Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Ada di sana


__ADS_3

Bik Yut berjalan cepat dengan kaki tuanya ke arah ruangan berpintu coklat diikuti, oleh Narti di belakangnya.


"Ada apa?" Salma yang baru saja bergabung dari arah taman, mengerutkan kening curiga melihat wajah khawatir Bik Yut dan Narti di depan pintu coklat.


Tangan berkulit keriput itu merogoh kantung dasternya, mengambil sebuah kunci lalu membuka pintu coklat dengan tangan bergetar.


"Astaga, Den Cakraaa." Bik Yut memekik terkejut ketika pintu coklat itu terbuka.


Jantung Salma terasa melorot ke bawah ketika Bik Yut menyebut nama Cakra. Ia menyeruak mendahului Narti yang ingin ikut masuk bersama Bik Yut.


Tampak salah satu putra kembarnya itu, terbaring meringkuk di lantai tanpa alas apapun.


"Cakra!" Mata Salma terbelalak, ia langsung menghambur dan mengangkat putranya dari ubin yang dingin.


Dirabanya kening Cakra, tubuhnya menghangat wajahnya sedikit pucat. Di pelupuk matanya masih tersisa genangan air mata. Bajunya basah oleh keringat. Salma langsung membawa Cakra keluar dan memangkunya di sofa. Candra terus memanggil-manggil nama kembarannya sembari menangis menambah kepanikan Salma.


"Cakraaa, cakraaa ...." Salma menepuk-nepuk pipi anaknya.


"Ma ... maaa." Mata Cakra perlahan terbuka sayu.


"Cakra, mana yang sakit, Nak."


"Panas ... Haus," ucap Cakra lirih.


Tanpa dikomando, Narti lari ke dalam dapur mengambil segelas air lalu menyerahkannya pada Salma. Bik Yut masih di tempatnya berdiri. Wanita tua itu tampak merasa bersalah. Ia tak berani mendekat, hanya mere mas daster panjangnya.

__ADS_1


"Minum dulu, Sayang." Salma menegakan sedikit tubuh Cakra. Putranya itu minum hingga terbatuk-batuk, bagai kering kehausan.


"Bu, saya min---"


"Nanti saja saya bicara dengan Bik Yut," potong Salma cepat. Ada nada ketus dan marah pada suaranya. Ia menggendong Cakra naik tangga masuk ke dalam kamar si kembar.


Di dalam kamar, Salma mengganti semua baju Cakra yang basah lalu membasuh tubuh kecil itu dengan air hangat. Setelah dirasa putranya cukup nyaman dengan tubuhnya yang sudah dibalur minyak hangat, Salma merebahkan Cakra di kasur.


"Cakra mau makan atau minum apa, Mama buatkan." Salma mengusap lembut rambut Cakra.


"Ngantuk." Tubuh Cakra masih terasa hangat dan matanya meredup.


"Makan dulu ya, Nak. Jangan tidur lagi, Mama takut." Salma khawatir jika Cakra tidak membuka matanya lagi.


"Cakla hanya ngantuk, Ma. Capek. Tadi ga ada yang dengal Cakla teliak-teliak, pukul pintu. Cakla takut, di dalam gelap dan sempit. Cakla hampil ga bisa napas," ujar Cakra lirih.


Saat ia mengambil Cakra dari dalam ruangan tadi, sudut matanya menangkap potret pernikahan Angkasa dengan sosok wanita anggun berukuran besar. Ruangan itu juga penuh sesak dengan barang yang ia sendiri kurang jelas melihatnya.


Salma mengusap air matanya, ia melihat Cakra sudah terlelap dipelukannya. Putranya itu terlihat sangat lelah. Ia lalu turun ke lantai dasar, tampak Candra sedang duduk di depan televisi bersama Narti.


Kakinya membawa ia ke ruang berpintu coklat yang tadi mengurung anaknya. Tanpa rasa ragu lagi, Salma mendorong pegangan pintu itu. Terbuka!


Tangan Salma mencari saklar lampu, ia menguatkan hati untuk melihat isi ruangan yang selama ini membuatnya penasaran. Saat lampu menyala, matanya kembali menangkap potret besar yang tergantung di dinding.


