
"Ya Udah, kalian makan saja. Saya masih ada pekerjaan." Putus Danu pada akhirnya.
"Mas gak makan?" Tanya Rere
"Nanti saja. Saya belum lapar"
"Silahkan duduk disana" Tunjuknya pada sofa disudut ruangan nya. "Makan saja nasi goreng itu, kalau perlu habiskan saja semuanya!" Danu merasa kesal karena Alisa tidak datang keruangan nya untuk makan siang bersama. Padahal dia sudah memberi tahu nya kemarin.
"Mas marah ya Alisa gak ikut kesini?" Rere bertanya dengan ragu-ragu. "Apa perlu saya panggilkan Alisa" Ucapnya.
"Gak usah. Kalau dia gak mau ya udah gak usah di paksa" Danu menjawab tanpa melihat Rere dan fokus pada dokumen nya.
Rere pun terdiam, lalu melangkah menuju sofa yang di tunjuk oleh bos nya itu.
"Ck. Ah kenapa aku jadi kesal begini" Gerutunya lalu melempar dokumen nya keatas meja kerjanya.
"Aduh Alisa..." Rere dan Dina geleng-geleng kepala melihat Danu seperti itu.
.................
"Kost-an kalian dimana sih?" Tanya Angga menghadang jalan Alisa dan kedua temannya.
"Memang nya ada apa mau tau dimana kost-an kita" Jawab Alisa ketus.
"Wishhh. Galak juga ni cewek, jangan galak-galak dong ntar cantiknya hilang lagi"
"Ngga ayo ah, jangan gangguin mereka" Dimas menarik tangan Angga, namun dengan cepat Angga menepisnya.
"Ih bisa diam gak sih Lo Dim, dari kemarin-kemarin Lo gangguin usaha gue terus" Angga menatap tajam Dimas serta menunjuk tepat di depan wajahnya.
Lalu Angga berbalik lagi menatap Alisa, dan terus menanyainya.
"Jawab aja sih dimana kost-an kalian, kita kan bisa antar kalian pulang. Tenang saja, teman ku ini punya mobil" Angga melirik Dimas. "Jadi kalian gak akan kepanasan dan...."
"Gak perlu" Alisa pun melanjutkan langkahnya. Tapi Angga menarik tangannya.
"Lepas!" Alisa menghempaskan dengan kasar tangannya yang di pegang oleh Angga.
"Heh sombong banget sih Lo jadi cewek" Angga mencengkeram dagu Alisa.
"Angga lepaskan!" Suara bariton Danu mengagetkan semuanya.
Dengan cepat Angga pun menarik tangan nya yang mencengkeram dagu Alisa. Dia jadi gugup setelah melihat keberadaan bos nya itu.
__ADS_1
Danu melangkah mendekati kerumunan itu, dia berhenti tepat di depan Angga, dan menunjuk didepan wajah Angga.
"Berani-beraninya kamu ya mengganggu wanita di area perusahaan saya apalagi mereka itu anak magang di sini. Cari masalah kamu dengan saya hah!" Kini tangan Danu sudah menarik kerah leher kemeja Angga.
"Maaf pak. Saya tidak bermaksud begitu, tapi....."
"Tapi apa hah, jelas-jelas saya melihat nya sendiri kamu mengganggu mereka. Sudah bosan kamu kerja disini, iya?" Danu semakin mempererat cengkeraman nya dikerah kemeja Angga.
"Ti-tidak pak" Angga menjadi semakin gugup.
"Pergi kamu dari sini" Danu mendorong Angga dengan kasar. "Awas kalau saya melihat kamu lagi seperti tadi" Ucapnya dengan penuh penekanan menunjuk Angga yang terhuyung.
"Bawa teman kamu pergi dari sini" Ucapnya menatap Dimas.
"Baik pak" Dimas pun membawa Angga menuju mobilnya.
Beberapa karyawan yang lewat berbisik-bisik. Belum pernah mereka melihat bos mereka semarah itu. Yang mereka tau, Danu itu sosok pemimpin yang dermawan dan selalu bersikap ramah kepada semua karyawan nya.
Begitu juga dengan Rere dan Dina yang juga terkejut melihat sisi lain dari mantan suami temannya itu. Selama ini Danu yang dikenal nya itu terkesan pendiam dan tidak suka mencampuri urusan orang lain.
