
Salma menatap kedua anaknya yang terlihat antusias dengan pakaian baru mereka. Entah kapan kakak iparnya itu membelikan si kembar baju baru. Sejujurnya ia sudah sangat lama sekali membelikan sesuatu untuk Cakra dan Candra.
Walaupun ia sudah bergelut dengan dunia keartisan, tapi penghasilannya masih terbilang minim untuk seorang janda beranak dua yang tinggal di ibu kota. Perjalanannya sebagai Ibu bagi kedua anaknya masihlah sangat panjang, Salma masih harus mengirit untuk pengeluaran yang tak penting.
"Apa Mama terlalu terburu-buru mengambil keputusan?" tanyanya pada si kembar. Keduanya saling bertatapan lalu tertawa kecil. Ada perasaan khawatir jika hubungannya dengan Angkasa tidak berhasil, ia akan menjadi sorotan media masa dan mempengaruhi karirnya yang baru ia bangun.
"Maa, ayoo." Cakra menggoyangkan bahunya, menyadarkannya dari lamunan.
"Apa Mama harus pergi? Mama malu kalau sampai sana, nyatanya Mama tidak diharapkan," keluh Salma. Ia tahu berbicara pada anak kecil seusia si kembar tidak akan mendapatkan jawaban yang diinginkan.
"Maaa, ayooo." Melihat Mamanya masih duduk tak bergerak, Cakra kembali menarik tangannya.
"Okee, Cakra sama Candra tunggu di luar sama Pak De, Mama mau ganti baju dulu ya." Salma menggiring si kembar keluar kamar.
Lalu ia membuka lemari, memilah-milah pakaian yang sekiranya pantas ia gunakan pada acara malam yang tak masuk dalam perencanaannya.
Salma memilih kaos sederhana berwarna hitam, serta celana jeans. Lalu ia mengikat rambut panjangnya yang bergelombang menjadi satu.
"Kamu mau ke pemakaman? Wajahmu suram sama seperti pakaianmu," sindir Tia.
"Aku ga bawa pakaian banyak dari Jakarta." Salma memberikan alasan.
"Ganti bajumu, dengan pakai baju seperti itu kamu sama saja tidak menghargai Angkasa yang mengundang." Tia mendorong adik iparnya kembali masuk ke dalam kamar.
"Aku tidak diundang, Mba," ucap Salma bersikukuh sekali lagi.
"Kita semua diundang. Titik." Tia berkata dengan tegas, "Lagipula mengapa kamu merasa Angkasa harus mengundangmu secara spesial? Dia sudah mengundang lewat Mas mu sebagai kepala keluarga, apakah itu kurang?"
Ucapan kakak iparnya serasa menohok dada Salma. Mengapa ia merasa Angkasa harus memperlakukannya sebagai seseorang yang spesial? Apakah karena Angkasa sudah melamarnya di depan banyak orang sehingga ia harus diakui?
Salma seketika malu hati, ia merasa tak tahu diri. Terlebih ia marah hanya karena Angkasa tersenyum ramah dengan wanita lain. Dia belum menjadi seseorang bagi pria itu, apa haknya dia marah? Sebelum ia hadir, Angkasa tentu sudah tersenyum dan bersikap manis dengan lawan jenis. Dia yang bukan siapa-siapa, baru saja hadir sudah berani mengkekang Angkasa. Betapa egois dan tak tahu dirinya ia!
__ADS_1
"Pakai ini." Tia melemparkan sebuah gaun putih berlengan panjang ke atas ranjang.
"Mba, ini terlalu bagus."
"Ya memang harus bagus, kamu mau terlihat gembel di samping Angkasa. Dengan kamu berpakaian rapi dan sopan, kamu sudah menghargai dia."
Salma menuruti permintaan Tia, ia juga pasrah saat kakak iparnya itu merias tipis wajahnya. Rambutnya yang diikat, dibuka kembali oleh Tia dan di bentuk dengan ikal yang besar.
"Gini 'kan cantik." Tia mematut-matut wajah Salma di depan meja rias.
"Sepertinya terlalu berlebihan deh."