Salma memalingkan wajahnya, ia mencoba mengalihkan perhatiannya pada isi di dalam ruangan itu. Sebuah lemari putih tiga pintu yang masih bagus ada di sudut ruangan. Dua tangannya membuka sekaligus pintu lemari itu. Di dalamnya penuh tergantung pakaian wanita yang masih sangat bagus. Rasa penasarannya semakin menggelora, Salma kembali membuka pintu sebelahnya. Ia menemukan rak penuh terisi baju terlipat rapi.

__ADS_1


Pakaian yang tergantung maupun terlipat semua tampak rapi dan harum, seperti masih sering digunakan. Salma menutup ketiga pintu lemari. Ia beralih pada meja rias di sebelah lemari. Ia buka laci di bawahnya dan menemukan alat rias dan perawatan kecantikan dengan merk ternama tersusun rapi di sana. Meski semuanya telah kadaluwarsa, tapi masih tampak terawat.


Salma berjalan mundur, ia merasa ruangan ini bukan hanya sekedar gudang penyimpanan barang bekas. Ruangan ini seperti kamar kecil tanpa ranjang di dalamnya. Kakinya menabrak sebuah rak di belakangnya. Beberapa kotak sepatu berjatuhan dari tempatnya. Sebagian terbuka, ia melihat tumpukan kotak sepatu beserta isinya memenuhi rak tersebut.


Kepalanya kembali menoleh ke arah pigura apik di dinding. Di mana wajah Angkasa dan Debby tersenyum padanya. Di mata Salma saat itu, ia merasa Angkasa sedang berkata padanya bahwa inilah wanita yang sebenarnya aku cintai. Sedangkan sang wanita bergaun pengantin di potret itu, seolah mengatakan bahwa meskipun kamu memiliki raga Angkasa tetapi hati dan cintanya hanya untuk aku.


Salma dengan kasar mematikan lampu kamar tersebut lalu menutupnya. Dadanya panas seketika dengan pikiran yang melintas di kepalanya. Ia membutuhkan sesuatu untuk melampiaskan emosinya. Ia berjalan cepat ke dalam dapur ketika mendengar suara dari dalam sana.


"Bik, katakan pada saya apa yang terjadi pada Cakra!"


Bik Yut menoleh terkejut mendengar nada suara Salma yang tak biasa. Wanita yang sekarang menjadi Nyonyanya ini biasa selalu lemah lembut, tapi ia memaklumi perubahannya mungkin karena kejadian siang tadi.


"Maaf, Bu saya tadi siang sedang membersihkan gudang. Memang Cakra dan Candra lagi bermain dengan Narti, tapi saya tidak tahu kalau Cakra ikut masuk dan bersembunyi di dalam." Bik Yut menunduk takut.


"Lalu mengapa gudang harus dikunci? Saya tidak melihat ada barang yang berharga ataupun berbahaya di dalam, hingga harus dikunci. Bagaimana jika Cakra telambat ditemukan? Dia bisa mati kehabisan nafas di dalam!" Salma menjerit dengan air mata menetes.


Hatinya sakit antara melihat anaknya terkunci di dalam dengan melihat isi ruangan itu. Ia juga tidak tahu untuk apa ia sebenarnya marah, apakah benar karena keadaan Cakra dan kesalahan Bik Yut ataukah karena isi di dalam ruangan itu?


"Maaf, Bu saya benar-benar minta maaf." Bik Yut berlutut di lantai.


Salma berbalik dan meninggalkan pekerja rumah tangga itu di dapur. Sebenarnya ia tak bermaksud memarahi Bik Yut seperti itu, ia juga tak sampai hati melihat wanita tua itu merasa bersalah hingga berlutut di hadapannya.


Salma masuk ke dalam kamarnya dan menumpahkan tangis kesal dan marahnya di sana. Ia merasa tersisihkan dan dibohongi oleh Angkasa. Namun ia juga merasa tak berhak menuntut apapun.


Ia merasa malu untuk mengakui kalau ia cemburu. Almarhum Debby sangat cantik dan berkelas. Mereka tampak sangat bahagia. Salma cemburu, ia cemburu pada wanita yang sudah tiada. Rasa sakit yang sangat sulit untuk diungkapkan.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2