Merisa yang melihat dari jauh kejadian itu seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hanya karena anak magang yang baru beberapa hari saja, bos nya itu sampai memarahi karyawan yang sudah lama bekerja dengan nya bahkan sejak masih di perusahaannya yang lama.
Setelah Dimas dan Angga pergi dari hadapannya. Danu berbalik menatap Alisa yang sedari tadi hanya terdiam. Kemudian dia meraih tangan mantan istrinya itu dan membawanya menuju dimana mobilnya di parkirkan.
Alisa hendak melepaskan tangannya, tapi Danu semakin menggenggamnya erat dan terus membawa pemilik tangan itu menuju mobilnya.
Danu membuka pintu mobil didepan dan menyuruh Alisa untuk masuk, tapi Alisa malah berdiam diri. Itu membuat Danu kembali kesal dan malah mendorong Alisa masuk lalu menutup pintu mobilnya dengan keras.
Sebelum Danu juga masuk ke mobilnya, dia meneriaki kedua teman Alisa itu.
"Kalian pulang saja duluan! Nanti saya akan mengantar Alisa pulang" Ucapnya lalu masuk kedalam mobilnya dikursi pengemudi disamping mantan istrinya itu.
Terpaksa Danu berubah haluan. Yang tadinya akan mengantar mereka pulang, kini malah sekarang akan membawa Alisa ke sesuatu tempat.
"Hei, kau mau membawa ku kemana?" Alisa panik melihat kedua temannya masih berdiri ditempatnya dan tidak ikut bersamanya. Dan Alisa semakin panik saat Danu menjalankan mobilnya keluar dari area perusahaannya dan meninggalkan kedua temannya disana.
Danu tak menggubris perkataan Alisa. Dia fokus pada kemudi nya, karena percuma saja meladeninya.
"Hei. Aku bilang berhenti!"
Namun Danu malah mempercepat laju mobilnya.
"Aaaaaaaaa... berhenti!"
__ADS_1
......................
"Eh. Om, Tante." Rere dan Dina saling pandang melihat sudah ada pak Herman dan Istrinya menunggu di depan kost-an nya.
"Loh kok kalian pulang hanya berdua. Alisa Dimana?" Pak Herman celingukan mencari keberadaan putrinya itu.
Lagi-lagi Rere dan Dina saling pandang, bingung harus menjawab apa?
"Rere, Dina. Alisa dimana?" Dan sekarang Mama Alisa yang bertanya.
"Eh. Itu, anu Alisa...
"Itu anu apa? Alisa kenapa?" Mama Alisa jadi khawatir karena putrinya itu tidak ada bersama kedua temannya, apa lagi kedua temannya itu gugup saat di tanyai.
"Itu Om, Tante. Alisa pergi dibawa sama mas Danu" Rere sedikit ragu mengatakan nya.
"Danu... Danu mantan suami Alisa?" Pak Herman terhenyak mendengar putrinya itu dibawa oleh mantan suaminya. Pak Herman jadi berpikir yang tidak-tidak.
Jangan-jangan mantan menantunya itu masih tak terima atas perlakuan Alisa terhadap nya dulu, dan ingin membalas.
"Ya ampun" Pak Herman merasa khawatir jika memang seperti itu.
"Iya Om" Rere mengiyakan dengan menundukkan kepalanya.
"Tapi kenapa Alisa bisa sampai dibawa sama Danu?"
"Sebenarnya perusahaan tempat kami magang itu adalah perusahaan milik mas Danu, Om."
"Apa? Perusahaan Danu."
Rere pun menceritakan kenapa Danu membawa Alisa, dan bagaimana marah nya dia saat karyawan pria nya menggangu Alisa.
...................
"Kau tidak dengar ya. Aku bilang berhenti!" Alisa memejamkan matanya dan berpegangan sangat kuat saat Danu menambah kecepatan laju mobilnya.
Hingga mobil Danu berhenti di depan bangunan mewah yang usianya sudah puluhan tahun, tapi masih kokoh hingga saat ini.
"Ayo turun, kita sudah sampai."
Alisa membuka matanya dan seketika terkejut melihat bangunan yang berada di depannya sekarang.
"Itu.....
__ADS_1