Aku Ingin Kembali

Aku Ingin Kembali
BAB 65


__ADS_3

"Ma, pa..." Panggil Alisa dengan nada tinggi karena kedua orang tua nya itu terus saja tertawa dan entah apa yang membuat mereka tertawa Alisa tidak tau.


"Eh Alisa? kok kamu ada disini? emang nya buat cucu nya udah selesai ya?" tanya pak Herman masih menahan tawanya.


"Pa, Ma coba jelasin kenapa dia bisa ada dikamar aku dan tidur di ranjang aku?" Alisa menunjuk suaminya.


Pak Herman dan Istrinya saling pandang, entah bagaimana menjawab pertanyaan putri nya itu. sungguh pertanyaan yang tidak masuk akal, mempertanyakan kenapa Suaminya bisa ada dikamar nya dan tidur di ranjang nya. Pak Herman dan Istrinya tidak habis pikir putri nya itu bisa bertanya hal demikian.


"Yah karena dia suami mu, emangnya ada yang salah ya!" jawab pak Herman geram.


"Jelas salah karena aku..."


"Karena tidak mencintainya, tidak menginginkannya iya Alisa. benar begitu?" Pak Herman berdiri menyambung kalimat putri nya dengan nada tinggi.


"Pa...." Alisa terkejut saat ucapannya belum selesai namun tiba-tiba papa nya melanjutkan kalimatnya dan yahhh itulah yang ingin dikatakan nya.


"Ok Alisa jika memang benar begitu, baiklah. papa akan segera mengurus perpisahan kalian, itu kan yang kau mau? puas!!!!" Ucap pak Herman dengan marah lalu pergi meninggalkan tiga orang yang diam dengan pikirannya masing-masing.


Pak Herman mengentikan langkahnya saat melewati Danu, dia menatap iba pada menantunya.


"Pulang lah dan katakan pada papa mu, papa akan menemuinya nanti untuk membicarakan hal ini" Pak Herman kembali melanjutkan langkahnya setelah berbicara dengan menantunya.


Danu segera menyusul papa mertua nya, ini jelas tidak bisa dia biarkan.


"Pa." Danu menghadang langkah papa mertua nya.


"Ada apa lagi Danu?"


"Pa, papa tidak serius kan dengan ucapan papa tadi?"


"Sudahlah Danu, apa kau tidak lelah seperti ini terus"


"Tapi tidak seperti ini caranya pa"


"Jadi kau ingin yang seperti apa?" sudah lah, Alisa itu keras kepala. percuma saja kau mempertahankannya, dia akan tetap seperti itu. papa hanya kasihan pada mu"


...............


Pak Adi menghela nafasnya setelah mendengar cerita dari putra nya.


"Pa, tolong bantu aku untuk bicara dengan papa Herman" ucap Danu memohon pada papa nya.


"Bantu apa? Untuk bilang pada papa mertua mu itu agar tidak mengurus perpisahan kalian, begitu?." Tanya pak Adi.

__ADS_1


"Iya pa" jawab Danu menatap nanar papa nya.


"Kenapa? bukannya bagus kan. kau akan terbebas dari pernikahan yang tidak sehat seperti ini"


"Tapi pa bukan seperti itu caranya"


"Kalau bukan seperti itu, lalu bagaimana? Benar kata papa mertua mu, untuk apa mempertahankannya yang tidak mencintai mu."


"Tapi pa, tolong sekali ini saja bantu aku"


"Maaf Danu, papa tidak ingin membicarakan ini lagi. papa lelah papa mau istirahat.'' pak Adi beranjak dari tempat duduknya.


..................


Setiap rumah tangga itu bermasalah, yang perlu diselesaikan itu masalahnya bukan rumah tangganya.


Karena dalam rumah tangga bukan tentang siapa yang paling baik, melainkan bagaimana kita bersama-sama untuk menjadi lebih baik setiap hari.


Jika rumah terindah adalah rumah yang senantiasa dipenuhi cinta didalamnya, lalu bagaimana dengan rumah tangga nya yang di awali dengan perjodohan tanpa cinta didalamnya?