"Hei, Salma kamu mulai sekarang sudah harus membiasakan diri berpenampilan cantik jika di luar rumah. Kamu sekarang itu artis, dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki akan jadi perhatian orang."
Salma memperhatikan penampilannya di depan cermin. Sebetulnya masih tergolong wajar dan sederhana, tapi karena rasa malu dan tak pantas ia jadi merasa tak percaya diri.
Salma dan Tia saling berpandangan ketika terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.
"Nah, itu sepertinya sudah datang mobil yang menjemput kita."
"Duh, Mba Salma cantik banget. Ibu ikut bangga deh jadi tetangga Mba Salma."
"Mba, mau kemana? Mobilnya cakep."
"Mba Salma kalau sudah jadi artis terkenal jangan lupa, Neng ya."
Celetukan ringan para tetangga membuat Salma tersipu sekaligus bangga. Tia dan si kembar pun ikut senang dan terpukau melihat interior dalam mobil. Hanya Bimo yang tidak menunjukan perubahan reaksi wajahnya.
"Kita mau kemana?" bisik Salma pada Tia.
"Ga tau, tanya Mas mu." Tia balas berbisik sembari memberi kode ke arah Bimo yang duduk di depan dengan telunjuknya.
__ADS_1
"Bang, kita sebenarnya mau kemana?" tanya Salma hati-hati.
"Ke hotel tempat Angkasa menginap," ujar Bimo singkat. Jawaban yang tidak memuaskan, Salma tak berani bertanya lebih lanjut. Akan sangat memalukan jika ia ketahuan tidak berkomunikasi dengan Angkasa seharian ini.
Di kamar hotel, Angkasa berjalan mondar mandir seraya merapalkan kalimat romantis yang akan ia ucapkan pada Salma di depan keluarganya.
"Gimana, Pak Iwan apa sudah bagus?" tanyanya.
"Bagus, Pak Asa. Ini toh bukan pertama kali mengungkapkan perasaan, kenapa harus tegang?"
"Iya juga, tapi saya gugup sekali." Angkasa mengusap-usapkan kedua telapak tangannya.
"Wajar, itu tandanya Pak Asa serius. Saya turun dulu ya, Pak Asa khawatir Salma dan keluarganya tiba duluan."
Pak Iwan turun ke restoran hotel dan masuk ke dalam ruangan yang sudah dipersiapkan khusus untuk acara malam ini. Tak berapa lama, tamu yang mereka tunggu tiba di hotel dan memasuki ruangan.
"Selamat malam, selamat datang, Mas Bimo, Mba Tia. Waah ini artis ibukota, lama tidak lihat auranya berbeda. Bau monas," kelakar Pak Iwan berusaha mencairkan suasana.
"Selamat malam, Pak Iwan. Mmm, Pak Iwan kok ada di sini?" Salma bertanya ragu. Ia memutar kepalanya mencari tamu lain di ruangan itu, tapi hanya mereka berempat dan petugas yang siap melayani mereka saja yang ada di dalam ruangan itu.
"Saya ingin bertemu artis ibu kota," goda Pak Iwan lagi. Salma tersenyum, tapi raut wajah penasaran dan gugup tak dapat ia sembunyikan, "Silahkan duduk, mohon maaf Angkasa tadi kembali ke kamarnya sebentar." Pak Iwan memberikan alasan klise, agar kawannya itu tidak terlihat tak sopan.
Para pelayan restoran segera menyiapkan minuman serta hidangan pembuka, setelah Pak Iwan memberi kode. Tak lupa lagu berupa instrumen diputar menambah suasan romantis.
"Mm, tamunya belum datang semua ya, Pak Iwan?" Salma tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Tidak ada tamu lainnya, yang ditunggu hanya kamu dan keluargamu," ujar Pak Iwan.
Tiba-tiba pria berkacamata itu tersenyum lebar pada seseorang di belakang tubuh Salma. Salma menoleh ke belakang dan mendapati Angkasa sedang berjalan ke arahnya dengan buquet bunga mawar yang hampir menutupi separuh tubuhnya.
...❤️🤍...
__ADS_1
Tambah koleksi lagi yuk, kamu wajib mampir nih ke karya temanku.