
Setiap hari kondisi kaki nya semakin membaik, seperti hari ini Alisa bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat lagi. yah, walaupun belum benar-benar bisa berjalan normal dan masih tertatih-tatih.
Alisa melangkah menuju kamarnya, dengan perlahan dia membuka pintu kamarnya. lagi-lagi rasa aneh itu muncul.
"Sudah 3 hari tapi dia belum kesini juga. apa dia gak ikut pulang ya sama papa Adi?"
"Ah biarlah, kenapa aku jadi mikirin dia, bagus kan kalo dia gak pulang!"
Lalu Alisa merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya, perlahan memejamkan matanya ingin menghalau semua pikiran aneh yang mengganggunya.
'Aneh apa nya sih, mikirin laki sendiri ya wajar lah. hadeuh si Alisa 😕😕😕😕
Baru saja dia memejamkan matanya, dengan cepat terbuka lagi. Alisa tidak bisa tidur lalu dia bangun dan duduk di pinggiran ranjangnya.
"Perasaan dulu sama Andra gak gini banget rasanya" batinnya.
"Alisa!!!!, Lo tu benci sama dia Lo gak cinta sama dia. tapi kenapa Lo mikirin dia terus. Uda bagus kan sekarang dia gak ada" Alisa geram pada dirinya sendiri.
"Kenapa?, sudah jatuh cinta sekarang. baru ngerasain sekarang. setelah orangnya gak ada!" suara bariton papa nya mengagetkannya.
"Papa, sejak kapan papa di situ?" tanya Alisa menoleh pada papa nya yang sudah berdiri bersender dan menyilang kedua tangannya didada.
"Sudah dari tadi, Semenjak Kamu kesal sendiri".
"Jadi papa..."
"Ya, papa sudah dengar semuanya." dan wajah datarnya perlahan mengukir senyuman. lalu perlahan melangkah ke arah putrinya.
Pak Herman mengusap lembut puncak kepala putrinya lalu duduk di sampingnya.
"Kamu heran kan, kenapa suamimu sampai hari ini belum menemui mu?"
Alisa tak menjawab atau menggangguk, namun dari sorot matanya papa nya tau jika dia menanti jawaban dari pertanyaan papanya.
"Kami sudah tau semuanya nak" ucapan pak Herman membuat Alisa kaget.
"Iya nak, suamimu sudah memberi tau semuanya. selama ini dia diam karena tidak ingin memperburuk kesehatan mama nya. tapi sekarang mama nya sudah tidak ada lagi, jadi tidak ada yang perlu dia khawatirkan lagi bukan?"
"Dan asal kau tau, papa mertua mu sudah memutuskan sesuatu soal pernikahan kalian."
Alisa menatap lekat wajah papa nya, setiap kalimat papa nya dia cerna dengan baik. dia tidak ingin melewatkan satu hal pun yang akan dikatakan papa nya.
"Dan papa harap, kau juga memutuskan sesuatu yang tidak membuat mu menyesal di kemudian hari!"
"Suami mu itu lelaki yang baik, selama ini dia diam bukan hanya tentang kesehatan mama nya. tapi karena dia juga sudah jatuh cinta dengan mu"
Deg... lagi-lagi Alisa menatap lekat manik papa nya.
__ADS_1
"Apa papa sudah bertemu dengan nya?"
"Siapa?, suamimu?"
Alisa mengangguk.
"Papa belum bertemu dengan suamimu, papa juga tidak tau dimana dia sekarang"
"Apa sekarang kau merindukannya?, bukan nya kau membencinya"
"Apa benar kata orang, benci bisa jadi cinta" ucap pak Herman meledek putrinya.
Pak Herman melirik jam tangannya. sudah waktunya berangkat ke kantornya.
" Papa berangkat ke kantor dulu, dan harap kamu mempertimbangkan dengan baik semua ucapan papa tadi. papa hanya tidak ingin melihat putri papa bersedih karena kebodohannya sendiri". ucap pak Herman lalu beranjak dari duduknya.
"Pa..."
"Jangan tinggikan ego mu daripada perasaan mu sendiri. jangan sampai kau menyesal karena sudah terlambat menyadari semuanya" ucap pak Herman lagi melangkah keluar dari kamar putrinya.
Alisa hanya menatap kepergian papa nya hingga hilang di balik pintu. semua ucapan papa nya dia ingat dengan jelas.
