
Tia dan Bimo saling bertukar pandang setelah mantan ipar mereka pamit pulang dengan senyum angkuhnya. Keduanya menghela nafas panjang lalu menggelengkan kepala. Tia masuk ke dalam kamar, sedangkan Bimo menutup dan mengunci pintu rumah.
Salma semakin merapatkan daun telinganya di pintu kamarnya. Ia tidak mendengar percakapan apapun antara Bimo dan istrinya. Hatinya gusar tak karuan, antara takut abangnya marah dan ragu dengan calon suaminya.
Esok paginya Salma masih mendapati semuanya dalam keadaan tenang seolah Armand tak pernah datang semalam. Takut bertanya, Salma tetap diam hingga waktu sarapan tiba. Tia hilir mudik dari dapur dan ruang makan menyiapkan sarapan. Bimo duduk di teras dengan ponsel ditelinganya.
"Mba ...."
"Si kembar sudah mandi belum?" potong Tia sebelum Salma mengatakan sesuatu.
"Belum." Salma melirik kedua anaknya yang sedang menikmati sarapan mereka di depan televisi.
"Kenapa belum?" Mata Tia membesar. Kakak iparnya itu ikut melongok ke arah si kembar yang sedang mengacak-acak nasi di piring mereka.
Salma ikut menengok keributan si kembar yang duduk di lantai. Wajah dan kaki keduanya penuh dengan nasi. Mereka sedang saling menyuap satu sama lain. Salma merasa bersalah, karena pikiran tak tenangnya hingga mengabaikan kedua anaknya.
"Biar aku mandikan mereka," ujar Tia tak sabar. Kakak iparnya itu langsung mengangkat satu persatu keponakannya dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Salma melihat jarum jam yang tergantung di dinding. Saat ini pukul tujuh pagi, jika semua lancar pernikahan mereka akan diadakan jam 12 siang nanti. Tak ada persiapan khusus, Salma memang menolak perayaan walaupun sederhana karena tak mau memancing kehebohan tetangga sekitar.
Gaun dan riasan, ia hanya memakai yang sudah ada. Bimo hanya mengundang tetangga dekat, perangkat desa serta kerabat Angkasa yang nantinya akan hadir.
Namun, sampai detik ini mengapa kakak dan iparnya tidak mengatakan apapun perihal yang disampaikan Armand semalam. Apa yang diceritakan Armand sungguh mengganggu pikirannya. Semalam ia hampir tak bisa tidur karena terus mencari berita terkait Angkasa dan almarhum istrinya lewat pencarian pintar di ponselnya.
Apa yang didapatnya tak mampu memuaskan keingintahuan tentang Angkasa dan almarhum istrinya. Tak banyak yang tertulis di sana tentang Debby dan kondisi keluarga Angkasa dulu. Pria itu sangat rapi menyimpan kehidupan pribadinya.
Gosip yang beredar seperti yang dikatakan Armand semalam memang ada beberapa media yang mengangkatnya, tapi berita itu tenggelam begitu saja. Apakah ia harus bertanya pada Tania tentang sepupunya itu?
"Baca apa kamu?" tegur Bimo. Kakaknya itu tiba-tiba muncul dari belakang tubuhnya. Salma langsung cepat-cepat menutup halaman pencariannya di ponsel.
"Iseng aja," sahut Salma. Ia sedikit kesal pada kedua kakaknya itu. Mengapa tidak terbuka soal pembicaraan semalam.
"Tidak perlu membongkar-bongkar masa lalu jika tidak ingin sakit hati," ujar Bimo sembari menyeruput kopinya.
__ADS_1
"Abang masih merestui pernikahanku dengan Pak Asa setelah mendengar cerita Mas Armand semalam?"
"Cerita apa?" Sudut bibir Bimo terangkat sebelah.
"Jangan bohong deh, aku dengar loh."
"Berarti kamu sudah tahu. Menurutmu bagaimana? Kamu 'kan yang akan menikah." Bimo balik bertanya.
"Iya, tapi aku ga mau seperti dulu lagi, membangkang dan akhirnya menyesal," ucap Salma risau sembari mere mas-rem as ujung taplak meja.
