
Sekarang semua pandangan beralih pada Angkasa. Hanya si kembar yang tak peduli dengan ketegangan di sekitarnya.
"Sepertinya Salma salah paham, saya ijin menyusul dia." Angkasa langsung berdiri dan mengikuti langkah Salma.
"Mas Bimo sih, ngapain juga pakai ditanya seperti itu." Tia mencubit lengan suaminya gemas.
"Tak apa, Bu Tia ini proses. Mereka berdua sudah dewasa pasti bisa mengatasi ini. Mungkin karena punya kepahitan dari masa lalu, membuat mereka terlalu berhati-hati dan tertutup," ujar Pak Iwan sembari melanjutkan makannya dengan santai.
"Iya, benar kata Pak Iwan. Lebih baik mereka ribut sekarang dari pada nanti setelah menikah, karena jika itu terjadi yang jadi korban nanti si kembar." Bimo tak berani menjawab dengan suara keras apalagi membalas cubitan istrinya, ia hanya mengusap-usap lengannya sambil meringis menahan sakit.
"Salma," tegur Angkasa pelan saat mereka sudah berdiri bersisian. Wanita itu tak menjawab, kepalanya tertunduk menatap banyaknya pilihan es krim, kue, serta puding yang terhidang, "Hei, Salma." Angkasa menarik pelan lengan Salma.
"Coba lihat, banyak sekali pilihan. Semuanya menarik, terlihat enak sampai bingung aku mau milih yang mana," ujar Salma dengan kepala masih menunduk, "Semua orang yang berada di restoran ini, pasti akan memilih salah satu diantara ini bukan? Tak mungkin mencari jajanan di pinggir jalan," tambah Salma dengan suara bergetar.
Angkasa menarik nafas panjang, lalu mengambil piring kecil dari tangan Salma dengan sedikit memaksa.
"Ikut aku." Ia lalu menarik tangan Salma keluar dari restoran dan mendudukan wanita itu di taman samping.
"Ngapain kita di sini? Nanti Cakra dan Candra cari bagaimana?"
__ADS_1
"Duduk dulu, aku hanya minta waktu kamu sebentar. Anak-anak aku yakin aman bersama kakakmu di dalam sana." Salma yang hendak berdiri ditarik untuk duduk di hadapannya.
Salma membuang wajahnya ke arah samping. Keningnya berkerut dengan mata sedikit berkaca.
"Aku tahu kamu marah. Aku minta maaf kalau kata-kataku ada yang menyakitkan."
"Tidak. Aku tidak marah. Aku tidak berhak untuk marah." Salma menyangkal dan tetap tak mau memandang ke arah Angkasa. Ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri, mengapa tak dapat mengontrol emosinya.
"Tapi aku ingin kamu marah," ucap Angkasa lembut. Ucapannya itu memancing respon Salma, kepala wanita itu mulai menoleh padanya dengan kening semakin berkerut. Angkasa menyambutnya dengan tersenyum.
"Karena, dengan kamu marah aku jadi tahu dan yakin kalau kamu juga ada perasaan yang sama dengan apa yang kurasakan. Selama kita dekat, aku tidak pernah mendengar perasaanmu kepada aku bagaimana. Aku takut kalau aku cinta sendiri. Apakah selama ini aku hanya cinta sendiri?" Angkasa meraih kedua tangan Salma dan menggenggamnya.
"Jawab pertanyaanku dulu. Kalau kamu ada di restoran mahal dan di hadapanmu ada sajian makanan enak dan mewah, apakah kamu akan melirik warung nasi goreng yang ada di samping restoran?" Mata Salma mengarah ke sisi samping hotel yang banyak berjajar warung makanan di pinggir jalan.
Angkasa terkekeh pelan, "Ini masih tentang es krim di dalam sana? Kalau ini tentang makanan, aku akan menjawab tentu akan makan dulu yang terhidang di atas meja baru jika masih lapar, apa salahnya mencoba warung di pinggir jalan karena tidak selamanya yang mahal itu enak." Salma menunjukan wajah yang tak suka dengan jawaban Angkasa. Ia berusaha menarik tangannya dari genggaman pria itu.
"Aku belum selesai." Angkasa semakin mengeratkan genggamanya, "Apa jawaban yang kamu harapkan dari aku tentang nasi goreng dan es krim? Aku menjawab itu karena wajar menghargai apa yang sudah tersedia di hadapanku. Tidak mungkin aku meninggalkan makanan yang sudah disediakan untuk aku."
"Apa kamu sedang menyamakan dirimu dengan nasi goreng sehingga kamu marah kalau aku memilih makanan yang ada di restoran?" lanjut Angkasa sembari berusaha mengadakan kontak mata dengan Salma.
__ADS_1
"Kamu terlalu rendah menilai dirimu sendiri, Salma. Pikiranku tidak pernah sampai sana menyamakan seorang wanita dengan makanan yang bisa dinikmati sesekali saja."
"Mungkin bagi orang lain kamu itu nasi goreng, pecel, bakso atau sate di warung kaki lima. Tapi di mataku kamu itu nasi goreng, pecel, bakso dan sate tapi di sajikan oleh hotel bintang tujuh yang sangat nikmat. Tapi aku ga mau menikmati kamu sebagai makanan karena hanya sesekali dan bisa bosan. Aku mau menikmatimu selamanya."
Tiap kali Angkasa melontarkan rayuan mautnya yang aneh, Salma mencebikkan bibirnya dan memutar bola matanya keatas membuat Angkasa semakin gemas.
Cup
Mata Salma membesar ketika dengan gerakan tanpa bayangan, bibir Angkasa secepat kilat menyentuh bibirnya yang mencebik.
"Ngomongin makanan perutku lapar lagi. Kita masuk yuk." Tanpa rasa bersalah Angkasa menarik tangan Salma. Tak seperti awalnya, Salma mengikuti Angkasa tanpa perlawanan.
Angkasa teringat akan petuah Bimo kemarin, jika ia harus lebih memahami bagaimana karakter seorang wanita yang rumit bagaikan kamus tebal. Mungkin Bimo belum tahu, jika Angkasa lebih suka menggunakan cara google translate daripada membuka kamus tebal.
...❤️🤍...
Uhuuyy mampir dulu kemari ya, sambil nunggu SAH nya mereka
__ADS_1