Ambil saja dia untukmu

Ambil saja dia untukmu
Usaha Armand


__ADS_3

Angkasa tampak menimbang-nimbang permintaan Armand. Sejujurnya ia tidak ingin sepasang manusia ini mengikutinya, entah kenapa ia merasa tidak nyaman berada di dekat mereka.


"Kami janji tidak akan mengganggu," ucap Armand begitu melihat Angkasa tampak keberatan, "Lagipula bagaimana kami bisa mengantar pesanan kalau kami tidak tahu di mana lokasi syutingnya, benar 'kan Sayang?" Armand menyenggol kaki Tania yang melongo terpukau dengan ketampanan sang pemilik perusahaan.


"Untuk mengantar makanan, Pak Armand tak perlu repot harus pergi ke lokasi.syuting, cukup di antar kemari biar team yang menyiapkan."


"Ow, begitu." Wajah Armand tampak kecewa, otaknya berpikir keras bagaimana bisa tahu lokasi syuting dan dapat bertemu dengan wanita yang sudah membuatnya menyesal, "Tapi, saya ingin sekali melihat proses syuting." Tangan Armand tertangkup di depan dada.


Angkasa menarik nafas panjang lalu menganggukkan kepala pasrah.


Perjalanan menuju ke lokasi syuting yang masih ada di pusat kota hanya memakan waktu satu jam berkendara. Armand sangat bersemangat, ia memacu motornya cukup cepat tak ingin tertinggal jauh dari mobil Angkasa. Sebaliknya Tania, tampak malas dan mengomel sepanjang perjalanan karena tatanan rambutnya rusak terkena terpaan angin.


"Mas, tunggu!"


"Lama amat!" Armand tak menghiraukan istrinya yang masih merapikan rambut di kaca spion motor. Dengan langkah lebar dari parkiran motor, ia menuju ke dalam gedung tempat dilakukan pengambilan adegan pesta di mana pertama kali dua tokoh utama bertemu.


"Maaf jangan terlalu dekat ya, nontonnya hanya sebatas ini." Pria besar dengan tatto di lengan menghentikan langkah Armand.


"Saya tadi bersama bos kamu kemari," Armand bersikukuh tak terima.


"Semua orang bisa mengaku seperti itu, Pak." Penjaga itu tertawa mengejek, "Kalau tidak ada kepentingan semua dilarang masuk ke area syuting. Kalau mau nonton dari sini juga bisa," lanjut penjaga itu lagi.


Mulut Armand seketika menggerundel dan mengeluarkan sumpah serapah. Namun begitu melihat wajah penjaga yang seram, ia menutup mulutnya.


"Kok di sini?" tanya Tania yang baru dapat menyusulnya. Armand tak menjawab, ia hanya memberikan kode pada istrinya menunjuk penjaga yang sedang mengawasinya dagunya.


"Sudah bilang belum kalau aku masih saudara sama Pak Angkasa?"


"Kamu lah bilang sendiri." Armans mengibaskan tangannya.


Tania tak putus asa, ia mendekati dua penjaga yang duduk membatasi lokasi syuting dengan percaya diri. Tak butuh lama, Tania kembali dengan wajah tertekuk masam.


"Kamu kira namamu laku di sini?" ejek Armand.


"Aku sih peduli amat, ga ada urusan di lokasi syuting ini. Jualanku laku, uang masuk, beres sudah." Tania menjauh dari kerumunan orang yang berdesakan ingin melihat proses syuting berlangsung.

__ADS_1


Armand melirik Tania geram, istrinya itu terang-terangan sedang mengoloknya. Ia lalu ikut berdiri di antara para penonton yang berdesakan. Lehernya ia panjangkan agar pandangannya dapat melampaui kepala ibu-ibu yang sudah lebih dulu ada di sana.


Aula gedung pertemuan itu sudah di sulap menjadi ruang pesta topeng. Adegan di mana Nabila dan Marcel bertemu tanpa disengaja.


"Hai," sapa Armand. Pria itu duduk di samping Salma yang sedang di rias.


"Hai juga," balas Salma malu-malu.


Duduk berdampingan di depan cermin rias, membuat keduanya bisa saling mencuri pandang melalui cermin.