Semua bukan hanya tentang canda tawa, cinta pun melekat di dalamnya untuk menjadi simbol satu kesatuan yang utuh dalam bahtera rumah tangga.


Di dalam rumah tangga harus ada yang berjuang, harus ada yang maju. jika kedua-duanya mundur, semua akan berakhir begitu saja.


................


"Arghhhhhh ahhh" Danu mengacak rambutnya frustasi. "Kenapa malah jadi seperti ini sih" dia berdecak kesal. ah seandainya masih ada mama nya pasti mama nya akan membantu untuk mencari jalan keluar.


"Aku rindu mama" gumam nya.


"Kenapa mama pergi secepat ini" ucap nya.k


Dengan langkah gontai Danu berjalan menuju kamarnya, saat membuka pintu kamarnya matanya tertuju pada bingkai kecil dia atas meja yang bergambarkan wajah mendiang wanita yang sudah membawanya ke dunia ini.


Diraihnya bingkai kecil itu lalu mengusap nya, tak terasa buliran bening jatuh di pipinya.


"Seandainya masih ada mama disini, pasti aku tidak akan sesedih ini ma" gumamnya.


"Pasti mama akan mencari jalan keluar untuk putra mama ini"


"Maafkan aku ma, mama pergi sebelum aku bisa membahagiakan mama"


"Maafkan aku ma..." lirihnya.

__ADS_1


Danu memeluk bingkai kecil itu, mendekapnya membawanya lebih dalam lagi.


................


Sementara Alisa didalam kamarnya, dia kesal karena ucapan papa nya. kesal karena ucapan papa nya itu selalu terngiang-ngiang di telinganya selalu memenuhi otaknya.


Ucapan papa nya untuk mengurus perpisahan nya dengan pria yang katanya selalu tidak diinginkan nya itu pria yang katanya tidak dicintainya itu entah kenapa malah sangat menggangu pikiran nya.


Seharusnya dia senang bukan jika benar-benar berpisah dengan pria itu? jadi tidak perlu repot-repot lagi menyuruh nya pergi, sudah ada orang tuanya yang akan mengurus perpisahan mereka jadi tinggal duduk santai menerima hasilnya.


Namun pada kenyataannya lain, semakin kesini, hati Alisa semakin bimbang. Ingin berpisah tapi entah kenapa hati nya malah berkata lain.


Alisa bertambah geram dengan itu semua, dia melempar semua benda yang ada di meja riasnya.


Kegaduhan itu membuat mama Alisa khawatir dengan putri nya.


"Ada apa nak? kenapa kamar mu berantakan sekali?" ucap mama Alisa menghampiri putri nya.


"Mama keluar ma, aku ingin sendiri!" ucap Alisa tanpa melihat mama nya.


"Tapi nak, ada dengan mu?" tanya mama Alisa benar-benar khawatir melihat putri nya yang entah kenapa itu.


"Aku bilang keluar ma!!!" ucapnya dengan nada tinggi.


Mama Alisa tersentak kaget mendengar ucapan putri nya yang menyuruhnya keluar, mama Alisa pun keluar dari kamar Alisa mencari keberadaan suaminya untuk melaporkan kejadian di kamar Putri nya itu.


Sementara pak Herman hanya tersenyum sinis mendengar laporan dari Istrinya.


"Biarkan saja ma, anak itu memang sudah sangat keterlaluan"


"Tapi pa, mama takut Alisa akan melukai dirinya sendiri"


"Untuk apa dia melukai dirinya, bukan kah seharusnya dia senang? bukan kah dia harus merayakan karena sebentar lagi dia benar-benar akan berpisah dengan pria malang itu" pak Herman melenguh memikirkan nasib menantu nya yang benar-benar malang karena mendapat kan istri seperti putri nya.


..................


Danu tertidur dengan masih memeluk bingkai kecil gambaran mama nya.


Pak Adi yang melihat pemandangan itu hatinya merasa pilu, dia perlahan mendekati putranya.


Pak Adi mengusap lembut puncak kepala putranya, lalu beralih pada bingkai kecil yang berada dalam dekapan putranya.


"Maaf kan papa ma" ucap nya lirih.

__ADS_1


__ADS_2