................
"Tadi saya sudah memancing emosi nya, semoga saja anak keras kepala itu bisa mengerti".
"Jangan bicara seperti, mau bagaimana pun dia tetap putri mu"
"Kenapa Man?' apa ada yang salah dengan ucapan ku?" tanya pak Adi melihat gurat kesedihan di wajah besan sekaligus sahabatnya itu.
"Ah tidak ada Di, lalu dimana Danu sekarang?'
"Dia ada di suatu tempat, jika cara ini tidak berhasil. maka kita harus mengunakan cara selanjutnya"
"Jangan terlalu memikirkan nya Man, nanti kamu malah jadi stress lagi" ucap pak Adi yang lagi-lagi melihat kesedihan di wajah besan nya itu.
"Gimana gak Di, Aku merasa sudah gagal menjadi seorang ayah".
"Yah kamu benar, kamu sudah gagal" ucap pak Adi dengan santainya dan sontak membuat pak Herman menganga mendengar ucapan besannya itu yang blak-blakan.
"Maksud saya kamu sudah gagal itu karena dari awal kamu tidak mengajarkan tentang cinta pada putrimu, sehingga seperti ini lah kejadiannya" ucap pak Adi terkekeh melihat wajah masam besannya itu.
"Ya ampun Di aku kira apa, kau hampir membuat ku menangis tadi"
"Menangis lah, apa kau tidak rindu menangis di pundak ku lagi sama seperti dulu kau menangis saat akan di jodohkan" ucap Pak Adi menepuk pundak nya sendiri.
"Kau tau sendiri kan Di, waktu itu aku menangis bukan karena aku tidak mau dijodohkan"
__ADS_1
"yah aku masih ingat, kau takut kalau calon istrimu tidak bisa menerima mu dan apalah itu banyak sekali alasan mu waktu itu"
"Dan aku senang karena saat setelah menikah istri ku, tidak menunjukkan ketidaksukaan nya"
"Dan pada akhirnya hadirlah Alisa di antara kalian" ucap pak Adi terkekeh geli.
Lagi-lagi pak Herman menampilkan guratan kesedihannya, dan pak Adi sudah melingkar dua poin disini sejak di awal pembicaraan mereka berdua.
"Sama seperti mu, Aku juga dulu di jodohkan" ucap pak Adi dan pak Herman mengangkat pandangan nya.
" Aku kira pepatah kata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya itu berlaku untuk keduan anak-anak kita yang bisa mengikuti jejak kita yang dijodohkan, tapi ternyata pepatah itu nyata nya tidak selalu benar''.
"Mungkin karena buahnya jatuh ke sungai dan terbawa arus, jadi seperti lah itu anak-anak Kita" dan ucapan pak Herman membuat kedua nya tertawa terbahak-bahak melupakan sejenak rencana mereka.
.................
"Bagaimana keadaan mu sekarang?, kau tidak telat kan minum obat nya?" Danu mengusap foto pernikahannya yang dia jadikan wallpaper di ponselnya.
"Aku merindukan mu". gumam nya sambil terus menatap foto pernikahannya.
Ceklek..
Pandangan Danu beralih pada pintu ruangan nya yang terbuka, lalu tersenyum setelah mengetahui siapa yang masuk.
"Aku pikir kau tidak akan datang"
"Setelah aku mendengar ceritamu, seperti nya menarik kalau aku ikut berperan didalamnya".
"Jadi kau setuju dengan tawaran ku"
"Aku tidak setuju dengan tawaran mu, tapi aku hanya ingin membantu mu"
"Kau memang teman yang pengertian" Danu terkekeh.
"Tentu saja" ucap Afifah begitu percaya diri.
"Jadi bagaimana selanjutnya?" tanya Afifah.
Ponsel Danu berdering.
"Sebentar papa ku menelpon" ucap Danu lalu beranjak dari duduknya menjauh dari Afifah.
"Bagaimana?" tanya Afifah lagi.
"Sepertinya rencana kedua harus dijalankan" jawab Danu.
"Dan sepertinya aku akan ikut berperan"
__ADS_1
"Yah peran jadi pelakor" ucap Danu lalu berlari ke luar dari ruangan nya, jika tidak dia bisa habis di hajar oleh wanita tomboy itu.
"Danu.........."