternyata itu adalah cinta. Tapi waktu itu sudah terlambat, kau sudah pergi."


Mendengar pengakuan wanitanya itu. Danu menghujani kecupan di puncak kepala mantan istri sekaligus calon istrinya itu.


"Jadi sekarang kita adalah sepasang kekasih"


"Bukan hanya kekasih, tapi kau adalah calon istriku"


Prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok...... suit suit...


Riuh tepuk tangan dari semua pengunjung hotel yang menyaksikan acara lamaran di atas panggung itu.


Dan kegaduhan itu membuat Alisa tersadar dimana dia berada sekarang, dengan cepat dia mengurai pelukannya lalu menatap para pengunjung hotel yang sudah bermacam-macam ekspresi yang mereka tunjukkan lalu Alisa beralih menatap pria dihadapannya itu.


Oh bisa tidak, pukul saja kepala pria yang sudah membuatnya lupa diri itu.


Ah bodoh amat, sudah kepalang malu. Danu pun meraih tangan Alisa dan menyematkan cincin dijari manis nya.


Sekali lagi riuh tepuk tangan beriringan dengan membuncahnya perasaan mereka berdua.


"Cincin itu..." Alisa menatap menyelidik pada cincin yang baru saja tersemat di jari manisnya.


"Yah itu cincin yang kau kembalian dulu saat perceraian kita"


Alisa menatap Danu tak percaya. "Kau masih menyimpannya?"


"Iya, karena aku masih berharap suatu hari nanti kau akan memakainya lagi. Dan malam ini harapan ku terwujud"


"Jadi kau melamar ku menggunakan cincin bekas.."

__ADS_1


"Tapi itu kan bekas mu juga"


"Yah tapi sama saja ini sudah bekas"


"Ok baiklah, nanti aku akan menggantinya jauh lebih bagus dari yang ini"


Alisa tersenyum. "Aku hanya bercanda. sejujurnya aku juga berat saat itu melepas cincin ini dan mengembalikannya kepada mu"


"Mas Danu, jangan lupa setelah ini siapkan aku tiket keliling Eropa" Teriak Dina yang sedari tadi ikut baper melihat drama di atas panggung itu.


Sementara Rere, dia begitu terharu


"Tiket keliling Eropa?" Alisa menatap Danu.


"Anggap saja itu hadiah untuk kedua temanmu yang selama ini sudah menjagamu dengan baik hingga kembali lagi dengan ku"


Alisa terkekeh. "Mereka itu bukan menjagaku tapi menguntit ku"


"Yah tapi sama saja kan, selama ini mereka selalu bersamamu"


"Mas, mbak. Acara lamaran nya sudah selesai kan?" Tegur si pembaca acara.


Serentak Danu dan Alisa menoleh pada sumber suara di belakangnya.


"Sudah selesaikan?" Ulang si pembawa acara itu sembari menunjuk jam dinding besar yang sudah menunjukkan angka sepuluh, dan itu artinya sudah satu jam lebih mereka mereka berada di atas panggung.


"Ya ampun maaf mas" Danu tersenyum kikuk sembari menepuk jidatnya sendiri, dia tidak sadar kenapa bisa selama itu berada di atas panggung.


Danu pun menuntun Alisa turun dari panggung menuju...


Alisa terperangah melihat kedua orang tuanya dan pria paruh baya yang tempo hari memberinya syarat memintanya untuk selalu mengunjunginya di setiap akhir pekan, juga berada di hotel itu.


Mama Alisa pun beranjak dari tempat duduknya. "Selamat ya nak" ucapnya memeluk putrinya.


"Herman, akhirnya kita akan menjadi besan lagi" Ucap pak Adi menghampiri sahabatnya itu lalu memeluknya.


"Iya Di, aku juga turut senang bisa berbesan denganmu lagi."


"Percaya diri sekali kalian berdua"


Pak Herman dan pak Adi mengurai pelukannya lalu menatap kepada Alisa.


"Alisa.... "Ucap pak Herman dan pak Adi serentak.


"Hehehe... maaf aku hanya bercanda" Alisa menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal karena mendapat tatapan tajam dari kedua pria paruh baya itu.


Pak Adi menghampiri Alisa . Terima kasih karena telah menerima putra papa lagi.

__ADS_1


__ADS_2