"Maumu abang harus menerima dia jadi suamimu atau tidak?" Bimo memandang lurus pada adik semata wayangnya. Salma menggeleng lemah. Ia berada di tengah-tengah keinginan. Takut mendengar keputusan Bimo, tapi juga tak mau kehilangan Angkasa. Apakah masa lalu akan terulang kembali?
"Kamu mencintainya, Salma?" lanjut Bimo. Salma mengangguk pelan. Kepalanya semakin tertunduk malu. Baru ini ia mengakui perasannya pada keluarga terdekatnya.
"Bukan dijadikan pelarian karena kesepian atau karena dia kaya dan terkenal?" tambah Bimo. Salma mendongak dan menggeleng dengan keras.
"Lantas karena apa?"
"Mm, dia ... dia orangnya gentle. Aku tersanjung karena dia mau sama aku yang sudah janda, miskin lagi. Padahal banyak wanita cantik di sekitarnya." Salma menerawang jauh.
"Tidak. Banyak sih yang berusaha mendekati, tapi sepertinya tidak ada yang ditanggapi serius. Pak Asa juga selalu menjaga tidak ada kontak fisik berlebihan dengan wanita yang ada di sekitarnya." Salma mencoba mengingat-ingat semua tentang Angkasa.
"Lalu kenapa kamu tanyakan lagi sama Abang soal merestui atau tidaknya?"
"Loh, aku hanya tanya karena Mas Armand datang bawa cerita seperti itu. Aku mengira Bang Bimo sama Mba Tia bakal membatalkan acara siang ini."
"Cerita Armand? Yang dibawa Armand semalam itu bukan cerita tapi omong kosong!"
"Salmaaa, kamu ini sudah dikadalin sama Armand dan sahabat ularmu itu masih saja percaya," sahut Tia sembari menuntun si kembar keluar dari kamar mandi.
"Jadi Bang Bimo sama Mba Tia tidak percaya sama cerita Mas Armand?"
"Kita saja tidak percaya kok kamu malah percaya, Salmaaaaa ... salmaaa." Tia menggelengkan kepalanya geli.
__ADS_1
"Tapi kalau benar bagaimana?" Salma memandang Bimo ragu.
"Jadi kamu mau dibatalkan saja? Ya sudah, abang sih ga ada masalah yang mau nikah juga kamu."
"Eh, jangan." Salma menahan tangan Bimo yang sudah akan menelepon seseorang.
"Salma, kalau Angkasa mendengar kamu ragu seperti ini pasti dia sedih," timpal Tia.
"Kenapa juga Mba Tia sama Abang ga sampaikan sama aku tentang apa yang diceritakan Mas Armand?"
"Buat apa sampaikan ceritanya Armand? Itu cuman dongeng, buang-buang waktu nanggepin dia," sahut Tia.
"Sudah mau jadi istri orang dua kali kok masih bodoh aja kamu ini." Bimo menepuk dahi adiknya dengan koran yang ia bawa lalu berdiri masuk ke dalam kamar.
Salma merengutkan wajahnya. Apa salahnya khawatir dan ragu dengan apa yang sudah pernah dialaminya. Ia merasa kedua kakaknya ini menertawakan jalan pikirannya.
"Salma, kalau kamu ada keraguan berarti kamu belum cinta sepenuhnya pada Pak Asa. Sedangkan Pak Asa sendiri dengan kondisimu seperti yang kamu bilang tadi sudah janda miskin pula, tanpa pikir panjang langsung datang kemari dan ingin sah secepatnya. Apa yang kamu pikirkan? Kalau seandainya pernikahanmu gagal seperti yang pertama, mungkin jodoh kalian hanya sampai di sana."
"Mbaaa!" Sarah mencubit gemas lengan Tia.
"Ya kamu tuh, kebanyakan mikir omongan Armand. Sudah tahu orangnya tukang bohong masih aja percaya. Sana nikah lagi jadi istri kedua," cetus Tia semakin kesal.
"Iiihh, jahat sekali omongnya!"
"Terserah kamu lah Salma, sudah kurang dua jam lagi masih aja belum mandi. Mau nikah pakai daster juga Angkasa ga bakal protes."
Mata Salma melotot melihat jam yang di dinding sudah menunjukan pukul 10 lebih dan dia belum mandi apalagi berdandan.
...❤️🤍...
Salmaaa, salmaa ... dikasih Angkasa masih dengerin Armand 🥴
Mampir sini yuuk
__ADS_1