"Permisi Pak, maaf tolong kepalanya lurus ke depan, jangan terlalu miring," ujar penata rias yang menangani Angkasa.


"Oh, maaf." Tanpa sadar kepala Angkasa sudah menoleh ke arah Salma yang duduk di sampingnya. Mungkin jika ada Emran di sana, kawannya itu sudah mengejeknya habis-habisan.


Adegan kali ini, Salma berpenampilan sangat cantik. Salma memerankan Nabila seorang penyanyi terkenal yang sedang mengisi acara di sebuah pesta para pejabat negara. Sedangkan Marcel seorang mafia yang sekaligus bekerja menjadi aparatur Negara.


"Mba Salma, panggungnya untuk adegan menyanyi bisa dicoba dulu sebelum take." Seorang kru memanggil dari ambang pintu.


"Baik, saya duluan Pak." Salma memberikan senyuman tipis lalu berdiri keluar dari ruangan.


"Baru juga mulai, Pak. Giliran Pak Angkasa juga masih lama kok," ujar penata rias itu, tanpa tahu alasan Angkasa ingin agar proses merias wajahnya dipercepat.


"Saya juga harus mengawasi jalannya syuting." Angkasa memberikan alasan.


Sementara itu di luar, begitu Salma memasuki aula tempat syuting berlangsung para pentonton yang di dominasi oleh kaum hawa itu saling berbisik satu sama lain.


"Cantik banget yo aslinya."


"Iya, kalau lihat gini lebih cantik ternyata dari pada di tivi."


"Mba Salmaaa."


Beberapa orang sudah mulai meneriakan namanya.


"Eh, dia lihat kemari," seru seorang wanita histeris seraya membalas lambaian tangan Salma.

__ADS_1


Mendengar nama mantan istrinya disebut, Armand berusaha menyeruak di antara para penonton yang semakin padat.


"Permisi ... Permisi." Armand merentangkan tangannya bagai membelah air.


"Apa-apaan sih!"


"Yang sopan dong!"


Sumpah serapah para penonton yang merasa terganggu atas kelakuannya seakan tak dihiraukan Armand. Ia hanya ingin melihat mantan istrinya yang kata orang-orang itu cantik sekali. Dadanya seakan membesar karena ikut bangga.


"Kurang ajar!" Plaaak!


Tiba-tiba salah satu Ibu menampar Armand dengan sangat keras.


"Hei, sialan! Kenapa saya ditampar?" Mata Armand nyalang menatap Ibu itu.


"Kamu sudah melakukan pelecehan seksual. Tanganmu tadi memegang dada saya!" seru Ibu itu dengan telunjuk teracung. Beberapa orang di sekitarnya turut juga mendukungnya.


Suasana seketika menjadi riuh. Armand yang bersikukuh tidak melakukan hal itu, sang Ibu pun bersikeras jika dirinya telah menjadi korban pelecehan seksual.


"Ada apa itu ribut-ribut?" Salah satu pemain bertanya. Kini semua pandangan para kru dan pemain mengarah ke kerumunan orang yang menonton. Jarak yang cukup jauh membuat mereka tak bisa mendengar apa yang diributkan dan tak bisa melihat dengan jelas wajah para penonton.


"Sudaah, ayo kembali fokus. Di sana sudah ada bagian keamanan, bukan urusan kita," seru Pak Memet.


Sementara itu Armand sudah diseret paksa menjauh dari area lokasi syuting. Berulang kali ia mengatakan pada dua pria berotot itu bahwa Salma adalah mantan istrinya dan Angkasa adalah saudara dari istrinya, tapi kedua pria besar itu tak menghiraukan sama sekali.


Begitu pula saat ia mengancam akan melaporkan mereka ke Angkasa, kedua penjaga itu malah tertawa mengejeknya.


"Mas, kenapa ini?" Tania yang menunggu di parkiran motor terkejut ketika melihat suaminya diseret oleh dua pria berotot.


"Jika Bapak masih muncul dan berbuat keonaran, kami akan menyerahkan pada pihak berwajib," ancam salah satu penjaga, setelah mendorongnya ke pelukan Tania.


...❤️🤍...


Haii, aku punya cerita novel yang bagus juga nih. Masukan ke rak buku kalian ya

__ADS_1



__ADS_2